
Pagi hari yang cerah di suatu pangkalan militer tepatnya di ruangan mayor Rudi, terdapat Andi dan Budi yang sedang duduk berhadapan di kursi panjang.
Tidak lama kemudian, *Dug-dug!* Terdengar sebuah langkah kaki berjalan cepat menuju ruangan tersebut.
"Sepertinya mayor Rudi akan kesini!" ucap Budi.
"Saya juga berpikir seperti itu."
*Klik!* Pintu nya dibuka dari luar.
"Selamat pagi semuanya." ucap mayor Rudi dengan raut wajah yang sedang ceria.
Kemudian keduanya menoleh ke dia, "Selamat pagi juga mayor Rudi."
Kemudian dia memasuki nya lalu menutup kembali pintu nya. Kemudian mayor Rudi duduk di meja kerja.
"Saya ingin menyampaikan sesuatu!" ucap dia.
Kemudian keduanya menoleh ke dia, "Apa itu mayor?"
"Bagaimana kalau kita membentuk grub musik?"
"Tapi ... Aksi terorisme di wilayah kita belum sepenuhnya mereda!" ucap Budi.
"Tidak usah khawatir, kan ada prajurit keamanan!"
"Em ... Iya juga sih."
"Kalian kan sudah pensiun dan pandai bernyanyi, jadi bagaimana?"
Kemudian keduanya saling menoleh.
"Hmm ... Bagaimana ini Andi?" ucap Budi.
"Ya ... Jika mayor berkata seperti itu, saya sih ... Tidak ada masalah. Kalau kamu sendiri bagaimana?"
"Ya sudah deh saya ikut apa kata mayor!"
"Dengan ini kita sepakat."
"Apakah nanti akan ditolak oleh pimpinan, mayor?" ucap Budi.
"Tenang ... Akan saya usahakan."
"Oke."
Tiba-tiba, *Ding-dong!* Sebuah bel pengumuman berbunyi.
"Kepada mayor Rudi untuk segera menghadiri rapat di ruang pertemuan."
"Kebetulan sekali. Kalau begitu saya pergi dulu sekalian menyampaikan ini!" ucap mayor Rudi.
"Semoga berhasil, mayor." ucap keduanya sembari mengacungkan jempol tangan kanan.
"Terima kasih."
*Klik!* Pintu nya dibuka oleh mayor Rudi. Kemudian dia keluar ruangan lalu menutup kembali pintu nya. Kemudian dia menuju ke ruangan tersebut.
"Mayor sudah pergi lalu bagaimana nih selanjutnya?" ucap Andi.
"Bagaimana kalau kita membuat brosur?"
"Ide bagus tuh. Mari langsung kita kerjakan!"
"Oke."
Kemudian Andi mengambil sebuah laptop di meja mayor Rudi lalu duduk di sebelah Budi. *Click!* Tombol power nya ditekan oleh Andi. Beberapa menit kemudian, dia membuka sebuah aplikasi desain.
"Mulai dari mana ini?" ucap dia.
"Bagaimana kalau latar belakangnya dikasih gambar panggung!"
Kemudian Andi menambahkan nya, "Seperti ini?"
"Betul. Terus apa lagi yang kurang ya?"
"Gimana kalau dikasih gambar orang bernyanyi dan nada?"
"Ide bagus tuh!"
kemudian Andi menambahkan nya, "Seperti ini?"
"Betul."
"Terus kalimat ajakan nya?"
"Bagaimana kalau dikasih kalimat mari mengembalikan kebahagiaan semua orang dengan bergabung bersama kami?"
"Boleh juga tuh."
kemudian dia menambahkan nya, "Seperti ini?"
"Betul."
Kemudian dia menambahkan [silahkan datang di ruangan musik].
"Sepertinya itu sudah cukup. Bagaimana menurut kamu?"
"Saya juga sependapat dengan kamu."
"Oke. Tinggal kamu simpan untuk ditunjukkan ke mayor."
