Istri Atau Sarjana

Istri Atau Sarjana
Apa Penolakan Anin Diterima?


__ADS_3

^^^𝓣𝓾𝓳𝓾𝓱^^^


^^^𝓐𝓹𝓪 𝓟𝓮𝓷𝓸𝓵𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓐𝓷𝓲𝓷 𝓓𝓲𝓽𝓮𝓻𝓲𝓶𝓪?^^^


Sepertinya, lantai keramik menjadi lebih menarik untuk gue amati ketimbang hal lainnya. Gue masih seolah berada di dunia lain. Dan yang kalian disini hanya raga, sebab jiwa nya sedang terperangkap.


Lamaran tadi sukses membungkam gue. Bahkan saat mama bertanya apakah gue menerima lamaran itu gue tetap diam hingga mama terpaksa menyeret gue ke kamar beliau.


Diam dan menunduk menjadi pilihan untuk di lakukan. Mama pun memilih untuk diam padahal tadi beliau yang meminta berbicara berdua di kamar. Tapi setibanya di kamar justru keheningan melingkupi kami.


Sebuah genggaman hangat merambati tangan gue di susul mama yang memanggil.


"Nin...."


Gue masih diam dan berharap mama mengerti bahwa itu tandanya harus ada penjelasan atas semua yang terjadi malam ini."Maaf kalau mama sama papa tidak membicarakannya terlebih dahulu sama Anin."


Benar, hal yang membuat aku paling marah lebih tepatnya sangat kecewa adalah kebungkaman mama dan papa seolah bagaimana pendapat seorang Anin--anak mereka itu tidak penting. Di sini gue merasa bahwa gue yang hidup ini cuma sebagai pajangan, karena apa? Ada mama dan papa yang menggerakan semua yang dilakukan seorang Anin di dunia.


"Sebenarnya, dari awal Anin kuliah mama, papa, ayah, sama bunda sudah merencanakan untuk menikahkan kamu dengan Aqil. Hanya saja karena satu dan lain hal bunda Aqil mengusulkan agar pernikahan kalian tunggu dua atau tiga tahun." Mama membimbing wajah gue agar bisa bertatapan dengan beliau.


Nampak dengan jelas raut wajah bersalah mama. Namun, gue pun dapat melihat arti lain dari tatapan beliau. "Anin percaya 'kan? Bahwa apa yang mama dan papa lakukan ini, semata-mata untuk kebaikan Anin?"


Gue merenung. Untuk kebaikan gue ,ya? Apa benar? Tetapi kenapa gue selalu merasa bahwa semua itu adalah untuk mengabulkan keinginan kedua orang tua semata. Andai mereka tahu bahwa apa yang selama hidup seorang Anin ini rasakan adalah sebuah rasa tertekan dan tak pernah merasa memiliki kehidupannya sendiri. Ubarat mobil, padahal ini tuh mobil gue tapi yang mengendarai dan menentukan ke mana mobil ini menuju adalah mereka. Mereka yang menentukan ke mana mobil yang gue kendarai berbelok. Apa sekali saja, mereke mau mengizinkan gue setidak berbelok ke arah yang gue inginkan?


"Anin mau ya menerima lamaran Aqil?" Mama menatap dengan penuh sorot permohonan.

__ADS_1


Mama memang meminta, tapi yang datang menghampiri gue adalah seperti bentuk sebuah perintah yang harus gue penuhi.


Gue mencoba menabahkan hati, menahan diri agar tidak meneteskan air mata walau hati ini terasa sangat sakit.


"Ma, kalau seandainya Anin menolak. Apa penolakan Anin diterima?" Gue menyiapkan diri untuk mendapatkan sanggahan ataupun penolakan dari mama. Sebab ini bukan pertama kali terjadi mama berkedok meminta padahal yang sebenarnya adalah perintah. Wajib untuk anaknya lakukan. Dan lagipula, saat kami anak-anaknya menolak pasti akan meninggalkan rasa bersalah yang amat besar dalam diri kami.


Genngaman tangan mama makin menguat pada tangan ini. Mama mengelusnya pelan, "Anin, kamu tahu? Mama dan papa selalu mengusahakan yang terbaik buat kamu dan Abang kamu?"


"Aqil laki-laki yang baik, Nak. Sopan dan hormat kepada orang tua, tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai muslim baik itu yang sunnah maupun yang wajib. Dia juga pastinya akan sangat bertanggung jawab terhadap rumah tangga kalian. Kalau masalah mapan atau tidaknya, mama rasa pekerjaan Aqil saat ini sudah mampu untuk menafkahi kamu ke depannya."


