
Flash back
Tiga hari yang lalu,
Zahra yang sedang tidak enak badan terganggu dengan suara gedoran pintu dipintu ruang tamunya. Zahra pun bergegas beranjak dari tempat tidurnya walaupun sakit kepala masih melanda dirinya.
Namun ternyata Ayahnya sudah membuka pintu tersebut. Dan disitulah terlihat seorang pria yang tiba-tiba tertuju memandang ke arah Zahra.
"Ternyata Kamu mempunyai seorang putri, cantik pula." Ujar pria tersebut.
"Zahra! Kenapa Kamu keluar." Ada penyesalan terlihat diwajah Ayahnya,Mengapa tiba-tiba Zahra muncul saat kondisi seperti itu.
"Apa yang terjadi?" Zahra terlihat bingung.
Ada tiga pria yang sepertinya sedang menemui Ayahnya. Dan Mereka terlihat seperti rentenir.
"Hai cantik. Sepertinya ini jaminan yang bagus untuk semua ini."Kata seorang pria dengan tubuh tegap dan berkacamata hitam. Dia memandang Zahra dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Maksudnya?" Tanya Ayah Zahra.
__ADS_1
"Baiklah Aku jelaskan, kalau dalam seminggu lagi Kamu belum bisa membayarnya. Putrimu adalah jaminan untuk boss Kami. Kebetulan boss Kami sedang mencari seorang istri yang cantik seperti ini."Jelasnya lalu mengajak dua anak buahnya pergi.
"Maafkan Ayah Ra."Ujar Ayahnya menundukkan kepalanya.
"Aku sudah tidak tahu lagi, apa yang harus Ayah lakukan. Kalau memang harus terpaksa Kamu sebagai jaminan. Maafkan Ayah."
Hari berikutnya, bahkan Ayahnya terang-terangan bahwa jalan satu-satunya adalah Zahra menjadi istri seorang Pak Rio. Seorang Direktur sebuah perusahaan Finance. Dimana Ayahnya terlilit hutang tersebut.
Hanya istighfar yang bisa Zahra lakukan. Dia tidak ingin memikirkan lebih jauh lagi. Zahra pasrah dengan semua keadaan. Dalam doa Zahra di setiap sujudnya.
"Ya Allah kalau Aku mempunyai perasaan cinta. Tanamkan dihatiku kepada orang yang mencintaiMU."
Flashback end
Husein terdiam sejenak. Selama ini Husein memang belum pernah mengatakan perasaannya pada Zahra. Dia masih takut, Zahra akan menolaknya. Secara penilaian Zahra pada seorang pria bukanlah harta dan tahta, Namun agama. Sedangkan apalah daya Husein yang hidup dikeluarga berada, namun minus agama. Bahkan malu rasanya Husein kalau sampai Zahra mengetahui, bahwa mayoritas keluarganya hanya islam KTP.
Tetapi dalam hati kecilnya berbicara. Daripada Dia menerima perjodohan dengan putri sahabat Ibunya, yang jelas Husein tidak tahu seperti apa sifat, watak dan perilakunya. Bukankah ini waktu yang tepat untuknya mengutarakan keinginannya pada Zahra. Bahwa Dia ingin Zahra menjadi bagian dari hidupnya. Menjadi pendamping setia yang menemani disisinya, menjadi Ibu dari anak-anaknya. Iya, bukankah ini waktu yang sangat tepat? Pikir Husein. Dia masih memandang Zahra yang kini menatap hamparan rumput hijau didepan Mereka.
Husein menghela nafas panjang ,sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Aku mempersuntingmu. Apa Kamu akan menerimanya?" Pertanyaan Husein spontan membuat Zahra membelalakkan matanya karena terkejut.
Zahra sangat tidak menduga, Husein akan berkata seperti itu. Biasanya setiap ada masalah baik Husein maupun Zahra. Mereka hanya akan saling menenangkan dan mencari solusi terbaik dari masalah tersebut.
"Aku tak tahu," Sahut Zahra menundukkan kepalanya. Rasanya Zahra benar-benar tidak tahu, mana yang terbaik buat Zahra saat ini. Batinnya sedang berkecamuk dengan masalah Ayahnya. Membuat Dia yang biasanya tegar, menjadi rapuh.
" Dalam waktu satu Minggu, berikan Aku kepastian."Ujar Husein. Secara sebelum semuanya terlambat.
Zahra menoleh ke arah Husein.
"Kamu yakin? Ingin mempersuntingku? Aku sangat tidak pantas untukmu. Keluargamu mungkin akan sulit untuk menerimaku." Ujar Zahra mengingat selama ini Dia hanya hidup dengan Ayahnya. Ibunya sudah lama meninggal saat usianya beranjak lima belas tahun. Namun disitu Zahra sudah dibekali ilmu agama, tentunya didikan dari Ibunya. Dan membuat Dia menjadi wanita yang kuat dan mandiri hingga saat ini. Walaupun ada kalanya Dia rapuh. Karena Dia juga hanya sebatas manusia.
"Aku yakin. Aku bisa menghadapinya. Dan kuncinya di Kamu." Ujar Husein. Dia terlihat benar-benar pasrah. Secara Husein sadar dirinya masih jauh dari kriteria Zahra.
Namun Zahra juga berpikir, Dia jauh dari kriteria Husein dan keluarganya.
Selama Seminggu Zahra mencoba istiharah. Dia tidak ingin salah melangkah dalam hidupnya. Walaupun mungkin akan selalu ada rintangan. Namun setidaknya hal itu membuat dirinya semakin mendekatkan diri pada Allah SWT.
To be continued
__ADS_1