ILORA

ILORA
Bab 1 Pandangan Pertama


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA😊...


Ilona berjalan di koridor dengan wajah yang terlihat sangat kesal. Bagaimana tidak, bahkan untuk pergi ke toilet saja dia harus ditemani oleh suster menyebalkan yang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi.


Seolah olah suster itu benar benar menganggapnya gila dan harus selalu diawasi. Dia tidak sama dengan pasien lainnya, dia tidak gila!


Dia masih waras namun sepertinya wanita iblis itu tidak cukup menyiksanya, dan malah mengirimnya ke rumah sakit jiwa.


Huhh … lupakan itu sejenak, yang harus dipikirkannya sekarang hanyalah bagaimana caranya ia bisa kabur dari tempat terkutuk ini kalau suster menyebalkan itu tak mau berhenti mengawasinya. Lihat, bahkan ke toilet saja ia harus diawasi, benar-benar menyebalkan!


Dengan wajah yang memberengut kesal, Ilona berjalan di koridor rumah sakit jiwa diikuti oleh seorang suster menyebalkan yang terus-menerus menempel padanya. Ia harus menemukan cara untuk terlepas dari pengawasan suster menyebalkan itu.


Pukk!!


"Aww," ringisnya pelan saat ia merasa ada sesuatu yang membentur kepalanya dari samping.


Huh! Rupanya ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya kabur dari tempat terkutuk ini sampai lupa untuk memperhatikan tingkah para orang tak waras di sekelilingnya.


Ia menurunkan pandangannya pada boneka usang yang membentur kepalanya. Tak lupa memungut benda jelek itu untuk memastikan siapa orang yang berani melemparkan boneka itu ke kepalanya.


"Nona Ilona anda baik-baik saja?" tanya suster menyebalkan yang mengikutinya sedari tadi. Belum sempat menjawab pertanyaannya, suara melengking yang memekakkan telinga terdengar begitu nyaring, "Anakku!"


Ilona spontan menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang pasien wanita dengan penampilan acak-acakan berteriak histeris.


"Anakku! Kembalikan anakku!" pekik wanita itu sembari bergegas untuk menyerang Ilona.


Ilona tercengang, tak bereaksi. Sepertinya gadis itu masih syok dengan penampilan wanita itu mulai dari wajah pucatnya yang sangat kurus disertai dengan lingkaran hitam di bawah matanya, dan jangan lupakan rambut keringnya yang acak acakan seolah baru saja tersetrum listrik.


Karena sibuk menilai penampilan wanita itu, ia sampai lupa menghindari serangan


brutal wanita itu.


Untung saja suster menyebalkan yang sedang berada di belakangnya langsung menghadang wanita gila itu.


Sayangnya, bukannya berhasil menghentikan wanita gila itu, ia malah mendapatkan jambakan super kuat yang siap merontokkan tiap helai rambutnya.


"Akh, tolong!" teriak suster itu panik. Bukannya menolong suster tersebut, Ilona malah berdiri diam tak berkutik, seraya bersyukur suster itu masih ingin menolongnya meskipun ia sering kabur dan menyusahkan suster itu.


Para perawat yang ada di koridor langsung berlari menghampiri kekacauan tersebut guna menolong suster malang yang masih berada dalam rengkuhan wanita gila itu.


"Anakku! Kembalikan anakku! Dasar pencuri! Akh!" pekik wanita tersebut seraya mengacungkan tangannya ke arah Ilona, lebih tepatnya sepertinya ia menunjuk boneka kumal nan jelek yang ada di tangannya.


What? Tunggu-tunggu, dia? Pencuri anak? Hah? Seriously, ini hanya boneka, lagi pula bukannya wanita itu sendiri yang melemparkan boneka jelek itu ke kepalanya? Seharusnya ia yang protes karena boneka itu dilempar ke kepalanya. Tapi ini? Dia malah dituduh sebagai pencuri anak!?


Gila! Ini memang gila!

__ADS_1


Dengan alis mengerut, Ilona melempar balik boneka jelek itu ke arah wanita gila itu.


