Idol Iblis

Idol Iblis
Latihan di kamp pengungsi


__ADS_3

Pagi hari yang cerah di kamar Budi. Dia yang baru terbangun dari tidurnya, *LINE!* notifikasi line dari hpnya berbunyi.


 


Kemudian dia membuka hp lalu mengeceknya.


 


[Selamat pagi Budi.]


 


Dia membalasnya,


 


[Pagi juga Andi.]


 


[Sudah siap-siap ke kamar mandi?]


 


[Sudah. Ini aja mau berangkat.]


 


[Kalau begitu barengan saja yuk sekalian ajak anggota grup musik.]


 


[Boleh juga tuh.]


 


Andi membalas dengan mengirim stiker.


 


Kemudian dia menuju kamarnya yang kebetulan bersebelahan dan tidak lupa mengunci pintu.


 


"Andi.... sudah siap?" Memanggilnya sembari mengetuk pintu.


 


"Sebentar saya kesana."


 


Suara langkah kaki mendekat.


 


*Krik...* pintu dibuka dari dalam.


 


"Ayo!"


 


Kemudian Andi mengunci pintu lalu keduanya menuju ke kamar anggota grup.


 


Di kamar anggota klub musik, mereka yang baru terbangun dari tidurnya. *Tok-tok* pintu diketuk dari luar.


 


Seketika pandangannya tertuju ke pintu.


 


"Silahkan masuk." ucap Alek.


 


*Krik...* pintu dibuka.


 


"Selamat pagi semuanya." ucap Budi sembari menunjukkan raut wajah yang ceria.


 


"Pagi juga." jawab mereka.


 


"Mari kita ke pemandian umum bersama."


 


"Baik."


 


Kemudian Alek mengunci pintu lalu mereka menuju ke pemandian umum bersama.


 


Sesampainya disana, *Krik..* Pintu luar pemandian pria dibuka olehnya. Kemudian mereka memasukinya. Di dalam, mereka langsung melepaskan pakaian di ruang ganti. *Krek..* pintu dalam digeser olehnya. Kemudian mereka mulai membersihkan punggung terlebih dahulu secara bergantian di kursi kecil lalu membersihkan badannya.


 


Beberapa menit kemudian, mereka mengelap tubuh dengan handuk lalu memakai kembali pakaian. Mereka keluar dari pemandian tersebut.


 


"Ayo kita sarapan!" ucap Budi.


 


"Baik." jawab mereka.


 


Kemudian mereka menuju kantin umum bersama.


 


Di kantin, aroma lezat masakan tercium di hidung mereka. (Hmm.... nikmatnya aroma masakannya.) itulah suatu kalimat yang ada di benaknya. Hingga,


 


*Kruk...* perut Deni yang sedang kelaparan terdengar oleh mereka. Seketika itu, dia langsung menutupi perutnya.


 


Budi yang juga mendengarnya menoleh ke dia.


 


"Sepertinya kamu sangat lapar ya?"


 


"He-he..." Mengeluarkan tawa kecil sembari menggaruk pipinya dengan ujung jari.


 


"Ya sudah mari kita langsung sarapan."


 


Kemudian mereka mengambil sarapan lalu duduk di bangku yang masih kosong.


 


(Selamat makan.)


 


Beberapa menit kemudian, mereka selesai sarapan.


 


(Terima kasih atas makanannya.)


 


"Oh ya kita belum bertukar kontak line ya?"


 


Mereka menganggukan kepala.


 


"Ya sudah mana line kalian sekalian saya buatkan grup."


 


Kemudian mereka mengeluarkan hp lalu saling bertukar kontak line. *Ding* menandakan mereka berhasil.


 


Namun, Deni dan Dendi hanya bisa terdiam saja melihat mereka. Itu hal yang sangat wajar bagi keduanya karena di zamannya tidak ada teknologi seperti itu.


 


Andi yang kebetulan melihatnya menjadi penasaran.


 


"Kenapa kalian diam saja?"


 


"Kami tidak punya alat seperti itu." ucap Deni.


 


Kemudian Andi menepuk ringan pundak Budi. lalu Budi menoleh ke arahnya.


 


"Ada apa?"


 


"Deni dan Dendi tidak punya hp."


 


"Benarkah?"


 


"Iya."


 


"Nanti coba kita cari di gudang mungkin ada."


 


Kemudian Budi mengembalikan pandangannya.


 


"Oke semuanya sudah selesai sarapannya?


 


"Sudah."


 


"Mari ikut kami sebentar saja."


