
Setelah puas menangisi nasibnya, dengan pelan Jasmine turun dari tempat tidur, ia mengambil satu persatu pakaiannya yang berserakan di lantai dan langsung berjalan menuju kamar mandi dengan menahan rasa nyeri di bagian intinya.
***
Sementara itu di tempat lain. James langsung mengangkat telepon yang masuk di ponselnya.
"Honey kamu dari mana aja sih? Kok telepon aku baru di angkat. Sudah dari kemarin malam aku coba telepon kamu, tapi ponsel kamu nggak aktif" kata seorang wanita di sebrang telepon nampak kesal.
"Iya maaf sayang, kemarin aku lupa charger ponsel aku. Jadi, ponselnya mati" kata James berbohong pada istrinya.
James tidak mungkin menceritakan kejadian tadi malam yang menimpa dirinya kepada istrinya.
"Oohh jadi begitu. Aku cuma mau ngabarin kamu kalau aku sudah sampai di kota J dan sekarang mama juga sudah baik-baik saja" kata Fania.
"Baguslah kalau begitu. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya ya, aku mau mandi dulu"
"Iya baiklah. I love you honey"
"I love you more"
Tuutt...
James langsung menutup telponnya. Ia merasa tidak sanggup jika harus berlama-lama berbicara dengan Fania. Dadanya terasa sesak saat mendengar suara Fania. Rasa bersalah mulai menyerang dirinya. James benar-benar merasa bersalah pada istrinya.
Alasan apa yang harus ia katakan jika nanti Fania tahu kalau dia sudah tidur dengan wanita lain selain istrinya itu. Ia bahkan sama sekali tidak berniat untuk menghianati sang istri, saat ini ia benar-benar merasa bersalah.
"Maafkan aku Fania. Aku benar-benar menyesali kecerobohanku ini"
James kemudian mengingat-ingat kembali kejadian tadi malam. Saat bagaimana ia bisa tidur dengan wanita asing itu. Bahkan ia sama sekali tidak mengenal wanita yang tidur dengannya tadi malam. Pasti telah terjadi sesuatu pada dirinya.
Flashback On
"Tunggu Tuan James" panggil Pak Harto.
"Iya ada apa Pak Harto? Apa ada yang perlu di bicarakan lagi?" Tanya James.
"Tidak Tuan James. Tapi kenapa Anda buru-buru sekali. Ayo kita minum-minum dulu untuk merayakan kesepakatan kerjasama kita ini" ajak Pak Harto.
Setelah berpikir, akhirnya James menerima ajakan Pak Harto. Ia merasa tidak enak jika menolak ajakan rekan bisnisnya itu.
__ADS_1
"Iya, baiklah" jawab James dan kembali duduk.
Tak berapa lama datang seorang pelayan membawa minuman.
"Bersulang"
Tiingg...
Saat sedang asik minum-minum, tiba-tiba datang beberapa wanita cantik dengan pakaian yang sangat seksi dan langsung duduk di samping James dan Pak Harto.
"Apakah anda yang memanggil mereka Pak Harto?" Tanya James, karena ia merasa tidak pernah memanggil para wanita penghibur itu.
"Iya Tuan James. Apa anda merasa keberatan?"
"Iya, maaf Pak Harto. Saya merasa kurang nyaman dengan kehadiran mereka" aku james jujur. James memang merasa sangat tidak nyaman dengan adanya wanita-wanita penghibur itu. Apalagi saat para wanita itu menempel dan bergelayut manja padanya.
"Ayo lah Tuan James. Kenapa anda merasa tidak nyaman dengan mereka. Mereka itu adalah bonus untuk kita, di saat kita lelah bekerja seperti ini"
"Ya itu mungkin bagi anda, tapi tidak untuk saya. Saya sudah mempunyai seorang istri dan saya menghormati istri saya. Walaupun saat ini dia berada jauh dari saya" kata James.
Mendengar perkataan James, Pak Harto langsung tertawa.
"Ya bisa dibilang begitu" sahut James tersenyum. James tahu Pak Harto hanya bergurau.
