
Beberapa hari ini Husein dikantornya tidak sempat berbincang-bincang dengan Zahra, karena kemelut adiknya. Sampai urusan kantornya sedikit keteter. Tapi yang penting Adiknya sudah sehat kembali. Lalu sekarang bagaimana dengan Zahra? sakit apa Dia? Sudah beberapa hari ini Zahra tidak masuk kerja.
Husein terlihat resah dan khawatir. Sampai sore, Zahra tetap tidak masuk kantor. Dan sepanjang hari itu membuat Husein merasa gelisah.Dia ingin mengajak Zahra melihat senja disore hari seraya berbincang-bincang tentang kehidupan dan masa lalu yang pernah dilaluinya. Hanya Zahra yang bisa mendengarkan resah dan gelisahnya, tanpa menghakimi kesalahannya dimasa lalu itu.
Tapi keinginan hari ini itu hanya tinggal kenangan dihatinya. Sungguh pun, Dia ingin menemui Zahra. Namun Dia tidak berani menjumpai Zahra dirumahnya. Zahra yang terang-terangan melarangnya. Zahra tidak ingin, Husein datang kerumahnya.
Entah alasan apa, Zahra melarang Husein. Dan kalau Husein nekad datang menjenguknya, pasti Zahra sangat tidak menghendaki kedatangannya. Husein mengetahui kejelasan itu. Maka Husein pun menahan keinginannya itu. Dan akhirnya Husein pulang dari kantor dengan perasaan gundah.
Sampai dirumah, tambah lagi beban perasaan yang membuatnya sangat tidak nyaman. Apalagi kalau bukan pembicaraan Ibunya yang menginginkan dirinya untuk cepat menikah. Rasa tidak senang Husein semakin memuncak, apalagi ditambah hari ini wanita yang Dia sukai itu tidak masuk kerja. Rasanya obat penenang dalam dirinya hilang.
"Sudah sering Mama bahas itu. Husein hanya bisa bilang bersabar dulu Ma."Kata Husein.
"Tidak, kali ini sudah penentuan bagi Mama."
"Maksud Mama?"
"Mama sudah melamar seorang wanita untuk menjadi istrimu."
Ucapan Ibunya sama sekali tidak membuat Husein bahagia. Husein malah terkejut dan bingung.
"Melamar seorang wanita untuk menjadi istriku?"Husein masih tidak percaya dengan apa yang Ibunya lakukan.
"Iya karena Mama sudah pusing memikirkan hidupmu. Setelah Kamu menikah, baru Mama bisa tenang."
"Aneh rasanya seorang laki-laki dipaksa nmenikah. Apalagi dijodohkan dengan wanita yang tidak dikenalnya. Bagaimana rumah tangga Kami bisa nyaman dan bahagia?" Protes Husein.
"Pilihan Mama pasti tidak akan mengecewakanmu. Dia wanita baik-baik dan Mama tahu kepribadiannya."
"Tapi Ma, Husein sudah mempunyai pilihan sendiri."
" Tidak, Husein. Kali ini Kamu tidak boleh membantah dan menolaknya. Apa Kamu tidak ingat, apa yang terjadi pada adikmu. Lantaran Kamu tidak menuruti nasehat Mama."
"Apa wanita itu seperti Ria?"
"Tidak."
"Sama sekali tidak." Carissa ikut nimbrung. Dia baru masuk ke ruang tengah tersebut. Dan ikut duduk dengan keluarganya tersebut.
Husein memandang Carissa dengan rasa penasarannya. Kenapa Carissa membela Ibunya tersebut. Husein jadi bertanya-tanya apakah adiknya mengenal wanita yang dimaksud Ibunya.
"Kenapa Kamu mendukung Mama?"
" Karena Aku tahu benar wanita itu."
"Berarti Kamu sudah mengenalnya lama?"
__ADS_1
Carissa menganggukkan kepalanya. Husein jadi terlihat gusar.
"Pilihan Mama sangat cocok untukmu. Carissa harap, Kakak tidak menolaknya." Kata Carissa.
Husein menggigit bibirnya. Dalam hatinya berkecamuk. Antara berontak atau patuh.
Bayangan wajah Zahra menghampirinya. Aku sangat mencintainya. Pikir Husein.
"Apa uang memberatkan hatimu, Kak?"Tanya Carissa.
"Aku telah mempunyai pilihan hati sendiri,"desah Husein murung.
"Kenapa sejak dulu Kamu tak pernah mau mengatakannya? Setiap kali Mama bertanya, Kamu tak mau menjelaskannya." Ibunya menimpali."Sekarang Mama sudah terlanjur melamar anak orang,baru Kamu mengatakannya."