 


"Baik."


 


Kemudian mereka menuju gudang. Di gudang,


 



 


"Sebentar ya kalian tunggu disini." ucap Budi.


 


"Baik."


 


*Krik...* pintu dibuka dari luar.


 


Kemudian keduanya memasuki gudang lalu mencari dua buah hp. *dug-dug* bunyi beberapa barang di pindah. Beberapa menit kemudian,


 


"Akhirnya saya menemukannya." ucap Andi sembari memegangi sebuah hp.


 


Kemudian dia menoleh ke Budi.


 


"Bagaimana dengan mu?"


 


"Saya juga dapat nih." Menunjukkan sebuah hp ke dia.


 


Kemudian mereka mengeceknya.


 


"Sepertinya ini masih berfungsi dengan baik"


 


"Ini juga sama. Kalau begitu mari kita keluar"


 


"Baik"


 


*Klik* pintu ditutup.


 


"Ini." Keduanya memberikan hp ke Deni dan Dendi.


 


"Permisi.... ini bagaimana cara menggunakannya?" Deni dan Dendi sedang kebingungan dengan itu.


 


"Loh kalian tidak bisa menggunakannya?" ucap Andi.


 


Mereka menganggukan kepala.


 


Kemudian budi dan andi mengajari mereka. Beberapa menit kemudian,


 


(Wow! ini seperti sihir.) ucap Dendi karena kagum.


 


"Si-sihir!" Sontak, yang lain terkejut atas ucapan tersebut lalu menatap keduanya.


 


"E..e-egh.." Seketika itu, Deni dan dendi menjadi sangat gugup sampai tidak bisa berkata apa-apa karena rahasianya hampir terbongkar.


 


"Jangan bilang-" Alek menjadi sedikit curiga dengan keduanya. Namun,


 


"Sudah-sudah pasti setiap orang punya privasinya masing-masing." Budi mencoba untuk mencairkan suasana.


 


*Fuh...* keduanya mengehala nafas ringan sehingga rasa gugupnya menghilang.


 


"Hari ini kita akan mempraktikkan hasil latihan kemarin di depan umum. Mari ikuti kami." ucap Budi.


 


"Baik." jawab mereka.


 


Kemudian mereka berjalan ke luar bangunan. Dalam perjalanan, Alek yang berada di belakang keduanya masih teringat atas ucapan Dendi.


 


(Sihir.... hmm... mungkinkah mereka adalah iblis. Tapi.... mereka terlihat seperti manusia biasa.) memegangi dagu sembari menatapnya.


 


Tidak ingin menanamkan kecurigaan lebih dalam lagi karena kekurangan bukti, dia memilih untuk melupakannya.


 


Di halaman gedung,


 


"Kita mau kemana kakak Andi?" ucap Yudi.


 


"Oh kita akan menuju ke kamp pengungsi terdekat menggunakan kendaraan."


 


Kemudian Andi melihat sekeliling.


 


(Itu dia.) matanya tertuju ke sebuah mobil pickup yang sedang mengangkut barang.


 


Kemudian mereka menghampirinya.


 


"Permisi"


 


Kemudian salah satu seseorang menghadapnya.


 


"Ada apa?"


 


"Kalian mau kemana?"


 


"Kita akan pergi ke kamp pengungsi untuk membawa barang ini."


 


"Kalau begitu kita boleh menumpang?"


 


"Boleh tapi kalian harus berdesakan dengan barang."


 


"Oh tidak papa."


 


"Oke sekalian bantu kita angkut barang ke mobil."

__ADS_1


 


Kemudian Andi membalikkan badan.


 


"Ayo kalian kita bantu mereka!"


 


"Baik." jawab mereka.


 


Kemudian mereka mulai mengangkat barang. Beberapa menit kemudian,


 


*fuh...*


 


(Akhirnya selesai juga) mereka mengusap kening dengan tangan


 


"Silahkan kalian naik."


 


"Baik."


 


Kemudian anggota grub musik naik sementara sopir dan kernet naik di bangku sopir. *Dug* pintu kemudi ditutup.


 


Kemudian kernet menoleh ke belakang sembari berteriak.


 


"SUDAH NAIK SEMUA!?"


 


Budi yang kebetulan mendengarnya langsung menoleh ke luar.


 


"SUDAH!"


 


Kemudian kernet menoleh ke sopir.


 


"Ayo kita berangkat."


 


"Oke."


 


*brum* mesin mobil dinyalakan. Kemudian mereka berangkat ke kamp pengungsi.


