Istri Hasil Colongan

Istri Hasil Colongan
BAB 7 ENDING


__ADS_3

*** 


Pesan dari Satria. Dahiku berkerut samar. Tak ingin dilanda rasa penasaran lebih lama, lantas kuread.


[Sudah lihat berita yang sedang heboh di TV? Apa kamu nggak menaruh curiga? Barangkali itu sahabatmu. Mirip ‘kan?]


Alisku menaut bingung.


[Apa maksud kamu?] balasku, dan tak lama dua garis abu-abu berubah warna jadi biru. Tanda bahwa pesanku telah dibaca, tapi Satria tak kunjung membalas pesan dariku.


[Kenapa nggak balas? Katakan! Apa maksudmu?] Geram, pesan yang tadi hanya diread saja. Akhirnya aku memberondong Satria dengan pesan yang sama hingga berkali-kali.


[Nanti juga kamu akan tahu. Ingatlah, Jun! Aku bukan lawanmu, lebih baik menyerah saja! Dan serahkan Riani!] Akhirnya dia membalas. Di ujung kalimat terselip emotikon pisau dan pistol. Entah apa maksudnya.


Aku berpikir keras mencoba mencerna isi pesan yang dikirim Satria. Masih duduk di depan TV sambil mengganti satu chanel ke chanel yang lain. Tapi berita tentang penemuan jasad tanpa identitas tadi sudah tidak ada lagi.


Tok ... tok ... tok ....


Aku terperanjat mendengar adanya suara pintu diketuk. Reflek kepalaku menoleh ke arah pintu berada. Mematikan TV, lantas bergegas membuka pintu. Sesosok bidadari cantik sedang berdiri anggun di sana. Di depan pintu.


“Riani,” desisku. Sejurus kemudian kutarik lengannya masuk ke dalam kosan, dan menutup pintunya.


“Kamu ngapain ke sini?” tanyaku dengan nada berbisik.


“Aku bosan di kosanku, kesepian. Kangen juga sama kamu,” jawabnya sambil menunduk dalam.


Ya, sejak kembali ke sini, ke kota, kami jarang bertemu. Demi memperkecil kemungkinan Satria berbuat yang tidak-tidak terhadap Riani. Ia aku sembunyikan di kosan yang jauh dari jangkauan Satria. Aku pindahkan dari kosan satu ke kosan yang lain. Demi keamanannya.


Sementara aku sibuk berperang dengan Satria di meja hijau. Pengadilan.


“Aku juga kangen, tapi kita harus menahan rindu dulu sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.” Kupegang kedua sisi bahunya, mencoba memberinya pengertian.


“Sekarang, kamu balik ke kosanmu! Aku mau ke rumah sakit melihat jasad tanpa identitas yang ditemukan tadi pagi,” jelasku.


“Memangnya itu jasad siapa?” Riani tampak bingung.


“Kemungkinan jasad Bima, tapi semoga itu semua tidak benar,”


Riani membungkam mulutnya yang mangap. Dia terduduk lemas di lantai. Perlahan air matanya luruh. Lantas aku ikut berjongkok di hadapannya.


“Hei, tenanglah! Masih belum pasti. Dan semoga itu bukan jasad Bima.” Memegang kedua sisi bahu Riani yang terguncang. Dia terisak lirih. Mencoba menenangkan meski aku sendiri sebenarnya perasaanku campur aduk.


“Apa aku bilang. Sudahlah, sebaiknya kita menyerah saja sebelum Satria berbuat lebih nekad lagi.”  Riani menatapku penuh dengan tatapan sendu. Ia terlihat sangat putus asa. Aku menggeleng, menolak saran darinya.


“Percayalah! Kita pasti bisa melewati ini semua. Kelak kita pasti bisa lepas dari masalah yang mendera kita.” Lagi, aku berusaha meyakinkannya meski diri sendiri tengah dilanda rasa ragu.


Setelah Riani tenang kusuruh dia balik ke kosannya. Sudah kutawarkan jasa untuk mengantarnya, tapi dia menolak dan memilih pulang sendiri.


