
Matanya masih terpaku pada tulisan cantik yang terukir indah pada permukaan batang pohon itu. Tangan lentiknya bergerak perlahan untuk menyentuh ukiran itu.
Dia kesal, sedih dan bingung. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini, dia tersesat!
Dia tersesat dalam dilemanya sendiri, Ryan sudah pergi meninggalkannya. Sekarang dia sendirian di sini, tanpa siapapun yang menemaninya.
Keinginannya untuk pergi dari tempat ini entah kenapa muncul kembali, dia sudah lama menunggu, kesabarannya sudah habis! Sudah sebulan dia tinggal di tempat ini, tapi masih belum ada tanda-tanda ayahnya akan menjemputnya kembali.
Dia sangat berharap ibunya menjemputnya, meskipun dia yakin jika itu tidak mungkin. Ibunya tidak akan tahu keberadaannya. Karena wanita iblis itu pasti sudah menutup rapat semua informasi tentangnya.
Dia sudah tidak bisa mengandalkan siapapun lagi, sekarang yang bisa diandalkannya hanyalah dirinya sendiri.
Dia sudah muak! Dia ingin pergi dari tempat terkutuk ini!
Matanya memerah, diusapnya pelan ukiran itu. Tangannya mengepal erat, dia berdiri dengan ketegasan dan keteguhan yang belum pernah ada sebelumnya.
Dia sudah memutuskannya, dia pasti akan pergi dari tempat ini hari ini! Dia akan membalas siapapun yang pernah menindasnya sebelumnya.
Dia tidak akan berada di bawah lagi, dia tidak ingin mengalah lagi! Dia tidak bisa menunggu lagu! Mulai sekarang, dia tidak akan membiarkan dirinya ditindas lagi!
Di bawah sinar matahari, mata hitam pekatnya memancarkan keyakinan dan kepercayaan diri yang tak tertahankan.
Dia berbalik bersiap untuk pergi meninggalkan tempat ini.
"Nona …." Suster Agni mendekatinya sembari melontarkan tatapan rumit padanya. Tatapan itu … apa ada sesuatu yang telah terjadi?
...****************...
Ilona berjalan beriringan dengan Suster Agni menuju ke arah kamarnya. Katanya ada seseorang yang ingin bertemu dengannya, seseorang yang penting, tapi dia tidak tahu siapa, dia sudah mencoba bertanya kepada Suster Agni, namun suster itu hanya mengatakan bahwa dia akan tahu sendiri nanti. Ck, sok misterius.
Gadis itu hanya bisa mengikuti saja, dia berharap itu memang hal yang penting jika tidak … dia pasti akan membuat Suster Agni menderita karena sudah menunda rencananya untuk kabur hari ini.
Suster Agni berhenti di depan kamar lalu berkata, "Nona … silahkan masuk."
"Kau membawa orang itu masuk ke kamarku?" tanya Ilona dengan ekspresi dingin yang mendominasi. Suster Agni tadi mengatakan jika ada seseorang yang ingin menemuinya, namun mengapa harus di kamarnya?
__ADS_1
Dia sudah mengatakan bahwa dia tidak suka jika ada orang asing yang sembarangan masuk ke kamarnya, bahkan Ryan belum pernah ia izinkan untuk mampir ke kamarnya. Sekarang bagaimana dia bisa menerima hal itu? Dia membencinya, oke?
"Aduh, udah capek-capek ke sini tapi kok malah disambut ketus?"
Suara itu … apa dia berhalusinasi? Tubuh Ilona membatu, dia tidak berani berbalik. Dia takut jika suara itu hanyalah ilusi semata.
"Hey, ngapain bengong di sana? Nggak kangen nih?" Suara itu mengalun merdu bak aliran air sungai yang tenang membuat Ilona tersadar.
Tubuh gadis itu sedikit bergetar mendengar suara itu, suara yang amat dirindukannya. Perlahan tapi pasti, dia membalikkan badannya hanya untuk menemukan seorang wanita anggun berumur 40 tahunan tersenyum hangat padanya.
Wajah cantiknya, senyum hangatnya, tatapan lembutnya, dia merindukannya, dia merindukan segalanya dari wanita itu, wanita paling berjasa dalam hidupnya.
