
^^^𝓣𝓲𝓰𝓪^^^
^^^𝓟𝓪𝓹𝓪, 𝓢𝓲𝓪𝓹𝓪 𝓭𝓲𝓪?^^^
Gue mengusap perut yang rasanya mau meledak. Mama menepati ucapannya untuk mengembalikan si pipi bakpao. Tadi siang gue makan banyak karena lauknya ada tumis cumi, ayam goreng krispi, terus ada capcay, sayur sop, dan sang primadona si sambal cabe. Gue makan sampe nambah tiga kali. Terus sore tadi pas baru bangun tidur gue disuguhkan mama sama sepiring besar brownies panggang dan semangkuk kecil puding lalu minumannya secangkir cokelat panas. Memang the best lah mama.
Dan sekarang di saat sang surya hendak bertukar posisi dengan rembulan, gue lihat ada bakso lewat. Udah kenyang padahal tapi pengen. Dan yey dibeliin sama mama. Alhasil, gue kekenyangan. Mangkuk bakso tergelatak mengenaskan di atas meja yang ada di samping gue. Bayangan cokelat melintas di benak gue. Bused, ini perut apa gentong bocor sih makin di isi makin berkurang isinya. Kayaknya ini efek mau datang bulan menyebabkan napsu makan gue melunjak. Kalau kayak gini terus sampai bulan depan dapat di pastikan bukan hanya pipi gue yang kayak bakpao tapi badan gue juga jadi kayak kukusan bakpao.
Suara klakson mobil terdengar membuat gue segera berlari ke arah gerbang dan membuka kunciannya. Mendorong gerbang hingga memberikan ruang untuk mobil yang papa kendarai masuk. Duh sayangnya gue udah balik.
Pintu mobil terbuka dan langsung di sambut teriakan. "Papa!" Gue menghampiri papa dan mencium tangannya terlebih dahulu yang dibalas papa dengan mengelus kepala gue yang masih terbalut hijab.
"Kapan nyampe nya, Nin?" Papa menutup pintu mobil,sedangkan gue mengekori papa yang membuka bagasi mobil.
"Tadi pagi menjelang siang, Pa." Gue mengernyit melihat papa menurunkan sebuah koper. Belum habis rasa heran gue, muncul sebuah suara.
"Eh, enggak usah om. Biar saya saja!"
"Papa? Dia siapa?" Gue enggak bisa menahan diri untuk enggak bertanya saat sosok lelaki asing muncul entah dari mana.
Papa melirik gue dan lelaki yang mengambil alih koper itu dari tangannya bergantian.
"Dia Aqil, anaknya teman Papa," jawab papa kemudian menutup bagasi mobil.
Terus, dia ngapain di rumah kita pake bawa kopor segala papa? Dia minggat dari rumahnya?
"Ayok, Nak Aqil, kita masuk ke dalam. Nin, bantu kak Aqil bawa kopernya."
Gue yang mengekori papa terpaksa berbalik dan mengambil alih koper yang ukurannya gak terlalu besar. Tahulah kebutuhan cowok sama cewek beda. "Sini kak, biar saya bawakan." Sebenarnya dalam hati berharapnya dia nolak gitu. Bilang gini kek, 'gak usah, biar saya aja.'
Tapi ekspetasi tak sesuai realita. Muka cakepnya enggak ternilai lagi di mata gue. Yang tadinya di kasih nilai 98 buat mukanya dari merusot rutun ke 97.
__ADS_1
"Oh, silahkan."
Aqil lalu berjalan menyusul papa yang menunggunya di depan pintu meninggalkan gue dengan rasa dongkol.
Oke Anin, tarik napas lalu hembuskan. Tarik napas lalu hembuskan kagi. Ikhlas Anin. Ini kalau bukan babeh yang nyuruh ogah banget bawain. Dan lagi ini koper emnag kecil sahabat/sahabati akan tetapi berat juga. Ini isinya apa sih?! Batu apa bom panci. Mana harus dibawa naik tangga lagi soalnya letak rumah agak tinggian dari garasi mobilnya. Jadi harus naik beberapa anak tangga dulu. Siapa sih yang bat rumah modelan begini, gue kan yang susah.
Astagfirullah.
