Istiqomah Cinta

Istiqomah Cinta
Kekesalan Husein


__ADS_3

"Kita dobrak saja pintunya."Ujar Husein dan mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuanya.Lantas Husein melangkah mundur menjauhi daun pintu kamar. Dia mengerahkan seluruh tenaganya. Dan Husein melompat menerjang daun pintu dengan jurus taekwondonya. Pintu pun rusak dan terbuka. Namun Carissa terlihat sudah pingsan dan tergeletak dilantai.


"Carissa! Carissa!" Husein menggoyang-goyangkan tubuh adiknya. Namun adiknya hanya terdiam bagaikan daun yang layu.


"Carissa. Kamu kenapa?"Ibunya sangat khawatir.


Husein terkejut saat melihat obat tidur disampingnya. Husein pun langsung membopong adiknya keluar kamar, menuju garasi mobil. Ibunya dan Ayahnya pun mengikutinya.


"Jaga rumah, Mbok." Pinta Pak Pratama. Seorang pelayan perempuan yang berusia agak tua itu pun ikut panik.


"Baik Pak."


Dengan mobil Husein membawa adiknya je rumah sakit. Dan mobil itu meluncur dengn kecepatan tinggi. Husein bahkan tidak mempedulikan klakson-klakson pengemudi lainnya. Yang penting, adiknya cepat sampai rumah sakit dan segera ditangani.


Setibanya dihalaman rumah sakit, Husein langsung membopong Carissa . Berlari masuk ke koridor rumah sakit. Orang tuanya terus mengikuti dari belakang. Cemas, resah dan khawatir terlihat dari sorot mata Mereka.


Seorang dokter segera memberikan pertolongan. Dibantu dua orang suster yang cekatan. Sedangkan Husein dan kedua orangtuanya terlihat cemas. Mereka hanya bisa berdoa.


"Maaf, sebaiknya tunggu diluar saja." Pinta Dokter.


Pak Pratama merangkul istrinya dan membimbingnya keluar dari ruangan tersebut. Begitu juga Husein, Dia hanya menunduk dan keluar dari ruangan tersebut.


Dibangku panjang Mereka duduk menunggu.


Pak Pratama dan Istrinya masih diliputi tanda tanya. Mengapa Carissa senekad itu. Sedangkan Husein juga tidak mengerti kenapa adiknya sampai seperti itu. Husein tahu benar sifat adiknya yang pendiam, tidak mungkin sampai senekad itu tanpa sebab.


"Kamu tahu apa sebabnya adikmu seperti itu?"Tanya Ayahnya.


Husein tersentak. Dia sendiri belum tahu apa penyebabnya.


"Tidak mungkin Carissa seperti itu tanpa sebab." Ujar Ayahnya.


Husein menganggukkan kepalanya.Aku hrus mencari tahu.Pikir Husein. Dokter yang menangani Carissa keluar dari ruangan. Husein pun spontan langsung beranjak menghampiri Dokter tersebut.


"Bagaimana Dokter?"

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah melewati masa kritis."


"Saya mohon tolong anak Saya Dok!" Pinta Bu Lina.


"Saya akan berusaha Bu.Berdoa saja."Ucap Dokter.


"Saya akan menunggu sampai sadar."


"Saya rasa tidak perlu ditunggu. Dua suster sudah cukup untuk menjaga dan merawatnya." Dokter itu memberikan pengertian yang cukup banyak. Sehingga Lina mau meninggalkan rumah sakit tersebut, walaupun sebagai seorang Ibu hatinya terasa berat meninggalkan putrinya tersebut. Akhirnya Mereka bertiga kembali pulang kerumah.


Sampai dirumah hal pertama yang Husein tuju adalah kamar adiknya. Husein pun masuk ke kamar adiknya tersebut. Satu per satu Husein cek dari lemari buku, hingga laci belajar Carissa. Husein pun terkejut melihat sebuah buku diary milik Carissa.


Begitu dibuka, sebuah sobekan foto bertebaran jatuh kelantai. Dan tertulis sebuah nama Leo.Husein termangu sejenak mengingat nama Leo. Adiknya pernah memperkenalkan padanya.


Dibukanya diary itu, per lembar. Hingga Husein sadar siapa dalang dibalik itu semua. Ria, salah satu mantan Husein. Yang sekarang satu fakultas dengan adiknya.


Salah satu penggalan kata yang membuat Husein merasa bersalah terhadap adiknya.


