ILORA

ILORA
Bab 3 Kita Berteman


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA 😊...


"Kalau begitu, apa sekarang kita resmi berteman?" tanya Ilona setelah mendengar jawaban Ryan yang secara tidak langsung menyetujui ajakannya.


"Ya, kita … berteman," balas Ryan pelan sambil memikirkan kenapa ia bisa menerima ajakan pertemanan dari gadis disampingnya?


Dia selalu menjadi orang yang arogan, tidak pernah ada yang berani berbicara kepadanya seperti ini bahkan hanya untuk mengajaknya berteman saja. Dia selalu dingin dan tak tersentuh. Mungkin karena itu juga lah ia tidak memiliki seorang teman.


Dia selalu kesepian, bahkan saat bersama orang tua nya ia jarang berbicara, apalagi dengan seorang gadis, ia paling anti terhadap hal itu. Tapi, sekarang ia berbicara begitu banyak dengan seorang gadis asing disampingnya. Bahkan mereka sampai berteman.


Dia selalu merasa bahwa gadis disampingnya itu mampu membuatnya tanpa sadar merasa nyaman.


Entahlah mungkin hanya perasaannya saja, atau mungkin gadis itu memang memiliki semacam sihir yang mampu membuatnya merasakan perasaan nyaman yang tak terkatakan ini.


"Nona! Anda dimana!?" teriakan keras menggema di udara, mengembalikan jiwa Ryan yang masih asik berkelana.


"Ryan, sepertinya aku harus segera pergi, Suster Agni pasti sadang khawatir mencariku. Besok kita ketemuan lagi disini, yah?" Ujar Ilona seraya beranjak dari duduknya dan berlalu pergi tampa persetujuan dari Ryan.


"Ya, sampai ketemu lagi … besok" ucap Ryan pelan meskipun ia yakin Ilona pasti tidak akan mendengar ucapannya.


...****************...


"Suster Agni! " seru Ilona saat matanya mendapati Suster Agni yang kelihatan panik sambil berteriak menyerukan namanya.


"Nona!" sorak Suster Agni saat mendapati Ilona berjalan mendekatinya.


"Nona, anda baik baik saja, kan? Saya mendengar kabar bahwa pasien yang tadi membuat masalah kembali mengamuk dan menyerang Nona, anda tidak terluka, kan?" tanya Suster Agni bertubi tubi sambil menatap seluruh badan Ilona seraya berputar disekitarnya untuk memastikan tidak ada luka di tubuh gadis itu.


"Aku baik baik saja. Lihatlah, aku sama sekali tidak terluka, kok. Jadi berhenti mengkhawatirkan ku seperti itu," balas Ilona kepada Suster Agni.


"Huh, syukurlah jika Nona baik baik saja, saya bisa tenang. Baiklah Nona, sebaiknya anda kembali ke kamar anda sekarang, hari sudah hampir malam," ucap Suster Agni sambil menghela nafas lega.


Ilona pun langsung mengiyakannya dan beranjak untuk kembali ke kamarnya.


Diam diam Suster Agni menghela nafas lega melihat Ilona tidak terluka. Karena jika sampai Ilona terluka sedikit saja, ia pasti akan sangat kesulitan untuk memberi penjelasan kepada tuannya nanti.


...****************...

__ADS_1


Suara tangisan dan rintihan yang dipadukan dengan suara teriakan dengan diiringi nyanyian pengantar tidur yang dinyanyikan oleh salah satu pasien wanita menyambut hari baru di koridor tersebut.


Jangan lupakan tawa menggelegar yang terdengar miris turut serta dalam meramaikan suasana pagi yang dapat membuat siapapun yang mendengarnya merasa kesal.


Hal itulah yang menyambut hari pertama Ryan di tempat barunya ini.


Ryan saat ini hanya berencana untuk pergi ke halaman belakang bangunan ini guna menghindari suara suara berisik di tempat ini sekaligus untuk menepati janjinya untuk bertemu dengan teman barunya, Ilona.


Ya, akhirnya Ryan benar benar mengakui gadis itu sebagai temannya setelah memikirkannya semalaman.


Bisa dibilang Ryan tidak terlalu percaya pada gadis itu namun perasaan nyaman yang dirasakannya saat berada didekat gadis itu tak bisa menipunya. Itu jelas merupakan perasaan nyata yang tidak bisa dimanipulasi.


Entahlah, sepertinya gadis itu memang memiliki daya tarik khusus yang membuat orang merasa nyaman didekatnya.


Langkah Ryan tiba tiba berhenti tepat didekat lampu taman. Tampa berbalik ke belakang, ia berucap dengan dingin, "Berhenti mengikutiku."


Suara datar nan dinginnya ia tujukan ke pemuda berseragam perawat yang senantiasa mengikutinya sedari pagi.


"Tapi tuan, saya ditugaskan kesini khusus untuk melindungi Anda. Jika terjadi sesuatu kepada Anda, bagaimana nasib saya kedepannya?" ujar pemuda itu pelan sambil menundukkan kepalanya takut.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri," ujar Ryan, dingin.