 


Di kamp pengungsi, *Crit...* truk berhenti. Kemudian sopir mematikannya dan turun lalu diikuti kernet setelahnya. Kemudian keduanya menghampiri mereka.


 


"Kita sudah sampai." ucap kernet.


 


"Ayo kalian kita turun!" ucap Budi ke anggotanya.


 


"Baik." jawab mereka.


 


Kemudian mereka turun dan mencari tempat untuk latihan. Beberapa menit kemudian, mereka menemukan tempat kosong namun di kelilingi kamp.


 


"Sepertinya disini bisa, ayo kalian kita langsung mulai latihannya!" ucap Budi.


 


"Baik." jawab mereka.


 


Kemudian mereka memulai latihannya.


 


Awalnya mereka tampak percaya diri namun para pengungsi yang mendengarnya mulai berdatangan. Seketika itu, mereka menjadi gugup. Ya karena ini hal yang pertama kalinya.


 


"Mana ini suara kalian!" Menjulurkan kuping ke mereka.


 


Kemudian dia melihat sekeliling dan baru sadar bahwa mereka sedang diperhatikan.


 


(Oh.. jadi ini....)


 


Kemudian Andi terpikir suatu ide.


 


"Kalian coba tutup mata lalu fokus dengan suara kakak Budi!"


 


"Baik."


 


Budi menoleh ke Andi.


 


"Apakah cara ini berhasil?"


 


"Dicoba saja."


 


"Oke."


 


Budi kembali memandang mereka.


 


"Kita kembali ke awal, dengarkan suara saya ya!"


 


"Baik." jawab mereka.


 


Kemudian mereka melanjutkannya.


 


"Ide kamu ampuh juga Andi." Mengacungkan jempol.


 


Andi menganggukan kepala.


 


Tidak terasa hari semakin siang. Andi langsung mengecek jam di hp lalu menepuk ringan pundak Budi. Budi menoleh ke dia.


 


"Sudah jam segini nih ayo kita istirahat." Menunjukkan jam di hp yang menunjukkan pukul 12:00.


 


"Oke kalau begitu."


 


Mengembalikan pandangannya.


 


"Oke kalian bisa buka mata waktunya isirahat!"


 


"Baik." jawab mereka.


 


Kemudian mereka membuka mata. *ting-ting* kentongan dipukul di stand perbekalan.


 


"Waktunya sarapan!" ucap penjaga stand dengan pengeras suara.


 


"Ayo kita sarapan!"


 


"Baik." jawab mereka.


 


Kemudian semua orang menuju ke stand perbekalan tidak terkecuali mereka.


 


 


"Kalau sudah selesai piringnya bisa dikembalikan di stand sebelahnya." ucap penjaga stand dengan pengeras suara.


 


Melihat kondisi pengungsi yang seperti itu, Deni seorang raja iblis langsung teringat akan nasib kaumnya semenjak kekalahannya. Sampai tidak sadar,


 


*Dug* menabrak Alek yang berada di depannya.


 


Alek membalikkan badan lalu meluapkan emosinya.


 


"ADA APA DENGAN KAMU!?"


 


"Ma-maaf saya tidak sengaja tadi saya melamun." Dia gelisah.


 


"Ya sudah."


 


Alek membalikkan badan lalu Dendi menjadi penasaran.


 


"Ada apa paduka?"


 


Deni membalikkan badan.


 


"Sstt...!" Menempelkan ujung jari di bibir.


 


"....?"


 


"jangan panggil saya dengan nama itu disini."


 


"Baik pa- salah maksud saya Deni."


 


Deni menganggukan kepala lalu kembali.


 


Setelah beberapa menit mengantri, akhirnya mereka mendapatkan makan siang. Kemudian mereka duduk di tempat yang masih kosong.


 


(Selamat makan.)


 


Tidak lama kemudian, datanglah perwira lain yang bertugas disana.


 


"Bolehkah saya bergabung?"


 


Budi menoleh ke dia.


 


"Oh silahkan."


 


"Terima kasih."


 


Kemudian dia duduk.


 


"Saya tadi melihat kalian berlatih. Kalian dari mana?"


 


"Kami dari grup musik."


 


"Grup musik...? Sepertinya saya baru mendengarnya."


 


"Betul karena kami baru dibentuk."


 


"Oh kehadiran kalian cukup membantu kami."


 


"Kami senang mendengarnya."


 


Kemudian keduanya melanjutkan makan. Setelah semuanya selesai makan,


 


(Terima kasih atas makanannya.)


