
Parkiran perusahaan sudah terlihat penuh, mana kala Zahra sampai di depan gedung perusahaan tempatnya bekerja.
Zahra melangkahkan kakinya kedalam kantor dengan membalas teguran-teguran para karyawan lainnya. Zahra memang terkenal sopan, ramah dan sangat dikagumi oleh sebagian besar karyawan di perusahaan tersebut. Sebagai sekretaris baru yang belum lama bekerja disitu, Zahra telah mampu membuat hati Husein diam-diam jadi tidak menentu. Namun perbedaan keduanya yang sangat mencolok, membuat Husein banyak berpikir untuk mendekatinya.
Siang ini Zahra baru pulang dari tugas luar kota bersama Rahma. Ketika Mereka masuk kedalam kantor dilihatnya Husein sedang berbincang-bincang dengan teman bisnisnya. Wanita itu terlihat cantik dan berpenampilan glamour.
Zahra hanya tersenyum. Ketika pembicaraan Husein dengan teman bisnisnya sudah berakhir, Dia beralih perhatian ke Zahra dan Rahma yang berdiri menunggu. Berbinar mata Husein ketika menatap Zahra.
" Zahra, sudah beres urusanmu?"
" Sudah Pak." Sahut Zahra.
Husein pun segera memperkenalkan Zahra dengan teman bisnisnya tersebut.
"Lisa."
" Zahra."
" Istirahat dulu, Aku ada perlu dengan teman lamaku ini."kata Husein.
"Baik Pak."Ucap Zahra sambil tersenyum ramah dan segera berlalu.
"Sekretarismu itu cantik, tapi penampilannya sungguh berbeda dari wanita-wanitamu." Ujar. Lisa.
" Apa biar Kamu tidak memacarinya." Tambah Lisa.
"Owh itu adalah rahasia perusahaan."Sahut Husein.
Husein mempersilahkan Lisa masuk keruangan kerjanya. Sementara tamu-tamu yang lain masih menunggu diluar.
Lisa duduk berhadapan dengan Husein. Wah hebat. Siapa sangka Husein teman SMA-nya yang dulu Playboy cap kucing itu. Kina sudah menjadi Direktur yang cakap,Pikir Lisa. sembari termangu memperhatikan Husein, yang kini tengah duduk di kursi Direktur.
" Sudah lama tak ada kabar beritanya, Kemana saja Kamu Lis?" Tanya Husein sambil memperhatikan Lisa. Nyaris kelopak matanya tak berkedip ketika memandang Lisa. Terlihat cantik dan anggun. Mata Husein tidak dapat membohongi diri.
"Sibuk ke luar negeri terus." Jawab Lisa.
"Hebat dong." Ujar Husein.
"Biasa-biasa saja."Lisa mencoba merendah didepan teman SMA-nya tersebut.
" Kenapa waktu reuni Kamu tidak datang?"
" Aku sedang diJepang."
Husein manggut-manggut sambil memperhatikan Lisa.
" Sudah lama bekerja sama dengan Pak Haris?"
"Belum."
"Pantas. Saat itu Aku kesana, tak pernah melihatmu. Ngomong-ngomong masih sendiri nih?"Husein tersenyum.
Dan Lisa juga tersenyum malu-malu. Dia memilih tidak menjawab pertanyaan Husein.
" Kalau sendiri memang kenapa?"
"Boleh lah, kapan-kapan Kita buat hari bahagia."
__ADS_1
"Boleh saja."
Husein tertawa senang, rayuannya langsung berhasil.
"Ok. Sekarang apa yang bisa Kubantu?"
Lisa mulai memaparkan tujuannya. Dia mulai mengeluarkan buku-buku promosi.
"Perusahaan Kami baru saja mengimpor mesin-mesin alat berat yang modern. Ini gambar-gambarnya. Tepat untuk menunjang proyek perusahaanmu dilapangan." Tutur Lisa seraya menyerahkan buku-buku promosi kepada Husein. Husein terlihat memperhatikan gambar mesin-mesin alat berat tersebut.
" Baik, sepertinya menarik. Ada yang lainnya lagi?"
" Aku rasa tidak."
Husein menekan nomor interkom.
"Zahra"
"Iya, Pak."
"Datang keruang kerja Saya sekarang."
"Baik,Pak."
Husein kembali meletakkan gagang interkom ke induknya. Sesaat kemudian Zahra mengetuk pintu ruangan bossnya tersebut.
" Masuk." Sahut Husein.
" Ada apa,Pak?"
" Tolong Kamu pelajari buku promosi ini. Setelah itu buatkan surat jawabannya."Jelas Husein seraya menyerahkan buku promosi tersebut kepada Zahra.
" Beri jawaban, penawaran itu diterima."
"Baik,Pak." Zahra pamit dan melangkah pergi.
