
Zoya terbangun, dan melihat Varo sedang mengusap kepala nya. Sontak Zoya langsung mengangkat tangan nya untuk melindungi diri. Varo pun langsung buru-buru menarik tangan nya, karena ketahuan sedang mengusap kepala Zoya.
Varo pun ikut terkejut melihat tindakan tiba-tiba dari Zoya. Terlihat ketakutan yang sangat mendalam di wajah wanita itu.
"Istirahat lah, hari ini kau ku bebaskan. Besok aku akan kembali menyiksamu." Zoya hanya menunduk, mendengar kan perkataan Ken.
"Sangat tidak mungkin dia berubah secepat ini." Batin Zoya yang hanya bisa menghela nafas dalam.
Zoya merasa punggung nya perih, jadi ia mencoba untuk duduk. Saat ia sudah berhasil duduk, Zoya tidak tahu jika saat ini ia sedang tidak menggunakan apa pun.
Varo menatap Zoya tanpa berkedip, wajah nya memanas melihat pemandangan indah di hadapan nya ini. Zoya yang merasa aneh di tatap seperti itu, langsung menundukkan kepala nya. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat kedua bongkahan itu menyembul keluar, tanpa adanya penutup.
"Aaaaa ..." Teriak Zoya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos nya. Wajah nya seketika memerah karena menahan malu.
Mendengar teriakan Zoya, Varo pun tersadar dan langsung meninggalkan ruangan itu.
"Oh shi*, si culun itu sexy juga ternyata." Ucap Varo dalam hati, sambil masih membayangkan dua gundukan besar tadi yang terlihat sangat menggoda.
Sedangkan di dalam kamar, Zoya masih menutupi wajah nya dengan selimut.
"Kenapa dia menatap ku seperti itu? dan siapa yang melepaskan pakaian ku? apa dia?" Zoya bertanya-tanya di dalam hati nya.
"Zoya," panggil seseorang dengan lembut.
Zoya yang mendengar suara seseorang yang dia kenal pun, langsung membuka selimut untuk mengeluarkan kepala nya sampai batas leher.
"Iya Bi," jawab Zoya.
"Kamu cantik sekali nak," puji bi Ina yang melihat Zoya dengan rambut tergerai dan tanpa kacamata.
Sontak Zoya langsung meraba wajah nya. Dan benar saja, kacamata nya tidak ada. Zoya langsung buru-buru mencari kacamata nya yang ternyata ada di atas nakas. Zoya langsung mengambil kacamata itu, lalu memakai nya.
"Kenapa Zoya, kenapa di pakai lagi? kamu lebih cantik tanpa kacamata," ucap bi Ina sambil berjalan menghampiri Zoya.
"Tak apa bi, Zoya tidak terbiasa tanpa kacamata," jawab Zoya.
__ADS_1
"Ya sudah lah. Bibi kesini hanya ingin memberikan pakaian ini untuk mu," ucap bi Ina sambil menyerahkan pakaian yang ia bawa kepada Zoya.
"Terimakasih, Bi." Jawab Zoya sambil tersenyum.
"Bi, siapa yang melepaskan pakaian Zoya?" tanya Zoya yang tiba-tiba teringat akan hal itu.
"Tadi ada dokter wanita yang memeriksa mu, mungkin saja dia," jawaban bi Ina membuat Zoya bernafas lega.
"Baiklah bi, terima kasih." Jawab Zoya sambil tersenyum, yang hanya di balas anggukan dan senyuman juga oleh BI Ina.
"Ya sudah, bibi mau kembali ke dapur dulu. Kau istirahat saja disini," pamit bi Ina dan langsung pergi meninggalkan Zoya.
Melihat bi Ina sudah keluar dari kamar, Zoya langsung beranjak dari ranjang berukuran king size itu, dan memakai pakaian nya di kamar mandi.
Ketika selesai berganti pakaian, Zoya merapikan kasur tempat ia tidur tadi. Setelah itu, Zoya berjalan keluar dari kamar tersebut.
"Kau mau kemana?" tanya Varo yang baru saja ingin masuk ke dalam kamar nya, dan melihat Zoya akan keluar dari kamar tersebut.
"Saya mau kembali ke kamar saya tuan!" jawab Zoya sambil menundukkan kepala nya.
