Istri Atau Sarjana

Istri Atau Sarjana
Hah? Siapa yang Nikah?


__ADS_3

^^^𝓓𝓾π“ͺ^^^


^^^𝓗π“ͺ𝓱! 𝓼𝓲π“ͺ𝓹π“ͺ 𝔂π“ͺ𝓷𝓰 𝓷𝓲𝓴π“ͺ𝓱?!^^^


Pintu pagar terbuka membuat gue menghembuskan napas lega. Akhirnya cuy. Tanpa menunggu lama lagi, motor gue pacu hingga berhenti dan terparkir dengan nyaman di garasi. Merenggangkan sedikit badan yang pegal-pegal usai menempuh perjalanan hampir satu jam dengan sepeda motor. Eh iya, sekarang gue ada di rumah. Rumah orang tua. Kebetulan libur semester sudah tiba dan saatnya kami para anak rantau terbang kembali ke sarang untuk mencecapi hangatnya rumah yang sesungguhnya. Sebab, kami para anak rantau merasa menggigil saat berada sendiri di kos. Rindu dengan keluarga pasti. Apalagi ocehan emak yang sebelas dua belas sama suara senapan pas perang dunia ke dua.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Seperti biasa pas kaki baru masuk ke dalam rumah gue harus mengucapkan salam kalau enggak mau di berikan salam lima jari sama nyonya besar. Eh, kok sepi sih. Mama kemana sih? Kalau papa sih gue ngerti mungkin doi lagi kerja. Tapi nyonya besar yang singgah sananya ada di rumah tumben jam segini enggak ada? Apa mama pergi hangout lagi ke mall bareng tetangga sebelah. Atau enggak pergi nonton 'dua garis abu-abu tanda pesan mu tak penting'?


Suara tas yang gue seret menggema di rumah yang sepi seperti hati ini. "Mama?! Maaaaa! Mama di mana sih? Mama?!"


Astaga! Enggak ada orang apa di rumah. Tapi kok pintu enggak di kunci. Mentang-mentang juragan tanah jadi seenaknya aja kasih jalan masuk maling ke dalam rumah. Gue enggak menemukan tanda-tanda adanya mama, upilnya aja gue enggak ada lihat. Ah sudahlah, lebih baik gue ke kamar mau mandi terus tidur. Yey!


Tas kembali gue seret menaiki satu persatu anak tangga. Tujuannya? Ke kota cinta dong! Enggak ding, tujuannya ke kamar gue yang ada di lantai atas. Dulu gue sempat merengek untuk pindah kamar aja di lantai bawah, terus kalian mau tahu jawaban mama? Doi ngomomong gini, 'udah kamu di atas aja napa. Itung-itung olahraga naik turun tangga!' Ah ya sudahlah pemirsa saya sebagai ajudan bisa apa selain mematuhi perintah atasan.


Kamar gue enggak ada yang berubah. Ranjang masih di tempat yang sama seperti dia di hati tetap menempati tempat yang sama. Terus lemari juga masih ada di sana deketan sama meja belajar dan rak buku. Dan yang penting, kamar ini bebas dari debu dan tungau.


"I miss you!" jerit gue ketika merebahkan diri di atas kasur. Duh, gue berjanji wahai kasurku. Selama sebulan lebih ini gue tak akan meninggalkanmu lama-lama. Gue akan menebus rindu kita selama ini dengan mengahabiskan waktu lebih lama denganmu. Oh! Betapa gue merindukan tidur siang dari jam satu sampai menjelang magrib denganmu wahai kasur, lalu gue berakhir di ceramahi nyonya karena hampir melewatkan sholat azhar. Duh, kok mata gue rasanya berat ya. Yah ya kok gelap sih. Habis itu gue enggak tahu apa-apa lagi.


***


Indahnya bulan tak seindah wajahmu manis madu tak semanis senyummu. Aduhai, indahnya suasana saat ini. Duduk di ayunan yang menghadap ke pantai dan menyaksikan bagaimana sang surya di telan kegelapan. Dan di tambah. Uhuy. Di tambah kekasih hati yang mendorong ayunan di belakang dengan penuh cinta dan kasih sayang. Arrhgg! Nikmat tuhan mana kagi yang kau dustakan wahai manusia?


Eh eh! Tapi kok makin lama pujaan hati gue dorong ayunannya penuh kekuatan untuk mendapatkan istri baru 'ya? Maksudnya kesannya pengen buat gue jatuh terus syukur-syukur koma hingga dia bisa cari istri baru. Wah! Enggak bisa di biarin! Eh tapi, argghh! Gue jatuh.


"Anin! Bangun! Aninn!!" Gue mengerjabkan mata bingung. Perasaan tadi gue jatuh deh dari ayunan, tapi kenapa sekarang gue ada di dalam kamar gue yang di rumah mama 'ya?

__ADS_1


"Nah udah bangun ternyata! Baru nyampe bukannya temui mama malah langsung tidur? Udah lupa kalau kamu punya mama? Hah?" Duh mama aku baru bangun tidur sudah di sambut khutbah jum'at. Mana ini kepala nyut-nyutan lagi.


