
Fania kemudian menghampiri James dan menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya.
"Honey, kamu dengerin aku. Kamu tidak perlu khawatir sama aku, aku gak masalah kok kalau harus pulang sendiri ke kota J. Jadi, kamu tetap di sini aja. Oke honey" kata Fania menenangkan suaminya, ia tahu suaminya itu pasti mengkhawatirkan dirinya.
Dengan terpaksa James menganggukkan kepalanya. Padahal sesungguhnya ia tidak tega membiarkan istrinya kembali ke kota J seorang diri. Tapi apa daya, pekerjaannya di sini benar-benar tidak bisa dia tinggalkan.
"Ah sial. Seharusnya kemarin aku mengajak serta Hen untuk ikut bersama kami ke kota L, agar dia bisa menghandle pekerjaanku jika terjadi hal seperti ini" batin James menyesal, karena kemarin ia tidak mengajak serta asisten pribadinya itu untuk ikut bersamanya.
Rencana melakukan pekerjaan sekaligus bulan madu harus gagal total karena kejadian ini.
Setelah menyusun semua barang-barangnya ke dalam koper, Fania langsung berangkat menuju bandara dengan di antar oleh James.
"Kamu hati-hati ya sayang" ucap James.
"Iya, kamu juga baik-baik di sini. Ingat, jaga mata sama hatinya buat aku" kata Fania tersenyum menggoda suaminya.
"Iya sayang, itu pasti. Jangan lupa kabarin aku setelah sampai di kota J"
"Iya honey. I love you" kata Fania mencium pipi suaminya dan melambaikan tangannya, meninggalkan James.
"I love you more baby" balas James.
Setelah kepergian Fania, James kemudian kembali ke hotel untuk melakukan pertemuan penting dengan seorang klien.
***
Saat ini Jasmine dan Kiki sudah berada di area restoran hotel. Kiki memesan minuman yang mengandung alkhol, sementara Jasmine hanya memesan jus jeruk.
"Jas, aku ke toilet dulu ya" kata Kiki karena perutnya tiba-tiba sakit.
"Iya. Tapi jangan lama-lama" kata Jasmine. Ia malas jika harus di tinggalkan sendirian terlalu lama.
"Iya. Cuma sebentar kok, Aku gak lama" kaya Kiki dan langsung pergi ke toilet meninggalkan Jasmine seorang diri.
Setelah kepergian Kiki. Tak berapa lama seorang waiters laki-laki datang dan menyajikan minuman mereka.
"Maaf Mbak, ini pesenannya" kata waiters laki-laki itu.
"Ah iya, terimakasih Mas" ucap Jasmine tersenyum.
"Iya Mbak, sama-sama" balas waiters tersebut dan langsung pergi.
10 menit sudah Jasmine menunggu, tapi Kiki belum juga kembali dari toilet.
Setelah menunggu hampir 20 menit. Akhirnya, Kiki datang dengan senyum yang sangat menyebalkan di mata Jasmine.
"Katanya tadi cuma sebentar. Tapi kok lama banget" kata Jasmine terlihat kesal. Pasalnya, jus yang ia pesan sudah hampir habis karena terlalu lama menunggu Kiki.
__ADS_1
"Hehehe aku minta maaf ya Jas, tadi perut aku tiba-tiba mules" kata Kiki menyesal.
Akhirnya mereka berdua melanjutkan acara minum-minumnya dengan di iringi obrolan ringan tentang pekerjaan.
Ketika tengah asik mengobrol dengan Kiki, kepala Jasmine tiba-tiba saja terasa pusing.
"Kenapa kepalaku jadi pusing begini" Jasmine.
Jasmine memijat keningnya, kepalanya terasa sangan pusing.
"Kamu kenapa Jas?" Tanya Kiki saat melihat Jasmine memijat keningnya.
"Gak papa kok Ki, kepala aku cuma sedikit pusing".
"Yakin gak papa Jas?".
"Iya, aku baik-baik saja".
Semakin lama kepala Jasmine makin terasa berat dan pusing. Akhirnya Jasmine memutuskan untuk kembali ke kamar lebih dulu.
"Ki aku ke kamar duluan ya"
"Mau aku antar Jas" kata Kiki tidak tega melihat temannya itu.
"Gak usah kamu di sini aja, aku bisa sendiri kok" kata Jasmine menolak, dia tahu jika Kiki pasti masih ingin minum-minum.
"Iya" jawab Jasmine sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian ia berlalu pergi menuju kamar hotel, meninggalkan Kiki seorang diri di restoran.