Karena marah, kekuatan tangan Ilona tiba-tiba bertambah dua kali lipat. Alhasil, boneka itu mendarat jauh ke belakang koridor.


Melihat bonekanya dilempar, wanita gila itu lantas melepaskan jambakannya pada suster tersebut sembari menepis pegangan para perawat di sekitarnya yang berusaha melepaskan jambakannya pada suster itu.


Wanita itu kemudian berlari ke arah boneka usang tersebut sambil menangis dan bergumam lirih seraya memeluk boneka jelek itu.


Sepertinya ia menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga anaknya dengan baik. Benar-benar seperti seorang ibu yang menghawatirkan anaknya. Jika saja boneka itu hidup, pasti boneka itu akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.


Ilona jadi teringat dengan ibu kandungnya, sudah lama rasanya ia tak melihat ibunya. Apa ibunya itu hidup dengan baik bersama keluarga barunya?


Tiba-tiba saja, ia merindukan ibunya.Ingin rasanya ia kabur dari sini dan pergi menemui sang ibu.


Tunggu tunggu, tadi itu adalah kesempatan langka untuk kabur dari tempat ini, tapi kenapa ia tidak kabur tadi?


Masih ada waktu, para perawat itu sepertinya masih berusaha untuk menolong suster tersebut, juga menenangkan wanita gila tadi.


Ia masih punya kesempatan untuk kabur dari sini. Tapi saat pandangannya beralih ke keadaan suster yang menurutnya menyebalkan itu terduduk lemas di atas permukaan lantai dengan rambut acak-acakan, ia menjadi iba.


Bukankah suster itu yang telah menolongnya tadi? Jika bukan karena suster itu, mungkin dia yang akan terluka tadi. Apakah ia harus kabur tanpa menolong suster itu? Bahkan tanpa berterima kasih?


Tidak, ia tidak boleh kabur dulu ia harus membantu suster itu dan berterima kasih kepadanya karena telah berbaik hati untuk menolongnya meskipun ia sering membuat suster itu dimarahi oleh atasannya karena ia sering mencoba untuk kabur.


Dia bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Setidaknya ia harus membalas budi dulu baru boleh pergi. Meskipun sangat disayangkan untuk melewatkan kesempatan bagus ini.


Setelah sibuk bergelut dalam pikirannya, Ilona kemudian memutuskan untuk membantu suster tersebut.


Ia datang menghampiri suster itu yang masih sedang dibantu berdiri oleh salah seorang perawat.


Ilona kemudian mengajukan diri untuk mengantar suster tersebut ke kamarnya. Meskipun perawat itu awalnya ragu karena Ilona termasuk salah seorang pasien disini, namun ia berhasil diyakinkan oleh Ilona. Pada akhirnya, Ilona bisa membantu suster itu.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ilona pada suster itu.


"Saya baik-baik saja. Terima kasih, Nona." Suster itu tersenyum lebar seolah-olah dia sedang baik-baik saja. Mungkin jika bukan karena rambutnya yang berantakan, Ilona akan berpikir jika suster itu tidak sedang terluka.


"Seharusnya aku yang berterima kasih karena kau tadi sudah rela menolongku," balas Ilona lagi sambil tersenyum.


Saat melihat senyum Ilona, sang suster terlihat tertegun. Dia tersenyum, untuk pertama kalinya dia benar-benar tersenyum di hadapannya.


Ini adalah kali pertamanya itu melihat nonanya tersenyum. Biasanya yang ia lihat hanyalah ekspresi jijik yang ditunjukkan oleh Ilona jika melihat pasien lain yang ada di sana, atau ekspresi kesal jika dia membuntutinya atau bahkan saat ia tertangkap basah ketika ketahuan akan kabur dari rumah sakit jiwa.


"Oh ya, namamu Agni kan? Apa aku boleh memanggilmu Suster Agni?" tanya Ilona setelah melirik name tag milik Suster tersebut.


Ya, kini Ilona sudah memutuskan untuk menghapus gelar menyebalkan yang ia sematkan pada sang suster.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, Nona boleh memanggil saya apa saja, " balas Suster Agni antusias seraya mengangguk dengan cepat.


