Istri Figuran Boss Mafia

Istri Figuran Boss Mafia
siksaan dan siksaan


__ADS_3

Varo melepaskan ikat pinggang yang ia pakai, dan langsung mencambuk tubuh Zoya tanpa ampun.


"Ini hukuman mu karena telah berani masuk ke ruangan ku tanpa izin!" ucap Varo dengan sedikit berteriak.


"Maaf kan saya tuan!" Zoya hanya bisa menangis, menahan perih di tubuh nya.


"Sekarang jawab, dimana kau sembunyikan Yoona?" tanya Varo sambil kembali mencambuk Zoya.


"Saya tidak tau tuan!" jawab Zoya dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya. Varo akan kembali mencambuk Zoya, saat tidak mendapat kan jawaban yang memuaskan.


"Jangan berbohong padaku!" Teriak Varo yang membuat Zoya semakin takut.


"Saya benar-benar tidak tau tuan!" jawaban Zoya kembali membuat Varo marah. Kembali Varo layangkan ikat pinggang yang sedang ia pegang, untuk mencambuk tubuh Zoya.


"Ampuni saya tuan Varo," Zoya memohon sambil memeluk kaki Varo. Ia sudah tidak bisa menahan sakit di tubuh nya.


Varo tidak menjawab, ia menendang Zoya yang sedang memeluk kaki nya. Setelah itu, Varo melangkah pergi keluar kamar.


"Ayah, Zoya takut!" ucap Zoya di sela Isak tangis nya.


Varo yang belum keluar dari kamar, mendengar isakan Zoya. Tiba-tiba darah nya kembali mendidih. Varo kembali melangkah ke arah Zoya.


Varo menarik rambut Zoya dengan kuat, sehingga Zoya yang awal nya terduduk, langsung berdiri. Varo mendorong Zoya sampai ke dinding, lalu mencekik leher wanita itu sampai kaki Zoya juga ikut terangkat.


"Tu-tuan Va-varo, sa-saya tidak bisa berna-fas tuan," ucap Zoya dengan nafas yang tersengal-sengal. Varo melepaskan tangan nya dari leher Zoya, hingga wanita itu terjatuh ke lantai.


Belum puas menyiksa Zoya, Varo menarik kerah baju depan Zoya, menyeret wanita itu ke dalam kamar mandi, lalu mengunci nya. Varo menyalakan pengukur suhu terpanas kamar mandi itu, terlihat Zoya memukul-mukul dinding kaca kamar mandi.


Zoya semakin kehilangan kekuatan nya, ia kembali berteriak minta di lepaskan. Namun Varo sedang di kuasai oleh kemarahan nya, jadi ia tidak memikirkan bagaimana nasib Zoya.


Varo melangkah kan kaki nya keluar dari kamar. Rhai yang berada di luar kamar Varo, mendengar suara teriakan minta tolong. Rhai langsung masuk ke dalam kamar boss nya tersebut tanpa permisi.


Rhai langsung menurunkan suhu kamar mandi itu lalu membuka pintu tersebut. Rhai terkejut melihat kondisi Zoya, terlihat Zoya sudah terbaring disana, dengan kulit yang memerah. Tanpa pikir panjang, Rhai langsung menggendong Zoya dan membawa nya ke atas ranjang boss nya.


Rhai sangat kasihan melihat kondisi Zoya saat ini, benar-benar sangat memprihatin kan. Kulit nya memerah, bahkan banyak sekali bekas sulutan rokok dan pukulan bekas ikat pinggang. Bahkan leher nya juga terlihat memerah, akibat cekikan tangan Varo.


Rhai tidak menyangka, bahwa tuan nya akan berbuat sekejam itu pada istri nya yang belum tentu bersalah.


"Kasihan sekali kau nona. Aku akan membantu mu mencari tau kebenaran nya," ucap Rhai yang langsung mengambil ponsel nya untuk menghubungi dokter.


Setelah selesai menghubungi dokter, Rhai kembali melihat keadaan istri dari boss nya itu.


"Kenapa kau menolong nya Rhai?" ucap Varo kepada kaki tangan nya dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"Anda bisa saja membunuh nya tuan!" entah keberanian darimana, Rhai bisa menjawab seperti itu.