"Karena belum saatnya."
"Apa alasannya?"
Husein hanya bisa menghembuskan nafas keras.
"Sudahlah, lupakan wanita itu."
" Tidak mungkin Ma, Husein mencintainya."
"Aku tak tahu Ma. Aku tak tahu."Husein bangkit dari kursinya. Dia menuju ke dalam kamarnya.Manakala Husein sudah berbaring dikamar. Kecamuk dalam hatinya terus berkepanjangan.
Aku harus jadi suami wanita yang tidak kucintai. Apapun yang terjadi akan kuhadapi pikirnya. Dizaman milenium ini, masih ada juga orang tua memaksa anaknya untuk menikah, dan anehnya orang itu adalah Aku. Batin Husein.
Sedangkan bayangan Zahra menyelinap masuk ke dalam benaknya. Wajahnya yang cantik dan anggun melintas dimatanya. Rasa rindu terhadap Zahra menggeliat didalam hatinya.
Dan kalau sudah begini, rasanya Husein berani menghadapi semua tantangan yang ada dihadapannya nanti. Ketabahan, kesabaran dan keistiqomahan Zahra yang tidak pernah goyah. Walaupun banyak menghadapi bantingan-bantingan kerasnya kehidupan. Kesetiaan pada Robbnya tidak pernah luntur. Walaupun hidupnya begitu getir. Dan itu membuat Zahra sangat berbeda dari wanita manapun yang pernah Husein kenal.
Hanya Zahra, satu-satunya wanita yang benar-benar kuinginkan untuk mendampingi hidupku. Mudah-mudahan besok Dia masuk kerja.Batin Husein berharap.
...***...
Paginya begitu masuk kantor, tidak lupa pertama yang dilihatnya meja yamg ditempati Zahra. Kebiasaan itu membuatnya senantiasa gelisah. Dan ternyata, meja itu masih kosong.
Zahra tidak masuk lagi. Hati Husein jadi terasa sesak. Kenapa Dia belum masuk kerja? Kenapa? Apakah sakitnya begitu parah?Atau kemelut keluarganya kian menjadi? Sehingga Zahra sampai ijin beberapa hari.
Apa yang harus Kulakukan?Keluh Husein seraya melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya. Saat itu Rahma menyapanya disertai senyuman.
"Pagi Pak."
"Pagi."Husein membalas dengan senyuman juga.
__ADS_1
"Zahra belum masuk lagi?"
"Belum Pak."
"Sepertinya parah sakitnya."
"Bagaimana kalau nanti Saya menjenguknya?"Tanya Rahma.
" Jangan! maksud Saya tidak perlu. Kalau sudah sembuh pasti Dia masuk kerja."Ujar Husein. Mengingat Husein tidak ingin Rahma mengetahui juga tentang kemelut keluarganya Zahra.
"Tapi Saya kan teman kerjanya Pak. Nanti dikira tidak solider."
" Hmmm..."
Tiba-tiba sebuah suara sapaan terdengar.
"Pagi Pak." Suara yang tak asing bagi Husein.
Terlihat Zahra berjalan menghampiri Mereka.Perhatian Husein dan Rahma langsung tertuju kepada Zahra. Saking senangnya, rasanya Husein ingin bersorak melihat Zahra datang. Sorot mata Husein berbinar-binar.
"Maaf Pak, Beberapa hari ini Saya tidak masuk kerja."Kata Zahra.
Husein memperhatikan Zahra dengan seksama.
"Tidak apa-apa. Sebab Rahma sudah memberitahu kalau Kamu sakit. Kamu sakit apa?"Husein mengamati wajah Zahra yang pucat. Wajah itu tampak tampak gelisah juga.
Zahra tidak menyahut, Dia tertunduk bisu. Tapi disudut matanya ada butiran bening yang hampir jatuh menetes. Husein segera berfirasat yang kurang baik.
"Sebaiknya mari Kita bicara ditempat lain."
Zahra menganggukkan kepalanya.
Husein dan Zahra meninggalkan ruangan kantor tersebut dan mencari sebuah taman. Mereka duduk disalah satu bangku panjang besi ditaman.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"
Zahra terlihat cemas, dan Dia tidak bisa lagi membendung air matanya. Zahra meneteskan air matanya.
"Ayahku menjodohkan diriku dengan seorang rentenir karena hutangnya."Ucap Zahra.
Menggelegar jantung Husein mendengarnya.
Sedangkan Zahra menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya. Tangisnya terisak-isak pilu. Kembali Husein dilanda kesedihan. Dadanya rasanya sangat sesak memikirkan itu semua.
To be continued
__ADS_1