Istri Figuran Boss Mafia

Istri Figuran Boss Mafia
Awal penyiksaan


__ADS_3

Zoya duduk di tepi ranjang, dengan rambut nya yang masih sedikit basah. Pikiran nya kosong sambil menatap ke arah sudut kamar tersebut. Terlihat banyak kelopak bunga yang bertaburan di lantai ; kelopak bunga yang seharusnya menjadi kesan romantis di malam pertama itu, malah menjadi butir-butir saksi awal penyiksaan yang akan terjadi terhadap nya.


Pintu kamar terbuka, sontak Zoya langsung melihat ke arah pintu tersebut yang menampilkan sosok lelaki yang sama sekali tidak ingin ia lihat. Lelaki itu berjalan masuk ke dalam kamar tersebut, menghampiri Zoya yang masih mematung dengan tangan yang mulai berkeringat, menahan rasa takut ketika mengingat kejadian beberapa jam lalu.


"Cepat ambil barang-barang mu, kita akan pulang ke rumah ku!" Perintah nya dengan menatap tajam ke arah Zoya.


Zoya masih terdiam di tempatnya. Kaki nya terasa begitu lemas. Varo yang begitu tidak sabaran, kembali berucap.


"Hey culun, apa kau mendadak berubah menjadi bisu?" teriak nya marah. Ia tidak suka jika ada seseorang yang berani untuk tidak mendengarkan nya.


Zoya terkesiap mendengar teriakan itu, yang membuat nya langsung terburu-buru untuk turun dari ranjang, dan mengambil koper koper nya yang berada di sudut kamar tersebut.


"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu mu!" bentak nya lagi. Zoya hanya mengangguk, lalu membawa koper koper nya tersebut untuk keluar dari kamar.


Ketika sampai di depan pintu kamar, terlihat Rhai sudah menunggu disana.


"Mari saya bantu bawakan, Nyonya!" tawar Rhai yang melihat zoya sedikit kesusahan membawa 2 koper besar nya itu. Zoya langsung melihat ke arah asal suara.


"Syukur lah masih ada orang baik disini," batin nya.


"Biarkan saja dia membawa semua itu!" ucap Varo dengan tegas.


Zoya dan Rhai sontak melihat ke arah Varo secara bersamaan.


"Tapi tuan-" Belum selesai Rhai berucap, kata-kata nya terhenti oleh ucapan Varo.


"Apa kau sudah tidak menginginkan nyawa mu lagi, Rhai?" ucap Varo dingin, yang membuat siapa saja yang mendengar nya merasa takut.


"Maaf, Tuan!" ucap Rhai yang langsung melepaskan genggaman tangan nya dari koper milik Zoya.


"5 menit kau sudah harus sampai di depan. Jika kau terlambat walau hanya 1 detik saja, akan ku pastikan kau pulang jalan kaki!" ancam Varo yang membuat Zoya sontak berjalan cepat dengan bersusah payah membawa koper koper nya tersebut.

__ADS_1


****


Sesampainya di rumah Varo, Zoya terkesiap melihat rumah yang sangat mewah bak istana di hadapan nya itu. Namun aneh nya, rumah yang begitu mewah, kenapa suasana nya terasa mencekam.


"Turun dan bawa masuk barang-barang mu!" perintah Varo. Zoya langsung mengangguk dan turun dari mobil untuk mengambil koper nya di bagasi mobil tersebut.


Kayvaro, Zoya, dan Rhai memasuki rumah tersebut. Sangat di sayangkan rumah sebesar itu benar benar tidak ada kenyamanan di dalam nya.


"Tuan Varo sudah pulang?" tanya seorang wanita paruh baya yang Zoya yakini adalah pengurus rumah ini.


"Sudah, Bi Ina." Jawab nya singkat.


Mereka bertiga melanjutkan langkah kaki nya, untuk pergi ke ruang tengah.


Ketika Varo sudah duduk di sofa tersebut, datang seorang gadis yang seperti nya seumuran dengan Zoya. Gadis tersebut berjongkok lalu ingin membukakan sepatu milik Varo. Dengan cepat Varo menggeser kan kaki nya.


