Idolaku Mentor Dietku

Idolaku Mentor Dietku
Bab 2. Ide Licik Adinata


__ADS_3

Sudut Pandang Adinata


Sepulangnya aku dari makan malam dengan tiga bocah cilik yaitu adikku dan kedua temannya, sekretarisku sudah langsung menghadangku di lobi hotel. Hah, aku menarik nafas lelah harus menghadapi kerjaan lagi.


"Ris, kamu tahu ini jam berapa?" tanyaku sambil melangkah ke restauran hotel.


"Pukul delapan malam, Pak." Riska membukakan kursi untukku lalu menyerahkan tablet padaku.


"Pak Nata, ini proposal terbaru yang diajukan oleh pihak Future Tech," kata Riska tanpa rasa bersalah setelahnya dia beralih pada pelayan yang menanyakan pesanan kami. Riska memesankan air putih hangat untukku dan dia sendiri meminta steak dan es jeruk.


"Ck. Dari tadi belum makan kamu?" tanyaku.


"Belum hehehe. Saya sekalian makan ya Pak?" Riska cengar-cengir sambil menatapku. Anak satu ini, benar-benar deh.


"Makanlah daripada asam lambung kamu kumat," sahutku sambil menatap layar tablet.


Aku kembali fokus melihat proposalnya lalu saat sampai pada bagian portofolio team dari Future Tech, aku melihat sesuatu yang tidak asing.


Huh? Bukannya ini Jordan si quarterback, idolanya para bocil-bocil tadi. Pantas saja aku tidak asing melihat pria itu waktu di lapangan tadi.


"Hohohoo.... akan menjadi rapat yang menarik besok pagi," batinku senang bisa memikirkan banyak siasat.


"Pak Nata kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Riska membuat lamunanku buyar dan mencoba membuat wajahku sedatar mungkin.


"Proposal yang bagus. Gimana menurutmu kalau aku jadi white angel untuk startup ini?" kataku mencoba mencari topik lain supaya Riska lupa dengan yang dia lihat. Bisa gawat kalau pencitraan karakter pria es-ku hancur.


Syukurlah rencanaku berhasil, Si Riska tidak kembali bertanya masalah senyuman. Namun langsung serius membahas pekerjaan.

__ADS_1


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Sudut Pandang Orang Ketiga


Di sebuah private restauran seorang anak muda berparas tampan menggenakan kemeja putih dan celana kain hitam tanpa merk duduk menunggu calon rekan bisnisnya datang. Di sisi lain, Adinata yang baru turun dari mobil bersama sekretarisnya, Riska langsung memasuki restauran.


"Bapak lama banget sih dandannya, jadi telatkan kita," keluh Riska sambil berjalan menyamai langkah Adinata. Adinata sendiri hanya memutar bola matanya jengah dan terus berjalan ke ruang pertemuan mereka.


Saat Adinata melihat Jordan di ruangan, dia tersenyum bersiap menyapanya. Adinata melenggang masuk dengan stelan jas dan celana kain hitam brand Burberry kesukaan dirinya.


"Nice to meet you, Mr. Ibrahim! (Senang Bertemu dengan Anda, Tuan Ibrahim)" sapa Adinata dengan nada ramah dan percaya diri sambil menghampiri Jordan.


"Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan Nata." Jordan berdiri lalu berjabat tangan dengan Adinata.


"Oh kamu bisa bahasa?" kata Adinata kaget melihat Jordan bisa bahasa Indonesia.


"Ah masih Indonesia juga tho," jawab Adinata sekenanya sebelum menoleh ke sekretarisnya dan berkata, "Riska make up kamu ada yang rusak tu. Sana benerin dulu."


"Eh! Masak? Serius saya boleh benerin dulu?" ucap Riska gelagapan dengan perkataan bosnya satu itu.


"Iya sana, sekalian belikan kopi di Starbucks," usir Adinata dengan alasan yang dibuat.


"Kopi di sini kenapa sih, Pak?" tawar Riska pada Adinata.


"Nurut sama atasan," jawab Adinata dengan suara dingin dan tajam.


Riska yang mendapat jawaban dingin bersiap kabur dan menjawab Adinata, "Oh oh oke."

__ADS_1


Saat Riska berlalu pergi dari ruangan. Adinata melipat kaki kirinya di atas kaki kanannya lalu tersenyum licik pada Jordan.


"Saya akan menyuntikkan dana sesuai proposal yang kamu ajukan tapi saya ada syarat khusus."


"Ma-maksud Anda?" tanya Jordan gelagapan.


Adinata menyentuh hidungnya dengan kedua tangan yang di taruh di atas meja. Menciptakan aura intimidasi pada lawan bicaranya dan mulai berkata, "Saya punya adik. Kuliah vokasi di Amerika. Saya ingin dia pulang tambah kurus dan kulit terawat. Bukan tambah gemuk karena makan junkfood."


"Ma-maaf saya masih tidak mengerti..." ucap Jordan dengan nada bingung.


"Kamu jadi mentor diet dia. Bujuk dan pantau adik saya untuk olahraga juga. Saya mau kamu buat laporan perkembangan setiap bulan tentang program diet, perawatan kulit, olahraga adik saya."


"It-tu..." jawab Jordan yang mulai resah dan bimbang.


"Saya akan suntikan dana pertama sesuai jumlah sesuai proposal kamu saat kamu setuju dengan penawar saya. Dana berikutnya sesuai dengan jumlah perubahan pada adik saya. Saya hitung satu sampai tiga. Saat hitungan ketiga selesai, kesempatan kamu sudah hilang."


"Hah?" Jordan kaget dengan tenggat waktu yang diberikan.


"Satu."


"Dua."


"Setuju, sa-saya setuju." Jordan keringat dingin dan sedikit bersyukur refleknya bagus sehingga bisa mengambil kesempatan yang ada.


"That's a good choice (Itu pilihan yang bagus)," senyum rubah Adinata muncul dan Jordan menjadi kikuk melihat tingkah Adinata yang ramah kembali.


...πŸ€πŸ€πŸ€...

__ADS_1


__ADS_2