ILORA

ILORA
Bab 6 Ilora


__ADS_3

Ilona menatap langit mendung di atas sana. Sepertinya hari ini dia tidak bisa berjalan-jalan dengan Ryan.


Tapi setidaknya sebelum turun hujan, dia harus pergi untuk menemui Ryan dulu, mungkin dia sudah menunggunya dari tadi.


"Nona! Anda ingin ke mana? Sebentar lagi hujan!" Suster Agni mengingatkan Ilona sebelum gadis itu benar-benar berlari menjauh.


"Aku hanya pergi sebentar, jangan khawatir!" seru Ilona seraya berlari menjauh meninggalkan Suster Agni yang masih memantaunya dari tadi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah nonanya.


Dia tebak, pasti nonanya ingin pergi menemui Ryan, seperti kebiasaannya akhir-akhir ini. Tapi dia masih agak khawatir saat mengingat kata-kata tuannya kemarin malam.


Apakah nonanya memang sudah mengetahui identitasnya? Atau mungkin nonanya sedang memberikan kode bahwa ada seorang penyusup yang menyelinap ke tempat ini?


Dia masih bingung, terlepas dari semua hal itu, lalu kenapa nonanya terlihat baik-baik saja saat berbicara dengannya? Tidak hanya itu, jika nonanya belum mengetahui tentang identitasnya, apakah nonanya memang menemukan penyusup lain?


Apakah mungkin itu Ryan? Tapi, kenapa hubungan nonanya dengan pemuda itu juga tetap baik-baik saja? Bahkan semakin akrab. Entahlah, seberapa keras pun dia berpikir, dia


tetap tidak akan pernah tahu apa yang ada di pikiran Ilona.


...****************...


Ilona berdiri dengan menyandarkan punggungnya pada batang pohon besar tempatnya sering menghabiskan waktu bersama Ryan.


Ilona menatap ke atas, terlihat jelas jika sebentar lagi hujan akan turun, tapi dia bahkan belum melihat batang hidung Ryan.


Bosan menunggu, Ilona pun mendudukkan dirinya di atas rumput hijau dan tanpa sengaja, netra hitam pekatnya berhenti pada sebuah ukiran nama di batang pohon. Ukiran itu masih terlihat segar, sepertinya baru saja diukir oleh seseorang.


Dia memindai ukiran itu sebentar lalu membatin, "Ilora ... "


"Ilona, maaf apa kau sudah lama menungguku?"


Ilona mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara itu.


Dia menatap Ryan yang berjalan mendekat ke arahnya. Pemuda itu duduk tepat di sampingnya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah tangan Ilona yang sedang ada di ukiran nama mereka.

__ADS_1


Dia tersenyum, "Apa kau sudah menemukannya? Padahal, aku baru saja ingin menunjukkannya padamu."


Ilona menatap tangannya yang entah kapan telah mengusap ukiran di


"Apa kau yang membuatnya?" tanya Ilona tanpa mengalihkan pandangannya dari ukiran tersebut.


"Ya, apa kau menyukainya?"


"Ya, sangat cantik." Ilona tersenyum, "ini singkatan nama kita, tapi kenapa bukan namamu saja yang duluan, seperti Rail? Bukankah singkatan itu juga bagus?


"Tidak, menurutku jika namamu di depan akan terdengar lebih indah," ujar Ryan, jujur.


Ilona tidak menjawab. Gadis itu lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain, harus ia akui, Ryan memang paling pandai membuatnya salting.


Melihat semburat merah muda mulai mekar di pipi Ilona, meski dalam hati ingin dia mengerjai ilona, namun ada hal yang lebih penting untuk dia lakukan, dan dia tidak memiliki banyak waktu lagi.


"Untukmu." Ryan memberikan sebuah kalung berbandul cincin yang baru saja ia keluarkan dari sakunya.


Ryan menatap lekat-lekat wajah Ilona, dia perlahan berkata, "Aku akan pergi siang ini."


mata Ilona sedikit berubah. Meskipun dia sudah mengantisipasi kepergian Ryan, tapi tetap saja itu masih mampu menggetarkan hatinya.


"Oh." Ilona menyetujuinya dengan acuh tak acuh sembari memasang wajah yang terlihat sama sekali tidak peduli.