Setelah Riani pulang, aku bergegas ke rumah sakit. Tempat di mana jasad tanpa identitas yang tadi diberitakan di TV, disemayamkan.


Lutut ini melemas seketika saat kuamati jasad yang tadi heboh diberitakan di TV dari jarak dekat.


Benar, ini Bima. Kucengkeram kuat-kuat pinggiran tempat pemulasaran jenazah. Air mataku luruh menghianati ketegaran. Siapa yang kuat melihat sahabat meninggal dengan keadaan sangat mengenaskan. Banyak luka memar dan lebam serta lecet hampir di sekujur badannya. Menurut pemaparan polisi yang menangani kasus ini, Bima diduga meninggal akibat tabrak lari.


Tapi aku yakin ini semua pasti ada kaitannya dengan Satria. Namun, aku tak punya cukup bukti untuk mengadukan hal ini pada polisi. Kutanyakan pada polisi di mana letak ponsel Bima, tapi menurut penuturan polisi, tidak ada barang apa pun yang melekat di jasad Bima. Padahal terakhir ia masih berkomunikasi denganku.


Lantas aku ditemai dua orang anggota polisi bergegas ke kosan Bima.  Mencari barang yang sekiranya bisa menjadi petunjuk kira-kira siapa yang sudah melakukan ini pada Bima. Namun, di kosan kami tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan atau barang yang disebutkan Bima kemarin sebagai barang bukti yang katanya bisa memberatkan pihak Satria. Pasti sudah diambilnya. Entah oleh Satria sendiri atau oleh anak buahnya.


Sial! Benar-benar keterlaluan Satria!


Sekarang aku benar-benar bingung, nggak tahu harus berbuat apa? Hanya bisa pasrah menunggu keadilan dari Tuhan pemilik alam semesta. Semoga segera datang keajaiban. Agar kedok Satria segera terungkap.


*** 


Duduk termenung di kosan. Masih dalam masa berkabung setelah semingu pasca kematian Bima. Keluarga sahabatku itu yang tinggal di kampung sana kebanyakan menyalahkanku atas kematian Bima. Wajar, Bima meninggal dengan cara yang sangat tragis saat dalam proses membantu menyelesaikan masalah hukumku.


Aku hanya bisa diam menerima setiap makian saudara dan keluarga Bima yang masih belum bisa merelakan kepergiannya.


Klung ....


Tiba-tiba ponselnya berdenting terdapat notifikasi pesan masuk via whatsapp. Lantas kubuka. Ternyata itu kiriman foto dari Satria.


Ternganga tak percaya akan apa yang aku lihat kini.


Bagaimana mungkin Riani bisa bersama lelaki keparat itu?


Tak ingin berlama-lama terbelenggu rasa penasaran, segera kutelepon Satria. Menanyakan bagaimana bisa Riani bersamanya? Dia lantas menyuruhku bertanya sendiri pada Riani. Dan kini aku berbicara dengan Riani di ujung telepon sana.


Terduduk lemas di lantai usai mendengar pengakuan Riani.


Tega sekali kamu menghianati usahaku selama ini. Aku sudah kehilangan banyak hal termasuk sahabat terbaikku, Bima. Dan sekarang kamu malah kembali pada lelaki keparat itu.


Tanganku terkepal sempurna. Kudaratkan tijuan pada tembok kosan yang bernuansa biru langit berkali-kali, dan darah segar pun mengucur dari punggung tangan ini. Perihnya tak seberapa jika dibandingkan dengan sakit yang menghujam hati ini.


Tega sekali kamu Riani.


*** 

__ADS_1


Klung ....


Terdengar notifikasi pesan masuk. Lantas kubuka pola sandinya. Pesan dari nomor yang sama dengan yang tadi digunakan oleh Riani untuk menelepon. Ya, tadi dia sempat menelepon sepertinya akan menjelaskan sesuatu, tapi ponsel kumatikan sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Aku masih sangat kecewa akan keputusan yang ia ambil.


Sempat kuabaikan beberapa saat, tapi penasaran juga apa isi pesan itu. Akhirnya kupungut lagi ponsel yang semula kubiarkan tergeletak di atas meja depanku duduk. Lantas membaca pesan tersebut.