"Memang itu yang ku inginkan. Wanita jahat seperti dia, pantas untuk mati." Terlihat jelas kebencian yang begitu mendalam di wajah Varo.


"Kita belum mengetahui kebenaran nya tuan." jawab Rhai lagi.


"Kau mau mencari kebenaran seperti apa lagi? sudah jelas bahwa dia yang membuat Yoona pergi." Ucap Varo dengan kemarahan nya.


"Beri saya kesempatan tuan, untuk mencari tau kebenaran nya. Jika nona Zoya terbukti bersalah, Tuan boleh membunuh nya." Pinta Rhai pada Varo.


"Kenapa kau mati-matian membela wanita ini? apa kau menyukai nya?" tanya Varo dengan tatapan menyelidik.


"Tidak, Tuan. Mana berani saya menyukai istri boss saya sendiri," ucapan Rhai membuat Varo kembali murka.


"Apa kau benar-benar sudah bosan hidup di dunia?" ucap Varo dengan kata-kata tajam nya.


"Maaf tuan." Rhai hanya bisa menundukkan kepala nya.


"Aku beri kau kesempatan, untuk mencari tau kebenaran nya. Tapi selama kau belum menemukan bukti, aku akan terus menyiksa si culun ini," ucap Varo sambil menunjuk Zoya yang sedang tidak sadarkan diri.


"Baik, terimakasih tuan." Jawab Rhai singkat.


****


"Bagaimana bisa sampai separah ini? apa kalian menyiksanya?" tanya dokter wanita itu dengan menatap Rhai.


"Cepat lah obati dia! jangan banyak bicara, kalau kau masih mau keluar dari sini hidup-hidup!" dokter tersebut menelan Saliva nya dengan kasar. Ia begitu takut dengan perkataan Rhai.


Ternyata Rhai sama saja, pria yang berkata-kata tajam seperti boss nya.


Dokter wanita itu meminta Rhai keluar, karena ia akan melepaskan pakaian Zoya untuk mengobati luka di punggung wanita itu. Rhai hanya mengangguk dan langsung keluar untuk menunggu di depan pintu kamar.


Setelah cukup lama, dokter wanita itu keluar dari kamar.


"Saya sudah selesai mengobati wanita itu tuan," ucap dokter tersebut.


"Baiklah, bayaran mu akan ku tf nanti!" ucap Rhai dan langsung masuk kembali ke kamar tempat Zoya berada.


Dokter wanita itu hanya mengangguk, dan langsung turun ke bawah.


Di dalam kamar tersebut, Rhai melihat Zoya tanpa kacamata. Seperti nya dokter tadi melepaskan kacamata Zoya.


"Ternyata kau sangat cantik nona, hanya saja kau tidak mau merawat dirimu." Rhai terpana melihat kecantikan istri dari boss nya tersebut.

__ADS_1


Rhai mendekati Zoya untuk menutupi tubuh bagian atas wanita itu, yang tidak tertutupi oleh Selimut. Saat ini Zoya sedang tidak memakai apa pun, karena obat yang di olesi oleh dokter tadi, takut melekat ke baju nya.


"Berani sekali kau mesum dengan istri boss mu!" ucap seseorang yang baru masuk ke dalam kamar tersebut, dan melihat Rhai sedang menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Zoya.


Rhai terperanjat kaget, ia langsung melihat ke arah Varo. Bagai ketahuan selingkuh, Rhai jadi salah tingkah.


"Bukan nya dia tidak mau mengakui istri nya," ucap Rhai dalam hati.


"Keluar dari kamar ku!" ketus Varo sambil menatap tajam ke arah Rhai.


"Baik, Tuan." Jawab Rhai dan langsung pergi meninggalkan kamar tersebut.


Setelah Rhai pergi, Varo menghampiri Zoya. Dilihat nya wajah sendu wanita itu yang membawa ketenangan. Wajah cantik itu terlihat begitu tersiksa. Bahkan saat tidur saja, dahi nya berkerut seperti menahan sakit.


"Aku tidak suka menyiksamu, tapi aku tidak bisa menahan diri." Ucap Varo sambil mengusap lembut kepala Zoya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa Like dan komen nya ya, biar aku up setiap hari


__ADS_2