Meskipun Ilona pandai menyembunyikan perasaannya, tapi Ryan tetap bisa menemukan keengganan yang tersembunyi dari ekspresi wajahnya. Mata Ryan yang menatap Ilona menghangat.


"Jaga dirimu baik-baik," kata Ryan sembari menatap Ilona khawatir. "Kita pasti akan bertemu lagi."


Kata-katanya terdengar sangat meyakinkan, dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi seolah-olah dia sedang mengikrarkan sumpah yang tidak akan pernah di langgarnya.


Aura kesombongan yang tiada taranya merebak di sekelilingnya, mengejutkan Ilona.


Dia menatap manik mata Ryan dalam mencoba memastikan ketulusan dan kebenaran dari ucapan pemuda itu, tapi dia tidak bisa menemukan sedikit pun jejak kebohongan dari matanya, yang dilihatnya hanyalah tatapan hangat penuh ketulusan yang menatapnya lembut.

__ADS_1


Ilona tersenyum, hatinya menghangat. Sudah berapa lama dia tidak melihat seseorang yang menatapnya dengan tatapan setulus itu?


Lamunan Ilona buyar ketika Ryan tiba-tiba saja menarik tangannya dan membawanya ke koridor terdekat ketika guyuran hujan mendadak menerpa pohon di atasnya.


Meskipun pohon itu memiliki daun yang cukup banyak untuk berteduh, tapi jika mereka berlama-lama di sana pasti tetap akan basah juga cepat atau lambat.


"Ilona, aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." Ryan menatap Ilona dengan segumpal keengganan yang menumpuk di hatinya.


Meskipun dulu dia tidak ingin tinggal di rumah sakit jiwa, tapi sekarang dia tidak ingin pergi dari sini, dia tidak mau meninggalkan Ilona!


Namun, dia memiliki pekerjaan penting yang tidak bisa ditunda. Jadi dengan enggan, dia hanya bisa pergi dengan sedih dari tempat ini.


Melihat keengganan yang terkandung di mata setajam elang Ryan, Ilona sedikit senang dan berkata, "Kau juga, hati-hati, tapi apa kau harus pergi sekarang? Hujannya lumayan deras, bagaimana jika nanti kau sakit?"


Hati Ryan sedikit menghangat mendengar nada khawatir Ilona. "Aku tidak selemah itu. Jadi … apa aku boleh pergi sekarang?"


"Tentu." Ilona menundukkan kepalanya, menyembunyikan raut wajah kusutnya.


"Kalau urusanku sudah selesai, aku pasti akan datang mencarimu. Jadi jangan sedih!" Ujar Ryan sembari mengacak rambut Ilona gemas hingga senyuman manis terbit di wajah cantik Ilona kala tangan hangat itu mengacak rambutnya dengan lembut.


"Nah, gitu dong senyum, 'kan jadi cantik lagi. Kalau gitu aku pergi sekarang, ya."


Sedetik setelah kata-katanya terdengar, Ryan berlari meninggalkan tempat itu dengan melompati tembok pagar.


Gerakannya gesit dan lincah membuat Ilona mengingat sesuatu, bukankah di tembok itu terdapat kawat listrik dan alarm keamanan? Bagaimana dia bisa melewatinya dengan aman, tapi yang terpenting adalah kenapa dia menunjukkannya tepat di hadapannya? Apakah dia sepercaya itu padanya?


Memikirkan hal itu, Kesedihan karena ditinggalkan berubah menjadi perasaan senang yang menjalar memenuhi hatinya. Dia menundukkan kepalanya hanya untuk melihat sebuah kalung cantik yang tersemat diantara jari-jarinya membuat senyumannya bertambah lebar.


Keesokan harinya, dengan wajah cemberut Ilona berjalan ke arah halaman belakang, kini tempat ini berubah menjadi membosankan lagi.


Entahlah kini suasananya terasa menjengkelkan seperti hari-hari pertamanya di tempat ini. Mungkin dia akan bersantai lagi di halaman belakang seperti kebiasaannya untuk mengisi waktu luang dengan bersandar di bawah pohon sampai jam makan siang.


Ingin rasanya dia mengembalikan gelar tempat terkutuk ke tempat ini. Namun saat matanya berhenti di sebuah objek kekesalannya menurun tiga poin.

__ADS_1


__ADS_2