Idolaku Mentor Dietku

Idolaku Mentor Dietku
Prolog


__ADS_3

Cerita ini tentang diriku, Andina Wijaya. Panggil aja Nana. Aku sekolah di Amerika. Bukan karena aku pintar tapi....


Kurasa ibuku, Salma Kinanti yang mantan ratu kecantikan Indonesia malu punya anak gendut dan jerawatan sepertiku. Tentu saja, itu tidak akan terjadi tanpa dukungan ayahku, Subagyo Wijaya dan kakakku, Adinata Wijaya yang juga ingin melenyapkan aku dari pandangan mereka.


Kalau ayah dan kakak lelakiku masalahnya bukan karena aku gendut. Lebih disebabkan mereka punya nilai yang sempurna di zaman mereka sekolah lalu menjadi pusing tujuh keliling setiap melihat nilaiku yang bagai langit dan bumi dengan mereka.


Kemuakan mereka sudah sampai ubun-ubun membuatku tahu diri juga. Ketika aku lulus SMA, aku mengutarakan diri untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Mereka langsung setuju bahkan menguruskan semuanya dalam seminggu. Mengerahkan seluruh asisten ibu dan ayahku secara bersamaan.


Kamu bisa membayangkan betapa muaknya mereka padaku. Tapi jangan mendefinisikan aku sedih. Tentu saja tidak.


Kalau mereka bisa muak denganku. Aku pun sama. Siapa yang gak muak tiap hari cuma boleh makan sayur dan buah tanpa boleh makan junkfood ?

__ADS_1


Udah gitu, kalau ayahku pulang dari perjalanan bisnis yang selalu dibawakan adalah buku kumpulan soal latihan ujian -_-


Itu masih bukan apa-apa. Yang terparah adalah kakak lelakiku yang terobsesi dengan punya perut roti sobek itu, menyuruhku berolahraga bersama dia setiap pagi sebelum dia berangkat kantor -_-


Untungnya, semua malapetaka itu sudah sirna sejak tiga minggu lalu aku datang ke Amerika. Aku sudah hidup dengan bahagia seperti di dongeng para putri, happy ever after.


Oya, aku di sini bersekolah di sekolah kejuruan di salah satu instansi yang aku pilih di dekat kampusnya cowok ganteng hehehe. Intinya, aku kuliah di community college yang masih satu lingkungan di daerah kampus MIT.


Sekolah ini bukan kampus semacam universitas ya. Ini semacam kelas vokasi. Semacam lembaga pendidikan non-universitas atau untuk persiapan bagi siswa yang akan melanjutkan pelajaran ke tingkat yang lebih tinggi. Jadi, tenang aja kalau mau lanjut ke Universitas, angka-angka ujian yang diperoleh di community college bisa ditransfer ke universitas sebagai syarat masuk kok.


Ayahku juga setuju dengan jurusan itu. Beliau berpendapat, mungkin anak perempuannya tidak bagus di bidang akademik sebab saat pembentukan otakku gen ibuku mendominasi sehingga beliau pikir bakatku ada di bidang keahlian berdandan seperti ibuku.

__ADS_1


Aku juga masih ingat kata-kata kakak lelakiku yang perfeksionis itu saat rapat musyawarah keluarga, "Lebih baik aku melihat nilai A di transkrip nilaimu kali ini atau aku akan membawamu nge-gym tiap hari saat kembali ke Indo."


Wuaaaah.....


Aku tidak ingin kembali ke Indonesia bertemu kakakku si serigala berbulu domba itu. Atau ibuku pemakan salad. Tapi, uang ayahku ada di Indonesia. Kalau aku tidak pulang membawa laporan nilai A mungkin uang jajanku tidak akan ada lagi.


Hah.


Aku galau.


Jadi, mau tidak mau aku belajar dengan sangat giat sepanjang sejarah hidupku. Ketakutanku akan kebebasan dan kebahagiaanku di sini terampas itu sebanding untuk merelakan waktu main gameku.

__ADS_1


Bersyukurnya aku memilih sekolah yang tepat. Saat aku selesai kelas, aku bisa menyelinap pergi ke lapangan basketball kampus sebelah yang bergelimang cowok ganteng hehehe.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


__ADS_2