
Lelah, usai keliling kota melamar kerja dari satu kantor ke kantor lain. Namun, belum ada satu kantor pun yang menerimaku.
Menghentikan motor di tepi jalan bermaksud istirahat sejenak. Haus, merogoh botol air mineral di dalam ransel baru saja hendak meneguk air. Terdengar seseorang berteriak meminta tolong.
Tanpa pikir panjang segera kulajukan motor ke arah orang tersebut. Kudapati seorang pria bertubuh tinggi dan kekar terkapar di sebelah mobilnya. Terdapat banyak luka lebam di area wajahnya. Turun dari motor membantunya berdiri. Lelaki itu berdiri terhuyung sambil memegangi perutnya.
"Ada apa, Pak?" tanyaku kemudian.
"Tolong saya, saya baru saja dirampok," tuturnya sambil meringis menahan sakit.
"Rampoknya lari ke arah mana, Pak?"
"Ke sana," ucapnya sambil menunjuk arah.
"Ya sudah, biar saya kejar, Pak."
"Saya ikut, Mas." Tak ada waktu lagi, aku mengangguk. Setelah lelaki itu naik segera kulajukan motor mengejar perampok yang mungkin belum pergi jauh.
Kendaraan ramai lalu lalang. Lelaki yang kubonceng menunjuk salah satu pengendara motor. "Itu Pak, orangnya."
"Yang mana, Pak?" Aku bingung karena banyak pengendara motor.
"Yang naik motor warna hitam. Rambutnya gondrong, dan satunya ada tato di tangannya itu," jelasnya. Netraku mulai menyelidik. Ketemu, itu dia. "Baik, Pak. Pegangan, Pak!" titahku kemudian aku pun mulai melajukan motor menyejajarkan dengan perampok tersebut.
Pengejaran berlangsung alot, sampai ke sebuah perkampungan. Memasuki gang-gang kecil. Dan akhirnya jalan buntu. Mau tak mau perampok itu menghentikan motornya.
Begitu juga denganku.
"Pak gak usah dibuka helmnya untuk perlindungan kepala." Lelaki itu hanya mengangguk.
"Mau lari ke mana kamu!" pekikku seraya bersiap memasang kuda-kuda. Kedua perampok itu tertawa meremehkan.
Mungkin karena melihat badanku yang tinggi dan kerempeng bak tiang listrik ini. Sementara kedua perampok itu berbadan gempal dan kekar.
Keraguan mulai menghantui. Melirik tubuh orang yang hendak kutolong. Lalu mengamati diri sendiri dan kemudian mengamati postur tubuh lawan.
'Dia saja yang badannya tinggi kekar kalah oleh dua perampok itu. Lalu akankah aku sanggup menghadapinya?'
Sudah lama sekali aku tidak mengasah ilmu bela diriku.
Glek
Menelan saliva, berusaha menyemangati diri sendiri. Menarik napas panjang lalu kuhembuskan perlahan dan mulai menyerang.
Ronde pertama aku kalah, sudah beberapa kali terkena pukulan pada wajah dan perut. Lama tidak bertarung baru sebentar saja aku sudah kecapekan.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya kedua perampok itu berhasil aku lumpuhkan. Menebah telapak tangan. Mengembuskan napas panjang. Mengambil barang yang dirampas oleh perampok lalu menyerahkan ke si empunya.
"Ini Pak, kopernya." Lelaki itu meraih koper dari tanganku. "Terima kasih, Mas." Kemudian kami berjabat tangan.
Aku mengangguk pelan sambil tersenyum. "Sama-sama Pak."
"Tadi sudah lapor polisi, Pak?" tanyaku kemudian.
"Sudah Mas, mungkin sebentar lagi sampai sini." Benar saja beberapa saat kemudian polisi datang dan langsung meringkus kedua perampok itu.
Aku dan lelaki itu harus mampir ke kantor polisi terlebih dahulu untuk memberikan pernyataan.
Setelah urusan di kantor polisi selesai. Lelaki yang kutolong mengajakku makan katanya sebagai tanda ucapan terima kasih. Sempat menolak beberapa kali namun, dipaksa.
"Ayolah Mas, jangan menolak rezeki."
"Baiklah kalau begitu Pak, mari." Akhirnya akupun pasrah.