[Sebelumnya aku minta maaf karena memilih kembali ke neraka ini, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Mas. Aku kembali ke sini karena ada alasan yang tidak bisa aku jelaskan. Yang pasti aku melakukan ini demi kamu dan keluargamu, Mas.]


Kubanting ponsel ke tempat semula. Ke atas meja. Tidak ada niat untuk membalasnya.


Bulsit!


Demi aku? Apa begini caramu membalas semua pengorbanan yang sudah aku lakukan, Riani?


Lagi, terdengar notifikasi pesan masuk hingga berkali-kali. Aku sudah muak dengan semua ini. Kuputuskan untuk mematahkan sim kardnya. Aman. Dan berniat untuk membuang ponsel yang dulu dengan sengaja ditinggalkan oleh anak buah Satria di rumahku yang ada di kampung. Selepas mereka menculik kedua orang tuaku.


Daripada dibuang begitu saja, mubazir. Akhirnya kuputuskan untuk menjualnya. Aku pikir bakal cukup untuk membayar kontrakan dan untuk ongkos pulang ke kampung. Tapi nyatanya tidak. Ponsel android itu hanya terjual dengan harga sangat murah. Hanya pas untuk membayar kontrakan saja. Sebesar 700 ribu rupiah. Itu pun masih kurang 50 ribu sebenarnya, tapi karena ibu kosnya baik jadi diikhlaskan, dan dianggap lunas.


Sekarang aku kerja serabutan mulai dari kerja jadi kuli bangunan dan kuli panggul di pasar dengan sistim kerja harian. Mengumpulkan uang untuk ongkos pulang kampung. Buat apa aku bertahan di sini. Sudah tidak ada lagi yang perlu aku pertahankan atau perjuangkan. Lebih baik aku pulang saja ke kampung mengurus kedua orang tuaku setelah uang untuk ongkos pulang terkumpul nanti.


***


Ini hari terakhir aku bekerja, setelah kuhitung dan jumlah uangnya sudah lebih dari cukup untuk ongkos pulang kampung. Aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Berpamitan pada bos, tak lupa kuucapkan terima kasih karena sudah menerimaku bekerja dengannya. Lalu pulang ke kontrakan.


“Mas Juna, tadi ada yang nyariin,” ucap tetangga sebelahku, saat aku baru memasuki area teras kontrakan. Urung membuka pintu lantas menoleh ke arah tetangga yang juga berdiri di terasnya.


“Siapa Mbak?”


“Enggak tahu namanya, tapi dia seorang wanita. Cantik,” jelasnya.


Satu nama langsung terucap dalam hati. Aku yakin itu Riani. Karena hanya dia wanita yang kenal denganku di sini. Selain tetanggaku ini, dan ibu kosan.


“Oh, iya, terima kasih infonya,” pungkasku. Lantas masuk ke dalam kosan.


Untuk apa lagi Riani ke sini?


*** 


Aku duduk termenung di pinggir ranjang pasca memasukkan beberapa baju dan celana ke dalam tas ransel. Entah kenapa mendadak ragu untuk meninggalkan kota ini. Rasanya berat. Tak bisa dipungkiri rasa sayang dan cintaku masih tersisa untuk Riani. Meski rasa kecewa lebih mendominasi.


Suara pintu diketuk membuyarkan lamunan.


Siapa yang datang bertamu sepagi ini?


Daripada penasaran lebih baik aku lihat siapa yang datang.


Membuka daun pintu berwarna cokelat tua. Sejurus kemudian wanita yang berdiri di depan pintu langsung memelukku tanpa aba-aba. Kata ‘rindu' terucap lirih hampir tak terdengar oleh telinga ini.


“Riani, lepas! Ndak enak dilihat tetangga.”


“Ma’af,” sahut Riani, sambil melepaskan pelukan.


“Ada apa lagi kamu datang ke sini?”


“Aku khawatir sama keadaan kamu,” ucapnya dengan snatai. “Ponsel kamu kenapa nggak bisa dihubungi?” lanjutnya.


“HP-nya sudah kujual.”


“Kenapa dijual?”


“Untuk bayar kontrakan.”


