
...Happy Reading!...
Sekembalinya Ilona dari taman, senyumannya di wajah cantiknya luntur digantikan dengan ekspresi serius khasnya.
Sepertinya gadis itu juga merasakan sosok hitam yang menguntiti dirinya dengan Ryan tadi. Dia tahu bahwa sosok itu sama sekali tidak berniat melukai dirinya dan Ryan, karena dia sama sekali tidak bisa merasakan aura membunuh dari sosok itu.
Dia bahkan menduga bahwa sosok itu pasti adalah salah satu bawahan Ryan, karena dia yakin bahwa Ryan juga menyadari keberadaan sosok itu. Apalagi, Ryan terlihat tidak menghiraukan sosok yang mengikuti mereka berdua sejak tadi.
Hanya saja, ada satu hal yang mengganjal dipikiran Ilona. Bagaimana sosok itu bisa masuk ke dalam rumah sakit tanpa terdeteksi oleh pihak keamanan?
"Nona, anda sudah kembali? Apa anda ingin langsung mandi dulu? Jika iya, saya akan menyiapkan air hangat terlebih dahulu, atau anda ingin beristirahat dulu, sejenak?" tanya Suster Agni seraya tersenyum ramah kepada Ilona.
Akan tetapi, tidak satupun kata yang terucap dari bibir mungil Ilona. Gadis itu hanya menatap Suster Agni sekilas lalu melanjutkan langkahnya menuju sofa khusus di kamarnya. Ya, kamar Ilona adalah kamar mewah dengan fasilitas lengkap karena dirinya adalah anak dari pemilik rumah sakit ini.
Alasan dia bisa berada di tempat ini, adalah karena ibu tirinya yang tidak menyukainya, sampai sampai dia mengirimnya ke rumah sakit jiwa.
Tapi, kalau pun ibu tirinya mengirimnya kesini, lalu kenapa? Faktanya, dia tetaplah merupakan satu satunya Nona Muda Keluarga Alexander. Tentu tetap harus diperlakukan dengan baik.
Yang mengherankan hanyalah, kenapa wanita iblis itu bisa mengirimnya ke tempat ini tanpa sepengetahuan ayahnya?.
Dia selalu merasa, bahwa dengan koneksi dan kekuasaan ayahnya tidak mungkin dia tidak mengetahui tentang hal ini. Apalagi ini adalah rumah sakit milik ayahnya tidak mungkin kan jika ayahnya tidak tahu.
Meski begitu, Ilona tetap yakin, jika ayahnya tahu bahwa dia dikirim ke rumah sakit jiwa. Adapun mengapa ayahnya tidak menolongnya pasti itu semua demi kebaikan dirinya sendiri.
Terlebih, dia tahu bahwa ayahnya mengirim orang kepercayaannya untuk melayaninya disini. Tentu saja, orang itu adalah Agni, sekertaris kepercayaan ayahnya yang menyamar sebagai suster pribadinya.
Tapi, apa mereka berpikir jika dia tidak tahu tentang identitas asli Suster Agni? Dengan kemampuannya, bagaimana mungkin dia tidak tahu?
__ADS_1
"Nona, anda baik baik saja?" tutur Suster Agni saat melihat raut wajah Ilona yang terlihat sangat serius.
"Suster Agni, menurutmu apa ada orang yang bisa keluar masuk dari rumah sakit ini tanpa terdeteksi oleh keamanan?" tanya balik Ilona tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Suster Agni.
Entah mengapa, setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ilona, air muka Suster Agni tiba-tiba berubah serius. Dia memandang wajah serius Ilona yang juga memandang matanya sembari bertutur, "maksud Nona, Ada orang yang bisa keluar masuk dari tempat ini tanpa terdeteksi? Apa anda bercanda? Ini adalah daerah kekuasaan Keluarga Alexander, bagaimana mungkin ada yang bisa keluar masuk seenaknya didaerah kekuasaan keluarga besar ini?"
"Oh?" jelas jelas Suster Agni sering keluar saat malam hari dan dengan bebas menemui ayahnya untuk melaporkan segala kegiatan dan kondisinya.
Namun sekarang, dia bertanya seolah olah dia tidak tahu apa apa? Berpura pura bodoh seperti ini di hadapannya … apa wanita ini menganggap jika dia mudah untuk ditipu?