"Mama ... "
Gadis itu melangkah perlahan ke arah ibunya, bibirnya bergetar dengan mata berkaca-kaca dia bergerak memeluk ibunya seraya membenamkan wajahnya di bahu wanita itu.
Tangisan gadis itu makin menjadi-jadi kala ibunya menepuk-nepuk pelan punggungnya.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan dua pasang mata yang menatap mereka haru. Dia hanya menangis, dia ingin melepaskan semua beban yang dipendamnya selama ini.
"Hey, jangan nangis dong. Mama 'kan jadi ikutan sedih," bujuk Miranda sembari menghapus air mata yang mengalir pada kedua pipi putrinya. "Kita masuk aja, yuk! nggak enak nangis disini nanti diliatin orang, lho."
"Agni, mau ikutan masuk?" ajak Miranda ramah.
"Tidak perlu Nyonya, saya lebih baik menunggu di sini saja."
"Ya udah, kalau gitu saya sama Ilona masuk dulu ya," balasnya sambil merengkuh Ilona sembari berjalan masuk ke kamar Ilona yang di sana sudah ada suami ibunya yang berdiri di dekat pintu kamarnya.
Dengan suara bergetar Miranda bertanya, "Mama telat ya?"
Ilona bisa merasakan rengkuhan ibunya semakin mengerat. Dia hanya tersenyum dan mempercepat langkahnya untuk duduk di sofa.
"Duduk dulu Ma, Om" tuturnya mempersilahkan sepasang suami istri itu untuk duduk terlebih dahulu.
"Ilona, mama telat ya?" Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Miranda sedetik setelah dia duduk di samping putrinya.
__ADS_1
Ilona tersenyum, senyuman yang membungkus tangis, "Nyaris aja."
Dia baru saja berencana untuk kabur dari tempat ini, tapi untungnya ibunya segera datang menjemputnya sebelum hal itu terjadi.
Air mata yang berlinang di pelupuk mata Miranda tak terbendung lagi.
Dia menangis sambil berkata, "Maafin mama, hari-hari kamu di sini pasti tersiksa banget kan?"
Ilona terenyuh mendengar suara ibunya yang terdengar parau. "Nggak juga sih Ma."
Dia tidak berbohong, karena sejak adanya Ryan hari-harinya tidak sehambar yang lalu. Ryan membuatnya lebih sering tersenyum dan selalu membuatnya senang.
Meskipun Ilona berkata begitu, Miranda tetap mengira jika Ilona berbohong dan dia tahu, jika Ilona pasti mengatakan hal itu hanya untuk menyenangkannya.
"Ilona mau pulang bareng mama kan?"
Ilona terdiam sesaat. "Emang boleh?"
"Boleh dong," jawab Miranda sembari mengangguk dengan cepat. Terlihat jelas binar penuh harapan dari ekspresi wajahnya.
Ilona beralih menatap pria paruh baya yang duduk disisi lain. Pria itu juga menatapnya, dia tersenyum hangat dan mengangguk pelan seakan mengizinkan Ilona untuk tinggal bersama keluarganya.
"Terus gimana sama papa?" tanya Ilona dengan raut khawatir.
Bukan apanya, tapi sejak ayah dan ibunya berpisah hak asuhnya dipegang oleh ayahnya. Jadi, dia sedikit khawatir tentang hal itu.
"Mama udah bilang kok ke papa Kamu, jadi seharusnya nggak apa-apa kalau kamu tinggal sama mama. Kamu maukan?" Miranda menatap netra hitam pekat putrinya.
Pokoknya dia harus melepaskan Ilona dari sangkar yang menjeratnya. Dia tidak rela jika putrinya menderita seperti ini.
Melihat tatapan teguh ibunya, Ilona pun mengangguk. "Oke, aku bakal ikut pulang sama Mama."
Akhirnya jawaban yang dinanti-nantinya sedari tadi keluar dari mulut putrinya itu. Kini dia benar-benar lega, seolah-olah beban berat dihatinya sudah terangkat.
Miranda tersenyum lebar. "Gitu dong, mama jadi nggak sia-sia deh jemput Kamu."
__ADS_1
"Kalau gitu aku minta Suster Agni buat beresin barang-barang aku dulu ya, Ma."
Miranda mengusap pucuk kepala anaknya dengan sayang. "Iya sayang."