Istri Figuran Boss Mafia

Istri Figuran Boss Mafia
Hukuman


__ADS_3

Kejadian malam itu tidak akan pernah di lupakan oleh Zoya. Malam itu, Zoya yang tidak sanggup menahan rasa sakit nya, terjatuh di atas ranjang dengan luka bakar akibat sulutan rokok yang dibuat oleh Varo.


Byur


Zoya terbangun akibat siraman air yang membasahi tubuh nya. Terlihat Varo memegang sebuah wadah, yang di yakini adalah tempat air untuk menyiram istri nya tadi.


Zoya merasakan perih di seluruh tubuh nya, akibat siraman air tersebut. Kulit luar Zoya terlihat melepuh karena sulutan rokok.


"Culun, apa kau pikir kau ratu haa? kenapa kau masih tidur jam segini? seperti nya aku kurang keras padamu!" murka Varo dengan wajah yang sudah tidak bersahabat.


"Ma-maaf kan aku tuan!" mohon Zoya dengan mengatupkan kedua tangan nya di depan wajah.


"Sekarang bangun, dan buatkan makanan untuk ku!" perintah Varo pada Zoya.


"Ba-baik tuan. Tapi saya mau berganti baju dulu," ucap Zoya sambil menunduk kan kepala nya.


"Kau berani membantah ku?" Zoya yang di tatap tajam seperti itu oleh Varo, langsung beranjak dari kasur nya dan berlari menuju dapur.


Setelah sampai di dapur, Zoya melihat bi Ina dengan Rani sedang membersihkan dapur.


"Zoya kamu kenapa nak?" tanya bi Ina sambil berjalan mendekati Zoya yang berlari sempoyongan.


"Zoya nggak papa bi," jawab Zoya dengan wajah nya yang pucat, dan baju yang basah kuyup.


"Ini tangan kamu, kenapa melepuh semua?" tanya bi Ina lagi karena melihat luka di tangan Zoya.


"Zoya nggak papa bi," jawaban yang sama di lontarkan oleh Zoya kepada Bi Ina.


"Ya sudah, sekarang kamu mau ngapain?" Bi Ina mengalihkan topik pembicaraan nya, karena memahami kondisi Zoya yang seperti nya tidak mau memberitahu kan apa yang terjadi padanya.


"Zoya mau masak bi, untuk tuan Varo," jawab Zoya yang mulai sibuk mencari bahan-bahan masakan.


"Kamu duduk aja, biar bibi yang memasak untuk tuan Varo," ucap bi Ina.

__ADS_1


"Sudah lah Bu, biar dia saja." Cetus Rani yang sedari tadi hanya melihat ibu nya berbincang dengan Zoya. Terlihat jelas bahwa Rani tidak menyukai Zoya.


"Iya bi, biar aku saja. Takut nya tuan Varo akan kembali marah," jawab Zoya sambil memegang tangan bi Ina.


"Ya sudah, bibi bantu siapkan bahan-bahan nya saja. Kamu yang memasak nya ya," ucap bi Ina yang di balas anggukan kepala dan senyuman oleh Zoya.


Setelah selesai memasak, Zoya mengantarkan makanan tersebut ke ruangan Varo.


"Ini makanan nya tuan!" ucap Zoya sambil meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja kerja Varo.


"Siapa yang menyuruh mu masuk ke ruangan ku?" tanya Varo dingin. Tatapan nya seolah-olah ingin membunuh Zoya saat itu juga.


"Saya minta maaf tuan, saya tidak tau!" Zoya menundukkan kepala nya, ia takut akan mendapat siksaan lagi dari lelaki yang notabene nya adalah suami nya sendiri.


"Berani sekali kau masuk ke ruangan ku, seperti nya kau sudah tidak sayang nyawa mu lagi ya!" ucapan Varo membuat Zoya bergidik ngeri. Ia tidak berani membuka mata nya.


"Tidak tuan, maaf kan saya!" wajah Zoya sudah sangat pucat. Entah karena kedinginan, atau ketakutan.


