Istiqomah Cintaku

Istiqomah Cintaku
Eps 05


__ADS_3

Flashback end


"Sial sial sial. Aaarrrggghhh..."


Buk..buk... buk...


James memukul-mukul dinding kamar mandi untuk melampiaskan kekesalannya. Ia marah pada dirinya sendiri karena terlalu ceroboh.


Cairan merah kental langsung keluar dari buku-buku jari tangan James, bercampur dengan air shower yang mengalir melewatinya. James tidak memperdulikan rasa perih pada lukanya. Yang ada di pikirannya saat ini hanya lah Fania istrinya, bagaimana perasaan istrinya nanti jika tahu kalau dirinya telah tidur dengan wanita lain.


"Maafkan aku Fania. Aku benar-benar menyesali kecerobohanku. Jujur saja aku tidak bermaksud untuk mengkhianatimu" ucap James pilu, air matanya menetes keluar.


"Maafkan aku sayang, maafkan suamimu yang ceroboh ini" Ia benar-bebar merasa bersalah.


***


Di dalam sebuah pesawat menuju kota L.


"Jas tadi malam kamu tidur di mana sih? Pas aku kembali ke kamar kamu gak ada di sana. Terus aku tunggu-tunggu, kamu juga gak dateng" Kata Kiki pada Jasmine yang berada di sebelahnya.


Kiki penasaran di mana Jasmine tadi malam karena saat dia kembali ke kamar hotel, Jasmine tidak ada di sana. Padahal tadi malam Jasmine kembali ke kamar lebih dulu.


"Eemm itu aku pesen kamar yang baru tadi malam. Jadi aku tidur di sana" jawab Jasmine gugup karena berbohong.


"Kenapa kamu pesan kamar yang baru? Apa selama ini kamu merasa gak nyaman ya sekamar bareng aku?" Kata Kiki terlihat sedih.


"Ng ngak kok Ki. Bukan begitu" jawab Jasmine cepat. Apa yang harus Jasmine lakukan. Ia tidak mungkin meceritakan kejadian yang di alaminya tadi malam pada Kiki. Tapi melihat wajah Kiki yang nampak sedih membuatnya jadi serba salah.

__ADS_1


"Tadi malam kepala aku sangat pusing dan aku merasa tidak sanggup lagi untuk berjalan kembali ke kamar kita. Jadi aku memutuskan untuk memesan kamar yang baru" kata Jasmine kembali berbohong.


"Ooh... jadi karena itu kamu pesen kamar hotel lagi. aku pikir kamu gak nyaman sekamar bareng aku. Maaf ya Jas, seharusnya tadi malam aku antar kamu ke kamar" kata Kiki merasa bersalah.


"Iya gak papa kok Ki. Itu bukan salah kamu" kata Jasmine menenangkan.


Setelah mengatakan itu, Jasmine kemudian hanya diam sepanjang penerbangan kembali ke kota J.


Jasmine dan Kiki memang tidak terlalu dekat. Mereka hanya sesekali ngobrol itupun jika menyangkut tentang pekerjaan.


***


Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian yang di alami Jasmine di kota L.


Selama seminggu ini Jasmine berusaha menguatkan hatinya. Ia berusaha ikhlas menerima semuanya, mungkin semua yang terjadi pada dirinya sudah menjadi takdir hidupnya. Ia berharap, semoga suatu saat nanti akan ada laki-laki baik yang mau menerima dirinya apa adanya dengan segala kekurangannya.


Saat ini mereka berdua sedang sarapan di meja makan.


"Masa sih dek, kakak jadi pendiam. Mungkin itu cuma perasaan kamu saja" kata Jasmine. Ia berusaha menyembunyikan masalahnya saat ini. Jasmine tidak ingin Andi tahu tentang kejadian yang menimpanya di Kota L minggu lalu.


"Iya kali ya, mungkin karena akhir-akhir ini kakak sibuk kerja dan juga selalu pulang malam, jadinya kita jarang miliki waktu berdua, gak kaya dulu ketika ayah sama ibu masih hidup" kata Andi dengan raut sedih. Semenjak kematian kedua orang tua mereka, Jasmine lah yang menggatikan sosok orang tua untuk Andi, sekaligus ia menjadi tulang punggug untuk bisa membiayai sekolah Andi dan mencukupi kebutuhan hidup mereka berdua. Jasmine merelakan masa depannya, ia memilih untuk tidak melanjutkan kuliah karena ia harus fokus mengurus dan membesarkan Andi yang masih kecil pada saat itu.