"Baiklah."
*Click!* Sebuah flashdisk ditancapkan oleh Andi. Kemudian dia menyimpan nya lalu keduanya menunggu mayor Rudi kembali.
Di ruangan pertemuan, *Tok-tok* suara pintu nya di ketuk oleh mayor Rudi.
"Permisi." ucap dia.
"Silahkan masuk." ucap jendral Yudi.
*Klik!* pintu nya dibuka.
Terlihat beberapa pimpinan sedang duduk di meja bundar.
"Oh mayor Rudi. Silahkan duduk!" ucap jendral Yudi.
"Baik jendral yudi."
Kemudian dia duduk di bangku kosong.
"Semuanya sudah berkumpul. Langsung saya mulai rapat. Pertama saya ingin mendengar laporan divisi pertahanan." ucap jendral Yudi.
"Baik. Pasukan di beberapa titik sedang perang dan sudah menempatkan penjagaan di beberapa titik pengungsian." ucap petinggi satu.
"Fokuskan pasukan kita di titik rawan."
"Siap."
"Selanjutnya dari divisi perbekalan."
"Baik. Pasokan makanan dan minuman untuk prajurit dan pengungsi cukup untuk beberapa bulan ke depan." ucap petinggi dua.
"Prioritas untuk prajurit terlebih dahulu."
"Siap."
"Apa ada yang ingin disampaikan lagi?"
"Saya jendral!" ucap mayor Rudi sembari mengangkat tangan.
Kemudian jendral Yudi menoleh ke dia, "Silahkan mayor Rudi."
"Bagaimana kalau kita membentuk grub musik?"
Kemudian petinggi satu menoleh ke dia, "APA KAMU TIDAK TAHU DENGAN KONDISI KITA SAAT INI!" Dengan tegas.
Kemudian mayor Rudi menoleh ke dia, "Ta-tapi kan ..."
"Mayor Rudi silahkan duduk kembali!" ucap jendral Yudi.
Kemudian mayor Rudi mengembalikan pandangan, "Baik jendral."
"Mengingat kondisi sekarang, saya tidak dapat menyetujui nya."
"Siap." Dengan raut wajah yang sedang murung.
"Saya tutup rapat sampai disini. Silahkan bisa meninggalkan ruangan sekarang!"
"Baik." ucap mereka.
Kemudian mereka meninggalkan ruangan tersebut sementara mayor Rudi kembali ke ruangan.
Beberapa menit kemudian di ruangan mayor Rudi, "Klik!" Pintu dibuka oleh mayor Rudi. Kemudian dia memasuki nya lalu menutup kembali pintu nya.
"Saya kembali ..." ucap mayor Rudi dengan suara yang pelan dan raut wajah yang sedang murung.
Kemudian keduanya menoleh ke dia, "Selamat datang kembali mayor."
(Sepertinya tidak disetujui oleh pimpinan nih.) Terlintas dalam pikiran Budi setelah melihat raut wajah dia.
"Bagaimana hasilnya, mayor?" ucap Andi.
"Tidak disetujui oleh jendral Yudi."
"Terus bagaimana ini?"
"Tetap kita lanjutkan saja!"
"Ya sudah. Sekalian kita ingin menunjukkan brosur yang sudah kita buat!"
"Oke. Mana?"
Kemudian dia menghampiri keduanya lalu melihat nya.
"Sepertinya itu sudah cukup. Langsung bisa dicetak untuk disebar!"
"Baik. Kalau begitu kita pergi dulu ke percetakan terdekat." ucap Budi.
"Silahkan."
*Klik!* Sebuah flashdisk dilepas oleh Andi.
__ADS_1
*Klik!* Pintu nya dibuka oleh Budi. Kemudian keduanya keluar ruangan lalu Budi menutup kembali pintu nya. Kemudian keduanya menuju ke percetakan pegawai.
