Istiqomah Cinta

Istiqomah Cinta
Titik terang


__ADS_3

Husein mampir kerumah sakit. Carissa sudah tersadar. Husein pun duduk disamping adiknya tersebut.


"Kenapa Kamu tidak cerita padaku?" Tanya Husein dengan suara lembut.


"Aku malu Mas." Sahut adiknya dengan suara lemah.


"Aku sudah membuat perhitungan dengan Ria.Dan juga menemui Leo tadi pagi." Jelas Husein membuat Carissa terkejut.


"Apa sekarang yang bisa Kulakukan, sesuatu yang bisa membantumu? Lapor polisi? Atau Kamu bisa pindah Universitas kalau Kamu merasa tidak nyaman."Jelas Husein sangat merasa bersalah kepada adiknya tersebut.


"Jangan lapor polisi. Aku tidak ingin wartawan tahu dan membuat nama baik keluarga Kita tercemar."Ujar Carissa.


"Baiklah." Husein memilih menuruti kemauan adiknya tersebut. Dan saat itu terlihat Dokter dan kedua susternya masuk. Husein pun pamit pulang dulu kepada adiknya.


Sedangkan Pak Pratama duduk diam diruang tamu. Dia tampak murung, kecewa dan malu. Terlihat juga istrinya, Bu Lina istrinya yang duduk disampingnya, dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya nampak sedih. Sedangkan Husein terlihat baru saja pulang. Mobilnya terdengar menderu. Husein pun mematikan mesin mobilnya, keluar dan melangkahkan kakinya masuk ke rumah.


"Darimana semalaman Kamu tidak pulang?"Tegur Ayahnya.


"Tidur di kantor." Jawab Husein menghempaskan diri ke sebuah sofa diruang tamu tersebut. Pakaian dan rambutnya terlihat kusut.


"Kenapa tidur dikantor?"


"Pikiran sedang kalut, Pa."


"Kalut mikirin wanita-wanitamu."


Husein terdiam dan tertunduk menatap lantai, merenungi diri.


"Kamu sudah tahu apa yang terjadi dengan adikmu. Kenapa Kamu diam saja dan tidak ambil tindakan?"


"Carissa melarangku Pa."


"Papa tidak peduli.Siapa yang menjerumuskan harus mendapatkan balasannya."Ujar Ayahnya emosi.


"Tapi Pa, Aku tidak ingin terjadi apa-apa lagi dengan Carissa." Sahut Husein.


" Inilah akibatnya Kamu tidak mendengarkan nasehat Mama." Ucap Lina, terisak-isak mengingat kejadian yang menimpa Carissa gara-gara mantan kekasihnya Husein.


"Maafkan Husein Ma." Jawab Husein dengan perasaan sedih.


"Kata maafmu tidak bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi. Coba Kamu menuruti nasehat Mama untuk menikah. Pasti adikmu tidak akan jadi korban sakit hati Ria."


"Tapi Ma, Ria bukan wanita baik-baik Ma, Dia bukan wanita yang tepat untuk kujadikan seorang istri." Jelas Husein.


"Lalu wanita seperti apa yang menjadi pilihanmu? Tunjukkan pada Mama. Seperti apa wanita yang Kamu sukai itu."


Husein tidak menjawabnya. Namun bayangan Zahra melintas dipikirannya. Seandainya keluarga besarnya tidak mementingkan bibit,bebet dan bobot untuk menentukan calon pasangan. Wanita itu akan kutunjukkan pada orang tuaku.Pikir Husein.


Wanita seperti Zahra yang Husein dambakan. Wanita yang memiliki pendirian kuat, teguh, mandiri dan tulus pada siapapun yang membutuhkan bantuannya. Bahkan Dia tabah dan sabar menghadapi kerasnya kehidupan.


"Jawab Husein! Wanita seperti apa yang Kamu sukai? Mama bosan melihat kebiasaanmu mempermainkan wanita dan setelah bosan. Kamu tinggalkan."Kata Ibunya kesal.

__ADS_1


"Bersabarlah Ma."


"Mama sudah tidak sabar."


Husein bingung, Lalu Dia bangkit dan masuk kekamarnya. Terlihat kedua orang tuanya hanya bisa mengelus dada melihatnya.


"Aku tidak ingin masalah ini tambah berlarut. Husein harus secepatnya menikah." Ujar Lina.Dia merasa belum tenang kalau putranya itu masih melajang.


"Tapi Ma, Dia belum menemukan calon istrinya."


" Aku akan menjodohkan Dia dengan salah satu putri sahabat Mama."


"Husein sudah dewasa Ma, Dia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri."


"Hingga membuat adiknya seperti sekarang ini. Pokoknya Pa, Mama tidak mau tahu. Begitu Carissa sudah membaik. Kita datang kerumah Bu Ati. Dia mempunyai putri yang sepertinya cocok Kita jodohkan dengan Husein." Ujar Bu Lina.


