
...SELAMAT MEMBACA ๐...
"AHH! Suamiku! Akhirnya Kau pulang juga. Hiks, lihatlah anak kita, kau pasti merindukannya kan?" tukas wanita gila itu dengan antusias sembari menyodorkan boneka jelek yang ada di pelukannya.
Pemuda itu refleks bergerak menjauh, dengan ekspresi jijik yang terpampang jelas di wajah dinginnya.
"Pfft," tahan Ilona saat tawanya serasa ingin lepas dari mulutnya. Merasa ditertawakan, pemuda itu melontarkan tatapan dinginnya ke arah Ilona.
Merasa ditatap, Ilona spontan menolehkan kepalanya ke arah pemuda tersebut.
Pemuda yang tampan, itulah kesan pertama Ilona ketika menatap wajah tampan sempurna milik pemuda tersebut. Di Dunia ini, ada banyak pria tampan yang pernah ia lihat, tapi menurutnya tidak ada yang setampan pemuda di depannya.
Terutama tatapan setajam elang yang dilontarkan pemuda itu padanya, membuatnya merasa dingin tanpa alasan. Benar-benar menarik.
Terlebih, menurut analisanya yang panjang, Ilona dapat mengambil kesimpulan bahwa pemuda itu masih waras. Jika saja pria itu benar-benar waras, bukankah ia punya teman di tempat ini? Bukankah itu menyenangkan?
Tapi, ada satu hal yang mengganjal pikiran Ilona saat ini. Tatapan pria itu. Ya, tatapan sedingin es yang mengingatkannya tentang fakta bahwa pemuda itu pasti sangat kaku dan tak tersentuh.
Sudah dapat dipastikan, tidak akan mudah untuk berteman dengan orang seperti itu. Apalagi pemuda itu bahkan terlihat lebih dingin dari tatapan ayahnya, jelas sudah jika pria itu pasti bukanlah orang sembarangan.
Dia tidak suka berurusan dengan orang berstatus tinggi. Merasa tak ada hal menarik lagi disini, Ilona kemudian mengangkat kakinya berniat beranjak dari tempat penuh drama ini.
"Ahh, Kau pasti terkejut 'kan? Lihatlah kepala anak kita terluka, dan itu semua karena wanita itu! Dia membanting anak kita begitu keras sampai sampai kepala anak kita terluka!" seru wanita itu sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Ilona.
Mendengar cercaan wanita itu, keinginan Ilona untuk kembali ke kamarnya seketika sirna. Kini alis seimbangnya yang indah tiba-tiba mengernyit dengan ekspresi datar yang menakutkan.
Melihat tatapan berbahaya yang berasal dari sepasang mata hitam pekat Ilona, pemuda itu sedikit mengangkat alisnya sembari diam diam mengakui bahwa gadis yang ada didepannya lumayan menarik.
"Suamiku, kumohon beri pelajaran pada wanita jahat itu. Lihatlah kepala Anak kita, lukanya parah sekali, jadi cepat hukum wanita itu," pinta wanita gila itu lagi, dan sukses membuat pemuda itu dan dan Ilona saling menatap kembali. Tidak ada yang tahu apa arti tatapan mereka berdua.
"Pergi!" ucap pemuda itu pelan, hanya satu kata tapi tekanan yang kuat benar benar mengejutkan orang. Bahkan jika ayah Ilona marah suaranya tidak akan semenyeramkan itu. Harus dia akui, pemuda itu memang istimewa.
__ADS_1
"Sa-sayang? Kau bilang apa barusan? Kau, kau lebih membela wanita itu dari pada istrimu sendiri? Apa kau meyukainya? Dia itu wanita jahat! Bahkan aku lebih cantik dari pada dia! Kenapa kau bisa menyukainya!?" pekik wanita itu sambil menunjuk nunjuk wajah Ilona lagi, entah berapa kali wajah Ilona sudah ditunjuk oleh wanita itu.
"Dan kau! Kenapa kau begitu sering membuatku menderita!? Kau menyakiti anakku, dan bahkan kau juga ingin merebut suamiku!?" Teriak wanita itu dengan suara melengking. Membuat Ilona dan pemuda itu sangat jengkel.
Sejenak, mata mereka bertemu pandang. Hanya dari kontak mata, Sebuah rencana bagus tiba-tiba terbentuk dipikiran mereka.
Mereka sudah menjadi pusat perhatian sejak tadi karena drama yang dibuat oleh wanita itu, jadi bukankah sudah seharusnya mereka menyelesaikan masalah ini?
Ilona kemudian berjalan mendekati pria itu sambil memasang wajah penuh keluhan sambil berucap dengan manja, "Sayang, lihatlah wanita itu, jelas jelas kau yang begitu mencintaiku tapi kenapa dia masih mengharapkanmu untuk kembali padanya? Ia bahkan menuduhku yang tidak tidak, bahkan menyuruhmu untuk menghukumku, kenapa ia begitu jahat?"
"Sayang, jangan khawatir, bagaimana mungkin aku tega untuk menghukummu? Jangan dengarkan wanita itu, yah? Percaya saja padaku," Ucap pemuda itu dengan tersenyum menambah kesan lembut di wajah tampannya.
