
Carissa melangkahkan kakinya menuju kampus. Tapi entah mengapa perasaannya tidak enak. Sebab semua mahasiswa yang bergerombol memperhatikan dirinya. Tentu saja itu membuat Carissa jadi salah tingkah. Sedangkan diantara Mereka ada Ria. Mantan kekasih kakaknya yang telah menjebak dan membuat berita miring tentang Carissa.
Carissa membalikkan badannya. Dia tahu Ria sedang menjelek-jelekkan dirinya disemua teman-teman kampusnya. Dan yang paling menyakitkan, kekasihnya yaitu Daniel juga termakan oleh cerita Ria. Hal itu membuat Carissa semakin terpuruk.
Carissa megeluh, Ingin rasanya menangis. Namun Dia tidak ingin orang lain mengetahui kecamuk dalam dirinya.
Tiba-tiba Leo, sahabatnya Daniel membarengi langkah Carissa. Mungkin kemurungan Carissa menarik perhatiannya.
"Sendirian saja,Riss?"Tegur Leo.
Carissa menoleh, Lalu Dia menganggukkan kepalanya.
"Sudah berapa hari tidak masuk kuliah?"
"Iya."
"Kemana?"
"Dirumah saja."
Mereka menujuke kantin. Detak-detak sepatu Mereka terdengar dilantai. Sesaat Mereka diam sembari mengayunkan langkahnya. Ada segerombolan mahasiswi memperhatikan Carissa. Namun Carissa pura-pura masa bodoh dan mengacuhkan Mereka. Lalu Carissa duduk disalah satu bangku dan ditemenin Leo, yang segera duduk disampingnya.
"Mau makan atau minum saja?"
"Minum."
"Apa?"
"Es Mangga."
Leo bangkit untuk memesankan minuman. Setelah memesan,Dia berbalik ke tempat duduknya. Lalu beberapa menit kemudian, seorang pelayan datang mengantarkan dua gelas es mangga ke meja Mereka.
" Bagaimana kegiatan-kegiatan dikampus?" Carissa hanya mengangkat kedua bahunya.
" Rasa-rasanya hubunganmu dengan Leo mulai renggang ya?"
" Iya."
" Bertengkar?"
" Tidak."
"Dapat ganti baru?"
"Tidak."
"Lantas kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa."
Carissa meneguk es mangganya.
" Tapi kayaknya sekarang Leo dekat dengan Ria."
__ADS_1
" Biarin." Sahut Carissa.
Meski bibirnya mengucapkan "biarin", tapi didalam hatinya tak ingin kehilangan Leo.
Dan dibawah teriknya sinar matahari, Leo terlihat melangkahkan kaki menuju kantin. Rambutnya yang tertata rapi sedikit tertiup angin.
Leo memang terlihat selalu kelihatan rapi, bahkan pakaiannya selalu modis. Barang kali sesuai jurusan Fakultas kedokteran yang ditekuninya itu. Itulah sebabnya banyak wanita yang mengejarnya. Wajahnya tampan dan berotak cemerlang.
"Arjuna datang." Gumam Leo. Carissa menoleh dan lalu mengalihkan pandangannya. Namun hatinya terasa sakit, saat melihat wanita yang tak asing baginya, berlari-lari memanggil laki-laki itu.
"Mas Leo!"Panggil Ria.
Lagi-lagi Ria, sepertinya Dia sudah mempengaruhi Leo, pikir Carissa. Dan Carissa menundukkan muka, Tidak ingin melihat Leo berjalan bersisian dengan Ria, Apalagi melihat kemanjaan Ria terhadap Leo. Langkah Mereka semakin dekat. Kemudian Mereka duduk tidak jauh dari tempat Carissa dan Daniel duduk.
"Hallo,"Sapa Daniel.
"Hallo juga,"Balas Leo. Cuma sekilas Leo memandang Carissa.Ada rasa tidak peduli di raut wajahnya. Beruntung Carissa tidak melihatnya karena Dia langsung menundukkan kepala begitu Leo dan Ria datang.
" Perhatikan kedekatan Leo dan Ria."Bisik Daniel.
"Aku tahu,"Sahut Carissa tak mau mengangkat kepalanya. Dia cukup mendengar suara gelak tawa Ria yang manja. Sementara hatinya begitu terasa sakit, mengingat pertengkarannya dengan Leo. Leo termakan fitnah yang menyebar tentang dirinya. Dan Ria lah penyebar fitnah tersebut.
Rasa tidak nyaman membuat Carissa bangkit dan berjalan pergi. Daniel masih terpaku sendirian di tempat duduknya. Dia hanya memperhatikan kerenggangan antara Leo dan Carissa.Sedang Carissa terus berjalan tanpa menoleh lagi. Dia menyelusuri koridor kampus menuju gedung induk kampus.
