
^^^𝓔𝓶𝓹𝓪𝓽^^^
^^^𝓢𝓮𝓻𝓫𝓪 𝓢𝓪𝓵𝓪𝓱 𝓨𝓪𝓷𝓰 𝓢𝓪𝓭𝓲𝓼^^^
Nin ambilin brokoli di kulkas.
Anin, ambilin garam.
Anin, aduk ini bentar.
Anin, susunin piring.
Anin, air udah kamu siapin.
Anin.
Anin.
Anin.
Dan Anin.
Aduh gue kliyengan, apa-apa Anin. Dikit-dikit Anin. Bahkan buat ambil garam yang ada di depan hidungnya pun mama minta tolong gue. Mau ngebantah juga yang ada malah nyari ribut, kan malu sama tamu.
Gue bantuin mama masak dari habis sholat magrib sampai sekarang sudah menjelang isya. Ada beberapa menu seperti perdekel jagung, terus ada ayam goreng, sambal tomat, sayur asem, sama tadi mama juga sempat buat jus. Terus ada juga tumis tempe yang dicampur sama jeroan dan juga kacang tanah yang gue beli tadi sore.
Kalau ditanya capek apa enggak, ya pasti capek lah. Meskipun gue cuma bergerak di dapur tapi itu tuh sama aja kayak keliling lapangan sepak bola sebanyak sepuluh putaran. Anin ambil ini, belum gue kasih ke mama suda disuruh ambil yang lain. Ambyar kewarasan gue. Pengen nangis aja rasanya. Ya gini kalau ada tamu, pasti gue yang jadi tumbal. Gue yang bakal kerja rodi.
Meja makan gue tatap penuh kepuasan. Semuanya sudah tertata dengan apik, semua menu sudah duduk dengan nyaman di posisi masing-masing dan siap untuk diserbu. Duh, papa sama kak Aqil barusan masih di masjid dari magrib dan nyambung ke isya. Kebiasaan papa yang katanya malas bolak balik sebab jangka waktu dari magrib ke isya itu deket mengalahkan deketnya gue dengan jodoh yang belum gue ketahui siapa itu.
Suara adzan tanda waktu sholat isya mulai menggema. Gue mengucap syukur sebab masih di kasih umur panjang sama Allah hingga sampai sekarang masih bisa mendengar suara adzan dan insyaAllah memenuhi panggilan Allah di waktu Isya.
Di rumah ada ruangan khusus buat sholat yang juga ada tempat wudhunya, cuma kekurangannya papa buat tempat wudhunya cuma satu jadi cewek dan cowok jadinya harus wudhu di situ. Waktu enggak ada orang lain sih ya oke-oke aja wudhu si situ. Tapi kalau ada orang lain gue terpaksa wudhu di kamar mandi dan sholat di kamar.
Bentar ya gue mau ambil wudhu dulu terus sholat. Kalian-kalian jangan lupa sholat ya karena sholat itu tiang agama. Jadi harus di tegakkan.
Selesai sholat isya dalam kamar yang tentunya sekarang gue menempati kamar tamu, gue mengambil Al-Qur'an dan membacanya. Larut dalam bacaan sampai terdengar suara papa yang mengobrol dengan teman sekompleknya di depan. Maklumlah, kamar tamu kan ada di depan dekat sama ruang tamu jadi gue bisa dengar suara bising di luar.
Gue menuntaskan bacaan gue yang dikit lagi sampe akhir lembar, setelah itu menutupnya. Duh adem rasanya hati ini usai membaca Al-Qur'an. Gue pernah baca di Ig kalau kita baca Al-Qur'an rutin tiap pagi dan malam maka dapat meningkatkan kecerdasan otak. Tapi baca Al-qur'an jangan diniatkan untuk meningkatkan kecerdasan otak 'ya? Diniatkan untuk beribadah kepada Allah, kalau dapat kecerdasan itu adalah bonus.
Usai merapikan hijab dan memastikan enggak ada satupun rambut yang mencuat, gue keluar menghadap nyonya yang sudah memanggil-manggil dari tadi. Penting loh ya untuk memperhatikan rambut kita yang keluar, jangan sampai ada sehelaipun yang diperlihatkan pada yang bukan mahram secara sengaja. Sebab sehelai rambut akan berbalaskan siksaan mengerikan di neraka.