Gue menggigit bibir dengan rasa gelisah yang menyelimuti hati. "Tapi Anin masih sekolah, Ma. Mama dan papa sendiri yang ke Anin kalau harus lulus sekolah dulu baru bebas ngapa-ngaain termasuk nikah. Terus sekarang apa maksudnya?"


Terdengar helaan napas mama. "Mama dan papa sudah memikirkan ini, Nak. Kamu masih bisa bersekolah sampai tamat sarjana meskipun berstatus sebagai istri. Aqil dan orang tuanya pun setuju. Kamu kamu ya, Nak?"


Demi Allah, gue bingung. Mau nolak tapi sungguh, melihat mama dan papa sedih dan kecewa adalah hal yang tidak gue inginkan. Akan tetapi, ini bukan masalah sepele. Masalah pernikahan yang akan di jalani seumur hidup. Gue enggak mau ada perceraian. Sebab meski Allah memperbolehkan adanya sebuah perceraian tapi sungguh Dia amat membencinya. Tidak boleh salah langkah dalam mencetukan keputusan atas perjodohan ini. Ya Allah, diri ini harus apa?


"Anin?" Panggil mama lirih.


Ya Allah, rasanya enggak tega buat nolak. Tapi, "Bismillahirrohmanirrohim." Napas gue rasanya seperti tercekat di tenggorokan. "Iya ma. InsyaAllah Anin menerimanya." Sudah. Semoga keputusan gue bukan keputusan yang salah.


Melihat senyum dibibir mama sedikit mengurangi rasa sedih gue atas perjodohan ini. Enggak pa-pa, restu orang tua adalah segalanya.


"Kalau begitu kita ke depan, ya? Mereka pasti sudah menunggu dari tadi."


Mama menganggandeng gue kembali ke tempat di mama papa beserta yang lainnya menunggu. Bukannya gugup seperti yang biasa di rasakan wanita yang sedang di lamar, gue justru enggak bisa menelisik apa yang sekarang hati ini rasakan. Hamba pasrah Ya Allah.

__ADS_1


Bismillahitawakaltu.


Bunda memasang ekspresi harap-harap cemas saat gue duduk kembali di tengah-tengah mama dan papa. Sebisa mungkin gue memberikan sebuah senyuman pada mereka semua. Sebuah senyuman yang berhasil menyentil sisi sensitif dari hati dan mengundangnya untuk meneteskan air mata. Tapi gue harus tahan. Gue harus tabah. Dan yang pasti harus ikhlas. Percayakan semua pada Allah. Sedikitpun gue enggak pernah menginginkan hal ini terjadi menimpa. Akan tetapi, apa yang kita inginkan itu bisa jadi tidak baik untuk kita. Justru sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan justru yang terbaik untuk kita. Dan gue mencoba berpegang pada itu.


"Bagaimana?" Ayah kembali angkat bicara setelah keheningan yang terjadi.


"Nin?" Mama menyentuh pengan gue pelan. Saat gue menatap, mama memberi isyarat bahwa sudah saatnya gue memberi jawaban. Entah kenapa, godaan untuk memberikan jawaban berbeda dari yang di dengar mama di kamar tadi sangat besar.


"Apa Anin menerima lamaran dari anak Ayah?" Kembali ayah bertanya.


Cukup tarik napas Anin, lalu utarakan jawabannya. "Bismillah. InsyaAllah Anin menerimanya." Ya Allah, kenapa rasanya sedih banget. Sakit hati ini. Kalau bukan ada mereka, gue sudah pasti menangis memerau-raung. Sesak ini, bagaimana cara untuk mengatasinya?


"Alhamdulillah!"


Semua mengucap syukur, nampak sangat bahagia. Apa mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan anak-anak mereka?


Gue melirik kak Aqil lewat ekor mata yang nampak biasa saja. Apa boleh gue menyimpulkan, bahwa kak Aqil pun sebenarnya tidak menyetujui hal ini?


Bila demikian, rumah tangga seperti apa yang kami tempati nantinya.


Tangisan Alisya mengalihkan euforia para orangtua dari keberhasilan lamaran mereka. Syukurlah ada ponakan gue itu, setidaknya ada dia yang mewakili gue untuk menangis.


...***...


Bersambung,,

__ADS_1


__ADS_2