Saat menunggu menu tersaji kami mengobrol banyak hal.
"Oh, ya, kita sudah membicarakan banyak hal tapi, belum berkenalan," seru lelaki itu. Lalu kami sama-sama terkekeh.
Lagi, kami berjabat tangan. "Nama saya Arjuna, Pak. Biasa dipanggil Juna."
"Kalau nama saya Satria, Mas."
Aku merasa tidak nyaman dipanggil Mas olehnya. Karena kalau melihat dari wajah umurku jauh di bawahnya.
__ADS_1
"Pak, panggil Juna saja. Gak usah pake mas," pintaku agak canggung. Takut Pak Satria marah atau tersinggung karena saya anggap tua.
Dia terkekeh menepuk bahu kananku. "Baiklah, Juna."
"Ma'af Pak, bukan maksud saya ...."
"Sudah gak apa-apa, santai saja, kan kenyataannya saya memang lebih tua darimu."
"Silakan Pak, selamat menikmati," ucap pramusaji setelah semua menu siap santap.
Mengangguk kompak. "Terima kasih Mbak," ucap kami hampir bersamaan.
"Ya sudah, ayo makan!" ajak Pak Satria.
"Mari Pak, selamat makan!"
"Melihat caramu melumpuhkan kedua perampok tadi, kayaknya kamu jago bela diri, ya?" tanya Pak Satria masih sambil makan.
Aku terkekeh. "Tidak jago Pak. Tapi, bisa sedikit."
"Ah, kamu merendah," godanya.
"Oh, ya, kamu mau gak saya kasih pekerjaan," tuturnya tanpa basa-basi.
"Tentu mau Pak, karena memang sudah beberapa hari ini saya muter-muter nyari kerjaan tapi belum dapat juga."
"Wah, kebetulan sekali ya."
"Tapi, ngomong-ngomong kerja apa ya, Pak?"
"Jadi bodyguard istri saya." Aku tertegun mendengar pernyataan Pak Satria.
"Bapak yakin," tandasku.
"Yakin, dan aku percaya kamu bisa melindungi istri saya dari mantan-mantannya."
Dapat dipastikan dahiku berkerut. "Mantan?"
"Iya Jun, istri baru saya masih sering berkomunikasi dengan mantannya meski sudah saya larang."
Glek
Aku aja jangankan istri, gebetan bae belum punya. Canggih bener Pak Satria ini. Pasti dia seorang konglomerat.
"Jadi bangaimana Jun, kamu terima tidak tawaranku?"
Berpikir sejenak mencoba meyakinkan diri. "Siap Pak, saya terima."
"Lalu kapan saya mulai bekerja, Pak?"
"Sore nanti kamu datang ke rumah, saya kenalkan dengan istri saya yang akan kamu jaga nanti. Serta nanti di rumah saya jelaskan apa dan bagaimana cara kerjamu."
Pak Satria merogoh kartu nama dari saku jasnya lalu ia berikan padaku. "Ini alamat rumah saya. Datang ya!"
Mengangguk pelan. "Baik Pak!"
Setelah usai makan kuputuskan untuk pulang dulu ke rumah.
Setelah hari menjelang sore baru aku bergegas ke rumah Pak Satria.
Sesampainya di depan gerbang rumah aku tertegun terpana melihat kemegahan rumah milik Pak Satria. Bak istana, megah dan mewah.
Setelah dipersilakan aku masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Netraku menyapu seluruh ruangan bernuansa gold. Tampak mewah takjub aku dibuatnya. Banyak furniture mahal tampaknya dari luar negeri.
Mungkin benar Pak Satria itu konglomerat. Aku berspekulasi sendiri.
"Eh, kamu sudah datang, Jun." Pak Satria keluar menggandeng seorang wanita muda. Usianya perkiraan sekitar tiga tahun lebih muda dariku jika melihat dari wajahnya. Mungkin putrinya. Cantik juga.
Aku berdiri sambil mengangguk pelan.
"Sudah duduk saja, Jun!" Sesuai titahnya aku duduk kembali.
"Oh, ya, kenalkan ini istri saya Riani, yang akan kamu jaga nanti."
__ADS_1
Apa?
Istri?
Glek
Aku menelan saliva mendengar pernyataan Pak Satria. Benar-benar canggih bisa mendapatkan wanita cantik dan muda. Bahkan lebih pantas jadi putrinya ketimbang istri.
