
Matahari mulai terbit. Namun, Deni mendapati sebuah mimpi dalam tidurnya. Dia melihat rakyatnya disiksa secara pedih oleh kaum manusia.
Dendi yang terbangun terlebih dahulu, "Pa- eh salah maksud ku Deni ayo-" Mendekatkan tangan ke badan Deni.
(Whoa!) dia terbangun secara tiba-tiba.
Alek dan Anji yang kebetulan bangun juga. Seketika itu, pandangannya tertuju ke Deni.
(Ada apa ini!) ucap Deni sembari menempelkan tangan kanan ke wajah.
"....! De-Deni baik-baik saja?" ucap Dendi.
Kemudian dia menoleh ke Dendi. Tidak ingin di dengar oleh yang lain kemudian keduanya berbisik.
"Tadi saya melihat rakyat kita di siksa." ucap Deni.
"APA! Kita harus cepat-cepat menyelamatkannya."
".....?" Alek dan Anji yang dari tadi memperhatikan mereka tampak bingung.
(...!) sontak, Deni langsung tersadar lalu mengembalikan pandangan.
"Y-ya tadi hanya sebatas mimpi buruk saja. Tidak perlu dikhawatirkan. Hehe ..." ucap dia menggaruk bagian belakang kepala.
"Hoo ..." ucap keduanya dengan raut wajah yang datar.
*Fuhh ...* Dendi menghela nafas ringan.
(Untung mereka tidak jadi penasaran.) terlintas dalam pikiran dia sembari mengelus dada.
Kemudian mereka menuju pemandian umum bersama dan tidak lupa Alek mengunci pintu.
Di pemandian umum, mereka berpapasan dengan para senior.
"Selamat pagi kakak." ucap mereka.
"Selamat pagi juga." ucap keduanya.
"Apakah kalian sudah akrab?" ucap Budi.
"Iya dong." ucap Alek.
"Bagus."
*Klik!* Pintu luar pemandian pria dibuka oleh Budi. Kemudian mereka memasukinya. Di dalam, mereka langsung melepaskan pakaian di ruang ganti.
*Krek ...* pintu dalam digeser oleh Alek. Kemudian mereka mulai membersihkan punggung terlebih dahulu secara bergantian di kursi kecil lalu membersihkan badan.
Beberapa menit kemudian, mereka mengelap tubuh dengan handuk lalu memakai kembali pakaian. kemudian mereka keluar dari pemandian tersebut.
Kemudian mereka menuju ke kantin umum. Di kantin, mereka mengambil sarapan lalu duduk di bangku kosong.
Kemudian mereka mulai makan dengan lahap. Beberapa menit kemudian, mereka menuju ke ruangan musik.
Di ruangan musik, mereka menghampiri sebuah piano.
*Krekk ...* kursi piano ditarik oleh Budi.
Kemudian dia duduk sementara Andi berdiri di sampingnya sembari menghadap mereka.
"Hari ini, kita akan berlatih tangga nada diiringi dengan piano." ucap Andi.
"Baik." ucap mereka.
"Pertama-tama lihat kita dulu ya!"
"Oke."
Kemudian Andi menoleh ke Budi, "Mari kita mulai sekarang, Budi!"
"Oke." Budi mengacungkan jempol.
Kemudian Andi mengembalikan pandangan.
"Sesuai aba-aba dari saya ya, 1-2-3 mulai!" ucap Budi.
*Ding.. dong...* tuts piano di tekan dari nada terendah ke tertinggi dan sebaliknya oleh dia.
(Do~ Re~ Mi~ Fa~ So~ La~ Si~ Do~) ucap Andi sembari mengikuti nada piano.
Beberapa menit kemudian, "Sekarang giliran kalian!" ucap dia.
"Baik."
"Sudah siap, Budi?" ucap Andi.
"Siap kapanpun!"
"Sesuai aba-aba saya ya, 1-2-3 mulai!" ucap Budi.
Kemudian mereka mulai mempraktekkan nya sembari dikoreksi oleh Andi.