"Panggil papa sama Aqil suru makan," pintah mama yang langsung gue turuti. Coba aja gue mangkir, talenan yang melayang ke kepala cantik gue. Serem pokonya.
Papa baru keluar dari kamar dengan pakaian santai. "Pa, makan. Udah kelar dari tadi makanannya."
Papa mengangguk. "Panggilin Aqil di atas."
Gue mengangguk menuruti perintah papa.
Tangan gua melayang di udara tadinya sih hendak mengetuk pintu hati tapi gak hati siapa. Jadi pintu ajalah yang gue ketuk. Namun, belum sempat gue ketuk penghuni kamar udah keluar baju kaos abu-abu dan celana selutut.
Mesti nyebut berkali-kali.
__ADS_1
Astagfirullah 33x
Gue bukannya lebai ya tapi Aqil ini tuh cakep nya MasyaAllah bukan Subhanallah. Natap di laki kelamaan bisa bikin zina mata dan pikiran.
"Kenapa?" Tanya Aqil.
Gue mundur selangkah. "Kakak ditunggu papa di meja makan."
"Ya sudah saya ke sana. Kamu tidak ikut turun?" Kak Aqil nampak menutup kamar.
Ya Allah padahal seharusnya hambalah yang menutup kamar ini tetapi posisi hamba sudah tergantikan dengan orang lain. Tabahkan hati ini menerima semuanya ya Allah.
"Turun kok, Kak. Tapi silahkan kakak duluan."
Kak Aqil mengangkat bahunya acuh setelah memperhatikan gue beberapa saat. Entah apa yang ada dalam pemikiran dia.
Di meja makan nampak papa sudah duduk di singgasananya di dampingi mama sebagai penasehat yang duduk di kursi sebelah kanan yang berseberangan. Gue mengambil posisi duduk di dekat papa tapi perkataan mama memaksa gue pindah. Coba tebak apa kata mama.
"Nin, kamu jangan di situ. Biar Aqil yang di situ."
Lagi, saat gue mau ke kursi di sebelah mama, si nyonya besar kembali menyelah. "Kamu jangan duduk di sini Anin. Duduk di samping Aqil sana."
Sabarkanlah hambah ya Allah. Perkara duduk aja gue belum dapat posisi benar. Raisa ini mah jadinya, serba salah.
Tadinya gue kira pas udah duduk gue udah bisa bernapas lega. Sayang banget. Malang nian nasib gue hari pertama di rumah.
Anin, itu nasinya Aqil kamu taro.
Lauknya juga Anin.
Dan berbagai perintah mama lainnya. Ini benar-benar Afgan, sadis.
Gue jadi bertanya, Aqil ini siapa sih sebenarnya! Iya anaknya teman papa. Oke mungkin mama ingin menjamu tamu dengan sangat baik. Tapi kenapa harus menjadikan gue anak tiri sih. Sedih jadinya. Di saat semua udah menyantap makanan gue baru isi piring dengan nasi. Di saat makanan baru masuk dua sendok, udah ada perintah lain lagi dan semua itu sukses membuat napsu makan gue hilang. Dengan tetap mempertahankan senyum gue kembali melayani Aqil di meja makan yang minta tambahan nasi. Di mana-mana tamu itu malu buat nambah. Lah nih orang? Ah sudahlah. Mau protes juga cuma kalian yang bisa baca. Mereka enggak bisa.
Alhasil saat semua sudah selesai makan gue terpaksa ikut selesai. Untung tadi gue cuma taro nasi dikit itupun masih gue sisain. Selain kapasitas lambung gue yang terbatas, ocehan mama tadi sukses membuat gue kenyang lahir batin.
Suara air keran kini mendominasi di dapur setelah beberapa saat lalu di dominasi sama suara piring yang beradu dengan sendok dan sesekali di selingi ocehan mama. Papa sama Aqil lagi di ruang keluarga, sedangkan mama ada noh di belakang gue lagi nyiapin buah yang di potong.
"Nin," panggilan mama membuat perasaan gue enggak enak.
Gue berbalik dan tersenyum. "Kenapa, Ma?"
"Itu, bantal yang di kamar tamu sudah kamu ganti sarungnya?"
"Udah."
"Kamu tuker sama bantal busuk kamu itu ya, enggak enak sama Aqil pake bantal busuk kamu buat tidur."