Begitu Zahra sudah keluar dari ruangan tersebut. Lisa kembali memandang Husein.
" Sekretarismu benar-benar cantik." Puji Lisa.
" Kamu juga cantik Lis." Lagi-lagi Husein mengeluarkan jurus gombalannya.
Lisa tersenyum bahagia layaknya wanita yang sedang mendapatkan pujian.
" Betapa bahagianya pria yang bakal jadi pendampingmu." Tambah Husein membuat Lisa semakin tersanjung dibuatnya.
" Aku permisi dulu Sein. Lain kali Kita bisa bertemu lagi." Pamit Lisa.
"Ok. Sampai bertemu lagi."
"Permisi."
Husein mengantar Lisa hanya sampai dipintu ruangannya. Sebab tamu-tamu lainnya sudah menunggu. Lisa melangkahkan kakinya sembari mengedarkan pandangannya. Banyak juga gadis-gadis cantik yang menunggu giliran untuk menghadap Husein.
...***...
Zahra terlihat fokus mempelajari buku-buku promosi yang dikasih Husein.Namun waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Zahra menghentikan pekerjaannya. Rahma terlihat sudah menunggunya untuk pulang bersama.
__ADS_1
Setelah Zahra selesai mematikan komputer, CPU, mesin print dan AC-nya. Zahra mengambil tas ranselnya, lalu keluar dari ruangan dan menguncinya.
Mereka berdua memilih turun tangga daripada lewat lift. Seperti biasa Zahra pulang diantar Rahma. Karena Mereka satu arah.
Zahra duduk disamping Rahma. Dan mobil yang dikemudikan Rahma meluncur cepat. Namun tiba-tiba dada Zahra menyentak. Angin yang mendesau lewat didekat telinganya. Kepalanya mulai terasa pening. Dan perutnya menjadi mual. Zahra terlihat memijit-mijit pelipisnya.
Rahma terlihat heran melihat Zahra.
"Mba Zahra kenapa?"
"Kepalaku pusing.Perutku mual, rasanya ingin muntah." Ujar Zahra.
Rahma jadi cemas. Dia menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Lalu Dia memijit-mijit tekuk Zahra.
" Barangkali Mba masuk angin." Kata Rahma
Zahra langsung keluar dari mobil dan muntah-muntah. Winda jadi tambah cemas. Dia pun ikut keluar dari mobil.
" Saya antar ke dokter ya?"
" Tidak usah." Zahra menolak.
Setelah dirasa sudah selesai muntah-muntahnya. Mereka kembali kemobil. Rahma bergegas meluncurkan mobilnya menuju rumah Zahra. Zahra bersandar dijok. Tubuhnya lemas bagai tak bertenaga lagi. Sambil mengendarai mobil, Rahma sebentar-sebentar memandang Zahra. Dia berharap cepat tiba di rumah Zahra.
Keringat dingin merembes lewat pori-pori kulit Zahra. Zahra memilih memejamkan matanya. Kesibukan mobil yang berlalu lalang hanya bayangan kabur yang nampak. Tak terasa mobil telah sampai dijalan yang dituju.
" Saya antar ke dalam ya mbak?"
" Tidak usah. Terima kasih. Saya masih kuat jalan sendiri." Ujar Zahra dengan suara lemah.Lalu Dia turun dari mobil.
" Besok, kalau mbak masih belum sehat. Mbak ijin saja.Jangan memaksakan diri untuk bekerja," Kata Rahma.
" Insya Allah." Bibir Zahra yang pucat berusaha untuk tersenyum.
" Ya sudah mbak. Moga cepat sembuh."
" Aamiin. Terimakasih kasih."
" Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Kemudian, Rahma melambaikan tangan. Meluncurkan mobilnya meninggalkan Zahra. Setelah mobil Rahma tidak terlihat. Zahra mengayunkan langkahnya menuju ke teras rumah. Langkahnya terasa berat. Tapi terus Dia paksakan.
Daun pintu diketuknya berulang kali. Rasa pening masih melanda dirinya. Dan ketika pintu terbuka, tanpa membuang waktu Zahra langsung menghambur masuk ke rumah. Ayahnya jadi heran, tidak biasanya Zahra masuk tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Disofs, Zahra langsung terduduk.
"Kamu kenapa?" Tanya Ayahnya.
" Tidak apa-apa."
" Ayah minum lagi?" Zahra mencium bau yang membuatnya menjadi mual kembali.
" Untuk menghilangkan stress." Sahut Ayahnya tanpa merasa bersalah.
" Ayah...., " Keluh Zahra kesal. Ingin rasanya Dia mencaci maki kebiasaan buruk Ayahnya tersebut. Namun keimanan Zahra memilih menahan emosinya dan beranjak dari tempat duduknya menuju kamarnya.
****To be continued****
__ADS_1