
^^^ππ·πͺπΆ^^^
^^^ππͺπΆπͺπ»πͺπ·^^^
Gue tahu kalian pasti bakalan bosan baca terusan cerita gue ini. Iya soalnya gue nggak ada kerjaan lain selain di dapur bantu mama. Gue enggak tahu mau ada acara apa ya di rumah. Soalnya dari pagi mama sibuk buat kue dan juga tadi buat lontong. Mama itu memang jago masak cuma gue suru buat usaha ketring enggak mau. Katanya capek. Mama cukup puas dengan memasak untuk keluarganya. Gue bersyukur sih, berkat mama jago masak dan suka masak akhirnya gue juga suka dan lumayan lihai lah dalam memasak. Apalagi buat kue sejenis kue bolu, gue udah lulus uji kelayakan kalau itu.
"Nanti kamu tidur sama mama sama papa aja ya? Soalnya Abang kamu mau nginap juga malam ini," mama berkata sambil memasukkan loyang bolu singkong dalam kukusan.
Lah, pindah lagi? Gue udah jadi manusia nomaden ini. Pindah-pindah terus. Lagian udah sebesar ini masa tidur sama orang tua, apa kata Riana. Itu maka pasti ketawain gue.
"Loh? Kan ada kamarnya abang? Biar Anin bersihin deh."
"Kamarnya abang sudah mama bersihkan dan mau di pake Ayah sama Bundanya Aqil."
Gue yang udah mau pergi ke kamar abang jadi urung. "Lah, ada acara apa sih, Ma? Kok semua orang pada datang?"
"Adalah! Kamu pasti tahu nanti."
Entah kenapa ya, jawaban mama itu membuat perasaan gue enggak nyaman. "Terus abang kapan nyampenya?"
"Nanti siang kayaknya sepulang kantor."
"Bukanya abang pulangnya sore?"
"Ini sabtu Anin, abangmu kerja cuma sampai jam 2." Eh iya gue lupa.
Rame dong berarti rumah. Jadi babu lagi dong. Huaa. Pengen nangis sambil guling-guling gue.
"Kamu ambilin baju yang kita jahit di Mbak Diana, ya?"
"Emang udah jadi?" Jadi gini, minggu kemaren pas gue ke kota mama nitip beli kain baju buat gue sama beliau. Untung gue ngerti jadi dibelilah sama gue. Terus pas nyampe rumah gue diajak mama ke tukang jahit buat ukur baju. Dan gue salut bajunya cepat jadi, padahal belum ada seminggu.
"Udah, malahan udah dari kemaren."
"Ya udah, Anin pergi dulu."
"Hati-hati, Nin. Ngebutnya pelan-pelan aja." Mama ada-ada aja, mana ada ngebut pelan-pelan.
...***...
Mata gue memicing melihat mobil yang tampak tak asing terparkir dengan manis di garasi. Mobil itu seperti mobil abang yang di berikan oleh mertuanya sebagai hadia pernikahan. Duh, gue juga mau punya mertua kayak abang. Tapi kalau bisa hadiahnya saham atau enggak sebuah pulau.
Saat membuka pintu, terdengar suara celotehan anak kecil dan suara tawa mama. "Alisya! Ponakan onty ...." Gue berlari menyerbu anaknya abang, Alisya yang baru berumur 8 bulan. Lahirnya desember tahum lalu. Pipi gembulnya menjadi sasaran utama gue.
"Dari mana, Dek?" tanya abang.
__ADS_1
Gue mengangkat kresek berisi baju yang tadi di ambil tadi di tukang jahit. "Habis ambil baju, abang kapan nyampe?" Gue bertanya sambil menimang Alisya dalam gendongan. Dan seperti biasa hijab gue jadi sasaran buat di tarik. Gue jarang mengunjungi abang dan istrinya karena abang tinggal sama mertuanya. Ya gue kan malu ya, jadi meskipun berada di kota yang sama gue ke rumah abang paling cuma beberapa kali dalam sebulan.
"Barusan, belum lama setelah kamu datang."
Gue cuma mengangguk.