"Kenapa Nona tidak mengambil kesempatan untuk kabur tadi? Tadi itu kesempatan yang sangat langka, loh," tanya Suster Agni seraya memasang senyuman aneh di wajahnya.


"Hah? Oh itu, tiba-tiba saja tadi aku tidak punya mood untuk pergi, hehehe," ujar Aira gelagapan. Tentu saja ia tidak mengatakan kata kabur karena rasanya agak aneh jika ia sendiri yang mengatakannya.


"Kalau begitu Suster istirahat dulu di sini yah pasti kepalanya masih sakit, kan? sekalian rambutnya ditata ulang dulu biar tambah cantik, oke? Aku ketaman dulu yah mau cari angin, aku nggak bakalan kabur kok, dah! " seru Ilona sambil berlari menjauhi kamar tersebut, lebih tepatnya menghindari tatapan aneh Suster Agni.


Suster Agni hanya bisa tersenyum sambil membenarkan perkataan tuannya bahwa Ilona akan selalu mengingat kebaikan orang lain padanya. Itulah salah satu rencananya untuk membuat nonanya tidak kabur kaburan lagi.


...****************...


Selepas mengantar Suster Agni ke kamarnya, Ilona memutuskan untuk berjalan jalan ke taman. sekilas, ia melirik ke arah para pasien dengan beragam gaya disekitarnya.


"Kamu! Kamu yang udah lukain kepala anak saya tadi!" raung salah seorang wanita yang ada ditaman itu. Ya, itu adalah wanita gila yang tadi melempari kepalanya dengan boneka, rupanya wanita itu masih mengingatnya.


Dan ternyata, kepala Anak (boneka jelek) wanita itu agak lecet setelah ia lempar dengan sangat kencang tadi.


Wanita itu mulai mengamuk sambil meraung raung tak terima anaknya di lukai. Para perawat disekitarnya mulai berusaha menahan lengan wanita itu dikala melihat wanita itu mulai menunjukkan reaksi brutalnya.


Sedangkan Ilona? Gadis itu dengan santainya berjalan lurus kearah pohon dekat gerbang depan tempatnya biasa mengawasi kapan ia menemukan kesempatan untuk kabur. Namun, untuk saat ini mungkin itu hanyalah tempat untuk bersantai saja.


Ia masih tidak menghiraukan kekacauan yang terjadi seolah olah hal itu tak ada hubungannya dengannya.


Tiba-tiba, langkahnya berhenti saat melihat mobil ambulans memasuki pekarangan rumah sakit jiwa.


Apakah akan ada penghuni baru lagi? Hal itulah yang sedang melanda pikiran Ilona, biasanya ia cuek cuek saja terhadap situasi sekitarnya. Tapi kali ini, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya begitu penasaran tentang hal yang satu ini. Seolah olah, ada sebuah magnet tak kasat mata yang menariknya untuk mencari tahu.


Ilona melihat seorang perawat pria berlari menyambut tamu yang datang sore ini, hal itu sudah biasa terjadi apabila ada penghuni baru.


Seorang pemuda sebayanya terlihat turun dari mobil ambulans tersebut.


Ekspresi datar didominasi ekspresi dingin tergambar jelas diwajah tampan pria muda itu. Mata setajam elangnya menyapu taman hingga pandanganya terpusat ke arah Ilona.


Menurutnya hanya wanita yang satu itu yang memiliki penampilan berbeda dari yang lain. Tentu saja itu karena penampilan Ilona lebih rapi dan tidak seberantakan pasien lainnya.


Tepat saat itu, Ilona juga memandang mata pemuda itu. Pandangan mereka bertemu beberapa detik sebelum terputus karena suara melengking seseorang, "AHH! Suamiku!"


...****************...


...Terima kasih karena sudah mau membaca sampai akhir! 😊...


...Kalau Menurut kalian ada kesalahan pada bab ini, jangan ragu untuk memberi kritik dan saran, yah!...


...Apa pendapat kalian tentang bab ini? Silahkan dituliskan di kolom komentar!...

__ADS_1


__ADS_2