Istiqomah Cintaku

Istiqomah Cintaku
Eps 07


__ADS_3

Sudah lebih dari 3 tahun James dan Fania menikah, tapi mereka belum juga mempunyai seorang anak. Berbagai usaha sudah di lakukan James dan Fania untuk bisa memiliki buah hati. Mulai dari konsultasi ke dokter khusus kandungan, meminum vitamin penyubur kandungan, pengobatan alternatif, bahkan sampai ke luar negeri untuk melakukan pemeriksaan kandungan dan kesehatan mereka berdua.


Akan tetapi semua itu tidak membuahkan hasil, bahkan hasil dari pemeriksaan mereka berdua juga baik-baik saja tidak ada masalah. Rahim Fania pun juga tidak ada masalah, semua sehat-sehat saja.


Mendengar jawaban sang menantu, Wulan kembali di buat kecewa. Pasalnya James adalah anak tunggal, jika James tidak memiliki keturunan siapa kelak yang akan menjadi penerus untuk perusahan mereka.


"Kalian berdua ini bagaimana sih? Kalian itu sudah menikah lebih dari 3 tahun, tapi belum juga punya anak. Kalian usaha dong apa kek, itu kek biar cepet dapat momongan" kata Wulan kesal. Ia merasa sangat kesal dan jengkel pada anak dan menantunya itu, pasalnya semua teman-teman arisannya sudah mempunyai cucu dan mereka selalu saja membicarakan dan membanggakan anak cucu mereka dan ia hanya bisa diam menjadi pendengar.


Mendengar perkataan Wulan membuat Fania semakin merasa bersalah. Dia merasa jadi menantu yang tidak berguna karena tidak bisa memberikan seorang anak.


Melihat wajah Fania yang menyiratkan akan kesedihan membuat James ikut merasa bersalah.


"Udah dong Ma. Kami juga sudah berusaha, mungkin memang belum saatnya kami di percaya untuk memiliki seorang anak" kata James berusaha menahan amarah.


James muak dengan pertanyaan Ibunya yang selalu menanyakan soal anak. Apalagi ketika melihat wajah Fania yang selalu sedih jika mereka membahas masalah anak.


Sebenarnya James juga sangat menginginkan seorang anak mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi. Tapi ia memilih untuk diam, ia tidak ingin membuat Fania menjadi semakin tertekan dengan keinginannya itu. Biarlah semuanya berjalan dengan sendirinya, Jika Tuhan sudah memberikan kepercayaan padanya maka ia akan menjadi seorang ayah.


"Iya, tapi sampai kapan James? Usia kamu sudah sangat matang untuk memiliki seorang anak" kata wulan masih mempersoalkan masalah anak, membuat Fania yang mendengar semakin menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah.


Sementara Hery sang Papa hanya diam saja mendengar perdebatan anak dan istrinya. Sudah menjadi hal biasa melihat anak istrinya berdebat soal anak dan dia tidak ingin ikut campur. Baginya semua terserah James dan Fania saja, kapanpun mereka mempunyai anak itu tidak masalah untuknya.


Mendengar sang Mama kembali membicarakan soal anak membuat James sangat marah. Sebisa mungkin ia merendam amarahnya agar tidak meledak. Karena bagaimana pun Wulan tetap lah ibunya yang telah mengandung dan membesarkannya hingga menjadi pria hebat seperti sekarang.


Tetapi jika James memikirkan tentang bagaimana perasaan istrinya saat ini membuat amarah james kembali bangkit. Dia menjadi serba salah, di satu sisi kata-kata ibunya memang benar, ia sudah sangat cocok untuk di panggil dengan sebutan ayah, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi. Tapi di sisi lain James juga memikirkan perasaan istrinya yang pasti akan sangat terluka jika terus menerus di tekan masalah anak.


"Sudah cukup Ma! Aku tidak ingin lagi mendengar Mama membahas masalah anak" kata James marah dan langsung pergi meninggalkan semua orang.

__ADS_1


Melihat kepergian James, Fania juga langsung berdiri dan pergi menyusul James.


Melihat kepergian anak dan menantunya membuat Hery menghelas napas panjang.


"Seharusnya Mama tidak membahas masalah anak. Lihat sekarang James jadi marah" kata Hery pada istrinya.


"Kok Papa malah nyalahin Mama sih! Seharusnya Papa belain Mama dong, emang Papa gak mau punya cucu apa?" Kata Wulan kesal.


"Bukan begitu Ma" kata Hery.


"Terus apa?" kata Wulan kesal.


"Sudah lah Ma, benar kata James jika mereka memang di takdirkan menjadi orang tua mereka pasti akan punya anak" kata Hery Kusuma.


Mendengar penuturan suaminya membuat Wulan mendengus kesal. Sementara Hery hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya itu.


***


Mendengar Fania memanggilnya James lalu berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya, terlihat Fania yang sedang tersenyum manis kepadanya seraya berjalan menghampirinya.


James langsung memeluk Fania dengan erat kala istrinya sampai di depannya.


"Maaf" kata maaf keluar dari bibir James.


James merasa bersalah karena hampir saja pergi bekerja tanpa berpamitan pada Fania. Biasanya ia selalu berpamitan kepada istrinya sebelum pergi ke kantor. Tapi karena tadi ia emosi membuatnya lupa.


Mendengar James meminta maaf membuat Fania kembali tersenyum, ia lalu membalas pelukan suaminya itu.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa" jawab Fania.


"Aku berangkat sekarang ya. Kamu baik-baik di rumah" kata James setelah melepas pelukkannya, Fania pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Hati-hati di jalan" kata Fania.


"Iya. I love you" kata James seraya mencium kening Fania.


"I love you to" balas Fania.


James langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Fania yang masih berdiri di depan pintu, menuju kantornya.


Setelah melihat kepergian suaminya, Fania lalu kembali masuk ke dalam rumah.


***


Sesampainya di kantor James langsung turun dari mobil mewahnya, dengan sigap Hendri Asisten pribadinya membukakan pintu mobil untuknya karena sedari tadi Hendri sudah menunggu kedatangannya.


James melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan. Gedung perusahaan JK Grup yang telah di wariskan oleh Papanya kepadanya. JK Grup adalah perusahaan yang sangat besar dan paling berpengaruh di kota itu. Setelah di ambil alih oleh James, perusahaan itu berkembang dengan sangat pesat bahkan perusahan itu sudah merambat ke berbagai sektor.


Melihat kedatangan pimpinan tertinggi perusahaan, para pegawai di sana dengan sigap berbaris untuk menyambut kedatangan James.


Dengan gagahnya James melewati para pegawainya dengan sekertaris Hen yang juga mengekor di belakangnya. Raut wajahnya yang dingin dan arogan membuat ia sangat di takuti seluruh pegawainya. Tak ada yang berani mengangkat wajahnya ketika James melewati mereka.


Tapi karena sikap dingin dan wajahnya yang tampan tak sedikit juga dari pegawainya yang mengidolakan dan menyukainya, khususnya para pegawai wanita. Walaupun mereka tahu James telah mempunyai seorang istri tapi mereka tetap menyukai atasannya itu.


Jangan lupa Like dan komennya Ya ❤.

__ADS_1


__ADS_2