Idolaku Mentor Dietku

Idolaku Mentor Dietku
Bab 1. Kakakku Bertemu Idolaku


__ADS_3

Di sebuah kelas besar jurusan kosmetologi, di mana dosen menjelaskan tanpa memperdulikan apakah mahasiswa yang diajar mengerti atau tidak. Tetapi masih ada dua atau tiga mahasiswa yang masih tekun menyimak materi kuliah dosen itu, Andina termasuk dalam mahasiswa yang tekun tersebut.


Sayangnya, Andina yang sedang berjuang untuk mendengarkan kelas dan mencatat seketika imannya runtuh. Semua itu diakibatkan oleh dua sahabatnya yang ribut tepat di samping Andina.


"Ck. Kalian ngapain sih..." bisik Andina pelan tanpa melepaskan matanya dari layar proyektor dan tangannya juga tidak berhenti menulis catatan.


Sahabat Andina dengan kacamata dan rambut berponi hitam khas potongan gadis jepang bernama Yuki melirik Andina sebentar. Kemudian kembali ke layar handphone yang dia sembunyikan di balik buku.


"Lagi suruh nyoba game simulasi make up bikinan anak kampus sebelah," jawab Yuki pada Andina lalu dia mengembalikan handphone yang dia pegang kepada pemilik aslinya yang juga sahabat Andina, Lisa.


Lisa, gadis bermata coklat senada dengan rambut ikalnya yang juga berwarna coklat bertanya pada Yuki, "Gimana menurutmu?"


"Jelek, Lis. Mending main otome game yang dibikin Jordan," celetuk Yuki.


Andina yang mendengar nama idolanya disebut sudah tidak bisa menatap layar proyektor lagi. Bahkan jari yang tadinya erat memegang pena sudah berubah menjadi memegang handphone bersiap mendownload otome game yang diciptakan oleh idolanya itu.


Belum juga Andina sempat mendownload game dengan Wifi kampus, kelas sudah berakhir. Andina segera memasukan buku catatan dan alat tulisnya.


"Nana.. Lama banget sih," keluh Lisa sambil membuka bungkus permen karet.


"Udah nih, yuk!" teriak Andina yang datang dan merangkul lengan kedua sahabatnya.


"Mau ke mana kita?" tanya Andina bersemangat.


"Katakan peta!" jawab Yuki dan Lisa serempak. Lalu ketiganya tertawa dan mulai merancang jajanan kaki lima apa yang akan mereka bawa ke lapangan basketball hari ini.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Sudut Pandang Adinata

__ADS_1


Aku tiba di Amerika kemarin sore. Namun, langsung disibukan dengan urusan bisnis hingga sore ini baru selesai.


Selain urusan bisnis tentu saja aku mengemban amanat orang tuaku untuk melihat keadaan adikku tercinta. Sengaja juga tidak memberitahu adikku agar aku bisa sidak dia di sini.


Ingin melihat sebenarnya kelakuan Nana di Amerika itu seperti apa. Walaupun dia gendut dan jerawatan tapi bagaimana pun dia tetap adik perempuanku yang paling cantik.


Ketakutan terbesarku tentang adikku adalah saking frustasinya dia, dia merendahkan standar level mencari pasangan. Makanya aku akan melihat apa ada lelaki yang dia sukai.


Sebelum aku memesan Uber, aku terlebih dahulu menyalakan pencarian perangkat di aplikasi Zenly. Kemudian aku fokuskan pada handphone milik adik perempuanku tercinta.


Saat melihat lokasi Nana berada di lingkungan kampus MIT, aku langsung menaikan satu alisku. Apa yang sedang dilakukan bocah satu itu?


Hmmmm... Mencurigakan. Lupakan, ayo kita datangi saja daripada banyak berpikir.


Tentu saja, sebagai kakak yang baik aku tidak datang dengan tangan kosong. Aku mendatangi Nana dengan membawakan buah dan salad kesukaannya.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Waktu itu seperti biasa setelah kelas selesai aku akan mengagumi idolaku di lapangan basketball kampus. Namanya Jordan Ibrahim, lelaki dengan mata hijau yang mempesona dipadukan dengan rambut coklat kelam miliknya membuat siapapun tidak bisa mengalihkan dari menatap Jordan.


Belum lagi ketika dia bermain basketball maka pesona yang dia sembunyikan dibalik bajunya terpampang nyata. Tubuh gagah Jordan dengan kulit tan bersinar di bawah sinar matahari membuat gadis-gadis di kursi penonton berteriak histeris termasuk aku tentunya.


Jordan juga sangat populer sebagai quaterback di tim. Selain itu dia sangat pintar di program studi yang dia ambil. Seperti tidak ada celah jelek sama sekali tentang Jordan.


"Go Jordan Go!!!!!" teriakku bersama kedua sahabatku, Yuki dan Lisa.


Tetapi, tepukan pada bahuku sedikit menggangguku untuk menyemangati Jordan. Namun, itu tidak membuatku berhenti memberikan semangat untuk Jordan.


Aku menyingkirkan tangan itu dan berkata tanpa menoleh, "Ck, Dude! Don’t mess up with me... (Ck, Bang! Jangan cari masalahlah lu ama gua...)"

__ADS_1


Baru aku akan memberikan Jordan semangat lagi, kupingku sudah dijewer saja. Siapa ini yang berani menjewer kupingku.


"Ya! Wha-----Eh Maaass Nat...ta hehhehe," ujarku sambil tertawa salah tingkah membuat dua sahabatku juga gelagapan karena baru menyadari kedatangan kakak lelakiku satu ini.


"Oh jadi idolamu yang bernama Jordan lebih penting dari nyapa Mas kamu, hmm?"


"Enggak Mas," sahutku tegas tanpa keraguan karena takut kena damprat kakakku.


Syukurnya Mas Nata langsung mengalihkan perhatiannya pada kedua sahabatku. Untung ada mereka, jadi amarah Mas Nata bisa kebagi dengan mereka.


"Kalian juga, Yuki dan Lisa. Bukannya belajar malah teriak-teriak di lapangan gak jelas," cerca Mas Nata sambil melirik bengis.


"Maaf Mas Nata," jawab serempak Yuki dan Lisa sambil menundukkan kepala seperti biasanya ketika kami ketawan salah oleh Mas Nata.


Mas Nata yang sudah melepas jewerannya padaku dan puas memarahi kami bertiga, mulai memberikan kode agar aku menyingkir tasku dari kursi kosong. Melirik sadis ke arah taco dan hot dog milik kami bertiga lalu menyerahkan satu paket salad sayur pada kami.


"Habiskan ini dulu baru makan junkfood."


Tentu saja kami bertiga hanya bisa menurutinya. Kalau tidak begitu dan kakakku satu itu marah terus ngadu ke mama kita bertiga, alamat sudahlah kita.


"Heh, Miyuki. Mana yang namanya Jordan?" tanya Mas Nata pada Yuki yang sedang mengunyah salad sayur.


"Ekhem! Itu Mas," tunjuk Yuki pada sosok Jordan di tengah lapangan.


Kakaku itu menggosokkan jari si dagu sambil berkata, "Oh itu idolamu, Na. Gantengan juga, Masmu ini. Tapi kok kayak kenal ya..."


Inginku memutar bola mataku tetapi takut kena marah. Jadi, aku berusaha menahan diri dengan diam merunduk memakan salad sayur.


"Mimpi apa aku, kenapa bisa serigala berbulu domba satu ini bisa ada disini?" batinku menangis.

__ADS_1


...πŸ€πŸ€πŸ€...


__ADS_2