 


"Ayo kita lanjut latihannya!" ucap Andi.


 


"Baik." jawab mereka.


 


Kemudian mereka mengembalikan piring lalu perwira tadi menghadap mereka.


 


"Kalau begitu saya lanjut bertugas ya."


 


"Oke. Selamat bertugas." ucap Andi.


 


Kemudian perwira tadi meninggalkan mereka sembari melambaikan tangan. Tidak lama kemudian, datanglah sekumpulan pemuda/pemudi.


 


"Permisi..." ucap salah satu dari mereka.


 


Kemudian anggota musik membalikkan badan.


 


"Iya. Ada apa?" ucap Budi.


 


"Tadi kami melihat kalian berlatih. Kalian dari mana?"


 


"Grub musik."


 


"Kami sangat senang berkat adanya kalian disini." Sebuah senyuman terpancar dari wajah mereka lalu meninggalkannya.


 


Kemudian grub musik kembali melanjutkan latihannya seperti biasa. Namun, di tengah latihan.


 


"Sekarang buka mata kalian perlahan tanpa berhenti bersuara." ucap Budi.


 


Kemudian mereka membuka mata lalu rasa gugup mereka mulai berkurang meskipun tetap diperhatikan oleh para pengungsi.


 


“SEMANGAT!” Sorakan terdengar dari para pengungsi.


 


Seketika itu, rasa percaya diri mereka meningkat.


 


“Yosh.... bagus kalian tetap teruskan.” Mengepalkan tangan.


 


Merekapun lama kelamaan mulai menikmatinya.


 


Hari semakin sore, siluet senja mulai terlihat di langit. Kemudian budi melihat ke atas.


 


(Tidak terasa sudah sore aja)

__ADS_1


 


“Berhenti!”


 


Mereka berhenti.


 


“Hari ini kita cukupkan sampai disini!"


 


“Baik.” jawab mereka.


 


“Mau berkeliling sebentar?”


 


“Saya mau.” ucap Deni sembari mengangkat tangan. Kemudian diikuti yang lainnya.


 


“Kalau begitu ayo!"


 


Kemudian mereka berkeliling sekitaran kamp. Setiap mereka berkeliling, orang-orang selalu tersenyum dihadapannya. Sampai langkah mereka terhenti kepada sebuah truk.


 


*Brem..* mesin truk dinyalakan bersiap untuk pergi.


 


Mereka yang kebetulan melihatnya langsung menghampiri karena tidak ingin tertinggal.


 


“TUNGGU..!” Teriak Andi sembari melambaikan tangan.


 


Sementara kernet yang duduk di bangku depan.


 


(Hmm.. sepertinya saya tidak asing dengan mereka)


 


*Krik* hand rem diturunkan oleh sopir. (...!) menoleh ke dia lalu menempelkan tangan ke hand rem. Sopir yang belum sempat melepaskan tangan.


 


“....! Ada apa?”


 


“Mereka sepertinya ingin bareng sama kita"


 


“Oh....”


 


Kemudian dia menariknya.


 


“Ak-akhirnya sempat juga" ucap Andi dengan nafas sedikit tersendat.


 


Kernet menoleh ke arahnya.


 


“Oh ternyata kalian yang tadi pagi."


 


“Betul. Kalian mau kemana?”


 


“Kita akan kembali ke pangkalan.”


 


“Kebetulan sekali tujuan kita sama."


 


“Ya sudah kalau begitu naik di belakang.” Mengacungkan jempol ke belakang.


 


“Terima kasih."


 


Andi menoleh ke grup musik.


 


“ayo kalian kita naik!"


 


“Baik.” jawab mereka.


 


Kemudian mereka menaiki bagian belakang truk. Andi mengeluarkan kepala lalu menoleh ke depan truk.


 


“SUDAH SIAP!” Teriaknya.


 


Sementara kernet yang daritadi memperhatikan mereka.


 


“OKE!" Teriaknya.


 


Kernet menoleh ke sopir.


 


“Ayo berangkat!”


 


“Oke."


 


Kemudian dia menarik hand rem lalu truk itu berangkat. Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di pangkalan militer saat malam hari.


 


*Crit....* truk tersebut berhenti sejenak.


 


“Ayo kalian kita turun!” ucap Budi.


 


“Baik.” jawab mereka.


 


Kemudian mereka turun lalu menghampiri kernet.


 


“Terima kasih atas tumpangannya." ucap Andi.


 


Kernet menoleh ke dia.