"Alisyah, onty gigit ya tangannya?" Gue menekuk bibir ke dalam dan memasukkan tangan ponakan gue lalu berpura-pura menggigitnya. Bukannya nangis dia malah ketawa. Gue gigit lagi dan membuat dia terkekeh.
"Nin, kamu cobain dulu bajunya. Biar Alisya sama mama." Mama mengulurkan tangannya pada Alisya tapi Alisya nampaknya enggan berpindah. Anaknya abang itu emang kalau sudah aama gue susah kalau di suru sama orang lain. Ya kecuali sama abang dan kakak ipar.
"Alisya sama nenek, ya? Onty mau ganti baju dulu." Dengan sesikit memaksa gue memberikan Alisya pada mama.
Untung ponakan gue itu enggak nangis. Gue membawa kresek yang berisi baju gue dan berganti di kamar mama. Iyah, karena kamar tamu sudah ada yang menempati. Nanti gue beresin baju gue di sana.
Setelah memastikan pintu terkunci gue mengeluarkan baju dari keresek dan menggegarnya. Cantik modelnya, gamis dengan potongan di perut tapi sesuai kemauan gue tidak ketat. Hijab udah gue lepas hingga menyisakan ciput atau dalaman jilbab, terus gamis yang gue pake tadi gue lepas juga.
Bayangan gue di cermin membuat mata gue susah berpaling. Gue suka sama gamisnya mana warnanya kalem, colekat susu. Kontras sama kulit gue yang kuning langsat hingga gue nampak bercahaya seperti iklan produk hand and body lotion di tv. Selain membuat baju, mama juga meminta tukang jajit itu untuk membuat hijabnya sekalian dengan warna yang sama. Saat mengepaskan hijab itu di tubuh, gue puas. Panjangnya sampai pinggul dan yang pasti meutupi dada. Lengannya juga sampai ke pergelangan tangan. Tapi mungkin kalau pemakaian di luar rumah gue tetap menyertai si handshock.
"Anin, udah belum. Coba sini mama mau lihat!" Suara teriakan mama mampu gue dengar di sini padahal mama di depan.
Membereskan sedikit baju gue yang tergelatak di atas ranjang dan menggantungnya di gantungan baju, gue keluar dengan gaya model catwalk.
Tiba di depan mama gue dada-dada canti dengan hanya mengeser sedikit tangan ke kanan dan kiri.
"Udah bagus, ganti sana. Nanti kotor. Itukan di pake nanti malam."
Lah, emang ada acara apaan manti malam. Lagian, "ini enggak di cuci dulu ma sebelum di pake?" Meskipun baju di jahit tetap aja kotorloh bajunya ini.
"Ya kamu cuci bentar terus keringin pake mesin. Dua jum juga udah kering."
"Harus banget di pake nanti malam?" tanya gue.
"Iyaaa, Anin." Mama sedikit kesal. Gue bersyukur ada abang hingga mama enggak selalu marah-marah. Heran gue, mama itu kalau ada abang kalem banget jarang nyerocos. Giliran sama gue. Astagfirullah. Nyerocos mulu kayak radio rusak mana yang itu-itu aja bahasannya dan kosa katanya.
Gue segera ngecir sambil membawa baju mama. Sebelum ya gue ganti baju lagi baru ke belakang buat cuci baju gue sama mama. Cuci pake tangan, maklum baru takutnya lecet kalau dicuci pake mesin.
...***...
Selesai sholat Isya gue langsung ganti baju. Ini aja udah di cereweti sama mama dari magrib.
Anin,cepetan ganti baju. Nanti mereka keburu datang.
Ya udah gue jawab, iya mah nanti pas selesai sholat isya.
Setelah memoleskan sedikit bedak dan lipstik gue segera mengenakan hijab karena mama yang ngomel minta gue cepat. Gue masih heran, ada acara apa.
__ADS_1
"Nin, ini kakak. Diminta cepat sama mama, orang tua Aqil sudah nyampe dan lagi nunggu kamu." Itu suara kakak ipar.
Lagian, sepenting itu ya gue sampai di tunggu. Kalau mau jalan, ya jalan duluan aja. Nanti gue nyusul pake motor. Selap-selip dikit nyampe deh nanti.