"Aneh, aku yang minum-minum Jasmine yang mabuk" kata Kiki mengelengkan kepalanya.
Jasmine pun sampai di depan pintu kamar. Tapi belum sempat ia masuk ke dalam kamar, pandangannya tiba-tiba buram dan menghitam. Setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.
***
Sementara itu, di restoran yang sama dengan Jasmine dan Kiki tadi, tepatnya di ruang VIP restoran.
"Selamat untuk keberhasilan kontrak kerjasama kita Pak Harto" kata James menjabat tangan Pak Hartono.
"Iya Tuan James, semoga proyek kerjasama kita ini bisa meraup keuntungan yang besar untuk perusahaan kita" kata Pak Harto.
"Baiklah Pak Harto, kalau begitu saya permisi dulu" kata James bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu Tuan James" panggil Pak Harto.
"Iya ada apa Pak Harto? Apa ada yang perlu di bicarakan lagi?"
"Tidak ada Tuan James. Tapi kenapa Anda buru-buru sekali. Ayo kita minum-minum dulu untuk merayakan kesepakatan kerjasama kita ini" ajak Pak Harto.
__ADS_1
Setelah berpikir, akhirnya James menerima ajakan Pak Harto. Ia merasa tidak enak jika harus menolak ajakan rekan bisnisnya itu.
***
Pagi ini, matahari kembali menapakkan sinarnya. Sebagian penghuni Bumi mulai melakukan rutinitasnya masing-masing. Berharap hari akan menjadi hari yang lebih baik dari kemarin.
Tapi berbeda dengan Jasmine, hari ini menjadi awal dari kehancurannya. Kehormatan yang selama ini selalu ia jaga telah hilang tadi malam. Seseorang dengan brengseknya merenggut kesuciannya.
Dunianya seakan runtuh. Hatinya hancur berkeping-keping. Di saat ia terbangun dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang melekat pada tubuhnya. Yang lebih parahnya lagi, ternyata ada seorang pria yang tidur di sampingnya, yang juga sedang tidak memakai pakainnya.
"Pakai pakaianmu" kata pria itu tanpa melihat Jasmine karena ia tengah sibuk memakai pakaiannya.
Jasmine tidak mendengarkan ucapan sang pria, ia hanya diam dan tertunduk.
Setelah merapikan pakaiannya, pria itu lalu menatap ke arah Jasmine yang masih diam, menutupi tubuhnya polosnya dengan selimut. Kemudian ia mengambil sebuah kertas dan menulis sesuatu di sana.
"Kuharap nominal uang ini cukup untukmu" kata pria itu dan meletakkan kertas tersebut di atas nakas samping tempat tidur.
Sepertinya kertas tersebut adalah sebuah cek.
Hati Jasmine bertambah perih. Rasanya dia tidak sanggup lagi untuk mengangkat wajahnya. Dirinya sedih sekaligus kesal ketika ia hanya dianggap sebagai wanita murahan, yang selalu meminta bayaran setelah menyerahkan tubuhnya.
Air mata Jasmine langsung keluar tanpa permisi membasahi wajah cantiknya.
"Maaf tuan, tapi aku bukanlah wanita..."
Triing...tririingg...
Kata-kata Jasmine terpotong, kala ponsel pria itu tiba-tiba berbunyi.
Padahal Jasmine ingin mengatakan jika dirinya bukanlah wanita murahan dan ia ingin agar pria itu bertanggung jawab atas perbuatannya kepada dirinya.
"Aku harap ini menjadi pertemuan terakhir kita. Semoga nanti kita tidak akan bertemu lagi di masa yang akan datang" Setelah mengatakan itu, pria tersebut lalu pergi meninggalkan Jasmine sendiri.
"Hiks...hiks... apa yang harus aku lakukan? Hidupku benar-benar sudah hancur" tangis Jasmine meratapi dirinya yang malang.
Jasmine tidak tahu harus berbuat apa. Pria yang telah menidurinya meninggalkannya begitu saja, tanpa mau bertanggung jawab. Bahkan pria itu hanya menganggap Jasmine sebagai wanita murahan. Dia memberikan uang sebagai bayaran atas kehormatan Jasmine yang telah dia ambil. Yang Jasmine butuhkan saat ini bukanlah uang, tapi sebuah tanggung jawab dari pria itu karena telah merenggut kesuciannya. Betapa malang nasib Jasmine
.
.
.
Ayo berikan like dan komennya untuk karya Author😄💜
Bantu Author untuk lebih semangat lagi lanjutin ceritanya, dengan cara terus memberikan dukungan kalian untuk karya Author ini.
__ADS_1