 


“Tidak masalah. Kalau begitu selamat malam ya." Melambaikan tangan.


 


“Selamat malam juga." jawab mereka.


 


Kemudian truk itu meninggalkan mereka.


 


“Sepertinya kita juga harus istirahat.” ucap Budi.


 


Mereka menganggukan kepala lalu mereka menuju ke asrama.


 


Di asrama, mereka berpapasan dengan mayor Rudi.


 


“Selamat malam mayor Rudi.” ucap Andi.


 


(....!) dia membalikkan badan.


 


“oh ternyata kalian. Habis dari mana?”


 


“kami dari latihan di kamp pengungsi.”


 


“oh.. kalau begitu sekalian kita ke pemandian umum bersama!”


 


Mereka menganggukan kepala lalu mereka menuju ke pemandian umum.


 


Sesampainya disana, *Krik..* Pintu luar pemandian pria dibuka olehnya. Kemudian mereka memasukinya. Di dalam, mereka langsung melepaskan pakaian di ruang ganti. *Krek..* pintu dalam digeser olehnya. Kemudian mereka mulai membersihkan punggung terlebih dahulu secara bergantian di kursi kecil lalu membersihkan badannya.


 


Beberapa menit kemudian, mereka mengelap tubuh dengan handuk lalu memakai kembali pakaian. Mereka keluar dari pemandian tersebut.


 


“Kalau begitu kita kembali ke kamar.” ucap rudi.


 


“oke kita juga." ucap alek.


 


“Selamat malam.” ucap para senior.


 


“Selamat malam juga.” ucap para junior.


 


Kemudian para senior meninggalkan mereka. Tidak lama kemudian mereka menuju ke kamar tidur.


 


Di kamar tidur anggota musik, Alek membukakan pintu. Kemudian Anji, Deni dan Dendi langsung berbaring di ranjang. *Clik* pintu ditutup dan dikunci olehnya.


 


(Saatnya tidur-) belum sempat menutupkan mata.


 


“TUNGGU DULU!" ucap Alek.


 


Mereka terbangun.


 


“Ada apa?” ucap Anji.


 


"Bagaimana kalau kita bermain sebentar?"


 


"Bermain...?" ucap Deni dan Dendi.


 


"Boleh saja."


 


Dia menoleh ke Deni dan Dendi.


 


"Tapi kita tidak mengerti permainan manusia" ucap Deni.


 


"Tenang akan kita ajari."


 


"Baik." jawab keduanya.


 


Kemudian Alek mengambil sesuatu di tasnya sementara yang lain memperhatikannya. "Tada ini dia." Memegangi sebuah kartu sembari menunjukkan ke mereka.


 


"...?"


 


"Ayok sini kalian!"


 


"Baik."


 


Kemudian mereka berkumpul.


 


Alek menoleh ke Deni dan Dendi.


 


"Oh ya kalian belum di masukkan grubnya?"


 


"Sepertinya iya."


 


"Ya sudah keluarkan hp kalian."


 


Keduanya mengeluarkan hp kemudian memberikannya. *Dud!* bertukar kontak line.


 


"Ini" Mengembalikannya


 


Kemudian dia memasukkannya. *LINE!* notifikasi muncul di layar hp keduanya.


 


"Bagaimana sudah masuk?"


 


"Sudah." jawab keduanya.


 


"Memang kita akan bermain apa?" ucap Anji.


 


Dia menoleh ke arahnya.


 


"Kita akan bermain poker"


 


"Oh itu..." Menganggukan kepala.


 


Kemudian mereka bermain bersama sehingga tidak terasa persahabatan mereka saling menguat.


 


Beberapa menit kemudian, *Woah..!* Andi menguap ingin segera tidur.


 


"Loh sudah mengantuk saja?" ucap Alek.


 


"Iya nih."


 


"Ya sudah ini terakhir."


 


(Yosh... akan saya akhiri pertandingan ini dengan kemenangan saya.) terlintas dalam pikiran Anji. Namun, (Argh....)


 


"Kamu menang Deni." ucap Alek.


 


"Kalau begitu kita langsung tidur."


 


Mereka menganggukan kepala.


 


Kemudian mereka menata kartu lalu mereka kembali ke ranjang. Alek memasukkannya ke tas dan menuju saklar lampu.


 


"Saya matikan ya lampunya. Selamat tidur."


 


"Selamat tidur juga." jawab mereka.


 


*Klik* lampu dimatikan.


 

__ADS_1


Alek kembali ke ranjang dan semua orang terlelap dalam tidurnya.


__ADS_2