Gue mencoba untuk mendapatkan posisi duduk di atas kasur. "Ih, aku teriak-teriak tadi pas nyampe kayak di hutan. Tapi mama gak kelihatan batang hidunnya-aduh!"


"Kamu ejekin mama pesek, hah?!"


Gue melongo menatap mama. Aelah! Emang ada ya gue katain mama pesek padahal 'kan emang bener pesek. Kalau gue katain mama mancung kayak selena gimes baru mama marah, kan gue jatuhnya fitnah.


"Astagfirullah Mama! Dear nyonya Patrakomala, anakmu ini enggak ada niat mau katain Mama ih. Seudzon. Sekarang aku tanya, mama tadi kemana? Kok aku panggil-panggil enggak ada satupun yang nyahut. Mana rumah enggak di kunci lagi."


Mama nampak kaget. "Eh masa sih? Perasaan rumah mama kunci deh pas ke kondangan tadi."


"Mana ada, rumah kebuka. Gerbang juga enggak ke kunci. Btw, mama ke kondangannya siapa?"


"Mama ke kondangannya mama."


"Eh maksud mama kondangan anaknya teman mama," ralat mama membuat gue bersyukur kehadirat Tuhan Yang maha Esa dan dengan di dorongkan oleh keinginan jomblo. Etdah, kenapa malah jadi pembukaan.


"Lagian bi Komar kemana sih ma?" Bi komar itu asisten rumah tangganya mama. Kerjaan bi komar itu nyapu, ngepel, cuci piring, setrika, dan yang terpenting memberikan gue kasih dan sayang yang tak terhingga sepanjang masa.


"Bi Komar balik ke kampung, anaknya mau nikah."


"Ya ampun Mama! Dan Mama enggak kunci pintu padahal bi Komar gak ada!?" jerit gue tertahan. Untung gue yang nyelonong masuk rumah, coba kalau maling? Siap-siap udah gue makan pake garam tiap hari.


"Namanya juga lupa. Untung enggak ada maling." Mama yang dari tadi berdiri mengambil posisi duduk di sebelah gue. Pasti capek nih emak-emak berdiri. "Kamu kapan nyampenya?"

__ADS_1


"Jam sepuluhan tadi."


"Tunggu deh!" Mama tiba-tiba menangkup kedua wajah gue dengan tangannya. "Ini kenapa kamu kurus banget Anin?! Mana pipi tembemmu yang susah payah mama ciptakan itu? Kamu makan enggak sih di sana. Mata juga udah pada cekung! Astaga Anin! Kamu kayak bukan anak mama!"


Gue melepaskan paksa tangan mama yang menangkup pipi gue. "Ya anak mama lah! Masa anak tetangga! Anak tetangga kan namanya Kak Aris. Gimana sih."


"Iya sih! Tapi kamu makan apa sih di sana, Nak, kenapa bisa jadi sekurus ini?"


Gue cuma mengangkat bahu tanda tak tahu. Meskipun tindakan itu sedikit tidak sopan. Untung emak enggak marah. Apa yang mama bilang emamg bener. Dan gue sadar sesadar sadarnya kalau berat badan gue itu menurun drastis. Dulu tuh berat bada gue 47 kg terus pas kemaren waktu jengukin teman yang lagi sakit gue iseng timbang berat badan. Syok gue waktu itu, gila aja dari 45 kg turun ke 40 kg. Padahal gue makan banyak kok meskipun itu karena gue enggak makan selama tiga hari. Gak percaya gue bisa bertahan gak makan tiga hari? Terserah. Malahan gue tahan enggak makan seminggu.


Gimana ya, makan sendiri itu enggak enak. Tahu sendiri anak kost itu gimana. Makan sendiri. Tidur sendiri. Cuci baju sendiri. Apa apa sendiri. Gue yang udah jomblo ngerasa jadi jomblo ngenes jadinya. Bahkan saat gue sakitpun apa-apa gue lakukan sendiri di kost. Mungkin kalau mati gue bisa kafanin diri sendiri. Ngaco ih.


Mama menghela napas dan mengelus kepala gue yang masih terbungkus hijab. "Ya sudah, nanti makan banyak ya. Sedih tuh Mama lihat kamu kayak anak kurang gizi gini."


Gue memeluk mama dari samping. Hangat dan nyaman. As always like that. "Enggak enak makan sendiri Ma di kost. Apalagi aku sering kangen makan masakan mama." Emang bener kok. Masakan mama itu sekalipun suka keasinan atau kemanisan tetap aja menurut gue itu makanan terenak. Sebab di buat dengan penuh cinta dan kasih.


"Kasihannya anak Mama. Mama tadi ada beli cumi, nanti mama buatin tumis cumi."


Air liur gue rasanya mau menetes ke lantai mendengar tumis cumi. My baby sweety. Gue menggangguk cepat membalas tawaran mama.


"Ya udah lepasin dulu ini kekepannya. Mama mau ganti baju terus masak."


Tanpa menunggu dua kali perintah gue langsung melepaskan pelukan. "Yang pedes ya Mama ku sayang."


Mama mencubit pipi gue yang tingkat ke-chubby-an nya berkurang. "Iyah. Duh bakpao mama hilang. Pokoknya selama di sini bakao kamu harus kembali."

__ADS_1


"Siyap delapan enam!"


__ADS_2