Pak Harto kemudian memberi isyarat kepada para wanita itu, agar tidak terlalu dekat dengan James. Dengan patuh wanita-wanita itu menurutinya dan hanya duduk diam di dekat james.
Tak berselang lama setelah para wanita itu menjauh tubuh James tiba-tiba saja terasa aneh. Dia merasa suhu di ruangan itu sangat panas.
"Apa yang terjadi pada diriku? Kenapa tubuhku terasa panas begini" batin James. Ia kemudian melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Tapi tetap saja, tubuh James tetap terasa panas, bahkan pendingin udara di ruangan itu seperti tidak berfungsi untuknya. Perasaannya menjadi gelisah dan tak karuan.
"Ah sial. Sepertinya ada yang sengaja memasukkan sesuatu di minumanku" batin James.
"Ada apa tuan James? Apa anda baik-baik saja?" Tanya Pak Harto yang melihat James nampak gelisah.
"Saya baik-baik saja Pak Harto. Mungkin saya sudah terlalu banyak minum dan saya merasa sedikit mabuk"
"Kalau begitu saya ijin pergi lebih dulu dan terimakasih atas minumannya" lanjut James dan langsung pergi dari ruangan itu setelah di angguki oleh Pak Harto.
James tidak tahan lagi jika harus berlama-lama di sana. Apalagi saat melihat paha mulus dan buah dada para wanita penghibur itu yang nampak sangat menggoda di matanya , menjadikan tubuh James semakin tambah panas karena menahan gairahnya.
__ADS_1
James sudah berada di dalam life menuju kamarnya.
"Brengsek. Siapa yang sudah berani memasukkan obat sialan itu di minumanku" kata James marah. Merasa tubuhnya sangat panas ia lalu melepaskan ikatan dasi dan jas yang di kenakannya serta membuka beberapa kancing kemeja bagian atas.
James sadar dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ia tahu jika ini merupakan efek dari obat perangsang.
"Aku harus segera mandi dan mengguyur tubuhku dengan air dingin"
Tiingg.... pintu life terbuka.
Dengan sempoyongan James berjalan menuju kamarnya. ia harus segera mandi air dingin untuk merendam hasratnya itu.
Setelah sampai di kamar James langsung melepaskan semua pakaiannya dan hanya menyisakan celana dalamya saja.
Tetapi saat hendak menuju kamar mandi, James melihat ada seorang wanita yang tengah tidur di atas tempat tidur miliknya.
"Sayang apa itu kamu?" Tanya James dengan kesadaran yang masih tersisa dan menghampiri wanita tersebut.
James kemudian memandang wajah sang wanita yang tengah tertidur itu. Tapi sayang sekali penglihatannya mulai buram, ia tidak terlalu jelas melihat wajah wanita tersebut.
James mengira wanita itu adalah Fania, karena pakaian yang di kenakan wanita itu sama dengan pakaian yang Fania kenakan saat berangkat ke bandara tadi.
"Jawab aku sayang, apa kamu kembali?"
"Sayang bangun tolong bantu aku" kata James dengan suara yang serak karena menahan hasrat birahinya.
James berusaha membangunkannya, tapi wanita itu tetap tidak mau bangun. Akhirnya James memutuskan untuk menyalurkan hasratnya pada wanita yang ia kira adalah istrinya itu.
"Maafkan aku sayang. Walaupun kamu masih tidur aku tetap akan melakukannya padamu, karena aku benar-benar membutuhkanmu saat ini"
James tidak bisa menahannya terlalu lama lagi, ia harus segera menuntaskan hasrat birahinya itu, jika tidak ia akan menjadi gila. Tanpa babibu lagi James langsung melakukannya, ia tidak peduli dengan Fania yang tertidur.
.
.
.
Maaf kalau karya author ini banyak kekurangan maklum masih pemula.
__ADS_1
Tapi jangan lupa buat berikan like dan komennya buat karya ini, biar auhor tambah semangat lagi untuk lanjutin ceritanya.😙