"Mulai sekarang ini bukan tugas mu lagi Rani. Sekarang ini tugas dia!" ucap Varo sambil menunjuk ke arah Zoya yang masih berdiri melihat ke arah nya.


"Kenapa kau diam saja, cepat lepaskan sepatu ku!" Perintah Varo dengan sedikit berteriak.


Zoya dengan cepat melepas sepatu tersebut dari kaki lelaki yang notabene nya adalah suami nya itu.


"Bi Ina, Rani, ini adalah pekerja baru di rumah ini. Berikan pekerjaan yang berat-berat untuk nya, jangan sampai dia hanya bersantai-santai saja di rumah ini." Ucap Varo kepada dua wanita yang berdiri tak jauh dari nya.


Bukan hanya Zoya, bahkan Rhai juga terkejut mendengar ucapan Varo. Rhai tak habis pikir, Varo akan memperlakukan gadis polos yang tak bersalah itu seperti ini.


"Bahkan dia tidak mau mengakui ku sebagai istri nya. Hei ada apa dengan mu Zoya, kenapa kau bersedih," Zoya menghilang kan pikiran yang baru saja terlintas di kepala nya.


"Bi, antarkan dia ke kamar bawah!" pinta Varo kepada wanita paruh baya itu.


"Tapi tuan, bukan kah di kamar itu banyak serangga kecil nya?" tanya bi Ina dengan ragu.

__ADS_1


"Bagus jika seperti itu, aku tidak perlu bersusah payah mencari serangga lagi." Jawab nya santai.


"Ma-maaf tuan Varo, jangan tempatkan saya disana, saya takut serangga tuan." Pinta Zoya memohon dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rhai merasa kasihan kepada istri dari tuan nya itu.


"Apa aku terlihat peduli padamu?" ucap Varo dengan tenang.


"Cepat bi, antar dia kesana!" ucap Varo lagi yang mulai kesal.


"Baik, Tuan." Bi Ina mengangguk dan berjalan menghampiri Zoya.


"Mari bibi antarkan!" tawar bi Ina, Zoya hanya mengangguk sambil mengikuti bi Ina dari belakang, dengan masih membawa koper koper nya tersebut.


****


"Tolong ... tolong aku!" teriak Zoya sambil memukul-mukul pintu kamar nya yang di kunci dari luar. Berharap ada seseorang yang akan datang membantu nya.


"Tolong aku ayah, aku takut!" wajah nya sudah di penuhi oleh air mata, ia bingung harus melakukan apa. Tikus-tikus kecil sedari tadi berlarian di kamarnya, yang membuat nya ketakutan.


Tiba-tiba saja handle pintu kamar tersebut bergerak, Zoya merasa sangat senang.


"Apa kau bisa diam culun, suara mu mengganggu tidur ku!" teriak Varo ketika ia berhasil membuka pintu kamar itu. Zoya yang tadi nya hampir tenang, kini malah bertambah takut. Wajah lelaki yang kini menatap nya dengan tajam sangat tidak bersahabat. Varo terlihat begitu murka.


Dengan amarah yang telah memuncak, Varo mendorong Zoya ke dalam kamar tersebut, sampai wanita itu terjerambat di atas ranjang.


Varo mengambil rokok dan pemantik nya dari dalam saku celana nya, lalu membakar rokok tersebut.


Varo menyulutkan rokok nya ke beberapa bagian di tubuh Zoya, yang membuat Zoya berteriak kesakitan. Ntah setan apa yang merasuki nya saat ini, sehingga ia menyiksa istri nya sampai seperti itu.


"Ampun tuan, maafkan saya. Saya tidak akan mengganggu tidur anda lagi, tuan!" pinta Zoya memohon sambil menahan sakit akibat sulutan rokok yang di buat oleh suami nya itu.


"Sudah terlambat culun, malam ini kau harus habis di tangan ku!" ucap nya dingin, sambil kembali mengarahkan rokok tersebut ke tangan dan kaki Zoya.

__ADS_1


Zoya hanya bisa merintih kesakitan, menahan semua perbuatan yang di lakukan oleh suami nya itu.


Sedangkan di luar kamar, Bi Ina dan Rani hanya bisa diam mendengar teriakan Zoya yang terdengar begitu menyedihkan.


__ADS_2