Beberapa menit kemudian di percetakan, Andi menoleh ke Budi.
"Dicetak berapa lembar nih?" ucap dia.
"Cukup 50 lembar saja!"
"Oke."
Kemudian Andi menoleh ke petugas, "Mas! Tolong file yang bernama brosur diprint lalu di potokopi warna sebanyak 50 lembar ya!" sembari memberikan flashdisk ke petugas.
"Baik." ucap petugas sembari menerima nya.
Kemudian petugas mulai mengerjakan nya. Beberapa menit kemudian, *Tuk!* Tumpukan brosur dan flashdisk tadi diletakkan di hadapan mereka oleh petugas.
"Total nya jadi Rp. 50.000!" ucap dia.
"Oke."
Kemudian Andi mengeluarkan sebuah dompet dari kantong celana lalu mengambil uang pembayaran.
"Ini," Sembari memberikan nya ke dia.
"Terima kasih."
Kemudian Budi mengambil nya lalu keduanya meninggalkan percetakan.
"Saatnya kita menyebarkan brosur. Tapi dimana ya?" ucap Budi dengan raut wajah yang sedang bingung.
"Bagaimana kalau aku yang menyebarkan nya di sini sedangkan kamu yang di luar!"
"Di luar? Buat apa?"
"Kan ini untuk umum."
"Baiklah. Ini," Sembari memberi sebagian brosur ke dia.
"Oke!" Sembari menerima nya.
"Kalau begitu mari kita mulai!"
"Siap."
Kemudian Andi menempelkan brosur di papan informasi yang tersebar di pangkalan militer sementara Budi membagikan di luar.
Beberapa menit kemudian di papan informasi, (Akhirnya selesai juga. Tinggal menunggu kabar dari Budi.) Sembari mengusap dahi dengan pergelangan tangan kanan dia.
Kemudian dia menuju ke ruangan musik. Beberapa menit kemudian di ruangan musik, *Klik!* Pintu nya dibuka. *Krik!* Sebuah kursi besi diambil dari sebuah tumpukan nya di sudut ruangan. *Tuk!* Kursi tersebut diletakkan di dekat cendela dengan menghadap ke pintu nya. Kemudian dia menduduki nya.
Di sebuah pantai, terdampar lah dua pemuda yang sedang tergeletak di tengah terik matahari.
Di dalam mimpi mereka terdengarlah suara, "Kekuatan kalian saya segel. Jika kalian ingin kembali ke dunia asal, maka jadilah seorang idol yang dapat membawa kebahagiaan kepada semua orang. Sekarang bangunlah"
Seketika itu, keduanya terbangun.
"Di-Dimana saya!" ucap raja iblis sembari melihat sekeliling dengan raut wajah yang sedang bingung.
"Sepertinya kita terlempar ke dunia manusia paduka."
Kemudian raja iblis menoleh ke dia, "Oh ya. Bagaimana dengan lukamu?"
Kemudian pengawal mengecek bekas luka, "Se-sejak kapan luka pulih kembali!" Dengan raut wajah yang sedang terkejut.
Raja iblis yang melihat nya, "Ti-tidak mungkin!" dengan raut wajah yang sedang terheran-heran.
Kemudian keduanya melihat sekeliling lagi.
"Hmm ... Sepertinya tempat ini tidak asing bagi saya." ucap raja iblis sembari memegangi dagu dengan tangan kanan.
"Sepertinya kita terdampar di pantai paduka." Sembari menggenggam sebongkah pasir yang diambil dia.
"Hmm ... Kalau begitu mari kita kembali ke dunia asal."
"Baik paduka."
Kemudian keduanya berdiri lalu raja iblis merentangkan tangan kanan ke depan untuk membuka portal.
Namun, portal tidak mau terbuka di hadapan dia.
(Ada apa ini! Kenapa tidak mau terbuka?) ucap dia sembari melihat tangan.
Kemudian dia mencoba lagi. Namun, hasilnya tetap sama.