Terlihat bi Ina di belakang Varo sedang membawa nampan berisikan makanan. Bi Ina masuk ke dalam kamar tersebut di ikuti oleh Zoya di belakang nya.
"Bibi pamit keluar dulu tuan!" pamit bi Ina saat sudah meletakkan nampan tersebut di atas nakas samping ranjang. Varo hanya mengangguk kan kepala nya.
Setelah bi Ina keluar dari kamar, Zoya hanya berdiri di samping ranjang, dengan kepala tertunduk sembari memain-mainkan jari tangan nya.
"Kau, kesini!" panggil Varo sambil menunjuk Zoya untuk mendekat ke arah nya. Zoya berjalan perlahan ke arah Varo.
"Suapi aku!" pinta Varo dengan wajah dingin nya, tanpa melihat ke arah Zoya.
"Bagaimana tuan?" tanya Zoya yang tidak yakin dengan pendengaran nya sendiri.
"Apa kau juga tuli sekarang? suapi aku, culun!" bentak Varo. Zoya terkejut dan langsung mengambil piring berisikan makanan di atas nakas tersebut.
"Mendekat lah! Bagaimana kau akan menyuapi ku, kalau kau sejauh itu," ketus Varo. Zoya melangkah kan kaki nya untuk lebih dekat ke arah Varo. Varo yang sudah tidak sabar, langsung menarik tangan Zoya, yang membuat wanita itu terduduk di atas ranjang, tepat di sebelah nya.
__ADS_1
"Kau ini lambat sekali!" protes Varo. Zoya masih terkejut akibat tarikan tangan Varo. Ia sedikit takut, duduk sedekat ini dengan Varo.
Zoya mencoba perlahan mendekatkan sendok tersebut untuk menyuapi Varo, tangan nya bergetar hebat. Varo membuka mulut nya ketika sendok itu telah berada di depan nya.
Ketika Zoya ingin menarik kembali tangan nya, namun Varo sudah lebih dulu memegang tangan itu.
"Apa ini sakit?" tanya Varo sambil melihat tangan Zoya yang memerah, dan banyak nya bekas sulutan rokok disana.
Zoya terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Varo. "Apa dia ada salah makan hari ini, kenapa tiba-tiba berubah baik?" pikir Zoya yang berperang dengan batin nya sendiri.
Zoya tidak berani menjawab, ia hanya mengangguk kan kepala nya saja.
"Baiklah, besok akan ku buat seperti ini lagi." Ucap Varo santai tanpa merasa bersalah. Mata Zoya melebar mendengar ucapan Varo.
"Sudah ku duga, sangat tidak mungkin dia berubah baik dalam beberapa jam saja," batin Zoya yang sudah panik.
"Ti-tidak tuan, ini tidak sakit." Ucap Zoya sambil menggelengkan kepala nya.
"Ya sudah, besok akan ku buat lebih parah dari ini," ucap Varo sambil melihat Zoya.
Ingin sekali rasanya Zoya menangis saat itu juga, wajah nya langsung memucat. Perkataan Varo membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.
"Apa sebenarnya yang dia mau? kenapa aku jadi serba salah begini?" batin Aza sambil menghela nafas dalam.
Ternyata diam-diam Varo menahan senyum nya melihat ekspresi wajah Zoya. "Hey, ada apa dengan ku? kenapa aku suka melihat wajah panik nya?" ucap Varo dalam hati, lalu menepis pemikiran gila nya itu tentang Zoya.
"Kenapa kau diam saja? cepat suapi aku lagi!" Mendengar suara Varo, Zoya kembali tersadar dari lamunan nya.
"Ba-baik tuan." Jawab Zoya lalu kembali mengarahkan sendok berisi makanan tersebut ke mulut Varo.
Setelah suapan ketiga, Varo menyudahi makan nya dan meminta Zoya untuk menghabiskan makanan itu.
"Aku sudah tidak lapar. Kau saja yang menghabiskan nya!" ucap Varo yang membuat Zoya bingung.
"Cepat makan lah!" bentak Varo karena melihat Zoya hanya diam.
__ADS_1
Zoya terkejut akibat bentakan Varo, dan ia langsung menyuapkan makanan itu ke diri nya sendiri. Varo hanya memantau Zoya yang sedang makan, yang membuat Zoya menjadi salah tingkah sendiri di buat nya.