
Kalau lupa alur, boleh dibaca ulang episode sebelumnya.
Maaf karena jarang update, aku usahakan bakal update lebih rajin kedepannya.
...SELAMAT MEMBACA 😊...
"Aku ingat, aku ingat," jawab Ilona seraya berdiri secepat kilat guna menghindari tatapan usil Ryan.
Memalukan sekali! Ingin rasanya Ilona menggali lubang dan bersembunyi di dalamnya agar ia bisa lari dari situasi memalukan ini.
Ia bisa merasakan rasa panas yang menjalar di pipinya bahkan sampai ke telinganya seolah-olah semua darahnya berkumpul di tempat itu. Sekarang sudah dapat ia pastikan, wajahnya saat ini pasti sudah memerah bak kepiting rebus.
Ini adalah pertama kalinya ia merasa semalu ini. Kali ini ia tidak boleh kalah dari pria di sampingnya. Seharusnya, ia yang membungkam pria itu, bukan ia yang di bungkam!
Jelas-jelas, pria itu lebih kaku darinya. Bahkan menurutnya pria itu pasti sangat jarang bersosialisasi, tapi kenapa saat ini ia begitu unggul darinya? Ini tidak bisa dibiarkan, ia harus membalasnya! Kali ini, dia yang harus menang, dia tidak akan membiarkan dirinya ditindas lagi. Pokoknya, dia harus menang!
Baiklah, pertama-tama ia harus mengalihkan pembicaraan menjengkelkan ini dulu agar bisa terhindar dari tatapan usil Ryan. Baiklah mari kita mulai.
"Ryan, sebaiknya kita berjalan-jalan saja dulu. Sinar matahari pagi sangat bermanfaat bagi tubuh, loh. Sinar matahari pagi itu mengandung vitamin D dan bisa membantu menguatkan tulang. Jadi, ayo kita berjalan-jalan selagi matahari bersinar cerah. Yah, hitung-hitung sekedar menghilangkan rasa bosan," ucap Ilona sambil berusaha sebisa mungkin untuk menetralkan ekspresinya.
Mendengar pengalihan Ilona, Ryan pun berdiri menyejajarkan tubuhnya dengan tinggi gadis itu sembari tetap memasang senyuman jahil yang tidak ia ketahui sejak kapan bisa ia lakukan.
Dia masih bisa mengingat dengan jelas betapa merahnya pipi Ilona tadi, bahkan telinganya pun ikut memerah menahan malu. Sangat imut!
"Baiklah temanku, silahkan jalan duluan," kelakarnya sambil mengangkat kedua tangannya ke depan seolah-olah dia sedang mempersilahkan tuan putri untuk berjalan duluan.
"Jangan memanggilku dengan panggilan menggelikan itu!" protes Ilona dengan bibir mengerucut.
"Lalu harus kupanggil apa? Sahabatku?" balas Ryan menantang seraya menaikkan kedua alisnya iseng.
__ADS_1
"Kau!"
...****************...
Beberapa hari ini, Ilona menjalani hari-harinya dengan sangat bersemangat. Setiap hari ia selalu menghabiskan waktunya dengan Ryan, Hingga tanpa sadar ... hubungan mereka menjadi semakin dekat.
Setiap hari, mereka akan berjalan-jalan di-sekitar taman, bercengkerama di bawah pohon rindang, bahkan tak jarang mereka mengganggu pasien lainnya yang jelas-jelas tak memiliki salah apapun kepada mereka.
Yah, kasihan memang. Apalagi jika para pasien itu tak bisa pintar-pintar membalas kelakuan menjengkelkan dari kedua remaja iseng yang kurang belaian itu.
Katanya hitung-hitung bisa refreshing dengan menggangu para pasien itu. Lagi pula dari pada diganggu oleh orang gila, bukankah lebih menyenangkan jika mereka yang mengganggunya? Kira-kira begitulah ungkapan sesat yang diucapkan Ryan saat itu, yang parahnya lagi langsung disetujui oleh Ilona.
Tapi ini memang sangat menyenangkan, sampai-sampai Ilona mengeklaim Ryan sebagai teman yang menyenangkan. Ia bahkan lupa rencananya untuk kabur dari tempat terkutuk ini. Ralat, semenjak ada Ryan, tempat ini adalah tempat terindah bagi Ilona.
"Ryan, makasih ya buat hari ini. Aku pulang dulu. Udah sore, nanti dicariin Suster Agni, bye!" ucap Ilona dengan senyuman manis yang sedari pagi terpatri di bibir mungilnya.
