
Akhirnya wanita yang ditunggu terlihat keluar dari gedung fakultas. Langkahnya terlihat tergesa-gesa. Sepertinya Dia penasaran siapa seseorang yang ingin menemuinya. Dibawah teriknya sinar matahari. Rambut panjang wanita tersebut terurai tertiup angin. Semakin dekat langkahnya dengan kantin. Begitu sampai kantin,Ria mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan kantin. Hingga akhirnya menemukan sosok Husein yang sedang menatap dirinya duduk di pojok ruangan kantin tersebut. Mereka saling bertatapan.
" Ria!" Panggil Husein sembari melambaikan tangannya.
Husein? Untuk apa Dia datang kesini?Pikir Ria terlihat senang namun gelisah, memikirkannya. Tidak ada angin, tidak ada ujan, tiba-tiba Husein datang menemuinya. Perlahan dan pasti, Ria menghampiri Husein.
"Duduklah."Husein terlihat ramah, padahal dalam hatinya memendam amarah yang segunung.
Ria pun duduk disebuah kursi, tepat dihadapan Husein. Mereka hanya terhalang sebuah meja. Ria tersenyum seraya menatap wajah Husein. Wajah yang masih sangat Ria rindukan. Husein pun membalas dengan senyuman hambar.
"Mas Husein tidak ke kantor?"Tanya Ria seraya memperhatikan pakaian Husein yang tidak serapi biasanya. Rambutnya terlihat terurai tanpa pomade, sehingga kelihatan lebih santai.Namun sorot mata Husein memancarkan sesuatu yang tidak Ria ketahui.
Husein merespon dengan sebuah gelengan kepala.
"Katakan, Apa salah Carissa padamu?"Husein to the point.
Ria terlihat terkejut. Dia tak bereaksi. Dan menepiskan mukanya, mengalihkan pandangannya ke arah gedung fakultas diseberang kantin.
"Jawab Ria. Apa salah adikku padamu?"Suara Husein terdengar lebih keras dari sebelumnya. Namun Ria masih terdiam. Tidak ada jawaban apapun dari Ria. Membuat Husein memandang tajam wanita didepannya itu. Wanita yang pernah menghiasi hari-harinya dalam kesenangan duniawi.Wajah yang cantik. Rambut terurai panjang tertata rapi. Pakaian yang dikenakan sangat bagus. Dan segalanya terlihat memikat. Namun siapa sangka. Hatinya tak secantik wajahnya. Dia menyimpan kekejaman yang teramat, dan adiknya Husein sebagai sasarannya.
"Katakan Ria.Kenapa Kamu menjerumuskan dan memfitnah adikku?"
Ria menoleh. Dia menatap wajah Husein.
"Tanyakan pada dirimu sendiri."Sahut Ria.
"Persoalan Kita berbeda. Kenapa Kamu menjerumuskan adikku?"
"Aku tidak menjerumuskan."
"Tapi Kamu yang mengajaknya kan?"Husein terlihat emosi.
"Dia juga mau. Aku kira Dia sudah biasa dengan itu."Ejek Ria.
"Tidak mungkin!" Ujar Husein tahu betul karakter adiknya itu. Carissa tidak mungkin seperti yang Ria tuduhkan padanya.
"Kenapa tidak mungkin? Kakaknya saja sudah terbiasa."Lagi-lagi Ria menyamakan Carissa dengan Husein.
"Jangan samakan Aku dengan adikku."Sahut Husein membuat Ria tertawa mengejek. Namun tawa itu benar-benar bagai duri yang menusuk hati Husein. Seakan Ria benar-benar menyamakan karakter Husein dan adiknya sama. Dan saat itu seorang pelayan kantin menghampiri.
"Mau pesan apa Mas?"
"Jus Alpukat."
"Mbaknya?"
"Sama."
Pelayan itu kemudian pergi. Husein menghembuskan nafas keras, kesal dan jengkel. Sedangkan Ria tampak pura-pura tenang dihadapan Husein.