Beberapa menit kemudian, "Sip, sudah lumayan bagus!" ucap Andi.
"Sekarang kita lanjutkan dengan menaikkan nada nya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Perhatikan saya lagi ya!" ucap dia.
"Baik." ucap mereka.
Kemudian Andi mempraktekkan nya lagi sembari mengikuti nada piano.
Beberapa menit kemudian, "Sekarang giliran kalian." ucap dia.
"Baik."
Kemudian mereka mulai mempraktekkan lagi dan begitu seterusnya sampai semua tuts piano ditekan.
Tidak lama kemudian, seorang petinggi yang sedang berjalan melewati ruangan musik.
*Ding~ Do~* Terdengar dari ruangan tersebut. Seketika itu, (...!) Dia menghentikan langkah lalu menghadap ke ruangan tersebut.
Melihat beberapa anggota grup musik yang sedang berlatih, (Hmm ... Sepertinya ini kegiatan grub musik. Padahal sudah tidak diizinkan. Wahh ... Saya harus lapor jendral nih!) Terlintas dalam pikiran dia sembari menempelkan jari ke dagu.
Kemudian dia bergegas menuju ruangan jendral Yudi.
Di ruangan jendral yudi, *Tok-tok.* pintu diketuk dari luar.
__ADS_1
Seketika itu, jendral Yudi menghentikan pekerjaan sementara lalu menghadap ke pintu.
"Silahkan masuk!" ucap dia
*Klik!* pintu dibuka.
Terlihat terdapat jendral Yudi yang sedang duduk di bangku dan Sekretaris yang sedang berdiri di samping dia.
Kemudian petinggi memasuki lalu menutup kembali pintu nya. kemudian dia menghampiri jendral Yudi.
"Ohh ... Kamu dari divisi pertahanan, ada apa?" ucap jendral Yudi.
"Tadi saya melihat ada kegiatan grub musik di ruangan musik. Padahal sudah tidak diizinkan!" ucap petinggi.
"YANG BENAR KAMU!" Raut wajah dia yang serius.
"Iya jendral Yudi."
Kemudian jendral Yudi menoleh ke sekretaris, "SEKRETARIS!"
"Siap jendral, ada apa?"
"Panggilkan mayor Rudi ke sini!"
"Baik. Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu!"
"Silahkan."
*Klik!* Pintu dibuka lalu sekretaris keluar dari ruangan tersebut. Kemudian dia menutup kembali pintu nya lalu menuju ke ruang penyiaran.
Di ruangan penyiaran, *Tok-tok* pintu di ketuk dari luar.
Kemudian petugas menghadap ke pintu.
"Silahkan masuk!" ucap dia.
*Krik....* pintu dibuka.
Terlihat seorang petugas yang sedang duduk di kursi.
"Ada apa?" ucap dia.
"Tolong panggilkan mayor Rudi untuk segera datang ke ruangan jendral Yudi!"
"Baik."
Kemudian petugas tersebut mendekatkan mulut ke microphone sementara dia menutup kembali pintu nya. Kemudian dia kembali ke ruangan jendral Yudi.
Di ruangan mayor Rudi, *Ding-dong!* Bunyi bel pengumuman terdengar oleh dia.
Seketika itu, dia langsung menghentikan pekerjaan sementara.
"Kepada mayor Rudi untuk segera datang ke ruangan jendral Yudi."
(Hmm ... Ada apa ini?. Perasaan saya kok tidak enak ya.) ucap dia sembari memegangi dagu dengan raut wajah yang sedang gelisah.
*Klik!* Pintu nya dibuka lalu dia keluar dari ruangan tersebut. Kemudian dia menutup kembali pintu nya lalu menuju ke ruangan jendral Yudi.
Di ruangan jendral Yudi, *Tok-tok.* pintu diketuk dari luar.
*Klik!* pintu dibuka lalu mayor Rudi memasuki nya.
Kemudian dia menutup kembali pintu nya sementara petinggi menoleh ke mayor Rudi, (Hehe ... Siapkan dirimu!) Terlintas dalam pikiran.