Riani terdiam menunduk dalam. Entah apa yang dipikirkannya.


“Aku minta ma’af kalau keputusanku kembali ke rumah Satria menyakitkan bagimu. Aku terpaksa –“


“Sudahlah, nggak perlu dibahas lagi. Enggak penting. Kalau menurutmu itu yang terbaik lakukan saja. Lagi pula besok aku akan pulang ke kampung,” selaku.


“Apa?” desis Riani. Wajahnya mendadak murung mendengar aku akan pulang kampung.


“Semoga Satria bisa berubah menjadi lebih baik dari aku. Bisa menyayangi dan mencintaimu lebih dari aku.”


Hening, kami saling tatap. Larut dalam pikiran masing-masing.


Perlahan kaca-kaca yang menggenangi pelupuk mata indah Riani meleleh. Rinainya menderas.


Sebenarnya tak tega melihat Riani seperti ini, tapi aku harus terlihat tegar di depan Riani. Pura-pura bersikap cuek padahal dalam hati masih sangat ingin peduli padanya.


“Sebaiknya kamu pergi dari sini! Kalau sampai anak buah Satria tahu, akan buruk akibatnya buat kamu juga aku!”


Lantas kudorong perlahan tubuh Riani untuk menjauh dari ambang pintu. Lalu kututup daun pintunya.


“Juna, aku belum selesai bicara!” pekik Riani, sambil menggedor pintu. Aku diam berdiri menyandarkan punggung di baliknya.


Air mata luruh jua menghianati ketegaran diri. Mendadak bimbang hendak pulang ke kampung. Saat melihat sorot mata Riani tadi seolah menyiratkan pesan agar aku jangan pergi.


Tapi, buat apa aku bertahan di sini? Riani sudah kembali ke tempat yang seharusnya. Rumah suaminya.

__ADS_1


Mengintip keluar menyingkap gorden jendela samping pintu. Riani sudah tidak ada di teras. Mungkin dia sudah pulang ke rumah suaminya.


Duduk di kursi ruang tamu menyangga kepala yang terasa pening. Ganti posisi menjadi bersandar pada sandaran kursi. Termenung, larut dalam pikiranku sendiri. Ragu kembali mendominasi hati.


*** 


Malam yang penuh kebimbangan telah terlewati berganti pagi. Aku telah memantapkan hati untuk pulang ke kampung saja. Bergegas ke terminal bus setelah berpamitan dengan tetangga sebelah dan juga ibu kosan.


Duduk menunggu keberangkatan bus di kursi lobi terminal. Pandanganku lurus ke depan fokus menonton siaran TV yang tersedia di sini. Kebetulan sedang menayangkan siaran berita terjadinya kecelakaan beruntun di sebuah tol.


Aku menajamkan pendengaran saat reporter TV menyebut nama Satria turut menjadi korban kecelakaan maut itu. Awalnya tidak yakin jika itu Satria suami Riani. Namun, saat reporter mengulangi beritanya dan menyebutkan Satria sang pengusaha properti. Juga disebutkan nama perusahaannya barulah aku yakin jika itu Satria yang sama dengan yang kuduga.


Menurut yang kudengar dari siaran berita di TV itu Satria meninggal di tempat kejadian perkara.


Benar ‘kan Tuhan itu Maha adil,  Satria Wiguna Adijaya. Andai sejak dulu kamu mendengarkan peringatanku untuk segera bertaubat, mungkin Tuhan masih memberimu toleransi. Tapi, ini yang terbaik untukmu. Tuhan masih sayang padamu, Dia mengambilmu secepat ini karena Dia tidak mau kamu berbuat lebih jauh lagi, Satria.


Innalillahi wa’innaillaihi raajiuun.


Semoga semua dosamu diampuni dan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Ma’af aku tak bisa hadiri pemakamanmu Satria. Aku akan tetap pulang ke kampung.


Riani sudah tahu di mana aku tinggal kalau dia benar-benar ingin bersamaku biarlah kelak dia datang menemuiku. Ini ujian dariku, untukmu, Riani. Aku ingin tahu seberapa besar cintamu padaku.