Semoga Kakakku sadar. Dan mencintai seorang wanita untuk terakhir kalinya. Menemukan wanita yang baik-baik dan mampu membimbingnya ke jalan yang lurus. Biarkan diriku yang menjadi korban, yang penting Kakakku bahagia. Karena cinta yang mulia adalah cinta yang suci,terjaga dan tulus, bukan hanya nafsu belaka.


"Husein." Tegur Ayahnya. Husein langsung menoleh dan gugup.


"Berikan buku itu pada Ayah!" Pinta Ayahnya.


"Jangan Ayah!" Husein terlihat ketakutan.


"Kenapa jangan." Husein mendekapi buku itu. Namun hal tersebut malah membuat Ayahnya semakin penasaran.


"Pasti ada yang tidak beres, Kalau Kamu sayang pada keluargamu. Berikan buku itu!" Pinta Ibunya.


Dengan berat hati Husein menyerahkan buku diary tersebut.


"Maafkan Aku. Aku tidak mendengarkan nasehat Mama selama ini." Ujar Husein lalu melangkahkan kakinya, keluar dari kamar adiknya dan menuju ke garasi mobil.


Pikiran Husein sudah kacau. Jelas orang tuanya akan tahu penyebab adiknya senekad itu. Hati Husein jadi sedih, tidak membayangkan bagaimana raut wajah orang tuanya mengetahui tentang itu semua.

__ADS_1


Husein kembali menuju kantornya. Security terheran, mengapa atasannya tersebut kembali kekantor lagi. Padahal hari sudah malam. Ada apa? Pikir security tersebut. Belum sempat bertanya. Husein sudah menyuruhnya membuka ruang kerjanya.


"Buka ruang kerjaku." Pinta Husein.


"Baik Pak." Security itu buru-buru menyerahkan tugas jaganya ke teman satunya, dan buru-buru naik ke lantai tiga. Membuka ruang kerja Husein. Lalu security itu turun dan kembali ke pos jaga.


Sampai diruang kerjanya, Husein langsung duduk disofa seraya menyandarkan kepalanya. Dia merenungi hidupnya seraya memandangi langit-langit ruangan tersebut. Penyesalan yang akhirnya menyergap didada.


Tanpa sadar, Husein pun tertidur diruang kerjanya tersebut.


Sinar matahari pagi menerobos ventilasi jendela. Husein tersentak, Dan langsung terbangun. Dia pun langsung beranjak dari sofa panjang yang empuk, dimana semalaman Dia tertidur pulas disitu.


Husein langsung menghela nafas panjang. Lantas Dia mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding. Jam delapan lewat lima belas. Sungguh memalukan. Tanpa membenahi pakaian dan rambutnya yang kusut, Dia meninggalkan ruang kerja tersebut. Sewaktu melewati ruang karyawan, Dia melihat Rahma dan Zahra yang sedang mengobrol. Kedua perempuan itu pun melempar senyum. Husein membalas agak malu-malu. Dan terus melangkahkan kki meninggalkan kantor.


Aku harus menemui Ria dan juga Leo.Batin Husein. Dia kembali meluncurkan mobilnya menuju kampus adiknya tersebut. Tidak peduli dengan pakaian dan rambutnya yang kusut. Yang penting Dia harus menemui dua orang itu,demi adiknya.


Sesampainya di depan gedung Universitas. Dia langsung bertanya pada salah satu mahasiswa yang kebetulan melewatinya.


"Selamat pagi Mas," Sap Husein yang masih berdiri menyandar dipintu mobilnya.


"Apakah Anda kenal yang bernama Ria dewi lestari. Fakultas HI."


"Iya.Ada apa?"


"Bisakah Anda menolong Saya dan memberi tahu bahwa ada seseorang yang ingin menemuinya."


"Tentu saja. Lebih baik Anda menunggu dikantin."


"Baiklah."


Husein melangkah masuk kedalam gedung Universitas. Dan mengikuti mahasiswa tersebut. Sampai dikantin, Mahasiswa tersebut menyuruhnya menunggu. Dan Dia akan memanggilkan Ria yang dimaksud.


Dulu Husein hanya sekedar menunggu wanita tersebut didepan pintu gerbang Universitas. Saat Mereka berstatus pacaran. Dan sekarang kenangan itu terulang, namun bukan buat pacaran. Melainkan membuat perhitungan. Ingin rasanya Husein melampiaskan kemarahannya pada mantan kekasihnya tersebut. Mengapa Dia menjadikan adiknya sebagai sasaran. Hingga adiknya nekad seperti itu.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2