"Bye," balas Ryan sembari tersenyum melihat punggung Ilona yang semakin menjauh. Dilihatnya gadis itu sesekali berbalik sembari melambaikan tangannya dengan senyuman indah yang tetap setia terpatri di bibirnya.
"Keluar," ucap Ryan pelan.
Dalam keheningan yang aneh, suara dinginnya mengintimidasi sesosok bayangan hitam di balik semak. Suasana berubah mencekam, diikuti suhu udara yang seketika menurun beberapa derajat.
Tak tahan dengan aura intimidasi yang menakutkan itu, dari balik bayangan muncul sesosok pemuda berpakaian hitam.
Sejenak, pemuda tersebut sedikit membungkuk sebagai tanda penghormatan untuk sang majikan.
"Mohon maaf Tuan Muda, saya tidak bermaksud untuk mengikuti anda. Hanya ... ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Mohon ampuni kelancangan saya, saya pantas dihukum," ujar pemuda tersebut dengan keringat dingin yang merembes membasahi keningnya.
Tak ingin berbasa-basi lagi, Ryan lantas bertanya dengan ekspresi tidak senang, "hal penting apa yang ingin kau sampaikan hingga kau berani mengikutiku? Indra, apa kau sangat merindukan potongan gaji bulan ini?"
__ADS_1
Indra tertegun sesaat, dia tak dapat membantah, dia sudah tahu konsekuensi dari tindakannya ini, yang tidak diharapkannya hanyalah tuannya tidak menghukumnya mengerjakan pekerjaan fisik lagi.
Dengan sedikit takut, dia memilih menjawab pertanyaan pertama "Mohon maaf, Tuan Muda. Saya ingin melapor bahwa saat ini Nyonya Besar sudah bangun beberapa saat yang lalu dan ... sepertinya Nyonya Besar ingin bertemu dengan anda," jawab pemuda itu takut.
Takut jika tuannya tidak ingin bertemu dengan Nyonya Besar. Bukan apanya, dia telah menjadi pelayan pribadi sekaligus sekertaris kepercayaan Ryan. Namun, ini adalah pertama kalinya dia melihat tuan mudanya begitu dekat dengan seorang gadis. Bahkan, tuannya terlihat sangat sangat tidak rela saat kemarin ia mengatakan bahwa mereka harus pergi dari sini.
Jika tuannya tidak kembali, maka apa yang harus dia katakan pada Nyonya Besar? Apalagi sekarang tempat ini sudah tidak aman lagi.
Dia harus membawa tuannya pergi dari sini karena Keluarga Nugraha sudah menemukan beberapa jejak mereka. Bisa bahaya jika mereka tertangkap menyelinap di daerah kekuasaan Keluarga Alexander, apalagi saat ini mereka harus bersembunyi dari orang orang pria itu.
Tapi, sekarang tuannya seakan akan tidak ingin pergi dari sini. Itu semua gara gara gadis asing yang baru seminggu ini dikenal tuannya. Bahkan, saat ini dia tidak bisa memastikan apakah tuannya lebih memilih tinggal di sini demi menemani gadis itu atau ikut bersamanya untuk bertemu dengan Nyonya Besar.
"Nanti, akan kuputuskan besok," ujar Ryan datar seraya berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya.
Belum cukup tiga langkah, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya seraya berkata, "oh ya, kau tidak perlu menerima gajimu bulan depan."
"Baik, Tuan Muda," sahut Indra pasrah.
Tentu saja, dia sudah menduga hal ini. Meski begitu, dia tetap nekat untuk menemui tuannya karena menurutnya kabar tentang Nyonya Besar sangat penting.
Tapi, siapa yang mengira bahwa tuannya tidak begitu peduli dengan hal ini. Padahal, sebelum semua hal ini terjadi, tuannya begitu peduli dengan kesehatan Nyonya Besar.
Apa hal ini juga ada hubungannya dengan gadis itu? Semenjak gadis itu masuk ke dalam hidup Tuan Muda nya, Tuan Mudanya selalu bekerja dengan baik, bahkan tidak pernah menunda pekerjaannya.
Ya, pasti itu semua gara gara gadis asing itu! Memangnya, siapa lagi yang bisa membuat Tuan Mudanya menjadi seperti ini? Diam diam, setitik kebencian tumbuh di dalam hati Indra kepada Ilona.
...****************...
Mohon bantu koreksi, ya!
__ADS_1
Makasih udah mau baca sampai bab ini!