Seharusya gue bersyukur bisa punya rumah di bandingkan dengan mereka-mereka di luar sana yang harus tidur beralaskan tanah dan baratapkan langit.
Sayup-sayup terdengar suara papa dan mama yang sedang mengobrol. Dengan menyeret opor Aqil, eh maksudnya kopornya Aqil gue menuju ke arah sumber suara yang di yakini insting gue ada di ruang tamu.
"Nin, kamu bawa kopernya ke kamar kamu aja ya. Kamar tamu lupa mama bersihin soalnya, jadi kamu aja ya di kamar tamu. Lagian kamar tamu enggak ada kamar mandinya, biar kak Aqil yang di kamar kamu."
Apa tadi? Mama ngomong apa. Kok berdengung ya. Masa nih koper mesti gue geret lagi ke lantai atas. Terus, ke kamar gue? Serius kah mama?
Gue lihat muka Aqil, adalah gitu inisiatif lelaki itu buat nolak. Gak usah tante, saya di kamar tamu aja. Atau enggak, saya bisa nunggu sempai di bersihkan kok. Atau enggak, saya aja yang bersihkan tante. Tapi nihil! Etdah, mana gue enggak akan bisa menolak perintah mama. Soalnya dari kecil gue di didik dengan keras dan mematuhi perintah orang tua sangat mama dan papa tekankan pada semua anak-anaknya. Sama gue dan abang maksudnya, mama cuma memproduksi dua makhluk. Dan setelah gue lahir, mama resmi tutup pabrik. Katanya dua aja udah buat mama kliyengan. Apalagi si anak bungsu alias Anindya Nidya Nadya S. yang gemar memancing amarah nyonya Patrakomala.
"Iya, Ma."
Gue kembali menyeret koper seperti turis yang kesasar.
"Nak Aqil, kamu ikutin Anin, ya? Kamu istirahat aja Langsung. Biar Anin juga yang yang beresin baju-baju kamu." Duh mama baik banget. Apa-apa Anin. Berasa jadi istrinya si kikil. Iya, kikil itu plesetan dari Aqil. Gue yang bawa masuk kopernya, gue yang beresin. Sekalian aja gue yang mandiin biar gue siapin kapas sama kain kafan.
Gue melirik ke belakang dan mendapati Aqil yang mengekori gue tepat berjarak dua anak tangga. Gue otomatis berhenti. "Kak boleh naik duluan tidak? Saya nanti ikutin kakak dari belakang. Kamar saya yang pintunya bercat abu-abu."
Kak Aqil yang natap gue sambil berpikir, kayaknya. Lalu, "Oke," jawabnya. Singkat amat sih mas. Pasti Kak Aqil ini pelit deh, ngomong aja ngirit gitu.
Sekarang kebalik, giliran gue yang ngikutin Kak Aqil. Gue kasih tahu satu rahasia mengenai adab wanita di jalan. Dengar ya sayangku. Bila wanita hendak keluar rumah itu haruslah ada mahrom yang menemani. Tahu kan apa itu mahrom? Iya, yang boleh lihat dan nyentuh kita. Untuk kita perempuan mahromnya itu ada mama, papa, adik, abang, paman dari pihak ayah dan ibu, kakek dari pihak ayah dan ibu, sesama wanita muslim. Tapi sepupuh itu bukan mahrom ya, jadi enggak boleh bersentuhan dan melihat aurat kita perempuan yang mencakup semua tubuh kecuali muka dan telapan tangan. Nah, meskipun mahrom ada batasnya juga buat lihat aurat kita. Batasannya kaki sebatas lutut. Terus kalau tangan sebatas siku. Lalu kepala yang rambut itu boleh di perlihatkan.
Terus kalau buat wanita yang udah nikah, kalau keluar rumah harus atas izin suami. Dan yang paling penting, buat semua wanita baik yang udah menikah atau beluam menikah untuk menutup aurat sesuai syariat. Allah SWT berfirman dalam qur'an surah An-Nur ayat 31 yang artinya, 'katakanlah kepada wanita yang beriman : "hendaklah mereka menahan pandangannya, dan ***********, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan lerhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-puteri mereka, atau putera-puteri suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putera-puteri saudara laki-laki mereka, atau putera-puteri saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar di ketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."'
