Istri Atau Sarjana

Istri Atau Sarjana
Ayah, Bunda?


__ADS_3

^^^𝓛𝓲𝓢π“ͺ^^^


^^^𝓐𝔂π“ͺ𝓱 𝓑𝓾𝓷𝓭π“ͺ? ^^^


Seminggu sudah gue menjalani peran sebagai pembokat alias kacung alias asisten rumah tangga dengan catatan tanpa di gaji. Jangan lupa tanpa di gajinya di beri bold dan di italic.


Dan itu artinya sudah seminggu Kak Aqil nginap di rumah. Gue enggak tahu ini namanya nginap atau menetap. Auh ah.


Tadi usai ngepel gue dapat pesan dari teman yang ada di UKM Pers dan Jusnalis katanya mau ngadain rapat buat rekrutan member baru UKM Pers dan Jurnalis. Dan sebagai pemegang devisi editor gue memaksakan diri hadir gue kabur dari mama. Mumet gue seminggu ini sama ocehan mama. Heran gue papa betah amat sama mama. Dan gara-gara itu, gue jadi berdoa sama Allah.


Ya Allah, bisa suatu hari hambah sudah menjadi ibu, mohon jangan buat hambah se-cerewet mama. Kasihan anak-anak hamba. Aamiin.


"Ma, Anin berangkat dulu ya," pamit gue yang sudah menggunakan helm.


"Kamu nginap nanti?" Tanya mama.


Gue mengangguk antusias.


"Ya sudah, tapi kamu berangkatnya bareng Aqil aja pake mobil. Kebetulan dia mau ke kota."


Etdah mama. "Aku sendiri aja deh ma pake motor. Lagian kan aku pasti bakalan pake motor nanti. Kalau aku bareng Kak Aqil, nanti siapa yang anterin aku ke kampus?" Mau naik ojek aku ogah!


"Aqil ada motor, matic juga kok. Udah kamu sama dia aja, jangan ngebantah Nin."


Dengan rasa kesal yang sulit gue tutup, gue melepas helm dan meletakkannya kembali ke belakang dekat dapur.


"Tuh Aqil sudah nunggu di depan." mama membawa gue ke teras dan menunjuk Aqil yang mengendari mobil papa yang satunya yang dulu punya abang Nizam--abang gue. Anak sulung nyonya Patrakomala.


"Anin pergi dulu."


Gue udah enggak suka naik mobil makin enggak suka karena sopirnya Aqil. Aqil itu pendiam, ngomong seperlunya. Gue juga orang yang enggak tahu cara berintraksi dengan lawan jenis jadi cenderung pendiam kalau sama lawan jenis. Dan suasana mobil jadi sepi kayak kuburan. Gue yakin ini akan jadi perjalan satu jam yang sangat beku dan melelahkan.


Selama perjalanan gue memilih untuk memejamkan mata hingga akhirnya gue jatuh tertidur. Goyangan di lengan membangunkan gue dari tidur yang indah. Eng, rasa pusing langsung gue rasakan ketika membuka mata. Karena inilah gue enggak suka naik mobil sebab gue itu punya penyakit mabuk perjalanan. Dulu, di saat gue udah bisa bawa motor kemana-mana gue memilih mengendarai motor dari pada ikut mama sama papa naik mobil. Atau enggak gue milih diam di rumah dari pada ikut mama sama papa.


"Udah nyampe, ayo turun." Kak Aqil turun duluan usai berhasil membangunkan gue.


Kesadaran belum kembali sepenuhnya. Mengerjabkan berulang kali gue lakukan hingga gue sadar kalau saat ini di depan gue berdiri rumah yang gedenya pake banget. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, gue di buat terkesima sama luasnya halaman. Tapi, ini di mana? Masa ini rumah di sup kikil alias Aqil?


Jendela mobil ada yang mengetuk dari sisi tempat gue duduk. Rupanya kak Aqil, mungkin dia nunggu gue keluar. Dengan tas selempang di bahu dan tas kecil berisi peralatan mandi dan skin care, gue membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Ayok masuk ke dalam, ayan dan bunda sudah menunggu," Kak Aqil kemudian berjalan mendahui gue. Dengan menglangkah cepat gue mengikuti Kak Aqil.


"Assalamu'alikum."


Gue ikut mengucapkan salam usai kak Aqil. Lelaki itu membawa gue ke ruang tamu kayaknya. Terus di sana duduk sosok yang gue duga emak dan bapaknya kak Aqil.


Kak Aqil menyalami emak dan bapaknya yang gue ikuti. Ingat gaes, sopan santun.


"Ini pasti Anin?" Tebak emaknya kak Aqil.


"Iya, Tante."