"I-iya Pak, siap!"
"Santai saja gak usah gerogi!"
Aku terkekeh sambil menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.
Kemudian Pak Satria menjelaskan apa dan bagaimana sistim kerjaku. Mengikuti ke mana pun istri mudanya pergi. Sungguh bak ketiban durian, mendapat pekerjaan mengikuti ke manapun wanita cantik itu pergi.
Sungguh aku tak menduga bakal dapat pekerjaan seperti ini.
"Siap, Pak!"
Istri, Pak Satria tampak tak suka ia protes dengan keputusan yang diambil suaminya.
"Mas, aku bukan anak kecil. Aku bisa jaga diri sendiri. Gak perlu pake bodyguard segala!" ketusnya.
Tapi, Pak Satria tak peduli meski istrinya merasa keberatan ia tetap pada pendiriannya.
"Jun, mulai besok kamu standby di sini ya, jadi kalau sewaktu-waktu istri saya ini mau pergi, kamu kawal!"
"Siap, Pak!"
Lagi, istrinya protes. "Aku gak mau pake bodyguard, Mas!"
"Oh, supaya kamu bebas ketemuan sama mamtanmu itu ya? Hemm?!"
"Bukan begitu, Mas itu kenapa sih, selalu saja posesif. Kan sudah kubilang aku udah gak ada hubungan apa-apa sama dia!"
Adu mulut tak terelakkan. Aku jadi serba salah di sini. Mau ikut campur gak enak, mau melerai gak tahu caranya bagaimana?
Emosi Pak Satria semakin tak terkontrol ia menampar istrinya berulang kali.
Aku terbengong melihat sisi lain Pak Satria. Di luar tadi ia bersikap lembut Tapi, di rumah ia berubah menjadi temperamental. Bak monster.
"Sudah Pak, sudah!" Mencoba menengahi. Namun, Pak Satria tak mendengarkan ucapanku.
"Sudah kamu pulang dulu sana, besok kembali lagi ke sini." Aku mengangguk.
"Istri saya ini memang perlu diberi pelajaran supaya dia ngerti!"
Aku bergeming.
Kemudian Pak Satria menyeret istrinya masuk ke dalam sebuah kamar. Terdengar teriakan meminta ampun dari sang istri. Namun, Pak Satria tetap memukulinya.
Aku tak mengerti kenapa masalah sepele seperti itu harus dibesarkan, heran?
Seorang pembantu lewat segera kucekal. "Mbak, itu kasihan Bu Riani. Kok Mbak diam saja?"
"Saya hanya pembantu di sini, Mas. Saya bisa apa? Orang tuanya sendiri saja tak berani berbuat apa-apa jika Pak Satria sedang murka."
Dapat dipastikan dahiku berkerut.
"Emang dasar Bu Rianinya saja yang sok berani," ucap pembantu itu lalu berlalu dari hadapanku.
Berlari menghadangnya. Wanita itu menatapku kesal. "Ada apa lagi, Mas?"
"Jadi kalau terjadi kekerasan di dalam rumah ini semua hanya diam?" Tak mampu membendung rasa penasaran akhirnya satu pertanyaan terlontar begitu saja.
"Ya, mau bagaimana lagi, Mas. Nanti juga kalau kamu kerja di sini akan tahu dengan sendirinya bagaimana aslinya Pak Satria itu."
"Saya sarankan sebaiknya kalau niat kerja di sini jangan macam-macam, Mas. Atau sampean bakal menyesal nanti. Cukup kerjakan apa yang diperintahkan oleh beliau. Jangan ikut campur dalam urusannya."
"Saran saya sih, sebaiknya urungkan niat Mas, untuk kerja di sini!" Wanita itu kemudian meninggalkanku sendiri di ruang tamu.
Aku bergeming antara penasaran siapakah sebenarnya Pak Satria itu, dan kasihan sama Bu Riani. Tapi, aku sendiri bingung gak tahu meski ngapain.
__ADS_1
Tak tahan mendengar jeritan Bu Riani, aku memilih pergi. Sesampainya di rumah terus kepikiran akan bagaimana keadaan Bu Riani. Makan tak enak tidurpun tak nyenyak.
B E R S A M B U N G