Namun, Ilona masih bisa melihat kilatan dingin yang ada didalam mata pria itu. Meski begitu, pemuda dingin itu tetap mengikuti sandiwara kecilnya saat ini.
"AHH! Kau dasar *******!!" murka wanita itu ketika melihat keromantisan dua remaja didepannya. Wanita itu mulai mengambil ancang ancang untuk menyerang Ilona.
Pemuda asing itu dengan cepat menarik tangan Ilona ke belakangnya guna melindungi gadis itu dari amukan wanita gila itu.
Untung saja pria asing itu dengan sigap menangkis lemparan boneka itu ke sembarang arah, tentu karena ia jijik dengan boneka kotor nan jelek itu.
Melihat anak kesayangannya dilempar ketanah, amarah wanita itu kian kian memuncak dan dengan brutal melawan para perawat yang berusaha menghentikannya.
Setelah melihat keadaan yang begitu kacau, Ilona langsung menarik tangan pria asing itu ke halaman belakang rumah sakit jiwa, yang menurutnya merupakan tempat paling sepi dan menenangkan baginya.
Dengan napas yang sudah tidak teratur, Ilona langsung menumpukan tangannya di pohon besar yang berada disampingnya. Sambil berusaha mengatur napasnya, ia melirik pria asing disampingnya yang terlihat begitu santai sehabis mengelilingi setengah pekarangan rumah sakit jiwa.
"Apa kau tidak lelah?" tanyanya dengan napas yang mulai teratur.
"Menurutmu?" tanya balik pria itu sambil memasang ekspresi yang sama saat ia baru turun dari mobil ambulans, ekspresi dingin dan datar. Baru saja pria itu kelihatan sangat lembut tadi, sekarang ekspresinya berubah lagi bagai membalikkan telapak tangan.
"Siapa namamu?" tanya pria asing itu sambil melirik Ilona yang baru saja memutar bola matanya malas ketika mendengar jawabannya.
__ADS_1
Akhirnya pria itu mau mengajukan pernyataan yang lebih berfaedah.
"Ilona," jawabnya singkat sambil mendudukkan dirinya di bawah pohon rindang yang sangat menyejukkan sore ini.
Melihat Ilona yang sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk menanyakan namanya, membuat pemuda itu kemudian berniat mengenalkan dirinya sendiri.
"Namaku Ryan," tukas Ryan tanpa dipinta.
"Oh," balas Ilona cuek.
"Benar benar tidak terduga, ya. Ternyata ditempat seperti ini ada juga orang yang waras, aku pikir begitu aku datang ketempat ini tidak akan ada orang waras yang bisa ditemani berteman, ternyata ada juga satu orang yang waras diantara banyaknya orang gila disini," ujar Ryan panjang lebar meskipun ia terkejut saat menemukan fakta bahwa ia bisa berbicara dengan kalimat panjang apalagi kepada seorang gadis.
Meskipun ia masih agak menjaga jarak dari Ilona, tapi percayalah ini adalah kali pertama Ryan berbicara panjang lebar.
"Kau tidak terlihat seperti pria yang bisa berbicara panjang lebar seperti tadi, apalagi tadi kau bilang kau mendambakan seorang teman? Kau bahkan terlihat sangat tidak tersentuh. Bahkan kau menuturkannya sambil berdiri, terlihat jelas kalau kau tidak suka berdekatan denganku. Aku pikir kau adalah tipe orang yang tidak suka berbicara panjang lebar apalagi orang yang mendambakan teman? Sangat sulit dipercaya," papar Ilona sambil menatap Ryan yang masih setia berdiri disampingnya.
"Yah, kau benar hari ini memang agak aneh bagiku . Banyak hal hal aneh yang terjadi padaku hari ini," balas Ryan tenang, meskipun dalam hati ia terkejut mendengarkan paparan Ilona tentang kepribadiannya. Sepertinya gadis itu memang ahli menganalisis keadaan.
"Oh ya? Termasuk dirimu yang masuk ke rumah sakit jiwa hari ini?" tanya Ilona yang langsung membuat air muka Ryan menjadi dingin seketika.
Menyadari adanya kesalahan dalam ucapannya, Ilona lalu berusaha mencairkan suasana yang sudah dingin dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"Bay the way, kau tadi berkata bahwa kau ingin berteman denganku, jadi apa kau mau menjadi temanku saja? kebetulan aku lumayan kesepian ditempat ini, bagaimana pendapatmu?" tanya Ilona sambil menatap Ryan.
Ryan juga menatap Ilona sambil berkata dalam hati bahwa gadis ini lumayan bijak dalam mengalihkan topik pembicaraan. Tatapannya yang tadi dingin kini kembali normal, meskipun masih tidak terlihat adanya jejak kehangatan di sana.
"Baiklah itu tidak terdengar buruk, lagi pula tinggal ditempat seperti ini tampa teman mungkin akan sangat membosankan," ujar Ryan menandakan bahwa ia setuju untuk berteman dengan Ilona.
...****************...
...Terima kasih sudah membaca sampai disini!๐Kalau ada kesalahan pada bab ini silahkan berikan kritik yah ... Sampai jumpa di bab selanjutnya!...
__ADS_1