(Cih! Kenapa ini bisa terjadi?) Dengan raut wajah yang sedang kesal.
Kemudian pengawal menoleh ke dia, "Sepertinya ini disebabkan oleh mimpi saya paduka."
"Mimpi seperti apa?"
"Saya mendengar kekuatan kalian saya segel. Jika kalian ingin kembali ke dunia asal, maka jadilah seorang idol yang dapat membawa kebahagiaan kepada semua orang."
"Saya juga merasa mendengar hal yang sama."
"Ya mungkin itu penyebab nya, paduka."
Kemudian raja iblis memalingkan wajah, (Cih! Kenapa saya harus melakukan hal ini. Saya adalah raja iblis yang ditakuti manusia.) Terlintas dalam pikiran dengan raut wajah yang sedang kesal.
"Ada apa paduka?"
"Baiklah paduka."
Kemudian keduanya mulai menyusuri kota sembari melihat sekeliling yang hanya terdapat bangunan dengan kerusakan parah.
Beberapa menit kemudian, pengawal melihat seseorang di kejauhan. Kemudian dia menoleh ke raja iblis lalu memegangi pundak dia.
Kemudian raja iblis menoleh ke dia, "Ada apa?"
"Paduka, saya melihat seseorang sedang membagikan sesuatu di sana!" ucap sembari menunjuk ke orang tersebut.
"Oh orang itu. Kalau begitu mari kita hampiri dia!" Sembari menatap tajam orang tersebut.
"Baik paduka."
Kemudian keduanya menghampiri dia.
"Permisi, kami ingin menanyakan sesuatu?" ucap raja iblis.
"Silahkan!" ucap Budi.
"Kita sedang mencari informasi terkait penerimaan idol di sini!"
"Kebetulan sekali kalian datang di waktu yang tepat."
"...?" ucap keduanya dengan raut wajah yang sedang bingung.
"Ini," Sembari memberikan brosur ke keduanya.
"Oke." ucap keduanya sembari menerima nya.
Kemudian keduanya membalikkan badan, (Mari mengembalikan kebahagiaan semua orang dengan bergabung bersama kami!) terlintas dalam pikiran.
"Mungkin ini paduka yang dimaksud oleh suara dalam mimpi kita!" ucap pengawal.
"Hmm ... Saya juga berfikir seperti itu." Sembari menempelkan tangan kanan ke dagu.
"Kalau begitu, kita langsung bergabung saja!"
"Oke."
"Permisi ... Sepertinya kalian bukan penduduk sini ya?" ucap Budi.
Sontak, keduanya langsung membalikkan badan.
"Ka-kami dari negeri yang jauh hehe ...." ucap raja iblis sembari menempelkan tangan kanan di belakang kepala dengan raut wajah yang sedang gugup.
"Oh begitu. Pasti kalian capek dari perjalanan jauh."
"I-iya."
"Oh iya, selama perjalanan kita melihat beberapa bangunan mengalami kerusakan." ucap pengawal.
"Oh itu, karena di wilayah ini sedang terjadi aksi terorisme."
"Hoo ..."
"Jadi bagaimana?"
"Kita akan bergabung!"
"Be-benarkah?" Sembari memegangi tangan dia dengan mata berkaca-kaca.
"I-iya."
Tiba-tiba, *KRING!!* Notifikasi panggilan telepon masuk berbunyi dari ponsel Budi. Kemudian dia mengeluarkan nya dari kantong celana lalu membuka nya. Terlihat panggilan dari Andi.
Kemudian dia menoleh ke keduanya, "Tunggu sebentar!"
"Baik." ucap keduanya.
Kemudian dia menjauh dari keduanya lalu menerima panggilan nya.
"Halo Andi ada apa?" ucap dia.
"Bagaimana perkembangannya?"
"Saya sudah dapat dua orang nih!"
"Bagus. Kamu langsung bawa mereka ke ruangan musik saja!"
