Istri Atau Sarjana

Istri Atau Sarjana
Gue Mau Nikah


__ADS_3

^^^𝓢𝓪𝓽𝓾^^^


^^^𝓖𝓾𝓮 𝓜𝓪𝓾 𝓝𝓲𝓴𝓪𝓱!^^^


Pukul setengah sebelas waktu setempat. Gue sama teman-teman sekelas lagi duduk di gazebo samping gedung Fisipol. Panas sih suhu sekarang soalnya sudah mau siang. Tapi untung ada pohon mangga milik bapak kantin yang bikin sejuk. Angin sepoi-sepoi menerbangkan helaian-demi helaian bulu mata anti badai gue. Seharusnya sih di jam segini di hari senin, kami ada MK. Tapi karena dosen kami adalah salah satu pengamat politik di kota gua jadi dosennya enggak bisa ngajar.


Gue, Juli, Dina, Lisa, Riana, Endah, sama Widi duduk melingkar. Riana sibuk koar-koar dari kita awal duduk di sini sampai kita pw setengah jam.


"Ini dosen enggak bosan apa kasih kita tugas mulu. Sampai-sampai tugasnya bosan ketemu sama kita," oceh Riana sambil ngemil kuaci. Iyah kuaci yang murah dan cemilan sejuta umat. Tapi kalau menurut bapak gue di rumah, kuaci itu mau di makan sekarung pun enggak bakalan kenyang. Yang ada muak. Semuak aku dengan semua janjimu. Alah. Apaan sih!


Widi ikut menimpali setelah melempar kulit kuaci yang sudah dia **** ke dalam kantung kresek yang sudah terisi setengah sama kulit kuaci. "Tahu ih, capek gue. Tugas individu lah! Tugas kelompok lah! Mana gue satu kelompok sama Jimi lagi, iyuh banget."


Lisa menyemburkan tawanya ketika mendengar Widi satu kelompok dengan Jimi. "Mamam dah lu. Untung gue enggak satu kelompok sama Jimi. Tuh cowok ya, sok kegantengan banget. Semua cewek dideketin. Kayak laku aja. Padahal mah bikin gedek. Rasanya pengen gue bejek-bejek." Lisa mengeluarkan unek-uneknya sama Jimi. Memang sih, menurut mereka--menurut mereka nih ya. Si jimi itu playboy cap karung goni. Hampir semua cewek di kelas dichat terus digombalin. Mana kalau chatnya di cuekin, si Jimi dengan tidak tahu dirinya malah marah. Yang kena giliran pertama itu si Lisa, terus Dina digandeng sama Riana, terus ada Widi, Juli. Dan terakhir kata mereka adalah gue. Padahal menurut gue enggak tuh.


Si Jimi kalau ngecat biasa aja sih. Si doi paling nanya-nanya, ya ... sebagai teman kelas 'kan wajar nanya apalagi topiknya masalah tugas dari dosen. Dan jadilah gue sebagai teman yang baik, pas dia nanya ya gue jawab. Kecuali dia nanya berapa dua log delapan dikali enam log sepuluh, gue nyerah. Sejak tamat SMA dan memutuskan buat ngambil Fisip yang enggak ada hitungannya, gue memutuskan buat melupakan matematika terutama logaritma dan ***** bengeknya.


"Gila aja gue hampir masuk dalam jebakan dia." Widi ikut nimbrung dalam pembicaraan. Ya ini lah para fans fanatic Jimi sedang berbicara.


Gue sama Endah cuma diam karena kami fokus sama hp. Meski gue fokus sama hp, telinga gue sangat sensitiv apalagi kalau nama gue disebut.


"Endah juga 'kan?" Tanya Riana.


Endah yang namanya di sebut mendongak dan menatap kami dengan tampang begonya. Gue serius. Si endah kelihatan **** masang ekspresi kayak gitu.


Astagfirullah.


Ampuni hamba ya Allah.

__ADS_1


Padahal gue udah janji enggak bakalan ngehujat atau ngapain orang lagi.


"Gue kenapa?" tanya Endah dengan polosnya.


"*****! Dari tadi gue ngomong enggak elo dengerin?!" jerit Widi


"Astaga dragon Endah!"


Dan semua kompak menghujat Endah. Dasar netijen.


Riana tiba-tiba melihat ke arah gue. "Anin juga sempat kan dikecengin sama Jimi 'kan?" tanya dia. Nama gue emang Anin, lebih tepatnya sih Anindya Nidya Nadya Sastraguna. Panjang? Emang, nama gue panjang banget. Kalau ujian 'Sastraguna' nya disingkat dengan 'S'


Gue menunjuk diri gue sendiri. "Gue? Kagak tuh!" bantah gue.