Pak Pratama menghempaskan nafas panjang. Dia tak dapat memberikan pendapat lagi mengenai keinginan istrinya tersebut. Memang Mereka sudah mengenal keluarga Ati sejak dulu. Keluarga yang berada. Suami Ati merupakan salah satu Dirut suatu perusahaan tambang. Mereka mempunyai Dua orang putri. Namun Pak Pratama tidak tahu putri yang mana yang mau dijodohkan dengan Husein. Dia sendiri jarang bertemu keluarga tersebut. Yang sering bertemu istrinya. Karena sebuah arisan.


Husein terlihat keluar dari kamarnya. Dia sudah selesai mandi. Pakaiannya sudah terlihat rapi, sebuah kemeja berwarna biru dongker dengan celana warna hitam. Rambutnya sudah teroles pomade. Dia berjalan sembari membawa tas ranselnya , yang berisi laptopnya.


"Husein pergi kekantor dulu Ma." Kata Husein pada kedua orang tuannya seraya menjabat tangan Mereka.Kedua orang tuanya hanya menganggukkan kepalanya. Dan Husein pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut. Didalam mobil Dia tergesa-gesa menghidupkan mesin mobilnya. Dia ingat hari ini banyak urusannya dikantor. Disamping itu Dia ingin lekas bisa melihat Zahra. Wanita yang diam-diam telah membuatnya jatuh hati.


Tapi ketika sampai dikantor. Meja Zahra terlihat kosong. Tidak ada tanda-tanda bahwa yang menempati mengerjakan sesuatu. Sebab diatas meja bersih.


Kemana Zahra?Pikir Husein seraya melanjutkan langkahnya. Para karyawan dan karyawati pun menyapanya. Husein membalas sapaan karyawan dan karyawatinya dengan anggukan kepala. Dia terus melangkah menuju ruang kerjanya.


Tidak selang lama seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk."


"Selamat Siang,Pak."


"Siang."


"Zahra tidak kelihatan, kemana?"


"Pulang,Pak." Jawab Rahma seraya meletakkan setumpuk dokumen tersebut diatas meja Direktur.


"Kenapa?" Tanya Husein penasaran.


"Sejak dari kemarin Dia sakit. Saya sudah sarankan untuk ijin hari ini kalau belum sehat betul. Tapi tadi lagi, Dia memaksakan diri untuk masuk kerja."


Husein terperangah. Pantas saja tadi pagi Dia melihat wanita yang disukainya tersebut.


"Sakit apa?"


"Nampaknya Dia masuk angin."


Husein jadi termenung, memikirkannya wanita yang diam-diam Dia sukai sedang sakit.


Sedangkan disebuah ruangan rumah sakit. Carissa kedatangan seorang penjenguk. Namun Carissa terlihat tidak memperdulikannya.

__ADS_1


"Carissa!" Panggil Leo dengan suara lembut.


Carissa tidak menjawabnya. Dia tetap membuang muka. Wajah Carissa masih terlihat pucat.


"Carissa kenapa Kamu sampai begini?"


"Pergilah Leo. Aku tak menginginkan belas kasihan darimu." Ujar Carissa. Disela-sela matanya yang sudah berkaca-kaca. Dan merasa sudah tidak bisa membendung air matanya tersebut.


" Izinkan Aku disisimu."Pinta Leo.


"Untuk apa?"


"Kamu tidak menginginkanku lagi?"


" Iya, pergilah!"


" Carissa!"


Carissa menoleh, menatap wajah Leo. Wajah yang selalu menenangkan baginya. Namun tidak untuk akhir-akhir ini.


"Pergilah! Aku tidak pantas untukmu.Kamu lebih pantas dengan wanita yang lebih baik dariku. Seperti Ria atau lainnya."


"Aku datang bukan untuk mempersoalkan orang lain. Tapi memperbaiki hubungan Kita." Ujar Leo.


"Persoalan Apa lagi? Bukankah Kita sudah putus?"


Leo menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Kamu menggeleng. Kamu sendiri yang menghendaki Kita putus."


"Maafkan Aku Carissa. Aku menyesal tidak mempercayai kata-katamu. Aku minta maaf kalau telah menyakiti hatimu."


Sebutir air bening perlahan mengalir dari sudut mata Carissa dan jatuh membasahi pipinya. Leo mengeluarkan sapu tangannya dan menghapusnya.


"Kamu tidak bersalah. Tidak perlu minta maaf."


" Jadi Kamu ingin mendengarkan penjelasanku bukan?"


Carissa yang terlihat sudah luluh pun menganggukkan kepalanya. Disitu Leo menceritakan tentang semuanya. Dari kakaknya yang datang menemuinya. Lalu Dia sendiri yang menginterogasi Ria atas kejadian yang membuat Carissa trauma tersebut. Bahkan cerita-cerita hoaks yang disebarkan oleh Ria demi membalas sakit hatinya terhadap Husein. Karena jelas disitu ada saksi yang bersangkutan.


" Hani?"


" Iya, Hani ada dilokasi saat kejadian."


"Jadi Aku berniat untuk melaporkannya."


"Jangan!"Larang Carissa.


"Dia harus menerima hukuman."


" Tidak Leo, Biar Allah SWT yang membalasnya." Ujar Carissa.

__ADS_1


Leo terkejut, Betapa mulianya wanita yang didepannya saat ini. Wanita yang pernah Dia ragukan kepribadiannya itu.


To be continued


__ADS_2