"Oh ya dek, setelah lulus SMA kamu mau daftar kuliah di mana?" Tanya Jasmine mengubah topik pembicaraan. Ia takut Andi akan kembali menanyakan sesuatu yang berbeda pada dirinya.


Sebentar lagi Andi memang akan segera lulus sekolah SMA. Jadi, Jasmine ingin agar adik laki-lakinya itu melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang tinggi.


"Belum tahu juga sih Kak. Aku masih bingung mau lanjut kuliah atau enggak. Jadi, aku belum memutuskan ingin kuliah di mana" kata Andi.

__ADS_1


Sebenarnya Andi ingin sekali melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Tapi saat melihat kakak perempuan satu-satunya selalu pulang malam karena bekerja, ia merasa sangat kasihan. Apalagi kakaknya bekerja untuk membiayai sekolahnya membuat Andi kembali mengurungkan niatnya untuk kuliah. Ia merasa prihatin pada Jasmine yang selalu bekerja hanya untuk kebaikan dirinya tanpa memperdulikan kebahagiannya sendiri. Sudah cukup selama ini kakaknya membanting tulang untuk biaya hidup mereka berdua. Jadi ia sadar diri dan tidak ingin terus menerus merepotkan kakak perempuannya itu.


"Loh kenapa begitu? Kakak ingin kamu bisa melanjutkan sekolah kamu. Untuk biaya kuliah kamu tidak perlu khawatir itu akan menjadi urusan kak Jasmine. Kamu bilang kamu mau jadi dokter ya kan? Jadi kamu harus belajar yang rajin dan sekolah yang tingg , biar kamu bisa mewujudkan cita-cita kamu" kata Jasmine tersenyum. Ia tahu adiknya itu pasti ingin sekali melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Apalagi menjadi seorang dokter adalah keinginan terbesar Andi sejak kecil.


Jasmine sangat sayang kepada adiknya, apapun akan ia lakukan demi kebahagian Andi. Hanya Andi lah satu-satunya keluarga terdekat yang masih tersisa. Jadi, ia tidak ingin adiknya bernasib sama sepertinya dirinya yang hanya tamatan sekolah SMA. Apalagi di jaman sekarang sangat sulit mencari pekerjaan. Lulusan sarjana saja banyak yang menjadi pengganguran, apalagi lulusan SMA.


"Baiklah, nanti akan aku pikirkan lagi kak. Aku mau berangkat sekolah dulu. Assalamualaikum"


Andi mencium tangan Jasmine dan langsung pergi ke sekolah.


"Waalaikumsalam".


Setelah Andi pergi ke sekolah, Jasmine juga langsung bersiap-siap untuk berangkat bekerja, karena hari ini ia ada jadwal pemotretan di studio.


Selama seminggu ini Jasmine selalu menyibukkan dirinya untuk bekerja. Pergi pagi dan pulang larut malam telah menjadi kebiasaannya. Apalagi saat ini pikirannya sangat kacau, otaknya terus saja mengingat kejadian di kota L. Tetapi dengan bekerja ia bisa sedikit mengalihkan pikirannya.


Jasmine berusaha melupakan kejadian yang terjadi di kota L. Namun tidak bisa, kejadian itu terus berputar di ingatannya. Saat bekerja pikirannya memang sedikit teralihkan oleh pekerjaan. Tapi di saat Jasmine sendiri kejadian buruk yang menimpanya itu kembali menghantui dirinya. Apalagi setelah kejadian itu, Jasmine menjadi sedikit trauma. Ia menjadi lebih menjaga jarak dengan yang namanya laki-laki, apalagi jika laki-laki itu tidak di kenalnya.


Jasmine mengunci pintu rumah, setelah memastikan pintu rumahnya terkunci dengan baik, ia lalu pergi menuju halte bus yang berada tidak jauh dari tempat ia tinggal. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai ke halte bus dengan berjalan kaki. Jasmine memang selalu naik bus saat pergi bekerja. Setelah kematian kedua orang tuanya kehidupannya berubah 180 derajat. Di usianya yang terbilang sangat muda Ia harus membanting tulang untuk melanjutkan hidupnya.


.


.


.


Jangan lupa like dan komennyađź’™

__ADS_1


__ADS_2