If You Know

If You Know
Cinta Pertama Ku


__ADS_3

Setelah tiba di rumah, Yohan langsung berpamitan ke Papa, dan segera melajukan kendaraannya.


huh!! lihat dia, yang tak bertanggung jawab, udah buat anak gadis orang baper, sekarang malah kabur, seharusnya kan.... dia mampir dulu, atau sekedar basa-basi kek, ini malah kabur aja... Huh!!


Dasar Yohan!!


Nyebelin!!


"Zoya??"


Panggil Papa, namun aku tak meresponnya, karna terlalu larut dengan kepergian Yohan, kembali Papa memanggil ku, namun aku tetap saja tak meresponnya, hingga kemudian Papa menepuk pelan bahu ku, dan mengejutkan ku.


"Eh??.. Papa"


"Kamu kenapa?? kok gak masuk?"


"He.. he.. he.. iya" Seraya menggaruk kepala ku yang tak gatal, segera ku ikuti langkah kaki Papa, dari arah belakang.

__ADS_1


Pria yang ada di hadapan ku ini, tak lain adalah Cinta Pertama ku, sosoknya yang lembut dan penyayang, terkadang membuat ku berfikir untuk menjadikan dia sebagai cerminan, calon suami ku kelak.


Papa adalah pria yang hebat, di hidup ku dia adalah sosok yang paling berjasa, sebab sejak Mama meninggal kan kami, Papalah yang membesarkan ku seorang diri.


Mama meninggal, sewaktu aku masih berusia 9 tahun, dan sejak itu pula Papa merawatku sendiri, walau berat tapi tak pernah sekali pun membuat ku merasa kehilangan sosok Mama di hidup ku, dia menjalan kan kedua peran ini dengan baik, walaupun saat itu, selain aku, ia juga membutuhkan sosok penghibur.


"Kamu udah makan??" Disela perjalanan Papa mulai bertanya dan menunjukan kekhawatirannya.


"Udah kok" Jawab ku seraya tersenyum manis kepada Papa yang tampak menghentikan langkahnya, dengan menatap khawatir padaku.


Guratan sedih tersirat jelas di dalam suaranya, walau aku tak menatap wajahnya, tapi aku sadar betul, bahwa ia merasa bersalah karna tak dapat menjalankan kewajibanya seperti dulu.


"Papa" Peluk hangat, ku darat kan ke punggung ringkih nya.


"Semuanya baik-baik saja, jadi kumohon jangan khawatir" lanjut ku seraya menguat kan Papa, mendengarnya Papa langsung meraih tangan ku dan membalik kan punggungnya.


"Terima kasih, karna kamu telah lahir" Ucapnya kemudian memeluk dan mengelus lembut rambut ku, terdengar sedikit isakan dari dirinya, namun aku hanya bisa mengelus punggungnya dan berkata

__ADS_1


"Aku bersyukur, karna Papa yang menjadi orang tua ku"


Rasa syukur ku, sungguhlah nyata, kalau seandainya Papa bukanlah orang tua ku, tak terbayangkan akan seperti apa diri ku, tak terbayangkan pula akan seperti apa masa depan ku.


Dia mendidik ku dengan segala kasih yang ia punya, walau ku sadar selain diriku segalanya terasa berat untuknya.


Setelah kehilangan wanita yang paling ia cintai, musibah lain berambat memasuki kehidupan kami.


Perusahaan Papa mengalami kerugian besar, bahkan terancam akan segera bangkrut, karna proyek yang sedang mereka jalankan mendadak berhenti di tengah jalan, sebab sang investor kabur dengan membawa sejumlah besar uang, yang di peruntukan untuk proyek tersebut, dan hasilnya banyak karyawan yang mendapat PHK karna kerugian besar yang terjadi itu.


Lambat laun segalanya menjadi semakin sulit, banyak perusahaan yang menolak untuk bekerja sama, dengan segala alasan tak masuk akalnya.


Akhir dari segalanya ialah Papa memilih untuk mengiklaskan segalanya, perusahaan yang sudah ia bangun sejak lama, dengan segala kringat dan jerih payahnya, ia jual dengan segala aset yang ada di dalamnya, kemudian mulai membangun sebuah Coffe Shop kecil sederhana, sebagai gantinya, walau begitu aku tak pernah sekali pun melihat Papa mengeluh, atau setidaknya marah akan semua keadaan, keiklashannya serta kesabarannya itulah, yang terkadang membuat ku belajar, merelakan segala hal yang tak di peruntukan untuk ku dan mensyukuri segala hal yang ada.


#If_You_Know


Sekian😓

__ADS_1


__ADS_2