Emaknya kak Aqil menepuk ruang kosong di sebelahnya. "Sini duduk samping bunda."


Bunda? Lah masa gue sok kenal sok dekat gitu manggilnya bunda sih. Tapi tak urung gue mendekat dan duduk di sampingnya. Sedangkan kak Aqil tadi pamit mau ke kamar.


"Wah, Anin sudah besar ya. Bunda dengar kamu kuliah di sini, kok enggak pernah mampir ke rumah?" Emaknya Kak Aqil mengelus punggung gue.


Ya masa saya kecil terus sih tante. Kan enggak mungkin! Makanya saya tumbuh besar. Lagian, gimana caranya gue mau mampir ke sini coba? Orang gue baru ketemu sama beliau.


"Iya tante, saya kuliah di sini."


Bunda, ekhem. Bunda menanyakan banyak hal sama gue. Gue kuliah ambil jurusan apa? Tinggal di mana? IPK berapa? Gue udah punya pacar apa belum.


"Bun, Rahma nangis ini." Untung Kak Aqil datang menginterupsi pertanyaan bunda yang seperti petugad kepolisian menanyakan seorang pelaku kejahatan.


Eh, tapi ada balita dalam gendongan kak Aqil? Anak siapa? Anak kak Aqil kah?


"Anak bunda kenapa nangis, hm?"


Lah? Balita itu anak bunda? Adik kak Aqil, serius? Bunda ngelahirin di umur berapa sih?


"Rahma anak Bunda?" Ini mulut enggak bisa nahan buat eggak bertanya.


Bunda malah tertawa. "Iyah, Nin. Rahma ini enggak sengaja ada sih," lalu bunda tertawa setelahnya sambil menyusui Rahma.


Gue tercengang. Masalahnya, gue yakin bunda ini umurnya sudah di atas 40. Dan melahirkan di usia segitu banyak resiko nya. "Bunda lahirannya caesar?"


"Iyah, soalnya hamil di umur bunda itu sangat beresiko. Untung Rahma dan bunda bisa selamat." Bunda mengancing kembali bajunya karena Rahma sudah berhenti menangis dan sekarang malah mengulur-ulurkan tangannya pada gue.

__ADS_1


"Kayaknya dia mau sama kamu deh, Nin." Bunda memberikan Rahma ke dalam gendongan gue. Kesan pertama; berat. Rahma ini berat karena tubuhnya yang gembul.


"Assalamu'alaikum, Rahma. Duh pipinya gembil. Rahma umurnya berapa sih?"


"Aku umurnya setahun tujuh bulan kakak," jawab Bunda.


Duh, pantes berat. Rahma menepuk-nepuk pipi gue aga keras. Sakit sih ini. Tapi ya udahlah. Gue main dengan Rahma beberapa saat. Gue melihat jam. Kayaknya gue harus pergi soalnya rapatnya bakalan di mulai sebentar lagi. Kayaknya gue terpaksa naik ojeg atau enggak suruh jemput teman-teman cewek di UKM.


"Rahma ke Bunda ya, kakak soalnya harus pergi." Gue menyerahkan Rahma kembali ke gendongan Bunda.


"Anin mau ke mana? Nginap di sini aja,"


"Itu Bun, Anin mau ke kampus sebentar."


"Tapi nanti nginapnya di sini aja, ya?"


Mau enggak mau gue mengiyakan karena bunda terus-menerus mendesak. "Terus Anin ke kampus sama siapa? Biar Aqil antar, ya?"


Gue menggeleng. Belum gue menjawab, Kak Aqil sudah membuka suara.


"Anin pake motor Kiana, Bun. Tadi motornya sudah Aqil keluarin dari garasi."


Bunda mangut. Gue pamit sama, ekhem. Sama Ayah dan juga Bunda. Bunda mengantar gue ke depan dan benar sudah ada motor matic pink di sana. Lah, pink?


"STNK aja dalam bagasi. Kamu ada SIM 'kan?" Tanya kak Aqil saat gue memasang helm.


"Ada kok."


"Terus itu tas di dapan apa?" Kak Aqil menanyakan seputas tas yang berisi peralatan mandi dan skin care gue.


"Ini ...."


"Siniin aja tas itu, kamu juga bakalan nginap di sini 'kan? jadi enggak usah di bawa ke mana-mana itu."


Dengan terpaksa gue memberikan tas pada Kak Aqil. Semoga dia enggak macan-macam buka-buja tas gue. Bahaya! Ada roti jepang soalnya.


"Kalau gitu Anin pergi dulu. Bunda, Anin pergi dulu. Assalamu'alaikum."


"Hati-hati, Nin!"

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


__ADS_2