
"Culun!" teriak Varo dari ruang tengah. Tidak lama setelah itu, Zoya muncul dari arah dapur dengan sedikit berlari.
"Aku mau kau bersihkan rumah ini, karena nanti malam akan ada banyak tamu disini!" perintah Varo dengan khas wajah dingin nya.
"Dan ingat, jangan ada yang berani untuk membantunya sedikit pun. Biarkan dia mengerjakan semua nya sendiri. Jika ada yang berani membantu nya, kalian akan tau apa akibat nya!" Ancam Varo pada semua orang yang sedang berada disana.
Zoya hanya bisa pasrah dan menuruti apa perkataan Varo.
Bi Ina hanya bisa menatap iba kepada gadis itu, ia juga tidak bisa membantu sama sekali, karena nyawa nya yang akan di pertaruhkan.
Zoya mulai membersihkan rumah tiga lantai itu sendirian. Ia tidak berani meminta tolong pada siapa pun. Lebih baik ia kelelahan, daripada harus di siksa lagi oleh boss mafia itu.
Setelah hampir 3 jam, tinggal satu lantai lagi yang belum di bersihkan nya.
Zoya bermaksud untuk istirahat sebentar, tapi pandangan nya teralihkan ke arah kolam renang. Ia tersenyum senang ketika melihat kolam renang di depan nya itu.
"Aku sungguh lelah, sebaiknya aku berenang sebentar untuk menghilangkan rasa lelah ku," ucap Zoya yang langsung melompat masuk ke dalam kolam renang berukuran besar tersebut.
Namun tiba-tiba saja ia merasakan bahwa kaki nya kram, dan tidak bisa di gerakkan. Mungkin karena ia terlalu lelah bekerja membersihkan rumah besar tersebut.
"Tolong ... siapa pun tolong aku!" Teriak Aza yang masih berusaha bertahan agar tidak tenggelam.
"Tolong!!" teriaknya lagi karena tidak ada satupun dari orang-orang di rumah yang mendengar nya.
Ketika ia sudah mulai pasrah, tiba-tiba saja datang seorang lelaki dengan sedikit berlari dan langsung masuk ke dalam kolam renang tersebut untuk menyelamatkan nya.
"Apa anda baik-baik saja nona?" tanya lelaki yang merupakan tangan kanan dari suami nya tersebut, ketika mereka sudah berada di luar kolam.
Zoya mengangguk kan kepala nya. "Aku baik-baik saja. Terimakasih ..." Zoya menggantung kan ucapan nya.
Rhai yang paham akan kebingungan Zoya pun langsung memberitahu kan nama nya kepada istri dari boss nya itu. "Panggil saja Rhai, Nona," ucap Rhai dengan sopan.
__ADS_1
"Seperti nya kau sangat nyaman memeluk istri ku ya Rhai. Apa perlu ku kirim kau ke pulau terpencil?" Zoya dan Rhai sontak terkejut ketika mendengar suara Varo.
Rhai langsung menjauh dari Zoya, begitu juga Zoya yang menutupi tubuh nya dengan kedua tangan nya.
"Maaf tuan, tadi nona hampir tenggelam. Saya hanya membantu nona saja," ucap Rhai yang sudah panik.
"Benar tuan, kami–" Belum selesai Zoya berbicara, Varo sudah memotong perkataan nya.
"Kau masuk lah ke dalam dan ganti pakaian mu! Tunggu hukuman mu sebentar lagi!" ucap Varo sambil menatap tajam ke arah Zoya. Zoya hanya bisa pasrah akan nasib nya.
Zoya berjalan menuju kamar nya untuk berganti pakaian, ia hanya bisa diam sambil menunggu hukuman dari Varo.
***
"Bagus sekali ya culun, berani-beraninya kau berpelukan dengan pria lain di hadapan ku!" ucap Varo yang baru saja masuk ke dalam kamar Zoya.
Zoya merasa sudah tidak ada lagi yang bisa membantunya sekarang.