Kemudian dia melihat petinggi, "Loh! Kamu yang ikut rapat kemarin kan?!"
"Sini kamu!" ucap jendral Yudi.
"Siap jendral Yudi." ucap mayor Rudi.
Kemudian dia menghampiri jendral, "Ada apa jendral memanggil saya?"
"Saya mendapatkan laporan dari dia, bahwa kamu menjalankan grub musik diam-diam ya?" ucap jendral Yudi dengan raut wajah yang serius.
Seketika itu, "E ... E-egh .... I ... I-itu ..." ucap mayor Rudi dengan sangat gugup disertai keringat bercucuran dikarenakan kegiatan grub nya diketahui.
Sementara petinggi yang berada di samping dia, (Rasakan itu! Sekarang kamu tidak bisa mengelak.) Terlintas dalam pikiran sembari melirik dia.
Kemudian mayor Rudi mencoba untuk memalingkan pandangan. Namun, "JAWAB SAYA!" ucap jendral Yudi dengan tegas.
"I-iya jendral." ucap mayor Rudi dengan spontan.
"Sekarang hentikan kegiatan grub kamu!"
"Baik." Dengan nada suara yang rendah.
"Ya sudah sekarang kamu bisa meninggalkan ruangan."
"Siap."
*Klik!* Pintu nya dibuka lalu dia meninggalkan ruangan tersebut sementara petinggi, "Kalau begitu saya pamit juga jendral Yudi!"
"Baiklah." ucap jendral Yudi.
Kemudian petinggi keluar ruangan tersebut lalu menutup kembali pintu nya.
Mayor Rudi yang sedang berjalan di sepanjang lorong dengan kepala tertunduk dan raut wajah yang sedang murung setelah mendapatkan hal tadi, (Sudah kuduga akan begini akhirnya.) Terlintas dalam pikiran.
Di saat itu, semua harapan dan usaha dia seakan-akan sirna begitu saja tanpa meninggalkan jejak sedikitpun dengan hati yang dilema kegalauan yang amat sangat terdalam.
Hingga saat dia melewati ruangan musik, *Ding~ Do~* Sebuah suara terdengar dari ruangan musik yang seakan-akan mengetuk hati kecil.
Seketika itu, (..!) Dia langsung mengangkat kepala lalu mendekati cendela ruangan sembari menempelkan kedua tangan.
Melihat mereka yang terus berjuang sekuat tenaga dengan kebahagiaan yang terpancar, *PLAK!* Menepuk kedua pipi dengan kedua tangan dia.
(Semangat-semangat Rudi, kamu tidak boleh menyerah!) ucap dia yang sedang mencoba untuk memotivasi diri.
Seketika itu, rasa percaya diri dia bangkit kembali.
Sementara Andi yang kebetulan melihat dia di balik cendela, "Oy ... Mayor Rudi, ayo ke sini!" ucap dia sembari melambaikan tangan.
(G-geh!) ucap mayor Rudi.
Kemudian dia menghampiri pintu nya sementara mereka menghentikan latihan sementara.
__ADS_1
*Klik!* pintu nya di buka dari luar.
"Se ... Selamat siang semuanya." ucap dia dengan nada rendah.
Kemudian mereka menoleh ke dia, "Selamat siang juga."
Kemudian mayor Rudi menghampiri mereka.
"Tadi, saya melihat dari kejauhan sepertinya mayor Rudi sedang murung. Memangnya kenapa?" ucap Andi.
"G-geh ... I-itu ... Ehem, saya tadi sedang memikirkan kegiatan grub ini kedepannya!" ucap mayor Rudi.
"Hee ... Yang benar?"
"I-iya kok." Menggaruk pipi dengan ujung jari tangan kanan dia.
Seolah tidak percaya dengan perkataan mayor Rudi, Budi yang dari tadi memperhatikan.
"Jujur saja mayor Rudi, tidak usah menanggung beban sendirian. Kan kita keluarga!" ucap dia.
"Betul itu mayor!" ucap Andi.