"Iya, Kak, ini lagi pake jilbab."
Jangan sampai hijab miring terus jangan sampai ada sehelai rambut yang keluar.
"Nah itu Aninnya sudah datang, sini nak salim," panggil mama yang langsung gue hampiri. Agak aneh melihat suasan ruang tamu yang terlalu formal untuk ke kondangan bersama atau makan malam antar keluarga. "Salim dulu sayang." Mama memerintahkan gue untuk salim sama ayah dan bunda.
"Assalamu'alaikum, Bun, Yah," gue salim sama mereka. Untuk kak Aqil yang ada di tengah ayah dan bunda, gue enggak salim bukan mahrom. Terus ada Rahma di pangkuan Kiana.
"Rahma, salim dulu sama kakak," pintah bunda pada Rahma usai Kiana mencium tangan gue. Si kecil Rahma. Rahma mengambil tangan gue dan mau di gigit, bukan di cium.
"Adek, enggak boleh," larang Kiana mambuat Rahma cemberut.
"Anin, sini duduk." Mama memanggil gue dan menepuk ruang kosong antara mama dan papa di sofa.
Entah kenapa, ada perasaan aneh dalam diri gue. Apalagi ketika melihat semua yang ada di sana nampak rapi. Dan hidangan di atas meja yang terlihat memenuhi permukaan meja kaca itu.
Gue menatap Kak Laura seolah bertanya, 'ini ada apa?' Tapi kak laura cuma tersenyum. Dan senyuman itu memacu kadar hormon epinefrin dalam diri gue berproduksi sedikit banyak dari biasanya.
Ya Allah, ini ada apa sebenarnya. Rasa risau membuat gue bersusah payah mempertahankan senyuman di bibir. Apalagi saat ayah mulai buka suara.
"Karena Anindya sudah ada di tengah-tengah kita, apa acaranya bisa langsung kita mulai, Banyu dan Mala?" Tanya ayah pada mama dan papa. Nama papa memang Banyu Biru Sastraguna dan di panggil Banyu. Sedangkan mama namanya sering gue sebut yaitu Patrakomala dan di panggil Mala.
Papa menjawab ucapan Ayah, "silahkan Risyad," jadi Risyad itu nama Ayah dan nama bunda itu Kelenting Putri. Cantik kan nama bunda, kayak nama kelenting kuning dan biru dalam cerita ande-ande lumut.
"Bismillahirrohmanirrohim, jadi sebelum saya menyampaikan maksud dan tujuan kami ke rumah kamu Banyu. Saya mengucapkan terima kasih atas sambutan dan jamuannya."
Papa hanya tersenyum sebagai tanggapan.
Ayah kemudian kembali melanjutkan, "langsung saja saya menyampaikan tujuan kami tanpa perlu basa-basi. Jadi, Banyu, Mala, dan terutama Anindya," ada jeda saat ayah menyebut nama gue. Dan mendengar nama gue di sebut membuat kepala ini yang tadinya menunduk terangkat otomatis dan menatap ayah yang juga menatap gue. "Banyu, Mala, Anindya, maksud kedangan keluarga kami ke kediaman kalian adalah baik, hendak menyambung tali silatuhrami dan..."
Entah kenapa gue deg-degan di buatnya.
"Dan hendak meminang putri kamu Banyu dan Mala yakni AnindyaΒ untuk menjadi pendamping anak kami, Aqil Rizki Dhiaurrahman."
Gue merasa seperti ada badai lokal di hati dan pikiran. Perasaan gelisah itu, apa karena ini. Ini maksudnya apa? Apa gue dijodohin? Tapi kenapa enggak ada yang bilang ke gue?!
Apa gue tadi itu dilamar?
"Iya, Ma, Pa. Kedatangan Aqil ke mari bersama ayah, bunda, dan adik-adik adalah untuk meminang anak Mama Dan Papa yaitu Anindya untuk menjadi Istri saya."
Kelar sudah. Gue enggak ngerti bagaimana hendak mengekspresikan emosi gue. Hati gue, kacau.
__ADS_1