"Apa kau begitu suka di peluk oleh pria? apa wanita culun seperti mu belum pernah di peluk oleh pria sebelumnya?" pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan oleh Varo, tapi tidak satu pun yang di jawab oleh Zoya.
"Apa kau tidak punya mulut untuk menjawab pertanyaan ku? Apa mulutmu ini sudah tidak kau perlukan lagi? Kalau memang sudah tidak kau butuh kan, biar ku hancurkan saja!" ucap Varo yang langsung menampar kuat mulut dan pipi Zoya berulang kali, yang membuat wanita itu hanya bisa meringis kesakitan.
Darah segar mengalir dari sudut bibir Zoya, tapi ia sama sekali tidak berani untuk mengeluarkan suara.
"Kau masih tidak mau bicara ya? Baiklah, karena aku sangat suka melihat darah, mari kita bermain pisau kecil," bisik Varo di dekat telinga Zoya, sambil mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku celana nya.
Varo mulai mengarahkan pisau kecil tersebut ke pipi Zoya. Tapi sebelum pisau itu berhasil menyayat pipi mulus wanita itu, Zoya sudah lebih dulu mengeluarkan suara nya.
"Maafkan aku tuan, tolong ampuni saya tuan Varo!" Zoya benar-benar takut saat ini. Ia tidak henti-hentinya menangis dan memohon untuk di lepaskan oleh Varo.
"Sudah bisa bicara ternyata, seperti nya kau sangat suka di siksa ya," ucap Varo sambil memain-mainkan pisau kecil di tangan nya.
__ADS_1
"Ti-tidak tuan!" ucap Zoya dengan wajah memelas.
"Karena malam ini akan ada banyak tamu, maka kau akan ku lepaskan. Setelah acara selesai, aku akan kembali menyiksa mu," ucap Varo yang langsung berlalu pergi meninggalkan Zoya.
Zoya hanya bisa menangis menatap diri nya di pantulan cermin.
"Sampai kapan aku mendapat penyiksaan seperti ini, kapan penyiksaan ini akan berakhir," Zoya terus saja menangis. Fisik nya sakit, tetapi hati nya jauh lebih sakit, memikirkan bagaimana nasib kedepan nya.
****
"Zoya, boleh bibi masuk?" ucap bi Ina setelah mengetuk pintu kamar Zoya.
"Boleh bi, masuk saja!" jawab Zoya dari dalam kamar.
Setelah mendapat izin dari Zoya, bi Ina langsung masuk ke dalam kamar tersebut.
Terlihat bi Ina membawa sepasang pakaian dan alat make up.
"Maaf Zoya, tuan Varo meminta bibi untuk memberikan baju ini untuk mu, dan harus kamu pakai sekarang. Bibi juga di minta untuk mempercantik mu," ucap bi Ina sambil menyerahkan baju yang di bawa nya pada Zoya.
Zoya tanpa ragu mengambil baju tersebut, dan tersenyum kepada bi Ina. "Terimakasih bi, Zoya ganti sebentar di kamar mandi," ucap Zoya yang langsung pergi ke kamar mandi sambil membawa baju tersebut.
Zoya terkejut ketika melihat baju yang di berikan oleh BI Ina tadi adalah baju pelayan bar.
Zoya menatap diri nya dari pantulan cermin kamar mandi. "Bagaimana bisa aku keluar dengan baju sexy seperti ini, aku merasa sangat tidak nyaman memakai nya," monolog Zoya.
"Tapi, jika di lihat-lihat bagus juga. Baiklah, aku akan menjadi wanita nakal hari ini," ucap Zoya sambil menarik sudut bibir nya ke atas.
Zoya perlahan keluar dari kamar mandi, lalu berjalan mendekati bi Ina.
__ADS_1
"Bagaimana bi, apa ini bagus? Sebenarnya aku tidak nyaman memakai nya, tapi karena tuan Varo yang memintanya, baiklah akan aku turuti," ucap Zoya lantang.
"Bagus nak, kamu terlihat berbeda jika seperti ini. Baiklah, bibi akan merias mu," ucap bi Ina yang sedari tadi terpana dengan kecantikan Zoya.