"Oke. Kami segera ke sana."
"Oke. Saya tunggu."
*Klik!* panggilan telepon ditutup oleh Andi.
Kemudian dia menghampiri kembali keduanya.
"Mari saya antar kalian langsung ke lokasi!" ucap dia.
"Baik." ucap keduanya.
Kemudian mereka menuju pangkalan militer yang dekat dari lokasinya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian di koridor, terdapat dua perwira yang kebetulan melewati papan informasi.
Seketika itu, langkah keduanya terhenti lalu matanya tertuju ke sebuah brosur yang ditempel oleh Andi sebelumnya. Kemudian keduanya menghampiri nya.
"Hmm ... Brosur apa ini?" ucap perwira satu.
"Mungkin ini penerimaan anggota musik!"
"Bisa jadi seperti itu."
(Hmm ... Mungkin ini bisa mengisi waktu luang saya!) Terlintas dalam pikiran keduanya.
"Permisi-" ucap keduanya.
"Kamu duluan saja!" ucap perwira dua.
"Oke. Kamu ingin pergi ke ruangan itu juga?"
"Iya."
"Bagaimana kalau kita kesana bersama?"
"Boleh juga tuh."
"Mari!"
Kemudian mereka menuju ruangan musik.
Beberapa menit kemudian di ruangan musik, "Permisi ..." ucap kedua keduanya yang sedang berdiri di pintu nya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Tadi kami melihat brosur di papan informasi. Jadi kami langsung kesini!" ucap perwira satu.
"Oh kalian ingin bergabung?"
"iya." ucap keduanya.
"EH! Beneran?"
"Benar." ucap keduanya.
Kemudian dia berdiri dari kursi tersebut, "Silahkan masuk!" Dengan raut wajah yang sedang bahagia.
"Baik." ucap keduanya.
Kemudian keduanya memasuki nya sementara dia mengambil dua kursi besi. Kemudian dia meletakkan nya di hadapan.
"Silahkan duduk sembari menunggu teman saya!"
"Baik." jawab keduanya.
Kemudian mereka duduk di kursi tersebut.
Beberapa menit kemudian di pangkalan militer, "Selamat datang di pangkalan militer kami. Mari kita lanjutkan!" ucap Budi.
"Baik." jawab keduanya.
Kemudian mereka menuju ke ruangan musik di gedung kesenian. Beberapa menit kemudian di ruangan musik, "Saya kembali!" ucap Budi sembari berdiri di pintu nya dengan membawa dua calon anggota.
"Kerja bagus Budi. Silahkan masuk!" ucap Andi.
Kemudian Budi menoleh ke keduanya, "Kalian bisa bergabung dengan mereka!" Sembari menunjuk ke dua orang yang sedang duduk di depan Andi.
"Baik." jawab keduanya.
Kemudian keduanya memasuki nya sementara Andi menghampiri dia.
"Kamu bisa temenin mereka terlebih dahulu biar saya saja yang memanggil mayor!" ucap Andi.
"Oke."
Kemudian dia mengambil kursi tersebut sementara Andi menuju ke ruangan mayor Rudi.
*Tuk!* Kursi tersebut diletakkan oleh Budi di samping dua perwira.
"Silahkan duduk sembari menunggu teman saya!"
"Baik." jawab keduanya.
Kemudian mereka duduk di kursi tersebut.
Beberapa menit kemudian di ruangan mayor Rudi, *Tok-tok* Pintu nya diketuk oleh dia.
Kemudian mayor Rudi menghentikan pekerjaan sementara.
"Silahkan masuk!" ucap dia.
*Klik!* Pintu nya dibuka.
Kemudian dia memasuki nya lalu menutup kembali pintu nya. Kemudian dia menghampiri mayor Rudi.
"Lapor mayor Rudi, kita sudah mengumpulkan anggota!" ucap dia.
"Ada berapa?"
"Empat orang."