Harus banget ya di namai bantal busuk bantal kesayangan gue itu. Tapi udahlah untung mama bilang buat tukar karena yang ada nanti malam gue susah tidur tanpa bantal itu.
Tangan udah kering setelah tadi gue elap sama kain lap yang memang di khususkan buat lap tangan setelah selesai cuci piring yang mama gantung di atas keras wastafel.
"Jadi gimana, Qil? Udah fix belum sama tanah yang di samping gudang Om itu?" Itu suara papa.
__ADS_1
Kali ini suara Aqil gue dengar. "Fix om, udah bagus buat pabrik pengolahan buat coklatnya. Harganya berapaan, Om. Dari kemaren saya tanya belum di jawab."
Pabrik pengolahan coklat? Dekat gudang padi papa? Wih, kayaknya bagus tuh. Gue bisa ambil coklat tiap hari. Gue makin memelankan langkah agar bisa menguping pembicaraan mereka.
"Kan udah Om bilang, masalah harga itu gampang. Tanah itu tanah Om sendiri, sertificat atas nama Om. Lagian kalau kamu udah ni-"
"Anin?"
Ucapan papa terpotong sama mama yang memanggil nama gue. Tau aja mama kalau gue nguping.
"Iya, ma."
"Bantal di kamar atas udah kamu ganti?"
"Ini mau Anin ganti, Ma, mau ke depan ambil bantal baru ke atas buat tukar bantalnya."
Gue berdiri bagai pembantu dengan majikan duduk santai. Sadis jilid dua karet tiga.
"Tadi baju Aqil sudah kamu susun?" tanya mama lagi. Maksud gue sih, ajak lah gue duduk dulu baru nanya. Lah ini? Gue masih berdiri dan makin memperkuat peran gue sebagai pengganti Bi Komar.
"Tadi kata kak Aqil bisa dia aja yang atur," jawab gue jujur yang mengundang derita.
"Kok jadi Aqil sih? Kan mama nyuruh kamu?" Mama lalu melihat ke arah Aqil. "Baju kamu udah kamu beresin, Qil?"
Kak Aqil menggeleng. "Belum, tan. Rencananya nanti baru Aqil beresin."
"Biar Anin aja sekalian dia tukar bantal."
"Tapi tan-" kak Aqil mencoba membantah yang langsung mama potong.
"Gak papa, kamu tamu di sini jadi harus di layani dengan baik. Iya kan, Nin?" Mama melirik gue dengan senyum sarat ancaman.
Gue menarik senyum yang gue harap sampai kemata dan kelihatan tulus. "Iya, Ma. Kalau gitu Anin ambil bantal terus ke atas buat beresin bajunya. Biar cepat kelar."
Di dalam kamar gue memukul kasur dengan kesal. Gue pengen Istirahat. Mama itu ibu kandung rasa ibu tiri. Jahad sangat.
Tiba di kamar gue yang ditempati kak Aqil, gue segera menukarkan bantal. Lalu ke arah koper yang masih berada di tempat yang sama--di depan lemari namun dalam keadaan terbuka. Ayo Anin, tugas kamu cuma tinggal beresin baju habis itu bisa nangis sepuasnya.
Iyah, habis ini gue berencana nangis sepuasnya dalam kamar. Aku lelah. Ini menjadi salah satu faktor gue malas pulang ke rumah kalau liburan. Mama akan menjelma jadi ibu tiri, baiknya di awal sama akhir doang.
Gue mulai mengatur pakaian Kak Aqil. Memisahkan mana baju dan mana celana. Tapi, tangan gue berhenti seketika dengan mata terpaku pada sesuatu. Sesuatu yang ... err. Kalian tahu apa? Iyaps, celana dalam. Benda keramat. Benda horor.
Masa ini mesti gue atur juga. Kan malu ih daleman orang gue pegang-pegang
Ya karena malu akhirnya gue memilih menyisakan dalemannya di dalam kopor. Dan gue dengan memeluk bantal busuk kalau kata mama menuruni tangga. Karena kalau menuju kamar mesti melewati mama sama papa beserta kak Aqil, mau gak mau mama pasti nanya.
"Udah, Nin?"
"Udah, Ma. Udah ya Anin mau tidur."
Tanpa menunggu jawaban, gue ngacir ke dalam kamar menutup pintu lalu menguncinya. Dan menanglah air mata gue sebab telah berhasil membasahi pipi.
Gue cengeng?
__ADS_1
Emang!