Varo mengambil piring dari atas nampan yang dibawa oleh Zoya tadi. Ia mulai memasukkan makanan tersebut ke dalam mulut nya.


Zoya yang penasaran, sedikit mengintip bagaimana reaksi Varo ketika memakan masakan nya.


Brakk


Varo membuang makanan yang tadi di bawa oleh Zoya, hingga kini makanan tersebut jatuh ke lantai.


Zoya terkejut melihat makanan yang berserakan di atas lantai. Ia sudah bisa menebak, apa yang akan terjadi pada nya setelah ini.


"Makanan apa ini, apa kah tidak tau cara nya memasak haa! Suruh bi Ina buatkan yang baru, dan kau ... tunggulah hukuman mu!" Bagai di sambar petir, Zoya benar-benar takut mendengar perkataan Varo. Sakit yang saat ini ia rasakan saja belum hilang, dan Varo akan menghukum nya lagi.


Zoya kembali turun ke bawah dan meminta bi Ina memasak makanan untuk suami nya.


"Ya sudah, Zoya istirahat saja, biar nanti Rani yang mengantar makanan nya ke atas," ucap Bi Ina yang hanya di angguki kepala oleh Zoya. Setelah meminta bi Ina untuk memasak, Zoya langsung duduk di kursi yang ada di dapur tersebut, karena ia sudah sangat lelah.

__ADS_1


Zoya menangis merasakan sakit di seluruh tubuh nya. Ketika di ruang kerja Varo tadi, Zoya melihat banyak sekali foto-foto suami nya bersama adik kandung nya. Entah kenapa hati nya terasa begitu sakit melihat hal itu.


"Sini nak, bibi obati luka kamu," ucap bi Ina yang sudah memegang kotak P3K di tangan nya, lalu di letakkan ke atas meja.


Zoya langsung menghapus air mata nya. "Bibi udah selesai masak?" tanya Zoya.


"Sudah. Rani sedang mengantarkan makanan nya ke ruangan tuan Varo," jawab Bi Ina. Zoya hanya mengangguk kan kepala nya.


"Sini bibi obati, tahan ya!" ucap bi Ina sambil memegang tangan Zoya. Zoya kembali mengangguk.


Zoya meringis menahan perih di tangan nya. Bi Ina mencoba untuk lebih lembut lagi mengobati tangan Zoya.


"Bibi mau tanya sama kamu. Kemarin tuan Varo bilang, dia mau menikah. Tetapi kenapa kamu yang di bawa pulang oleh tuan Varo?" tanya bi Ina sambil masih mengoleskan obat ke tangan Zoya.


Mendengar pertanyaan dari BI Ina, Zoya hanya diam dan tidak berniat untuk membalas.


"Zoya," panggil bi Ina karena melihat Zoya hanya diam saja.


"Zoya nggak tau bi," jawab Zoya singkat.


"Bahkan status ku di rumah ini saja hanya seorang pembantu, bagaimana bisa aku berpikir untuk menjadi tuan rumah. Ingat Zoya, kau hanya pengganti. Suatu saat nanti, pemilik rumah yang sebenarnya akan kembali," ucap Zoya dalam hati. Tiba-tiba saja ia merasa sedih. Seperti nya Zoya sudah


"Berhenti, Bi!" teriak seseorang dari ruang atas yang langsung turun kebawah.


"Biarkan saja dia, jangan di obati!" Ucap Varo yang sudah sampai di depan Zoya dan Bi Ina.


"Tapi tuan, kasihan Zoya!" ucap bi Ina sambil menunjukkan semua luka di tubuh Zoya.


"Bi Ina," panggil Varo dengan menekankan setiap kata nya, membuat siapa pun yang mendengar nya akan merasa takut.


"Baik, Tuan!" pasrah bi Ina sambil melepaskan tangan nya dari lengan Zoya.


"Kau, ikut aku ke atas! jangan lupa hukuman mu!" Zoya hanya bisa pasrah mengikuti Varo keruangan nya. Bi Ina hanya bisa diam menatap Zoya yang begitu tersiksa mengikuti Varo. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2