__ADS_1
Lalu mengenai pakaian yang memenuhi syariat, nanti ajalah ya gue jelasin. Karena adab lain saat wanita di luar rumah itu adalah ketika berjalan jangan ia berlenggak lenggok. Terus kalau dia dengar suara langkah kaki hendaklah dia itu berhenti takutnya yang ada di belakang itu adalah ikhwan/lawan jenis. Maka bila benar demikian, biarkan si ikhwan itu berjalan lebih dahulu biar si ikhwan tidak melihat lenggokan kita saat berjalan. Makanya tadi gue minta Kak Aqil buat jalan duluan dan untungnya dia ngerti.
"Iyah kak, kamar yang itu." Gue melihat kak Aqil udah nyampe di depan kamar gue tapi doi cuma dia mematung. Mungkin lagi baca mantra.
Kak Aqil menoleh sejenak. "Beneran yang ini," ulangnya.
"Iya kak." gue mencoba menjawab dengan sabar. Gue kan Anin yang memiliki kesabaran tinggkat dewi.
Kak Aqil membuka pintu dan masuk ke dalam kamar kemudian diri ini menyusul. Untung enggak ada barang-barang aneh yang berserakan soalnya gue baru nyampe dan belum sempat unboxing bawaan. Kamar mandi juga bersih soalnya peralatan mandi gue masih aman dalam tas. Belum mandi sore sih soalnya, baju aja masih baju yang gue pake buat naik motor tadi pagi. Bodo amatlah, lagian hemat air jadi enggak mau mandi sore.
"Maaf ya kak agak lecek dikit kasurnya. Kamar mandi ada di deket lemari itu kak." Gue menunjuk pintu dekat lemari. "Untuk baju kakak, nanti malam aja ya Anin beresin. Udah mau magrib soalnya."
Kak Aqil menatap secara menyeluruh kamar gue yang bercat abu-abu campur putih. Heran ya sama kamar gue yang monoton atau enggak kayak kamar cewek lain yang biasanya pink, pastel, ungu, atau apalah. Gue orangnya cepat bosan nanti kalau di cat pake pink, jadi cat nya gue kasih eh bukan gue sih tapi ada pekerjanya di cat sama warna putih dan abu-abu.
"Nanti saya saja yang membereskannya. Tapi saya bereskan ke mana?"
Gue berjalan ke arah lemari dan membukanya. Tereng, isinya kosong! Sebab semua baju gue udah gue angkut ke pas kuliah dan sekarang berada di lemari gue yang ada di kost. Dan gue cuma bawa beberapa helai baju pas pulang, soalnya nanti gampanglah bisa pake baju mama sama minta beli baru ke papa. Hehe. "Kakak taro baju di sini aja, lemarinya kosong kok."
"Oke, nanti saya susun di situ. Oh iya, terima kasih. Dan maaf sudah merepotkan."
Gue menunduk lalu tersenyum dikit. Iya dikit aja. "Iya kak, sama-sama. Kalau gitu saya keluar dulu ya Kak. Kalau kakak cari sajadah ada kok di dalam lemari, atau enggak kakak bisa sholat ke mushola yang di depan gang."
"Iyah, nanti saya sholat di mushola saja."
Duh ileh, jawabannya bikin gue terpesona. Seenggaknya Kak Aqil ini mengerti bahwa Ikhwan itu sebaiknya sholat di masjid.
Gue mengambil tas gua yang tergeletak dekat kasur. Aga kikuk juga soalnya ada kak Aqil yang duduk di kasur. Untung isinya belum gue bedah. "Kalau begitu permisi kak," gue mengeret tas gue yang beratnya sebelas dua belas sama kopornya Kak Aqil. Giamna gak berat,orang yang yang gue pake itu adalah tas yang sering di pake orang buat backpaker-an atau buat naik gunung. Iyah, tas punggung panjang itu.
Gue menutup pintu kamar gue dengan pelan. Hembusan napas lega keluar dari mulut gue, jujur nih gue agak gugup tadi di kamar. Gila aja kan juga enggak boleh akhwat dan ikhwan berduan sebab yang ketiganya adalah setan.
Duh, seharusnya gue melepas rindu dengan kasur tapi terpaksa gue merelakannya dengan orang lain. Ya sudah lah, gue cari kasur pengganti saja siapa tahu langgeng.
__ADS_1