"Kau ingin membantahku?" seiring dengan kata katanya, suhu disekitar tiba-tiba turun drastis. Seolah olah suaranya telah mendominasi tempat ini.


Aura dingin nan tajam seakan akan menusuk punggung pemuda itu. Dia bahkan bisa merasakan keringat dingin menetes deras dari keningnya.


"Dia tidak akan berani memasukkan orangnya ke wilayah kekuasaan Keluarga Alexander." tukas Ryan lalu berlalu pergi tampa melirik ke arah pemuda itu sedikit pun.


Diam diam pemuda itu membenarkan perkataan tuannya dalam hati. Orang itu tidak mungkin berani masuk ke wilayah kekuasaan Keluarga Alexander. Tapi, bukankah tuannya terlalu berani masuk ke rumah sakit jiwa milik Keluarga Alexander ini dengan aman, bahkan ikut memasukkannya sebagai perawat disini tampa ketahuan. Jadi, seberapa beranikah tuannya itu?


...****************...


"Apa Kau sudah lama menungguku?" tanya Ilona pada Ryan yang sedang berdiri tegak didekat pohon besar tempat mereka janjian.


Setelah berada di samping Ryan, Ilona langsung duduk lesehan di atas rumput hijau sembari menepuk-nepuk rumput di sampingnya. Sepertinya ia sedang mengisyaratkan Ryan untuk duduk disampingnya juga.


Meskipun Ryan agak jijik, karena selama ini ia tidak pernah duduk di tanah. Ia bahkan sudah lupa sejak kapan terakhir kalinya ia menyentuh tanah, atau mungkin … ia memang belum pernah menyentuh tanah seumur hidupnya.

__ADS_1


Ya, kaku itu hidupnya. Seolah olah sejak kecil ia memang selalu bersih tampa kotoran ataupun debu.


Meskipun pikirannya dipenuhi dengan penolakan, tetapi gerak tubuhnya mengkhianati dirinya. Ia duduk di tanah, benar-benar duduk di tanah.


"Tidak juga," jawabnya ringan sambil memberikan senyuman pertamanya hari ini kepada Ilona. Yah tersenyumlah sebisa mungkin jangan tunjukkan ekspresi jijik Ryan.


Dibawah sinar mentari pagi, senyumannya menambah kesan hangat dan bahkan menggandakan ketampanannya berkali kali lipat. Bahkan untuk Ilona yang terbiasa melihat berbagai pria tampan, dibuat terpukau oleh Ryan.


Senyuman hangat yang sangat langka, bahkan ia belum pernah tersenyum seperti itu di hadapan orang tuanya, ini adalah pertama kalinya dan itu hanya untuk Ilona.


"Benarkah? Aku pikir kau sudah lama menungguku," Timpal Ilona sambil memperhatikan raut wajah aneh Ryan yang menurutnya tidak tepat dengan prediksi kepribadiannya.


"Ada apa? Apa aku tampan?" tebak Ryan narsis, sembari menatap raut wajah Ilona yang terlihat linglung.


"Ya, Kau tampan," puji Ilona enteng.


"Hah?" kali ini, Ryan lah yang memperlihatkan raut linglung. Ini adalah pertama kalinya ada seorang wanita yang berani memujinya tepat didepannya.


"Kau bilang apa barusan? Apa kau bercanda?" tanya Ryan sambil menatap mata Ilona dalam.


"Ya, Aku bercanda," jawabnya lagi ringan.


"Aku hanya merasa Kau sangat berbeda dari yang kemarin. Aku pikir Kau adalah orang yang kaku, dingin dan tidak bisa berteman, ternyata hanya dalam semalam Kau mematahkan dugaanku terhadap sikapmu saat pertama kalinya aku melihatmu," Papar Ilona seraya menatap perubahan ekspresi Ryan mencoba mencari tahu lebih dalam tentang pemuda itu.


"Kau bahkan memperhatikanku sampai sedetail itu? Tapi harus kuakui, analisismu memang benar. Kau adalah gadis sangat cerdas," jelasnya kepada Ilona yang sepertinya masih menganalisis apakah ia jujur atau tidak.


"Lulu, Apa tujuanmu bersikap hangat di hadapanku?" tanya Ilona dengan ekspresi seriusnya.


Ryan mendekatkan wajahnya kearah Ilona, mencoba memperpendek jarak pandangan mereka. Kini, Ilona bisa menatap wajah tampan Ryan dengan jelas.


"Bukankah kemarin kita sudah berteman? Apakah Anda tidak mengingatnya, Nona Ilona?" bisiknya pelan tepat di depan wajah Ilona.


...****************...


Sampai sini menarik?


Mau lanjut ,nggak?

__ADS_1


Bantu like dan beri sarannya Jika menurut kalian ada kesalahan dalam bab ini, ya 🙏


Terima kasih sudah mau membaca sampai bab ini! Sampai jumpa di bab selanjutnya 😊


__ADS_2