Benar-benar serigala berbulu domba.Pikir Husein.
"Pernahkah Adikku menyakitimu,Ria?"
Lagi-lagi Ria tidak menjawabnya.
"Jawab Ria!"
"Tidak."
__ADS_1
"Kalau tidak, kenapa Kamu setega itu padanya?"
"Karena Kamu telah mempermainkanku. Seperti wanita-wanita yang telah Kamu permainankan. Habis manis sepah dibuang."Sahut Ria.
"Pernahkah Aku memaksamu untuk menjadi bagian dari wanita-wanita itu?"
Ria tertunduk diam. Dan saat itu pelayan datang membawa dua gelas jus alpukat pesanan Mereka.
"Silahkan."
"Terima kasih." Ucap Husein. Dan pelayan itu lalu pergi menghampiri pengunjung lainnya.
"Bukankah Kamu sendiri yang tertarik padaku?"Husein menatap tajam wanita didepannya itu.
"Kamu secara sukarela datang karena tertarik dengan semua yang kumiliki. Jadi jangan munafik, Sifat materialistismu yang membuat semuanya itu terjadi. Padahal selama ini apa yang Kamu minta sudah Kupenuhi. Mobil, perhiasan, pakaian dan uang. Tapi apa balasanmu. Kamu membuat adikku jadi sasaran pembalasan sakit hatimu."Keluh Husein sedih, Mengingat Carissa masuk rumah sakit.
Ria pura-pura tidak mendengarkan kata-kata Husein.
"Jadi ingat Ria, hubungan Kita selama itu hanya saling membutuhkan." Ujar Husein.
"Saling membutuhkan?" Ria terkejut dengan perkataan Husein.
"Tentu saja. Aku membutuhkan kesenangan, Kamu membutuhkan materi."Jelas Husein.
"Pernahkah Aku mengutarakan perasaan cinta padamu?"Tambah Husein.
Ria menghela nafas berat.
"Pernahkah Aku bilang ingin melamar dan mempersuntingmu?"Tanya Husein mengingatkan hubungan yang pernah terjadi diantara Mereka.
"Tapi Aku mencintaimu Mas."Ungkap Ria.
"Tidak, Cintamu hanya harta, Ria. Kamu sudah terlalu banyak menuntut, ingin menguasai seluruh hidupku, terdorong keinginan menjadi Istri Direktur. Justru karena itu, Kamu bukan wanita idamanku dan bukan wanita yang tepat untukku."Jelas Husein panjang lebar, berharap Ria sadar kenapa Husein memutuskan hubungan dengannya.
" Kamu pria pengecut." Ria merasa jengkel.
" Kamu atau Aku?"Husein tersenyum sinis.
"Kamu."
" Kamu wanita yang egois. Tidak mau introspeksi diri sendiri."
"Cukup!"Bentak Ria.
"Belum. Kenapa juga Kamu mempengaruhi Leo untuk memutuskan hubungan dengan Carissa?"
"Ada sebab, tentu ada akiibat. Anggap saja semua yang terjadi pada adikmu karena ulahmu.Aku banyak urusan."Ria spontan bangkit. Dan meninggalkan Husein yang menatap tajam wanita tersebut. Husein hanya bisa *******-***** jarinya sendiri karena geregetan. Dan Dia hanya bisa menatap wanita itu berlalu dari hadapannya.
Husein pun segera bangkit untuk membayar minumannya. Walaupun Dia tidak meminumnya sama sekali.Dengan langkah mantap Husein menyelusuri koridor kampus. Dia berniat menemui Leo. Para mahasiswa terlihat hilir mudik tak menghiraukannya. Husein menuju gedung fakultas kedokteran. Dia ingat betul saat Carissa memperkenalkan padanya.
Akhirnya Husein melihat Leo sedang berbincang dengan temannya.
"Leo!" Panggil Husein.
" Hallo Kak Husein." Sapa Leo.
"Aku ingin bicara denganmu."Husein to the point.