Kalau saja siang ini tidak ada mata kuliah, rasanya ingin dia cepat-cepat pulang. Untuk apa lama-lama difakultas, jika perasaannya tersakiti melihat kedekatan yang dipamerkan Ria padanya.Carissa menarik nafas berat. Matanya berkaca-kaca.
Aku tak boleh menangis. Tak boleh menangisi hubunganku dengan Leo. Kalau Dia memang memutuskan, tidak masalah. Mungkin itu yang terbaik.
" Kamu?"Suara Carissa terdengar parau.
"Pulang kuliah Aku menunggumu."Ujar Leo.
Carissa masih tertegun, sementara Leo sudah melangkah pergi dan berlalu dari hadapannya. Sikap Leo yang berubah membuat Carissa semakin yakin akan kemana arah hubungan Mereka.
Kenyataannya, Leo menunggunya sampai pulang kuliah. Mereka pun melangkah meninggalkan gedung universitas menuju parkiran. Mereka duduk berdampingan dengan Leo didalam mobil.
" Kenapa akhir-akhir ini Kamu sering tidak masuk kuliah?"Tanya Leo dingin.
"Malas." Jawab Carissa singkat.
"Lalu Kamu mau jadi apa?"
"Jadi apa saja "
"Lalu untuk apa Kamu masuk Universitas?"
"Untuk menyakiti orang lain."Jawab Carissa ketus, hingga membuat Leo menatap tajam gadis disampingnya tersebut.
"Apa maksudmu?"
"Barang kali Ria lebih tahu."
"Kalau begitu, apa cerita Ria dapat dipercaya?"
__ADS_1
"Apa saja yang Dia ceritakan Ria padamu?"
"Kamu sekarang suka datang ke pesta. Dan pergaulanmu jadi liar."
"Ya. Dan bagaimana dengan Mike pacar barumu itu?" Wajah Leo terlihat jelas sudah termakan oleh cerita Ria.
Keterlaluan sekali. Pasti Ria telah membakar cemburu Leo. Dan menceritakan yang tidak-tidak tentang dirinya. Carissa menyesal telah mempercayai Ria sebagai sahabat baginya. Faktanya Dia sahabat yang tidak baik baginya. Namun percuma Carissa menjelaskan. Faktanya video yang tersebar karena jebakan Ria itu, seperti sangat meyakinkan bagi yang melihatnya.
"Terserah apa penilaianmu." Suara Carissa parau.
" Aku minta Kamu jujur padaku."
" Aku tak tahu apa salahku, sampai Ria tega menjebakku."
" Dijebak atau memang kemauanmu sendiri?"
"Terserah. Terserah Kamu mau percaya atau tidak. "
Mereka terdiam. Suasana jadi sunyi.
" Kalau begitu, terpaksa Aku memutuskan hubungan Kita."Ujar Leo.
"Kalau itu kehendakmu, Aku tak apa-apa. Aku rela, Aku memang tak pantas lagi untukmu." Jawab Carissa mencoba tegar. Walaupun matanya berkaca-kaca.
"Cuma itu yang ingin Kukatakan."Ucap Leo.
Carissa langsung beranjak dari mobil tersebut dan menuju mobilnya. Dia berusaha tetap tabah dengan keputusan Leo.
Sampai rumah Carissa langsung menghamburkan diri ke kamarnya. Hingga malam tidak ada keluar dari kamarnya. Dia mengurung diri didalam kamar. Membuat kedua orang tuanya terlihat gelisah.
" Sejak pulang kuliah Carissa belum keluar dari kamar." Ujar Ayahnya.
"Beberapa hari ini Dia nampak kurang sehat. Tapi setiap ditanya, Dia bilang tidak apa-apa."Kata Ibunya.
"Barang kali ada masalah yang sedang dihadapi?"
"Mungkin."
" Cobalah Mama tengok kekamarnya."
Diketuknya pintu kamar Carissa.
"Carissa! Carissa!" Panggil Ibunya.
Namun tak ada sahutan didalam kamar Carissa. Ibunya mencoba membuka pintunya, Namun pintu terkunci. Tidak biasanya pintu terkunci seperti itu. Membuat perempuan setengah baya itu khawatir dan cemas. Beliau pun langsung keruang tengah, melapor ke suaminya. Suaminya pun langsung bergegas ke kamar putrinya tersebut. Dan mengetuk pintu kamar yang terkunci tersebut. Bahkan menggebrak-gebrak semakin keras. Namun masih hening. Hingga terdengar suara detak sepatu namun dari arah ruang tamu. Husein baru saja pulang.
" Ada apa ribut-ribut Pa?" Tanya Husein.
" Carissa didalam kamar, namun dipanggil tidak ada sahutan."
Husein pun terkejut. Tidak biasanya adiknya seperti itu.
To be continued
__ADS_1