
Hasyki terbaring di kamarnya, diiringi oleh sunyi malam yang tenang. Tapi ketenangan itu hanya sebentar, karena sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di luar. Di bawah bulan purnama merah yang menggantung di langit, sebuah bencana mengerikan akan merenggut keluarganya yang ada di desa ***.
Keluar dari pintu kamar, Hasyki melihat Sin, ayah angkatnya, dan Ayumi, ibu angkatnya, bersama dengan adik-adiknya, Nana dan Mia. Mereka semua tampak gelisah dan khawatir. Hasyki masih berumur lima tahun, sedangkan Nana berusia empat tahun dan Mia hanya dua tahun, masih seorang bayi.
Setelah makan malam, Hasyki ingin pergi tidur, tetapi kedua adiknya memohon padanya untuk tidur bersama. Mereka merasa lebih aman jika bersama-sama di malam ini yang penuh ketegangan. Setelah Nana dan Mia tertidur, Hasyki merasa lelah dan mulai merem. Namun, tengah malam, sesuatu mengguncangnya.
Teriakan histeris memenuhi udara, dan Hasyki terbangun dengan cemas. Dia berpikir itu hanyalah mimpi buruk atau khayalan, tapi teriakan itu tidak pernah berhenti. Teriakan itu disertai raungan binatang buas yang menyeramkan. Hasyki segera menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat buruk terjadi.
"Sin, Ayumi, apa yang terjadi?" Hasyki berteriak kepada orang tuanya.
Sin dan Ayumi tampak panik. Mereka mencoba mempersiapkan diri untuk melarikan diri, tetapi serangan misterius dari organisasi jahat yang mengincar keluarga mereka telah datang terlalu cepat. Teriakan dan umpatan warga desa yang berusaha melawan penyerang menggema di luar.
"Hasyyyykiiii, lari, nak!" seru Ayumi dengan air mata di matanya.
"Jaga adik-adikmu, Hasyki," Sin berkata dengan mata yang dipenuhi dengan kekhawatiran.
__ADS_1
Hasyki melihat bayi Mia yang tidur pulas dan Nana yang memeluknya dengan erat. Dia tahu dia harus melindungi mereka. Ketika dia memeluk adik-adiknya, dia merasa detak jantung mereka yang berdegup keras. Namun, dalam sekejap mata, semuanya berubah.
Dari jauh, Hasyki menyaksikan pembantaian yang tak terbayangkan. Nana, adiknya yang berusia empat tahun, terbaring tak bernyawa dengan mata yang berair. Adegan kejam itu dihadapinya dari kejauhan, dan air mata darahnya jatuh ke tanah. Itu adalah saat kebangkitan mata khususnya.
Bekas luka matanya berkilat dalam kegelapan. Mata seorang dewa kuno, mata yang mirip dengan ibunya Kaguya dan kakaknya Hagoromo. Mata yang satu berwarna hitam dengan aura mencekam yang menakutkan. Mata yang memiliki kekuatan hukum di dalamnya. Itu adalah Sharingan, tetapi tidak hanya itu.
Ketika Hasyki mulai berjalan ke arah pembantai yang tidak disadarinya, mata Sharingan-nya berubah. Mata bergerak melalui tahapan, dari Sharingan satu tomoe hingga Mangekyo Sharingan. Dan kemudian, melampaui itu semua, dia mencapai kekuatan yang lebih besar.
Mata Hasyki berubah menjadi Rinnegan yang aneh. Dalam matanya, ada cincin yang bertumpuk dan saling tumpang tindih. Di dalam cincin-cincin itu ada tiga segitiga yang juga bertumpuk dan terhubung dengan cara yang aneh.
Hasyki merasa kemarahan dan kesedihan mendalam saat dia mendekati Nana yang terluka. Dengan cepat, tanpa sadar, dia berkedip dan berada di dekat adiknya yang sekarat. Dia mengangkat Nana dengan lembut dan memeluknya erat.
"Tolong bertahanlah, Nana," bisik Hasyki dengan mata penuh air mata. "Aku akan menyembuhkanmu, dan kau tidak akan mati."
Nana tersenyum tipis meskipun rasa sakit yang tak tertahankan. "Aku mencintaimu, Hasyki. Jaga Mia dan kabur dari sini," katanya dengan suara lemah. Hasyki tahu bahwa waktu Nana hampir habis, dan itu membuatnya semakin putus asa.
__ADS_1
Hasyki dengan enggan meletakkan tubuh Nana dan kedua orang tua angkatnya di tanah, lalu menggali liang kubur untuk mereka. Setelah semuanya selesai, dia kembali mengangkat Mia yang menangis dalam pelukannya. Dia merasa janggal, merenungkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Seketika, Hasyki merasa panas di belakang lehernya. Ada rasa sakit yang menusuk, dan dia tidak bisa mengabaikannya. Auranya berubah, dan mata Rinnegannya mulai berputar dengan cahaya misterius. Dengan tidak sengaja, aura itu juga menyentuh Mia yang menangis dalam pelukannya.
Dalam sekejap mata, Mia berhenti menangis, dan lukanya sembuh dengan cepat. Hasyki terkejut, tidak mengerti kekuatan baru yang dia miliki. Dia berbalik, melihat beberapa orang dengan jubah hitam, para pembantai yang telah menyebabkan malapetaka ini.
Dengan wajah yang dipenuhi kemarahan dan air mata darah yang masih mengering, Hasyki terbang di udara, membuat para penjahat terkejut. Mereka berusaha melarikan diri, tetapi mereka menemukan bahwa mereka tidak dapat bergerak. Mereka merasakan bahwa mereka telah salah menyinggung desa ini untuk tujuan mencuri harta.
"Kalian akan membayar atas tindakan kalian," Hasyki berkata dengan suara yang dipenuhi amarah. Dia mengangkat tangannya, dan energi yang padat dan pekat muncul di atasnya. Dengan gerakan tangan yang tegas, dia melepaskan energi itu dan menghancurkan desanya beserta para penjahat itu.
Sementara itu, di desa lain, Hagoromo dan Hamura merasakan aura yang menakutkan itu. Mereka segera tiba di desa yang sudah hancur, melihat reruntuhan dan kawah besar yang ditinggalkan oleh energi pekat.
Hamura berkata, "Siapa pun yang melakukan ini, dia akan bertanggung jawab."
Hagoromo melihat di mana aura pekat terakhir muncul dan berkata kepada Hamura, "Aku akan mengejar orang yang melakukannya. Sama persis dengan aura yang ada di reruntuhan desa ini."
__ADS_1
Mereka berdua berkedip dan pergi dalam upaya untuk mengungkap misteri di balik kehancuran desa dan siapa yang bertanggung jawab atas malapetaka tersebut.