"Kerja bagus. Loh! Dimana budi?"
"Sedang menunggu di ruangan musik bersama yang lain!"
"Oke. Mari kita kesana!"
"Siap mayor."
*Klik!* Pintu nya dibuka oleh Andi. Kemudian keduanya keluar dari ruangan lalu pintu nya ditutup kembali oleh Andi. Kemudian keduanya menuju ke ruangan musik.
Beberapa menit kemudian di ruangan musik, "Kami kembali!" ucap Andi.
"Selamat datang kembali." ucap Budi.
Kemudian keduanya menghampiri mereka sementara "Kalian bisa membalikkan kursi!" ucap Budi ke calon anggota.
"Oke." ucap mereka.
Kemudian calon anggota membalikkan kursi nya sementara para senior berdiri di hadapan.
Cahaya orange menembus barisan cendela ruangan.
Kemudian Mayor Rudi menoleh ke cendela, (Tidak terasa sudah sore.) ucap.
Kemudian dia menatap dua pemuda asing, "Hmm ... Sepertinya kalian orang luar ya?"
"Betul." ucap keduanya.
"Oke."
Kemudian dia mengembalikan pandangan, "Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak karena mau bergabung di grub musik kami di tengah konflik. Dengan ini, selamat datang anggota baru!"
"Mari saya antar kalian ke kamar mandi!" ucap Budi.
"Baik." ucap junior.
Kemudian mereka menuju pemandian umum di gedung asrama militer.
Beberapa menit kemudian di pemandian umum, "Ini adalah pemandian wanita sedangkan ini adalah pemandian pria!" ucap Budi sembari menunjuk pintu nya.
"Hoo ..." ucap junior.
"Silahkan masuk yang ingin membersihkan diri!" ucap mayor Rudi.
"Baik." ucap mereka.
*Klik!* Pintu luar pemandian pria di buka oleh Budi. Kemudian mereka memasuki nya lalu Budi menutup kembali pintu nya.
Di ruangan ganti, mereka mulai melepaskan pakaian lalu menaruh nya di rak besi.
*Klik!* Pintu dalam nya di buka oleh Budi. Kemudian mereka mulai membersihkan punggung terlebih dahulu secara bergantian di kursi kecil lalu membersihkan badan.
Beberapa menit kemudian, mereka kembali ke ruangan ganti. Di ruangan ganti, mereka mengambil handuk di rak tersebut lalu mengelap badan.
Kemudian mereka mengenakan kembali pakaian tadi. *Klik!* Pintu luar pemandian pria di buka oleh Budi. Kemudian mereka keluar dari pemandian sementara Budi menutup kembali pintu nya.
"Mari saya antar kalian ke kamar tidur!" ucap Andi.
"Baik." ucap mereka.
Kemudian mereka menuju kamar tidur.
Beberapa menit kemudian di kamar tidur, *Klik!" Pintu di buka oleh Andi.
"Ini adalah kamar tidur kalian!" ucap dia.
"Ho ..." ucap junior.
"Ini," Sembari memberikan kunci kamar ke mereka.
"Oke." ucap Alek sembari menerima nya.
"Silahkan masuk dan selamat beristirahat!"
"Baik!"
Kemudian junior masuk ke ruangan tersebut.
*Klik!* Pintu nya ditutup oleh mayor Rudi.
"Hari ini kita cukupkan sampai disini saja. Kerja bagus buat kalian." ucap dia sembari mengacungkan jempol.
"Terima kasih mayor." ucap keduanya.
"Sekarang kalian bisa istirahat!"
"Baik."
"Selamat malam."
"Selamat malam juga mayor."
Kemudian mereka berpisah lalu menuju ke kamarnya masing-masing.
__ADS_1
Di kamar tidur anggota, raja iblis dan pengawalnya tidur di ranjang tingkat pertama sedangkan sisanya di ranjang tingkat kedua. Hari semakin malam. Mereka tidur dengan pulas.