"Kenapa tiba-tiba anda menanyakan hal ini?" tanya Suster Agni sambil menatap mata Ilona dalam. Dalam hati dia menduga apakah nonanya sudah mengetahui identitas aslinya? Atau mungkin nonanya menduga bahwa ada seorang penyusup yang bersembunyi di tempat ini?
Seberapa keras pun dia berpikir, dia tetap tidak pernah bisa menebak dengan pasti kenapa nonanya bisa menanyakan pertanyaan itu.
Karena merasa Suster Agni tidak akan menjawab pertanyaannya, Ilona akhirnya memutuskan untuk menghentikan pembicaraan ini, "tidak ada apa-apa. Hanya saja, tiba-tiba aku merasa penasaran tentang seberapa canggih perangkat keamanan ditempat ini. Oh ya, aku ingin mandi saja dulu."
"Baik Nona saya akan menyiapkan airnya dulu," ujar Suster Agni seraya berlalu pergi menuju kamar mandi. Entah mengapa, Suster Agni mendadak merasa aneh dengan sikap Ilona yang tiba-tiba begitu serius.
Hanya saja, tidak tahu kenapa, Ilona tidak ingin mengatakan yang sejujurnya kepada Suster Agni. Padahal jika dia mengatakannya, maka penyusup itu pasti akan mudah ditangkap.
Tapi, dia tidak bisa melakukan itu. Bagaimana pun juga, penyusup itu adalah bawahan Ryan. Entah mengapa, jika itu berhubungan dengan Ryan, dia tidak akan bisa mengambil resiko.
Dia tidak jujur kepada Suster Agni tentang penyusup itu karena dia tahu dengan baik bagaimana karakter ayahnya yang sebenarnya. Dia hanya khawatir jika ayahnya mengetahui hal ini, pasti dia tidak akan membiarkan Ryan lolos dengan mudah.
Dia sama sekali tidak berniat untuk mengkhianati ayahnya, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan Ryan dalam bahaya. Dia tahu, bahwa Ryan pasti memiliki alasan untuk bersembunyi di rumah sakit ini. Mungkin … seperti dirinya, yang harus berada di tempat ini agar bisa terhindar dari cengkraman ibu tirinya.
Tiba-tiba, teriakan suster Agni membuyarkan lamunannya. "Nona, airnya sudah siap!"
__ADS_1
Mendengar hal itu, Ilona segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...****************...
Tepat tengah malam, di taman belakang, nampak sesosok bayangan hitam melintas di depan matanya. Sosok gelap itu berlari capat dan melompati tembok pagar. Gerakannya cepat dan lincah, tanpa suara dan tanpa jejak.
Salah satu sudut bibir Ilona tertarik ke atas, membentuk senyuman miring diwajah cantiknya. Kepalanya menunduk, menyembunyikan emosi di matanya.
...****************...
Di sebuah ruang kerja mewah, seorang wanita berpakaian hitam berdiri dengan hormat di depan seorang pria paruh baya yang sedang memeriksa beberapa dokumen dengan sebuah pulpen di tangannya. Sesekali, tangannya akan menandatangani dokumen yang dibacanya.
"Tuan, pemuda bernama Ryan itu sepertinya semakin dekat dengan putri Anda, apa Anda ingin saya menyelidikinya?" tanya Agni dengan penuh hormat.
Sejenak, Ghani mengangkat pandangannya dari dokumen itu seraya berucap dengan percaya diri, "Tidak perlu, aku percaya pada putriku. Dia bisa memilih temannya sendiri."
"Tapi Tuan, tadi nona mengatakan jika dia merasa bahwa mungkin, ada seseorang yang bisa keluar masuk rumah sakit tanpa terdeteksi oleh pihak keamanan. Saya curiga, jika nona mencurigai pemuda itu, atau mungkin … saya sendiri."
Baru saja dia akan menandatangani dokumen yang sedang di bacanya, namun setelah mendengarkan ucapan Agni, mendadak pena ditangannya berhenti. Ghani mengalihkan pandangannya ke arah Agni yang masih berdiri hormat di depannya.
Dia tertawa. "Hanya ada satu kemungkinan, putriku sudah mendetaksi semua orang yang selalu keluar masuk dari rumah sakit."
...****************...
...Makasih udah mau baca ceritaku!...
...Mau lanjut sekarang...
__ADS_1
...atau...
...besok?...