"Soal Carissa?"Tanya Leo.
__ADS_1
Husein menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa. Selain seorang sahabat." Jelas Leo.
"Kamu terpengaruh dengan cerita Ria?"
" Aku rasa bukan itu masalahnya." Jawab Leo.
"Aku meragukan karakter, sifat dan kepribadian Carissa." Tambah Leo.
"Maaf Aku harus bilang seperti ini." Leo terlihat tidak enak hati.
"Teruskan saja."Ujar Husein melirik Leo yang berjalan disisinya. Detak-detak sepatu Mereka terdengar bergema diruangan sepi. Mereka mulai memasuki ruangan perpustakaan.
"Tentu ada sebabnya Aku meragukan kepribadiannya. Sebab kepribadian yang buruk, masih bisa ditutupi dengan tindak tanduk manusia. Atau orang bilang munafik. Berlagak alim tapi rusak. Menyangkut masalah Carissa terbentuk seperti itu karena silsilah dan keturunannya atau lingkungannya."
"Jadi menurutmu keturunan keluarga Kami rusak, seperti itu?"
Leo duduk disalah satu kursi di dalam perpustakaan. Husein duduk disebelahnya. Suasana ruangan itu hening.
"Aku tidak menetapkan begitu. Namun hidup itu timbal balik. Ditetapkan oleh baik dan buruknya manusia. Sebab dan akibat. Mungkin masalah Carissa bisa Kamu telusuri sebab dan akibat itu."
Husein tertunduk diam. Merenungi segala perbuatan yang selama ini dilakukan. Berarti karma? Bukan dijerumuskan Ria, lantaran wanita itu ingin membalas sakit hatinya?
"Hidup memang tidak dapat lepas dari nasib dan karma. Tapi coba ditelusuri, Carissa seperti itu karena ada yang menjerumuskan dan memfitnahnya, Wanita yang bernama Ria."
"Tentu ada sebabnya,kenapa Ria melakukan itu."
"Iya, Dia membalas sakit hati padaku."
"Kamu tidak perlu cerita. Aku sudah tahu."
"Apa Kamu tahu kepribadiannya?"
Leo menganggukkan kepalanya.
"Dia bukan wanita yang baik. Suka mempergunjingkan orang, egois dan materialistis. Sudah sering Kunasehati Carissa untuk menjauhinya. Namun Carissa tidak mendengarkanku. Sampai Carissa mengalami hal itu. Jadi Kamu jangan menyalahkan Aku. Terpaksa Aku memutuskan hubungan dengan adikmu."
"Aku mengerti, Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam masalah ini. Aku hanya ingin tahu tanggapan logismu setelah mengetahui hal ini. Sekarang Aku merasa puas. Setidaknya Kamu paham apa yang terjadi. Aku tidak mau bahwa adikku berkepribadian baik. Secara sebagai kakaknya pasti akan membelanya. Namun Kukira Kamu belum begitu menyelami kepribadian adikku. Kamu hanya terpengaruh cerita dari Ria. Kurasa cukup sampai disini perbincangan Kita." Husein pun segera bangkit.
"Tunggu!" Panggil Leo.
Husein terhenti dan menoleh.
"Kenapa akhir-akhir ini Carissa jarang masuk kampus?"
"Dia merasa dikucilkan di fakultasnya. Semua teman-temannya mencibir, mencemooh dan mengejeknya. Termasuk Kamu." Jelas Husein.
"Aku tidak begitu."Leo mengelak.
"Sudahlah."Husein mengayunkan langkahnya kembali. Dan Leo segera menyusulnya.
"Apa Dia membenciku?"Leo penasaran.
"Entahlah. Tapi Kunilai Kamu picik."
" Picik?"
"Iya, Kamu tega memutuskan hubungan dengan wanita yang sedang ada masalah dan membuatnya putus asa sampai masuk rumah sakit." Jelas Husein membuat Leo terkejut.
__ADS_1
To be continued