"Dia kan ada ngechat lo," ungkap Lista.


Gue melihat mereka mendelik tanda tak percaya. Terserah dah. Serah. Lagian heran gue, gedek banget sama si Jimi. Kan enggak boleh gitu sama saudara. Iyah, kita di sini semua bersaudara. Anak dan cucu dari adam dan hawa. Sesama saudara enggak boleh saling menghujat.


Mereka kembali berkoar-koar soal si Jimi. Gue jadi curiga kalau sebenarnya itu mereka kesal karena di jadiin mainan bukannya malah di seriusin. Ya siapa suruh si baperan. Ada cowok yang cakep nge-chat dikit udah dikira si doi naksir. Kalau ternyata si doi naksir sama teman lu, gimana? Nah loh. Makanya jangan terlalu baper. Kalau udah terlanjur baper, udah terus terang sama si doi. Tanyain, doi serius apa kagak sih. Kalau cuma mau main-main mending jauh deh. Jangan buat baper. Gitu. Gue gitu sama cowok. Lagian gue enggak mau pacaran-pacaran sebelum adanya pernikahan. Dosa tahu pacaran.


Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an


"Wa laa taqrobuz zina innahu kana fahisyah, wa sa'a sabila - Janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk." (Qs. Al-Israa' {17}:32)


Nah masih mau? Kalau gue sih enggak mau. Gue maunya langsung nikah.


"Gue mau nikah aja!"

__ADS_1


Gue dibuat kaget sama teriakan si Riana. Riana ini memang tipe anak yang ceriwis, mulut gede dan juga supel. Gue melihat Riana aneh. "Lo waras?" tanya gue.


Lisa ikut menimpali. "Tahu nih. Emang siapa yang mau nikah sama lo?"


Riana memberengut. "Ya habis gue capek tahu kuliah. Tugas banyak, dosen jarang masuk, belum lagi gue pusing sama MK nya. Otak gue kayaknya udah mulai konslet buat di bawa belajar."


"Yakin banget sih loh dengan nikah masalah elo bakalan kelar. Jawabannya kagak! Enggak neng! Nih ya, selama hayat masih menyatu dengan raga maka yang namanya masalah enggak pernah bakalan meninggalkan kita. Misalnya kalau elu nikah, elo kira elo bakalan mendapatkan happy ending gitu? No! Elo bakalan menghadapi masalah dalam kehidupan rumah tangga. Ibarat bahtera yang sedang mengarungi lautan, ada ombak besar dan badai yang sedang menanti di hadapan sana.


Rasulullah saja yang merupakan suri tauladan pernah mendapati masalah rumah tangga dengan salah satu istrinya yaitu Aisyah R.A. Dan kalian tahu, Aisyah yang kita ketahui seorang ummul mu'min marah pada rosul. Ya...bukan marah yang gimana-gimana sih. Bukan marah yang sampai lari ke Abu Bakar ss Siddiq-Ayah beliau. Nah itu Aisyah loh, yang sudah pasti masuk surga. Apa kabar kita? Bagaimana kita menghadapi rumah tangga. Kita manusia biasa yang kebanyakan dosa.


Lagian hormon kita ini lagi bergejolaknya, dan di hadapkan dengan kehidupan rumah tangga. Er rasanya pasti sesuatu kalau kata Syahrini mah. Tapi, kalah emang takdir berkata lain dan Allah bilang elo bakalan nikah sekarang, yaa mau gimana lagi. Pintar-pintarnya kita bersyukur aja sih sis. lagian nikah itu karena benar-benar siap terutama ilmunya. Gue kayaknya kebanyakan ngomong deh." Gue melihat teman-teman yang memperhatikan gue dengan cengok.


"Lo ngomong barusan, Nin?" tanya Juli


Ya Allah, sebarkan hamba. Hiks teman gue kok gini amat.


"Nah loh, hadist nya Anin udah keluar." Gue cuma memberikan senyum pada Dina.


"Iya juga sih. Nikah enggak akan membuat masalah gue kelar. Belum lagi kalau udah punya anak. Belum ngurus anak, belum ngurus suami, belum ngurus mertua yang cerewet. Er ... enggak! Enggak." Riana bergidik ngeri.


"Ya semoga aja sih kita enggak dapat mertua yang cerewet nanti. Ya gak, Dah?" tanya Lisa pada Endah yang lagi-lagi cuma bisa cengo.


Ajaib ya semua teman gue. Mereka kayak pelangi. Banyak warna. Tapi gue bersyukur punya mereka meski mereka masih butuh bimbingan.


Bimbingan apa?


Bimbingan menjadi istri yang baik dan benar.

__ADS_1


Hmm ...


__ADS_2