Sementara para junior hanya mengangguk kepala.
"Ka-kalian ..." Meneteskan air mata lalu mengusapnya.
"Jadi begini, tadi saya dipanggil oleh jendral Yudi untuk menghentikan aktivitas grup ini dikarenakan diam-diam berjalan tanpa sepengetahuan dia." ucap mayor Rudi.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan mayor Rudi. Kan kita mempunyai tujuan yang baik. Suatu saat, pasti jendral Yudi akan berubah pikiran." ucap Budi.
"Betul itu mayor!" ucap Andi.
Lagi-lagi para junior hanya mengangguk kepala.
"Baiklah."
Kemudian grup tersebut tetap berjalan seperti biasanya.
"Oh ya, sekarang sudah jam berapa?" ucap mayor Rudi.
"Tunggu sebentar." ucap Andi.
Kemudian dia mengeluarkan ponsel dari kantong celana lalu mengecek nya.
"Sudah jam 13:00 nih!" ucap dia.
"Kalau begitu, kita istirahat yuk!" ucap mayor Rudi.
“Oke." ucap mereka.
Kemudian mereka menuju ke kantin umum. Di kantin, seperti biasa mereka langsung mengambil makan siang di tempat pengambilan nya lalu duduk di bangku kosong.
Kemudian mereka makan dengan lahap. Beberapa menit kemudian, mereka langsung kembali ke ruangan musik.
Di ruangan musik, mereka mulai melanjutkan latihan nya diikuti dengan alunan nada piano yang lembut sembari diawasi oleh mayor Rudi.
Waktu terus berlalu, para senior tetap dengan sabar melatih mereka sampai bisa sehingga tidak terasa persahabatan antar keduanya mulai terjalin.
Alunan piano lembut disertai suara merdu mereka mengisi seisi ruangan tersebut.
(Yosh ... Saya yakin kita pasti bisa mengembalikan kebahagiaan mereka.) Terlintas dalam pikiran mayor Rudi sembari mengepalkan tangan.
10 menit kemudian, dia langsung kembali ke ruangan kerja di tengah mereka yang sedang berlatih.
Beberapa jam kemudian, siluet cahaya orange menembus cendela ruangan tersebut. Kemudian Andi mengecek waktu di ponsel yang sudah menunjukkan pukul 16:30.
"Stop! Kita sudahi latihan pada hari ini." ucap dia
Kemudian mereka menghentikan nya. Kemudian Budi menghampiri Rendi.
"Loh! Kemana mayor Rudi?" ucap dia.
"Bukannya dia di si- Loh kok tidak ada ya?" ucap Andi sembari melihat dan menunjuk ke sudut ruangan.
"Apa mungkin dia sudah kembali ke ruangan kerja dari tadi?"
"Sepertinya begitu sih."
Tidak lama kemudian, *Kring!* Sebuah notifikasi panggilan masuk dari mayor Rudi berbunyi di ponsel Andi.
Kemudian dia mengangkat nya, "Halo mayor Rudi, ada apa?"
"Sekarang saya sedang di ruangan. Kalian sudah selesai latihan nya?" ucap mayor Rudi.
"Barusan sudah selesai nih."
"Terus bagaimana perkembangan mereka?"
"Sudah bagus mayor."
"Kerja bagus kalian. Sekarang bisa langsung pulang ke asrama!"
"Siap mayor."
*Klik!* Panggilan nya ditutup oleh mayor Rudi.
Kemudian Andi menoleh ke Budi, "Ternyata benar mayor Rudi sudah kembali ke ruangan dari tadi."
"Sudah kuduga." ucap Budi.
Kemudian Andi menoleh ke mereka, "Mari kita pulang ke asrama!"
“Baik." ucap mereka.
Kemudian mereka meninggalkan ruangan lalu kembali ke kamar asrama masing-masing. Hari menjadi malam semua orang terlelap dalam tidurnya.
______________________________________________
Pesan moral
Tetaplah tegar dalam menghadapi apapun pasti akan ada orang yang selalu mendukungmu
__ADS_1