*** 


Sudah 3 bulan aku di kampung, tidak ada tanda-tanda Riani datang. Kurasa dia tidak benar-benar mencintaiku. Mungkin dia sudah lupa padaku. Entahlah.


Menjelang sore aku dan kedua orang tuaku duduk di ruang tamu gubuk kami. Sembari menikmati kopi ditemani gorengan. Serta diselingi obrolan hangat.


“Jun, apa ndak sebaiknya kamu segera melamar Nur saja. Kalau dilihat dari gelagatnya sepertinya gadis itu menyukaimu,” celetuk Ibu. Hampir membuatku tersedak.


“Kenapa Ibu mendadak menyuruh Juna melamar Nur, Bu?”


“Ya, daripada kelamaan nungguin Riani. Mana? Buktinya sampai sekarang dia tidak datang,” jawab Ibu.


“Iya, ayah setuju dengan Ibumu. Lagipula kami sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu, Jun,” sahut Ayah.


“Riani nggak akan datang, Jun. Dia pasti –“


“Aku di sini, Yah, Bu,  Mas Juna,”   sela seorang di ambang pintu yang kebetulan kami biarkan terbuka lebar. Sehingga ucapan Ayah pun terjeda, dan kami semua menoleh ke arah sumber suara. Memastikan siapa pemilik suara itu.


“Riani!” pekik kami bertiga, kompak.


***


Tiga hari setelah Riani datang menyusul ke desa, aku segera menghalalkannya.


Hidup kami bahagia, tidak ada lagi gangguan.


Malam ketika aku duduk berdua dengan Riani. Aku bertanya soal keputusannya yang sempat memilih kembali pada almarhum Satria kala itu.


Ternyata Riani melakukan itu semua demi keselamatanku dan keluargaku. Saat itu Satria mengancamnya. Jika Riani tidak mau kembali padanya maka Satria akan menghabisiku juga keluargaku dan keluarganya.


Sekarang aku mengerti, betapa besarnya cinta Riani untukku. Lantas kutanyakan juga soal kenapa mobil Satria bisa remnya blong. Menurut hasil penyelidikan polisi konon itu akibat perbuatan rekan bisnisnya yang culas. Dan kini pelakunya sudah tertangkap.


Aku lega mendengarnya. Ternyata bukan ulah Riani. Awalnya aku takut dia berbuat nekat.


"Syukurlah. Ternyata bukan kamu pelakunya. Aku sempat takut," ucapku. Kemudian merengkuh tubuh mungilnya.


"Aku memang benci padanya, tapi aku masih punya akal sehat kali," ketus Riani, seraya membalas pelukanku.


"Tidak ada jiwa pembunuh dalam diriku," imbuhnya.


"Ada," sahutku. Lantas Riani segera melepaskan pelukannya.


"Emang aku pernah bunuh siapa?" tanyanya.


"Membunuh hatiku dan rasaku hingga aku tak bisa merasakan cinta lain selain cintamu," ucapku asal.


Riani mencubit pinggang ini sehingga aku mengaduh. Cubitannya lumayan nyeri juga.


"Dasar bucin!" ejeknya.


"Aku rela jadi bucin hanya untukmu seorang," balasku. Kemudian melingkarkan tangan di pinggang rampingnya dari belakang. Menyandarkan dagu di sisi bahunya. Hingga kami sama-sama larut dalam hasrat yang membuncah.


***


Setahun berlalu, buah cinta kami lahir ke dunia berjenis kelamin laki-laki. Hidupku telah terlengkapi dengan hadirnya jagoan kecilku.


Hari-hari kami lalui dengan tangis, canda, tawa, dalam kebersamaan.


***


Hingga di tahun ke lima kebersamaanku dengan Riani istri hasil colonganku. Aku kembali diberi anugerah terindah yakni lahirnya buah cinta kami yang kedua. Kali ini berjenis kelamin perempuan. Sangat cantik seperti ibunya.


Lengkap sudah kebahagiaanku.


Punya istri cantik, penyabar serta saleha. Dikaruniai dua anak saleh dan saleha. Mimpiku selama ini telah terwujud. Memiliki keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah. Insya Allah.

__ADS_1


Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kudustakan.


END


__ADS_2