
***
‘Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi!’
Dari tadi selalu di luar jangkauan terus. Bima, kamu di mana? Apa yang terjadi padamu?
Mungkin lebih baik aku cek saja ke kost tempatnya tinggal. Ya, kurasa begitu seharusnya.
Menyahut jaket yang tersampir di daun pintu kamar. Lantas pergi ke tempat tinggal Bima.
Kosong, Bima tidak ada di sana. Mencoba bertanya pada tetangganya, tapi menurut penuturan penghuni kost sebelah Bima tinggal.
Bima sudah pergi sejak kemarin sore.
Lantas ke mana perginya?
Bagaimana ini? Sementara hari ini seharusnya aku didampingi Bima ke meja hijau untuk melihat pihak Satria mengajukan banding.
Telepon terus berdering sedari tadi dari pihak pengacara Satria. Setelah kuangkat rupanya mereka meminta agar aku segera datang ke pengadilan guna membicarakan hal penting.
Hal penting soal apa?
Fokusku tercerai-berai antara memikirkan bagaimana nasib Bima, dan bagaimana kabar Riani di tempat persembunyian? Masih aman dari jangkauan Satria atau jangan-jangan keberadaan Riani di sana sudah terendus oleh lelaki psikopat itu.
Juga memikirkan langkah apa yang akan kutempuh selanjutnya tanpa Bima.
Bagaimana ini? Melawan Satria tanpa pendampingan dari seorang pengacara rasanya nihil bisa menang.
Jika harus mencari pengacara lain aku tak sanggup membayar.
Argh!
Mengurut kening, kepala serasa mau pecah.
***
Sesampainya di pengadilan, Satria beserta beberapa pengacaranya sudah standby di lobi.
Melihatku datang seorang diri, Satria tertawa meremehkan.
“Di mana pelindungmu itu? Punya nyali juga kamu datang sendirian ke sini,” ucap Satria diiringi kekehan dari beberapa pengacara yang mendampinginya.
“Sudahlah, menyerah saja! Percuma, kamu nggak akan bisa melawanku, Juna!” Satria dan semua orang yang ada di pihaknya tertawa meremehkan.
__ADS_1
Aku celingukan mencari keberadaan Bima, berharap penuh dia sudah ada di sini.
“Kamu mencari siapa?” Satria memegang bahu ini. Segera kutepis. Geli rasanya disentuh tangan kotornya itu.
“Pengacaramu?” Lagi, Satria terkekeh seraya memainkan kunci mobil di tangannya.
“Selamanya dia tidak akan mungkin datang!” lanjutnya, seraya menatapku intens. Aku bergeming mencoba mencerna ucapan Satria.
“Apa maksudmu?” tanyaku, penuh penekanan.
Namun, Satria hanya tersenyum licik. Lalu pergi meninggalkan aku yang masih diam mematung di tempat semula. Di wajahnya tersirat jelas keyakinan bahwa seolah dirinya bakal memenangkan kasus ini.
***
Di dalam ruang sidang, aku bingung tidak tahu harus berbuat apa? Biasanya Bima yang menghendel semua. Sekarang aku sendirian di sini tanpa pendampingan.
Jika tak kudapatkan keadilan di negeri ini. Aku hanya percaya bahwa Tuhan pasti akan turun tangan memberikan keadilan untukku.
Pasrah hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.
Aku meminta pada Hakim agar ditunda saja sidang hari ini. Hakim mengabulkan permintaanku. Sementara pihak Satria, mereka tertawa penuh kemenangan.
***
“Arjuna, tunggu!”
Aku terkesiap mendengar seseorang memanggilku dari arah belakang. Lantas menoleh ke sumber suara, urung naik ke dalam angkot.
Satria, mau apa lagi dia?
“Bagaimana Bung, jadi tidak naik angkotnya?” pekik si sopir.
“Ma’af Bang, sepertinya nggak jadi,” balasku seraya menangkupkan tangan. Sopir angkot mendengkus kesal, lalu pergi melajukan angkotnya.
“Ada apa kamu memanggilku?”
Satria lagi-lagi dia terkekeh meremehkan.
“Sudahlah, Jun, kamu nyerah saja. Serahkan Riani kembali padaku, dan akan kubiarkan kamu hidup bebas.”
“Kamu tidak akan pernah menang melawanku, Jun!” imbuhnya penuh penegasan, seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia begitu yakin akan memenangkan kasus ini.
Wajahnya begitu angkuh, seolah ia benar-benar kebal akan segala sesuatu di bumi ini. Dia mungkin kebal dan bisa lolos dari jerat hukum di negeri ini. Tapi aku yakin kelak dia tidak akan bisa lolos dari peradilan Tuhan.
__ADS_1
Meski begitu besar keyakinanku akan keadilan Tuhan. Tapi tak bisa dipungkiri nyaliku menciut saat ini. Aku yakin, Satria akan menghalalkan segala cara untuk menang. Jika aku terus melawan tanpa pendampingan seseorang yang mengerti akan hukum dapat dipastikan aku akan kalah. Secara dia pendampingan hukumnya sangat kuat.
Aku ibarat remahan rempeyek kini. Tak berarti apa-apa di matanya.
Bahkan besar kemungkinan Satria akan menghabisiku. Seperti yang Riani ceritakan kala itu. Ya, Riani pernah menyaksikan secara langsung Satria menghabisi seseorang. Entah masalahnya apa? Saat hendak melapor ke pihak berwajib, ia diancam. Dan semua barang bukti akan tindak kriminalnya itu sudah dihilangkan.
Sehingga menyulitkan pihak kami untuk menguak kasus ini. Riani pernah mengadukan pada polisi akan apa yang dilihatnya, tapi tanpa bukti, polisi tidak bisa menindak lanjuti laporan Riani.
“Kembalikan Riani padaku! Karena percuma, kamu nggak akan menang!” ancamnya. Lalu pergi meninggalkan aku yang masih bergeming di tempat semula.
Aku kembali teringat soal Bima yang sampai kini belum ada kabar. Sebelum berangkat ke sini tadi, aku sudah mencari Bima ke mana-mana termasuk ke tempatnya tinggal. Tapi, nihil.
Apa menghilangnya Bima saat ini ada kaitannya sama Satria?
***
Dari kemarin sejak terakhir Bima memberi tahu bahwa dia telah mendapat bukti akurat yang kemungkinan besar bakal memberatkan pihak Satria, sampai sekarang belum ada kabar.
Ck, ke mana kamu, Bim?
Mencoba menelepon semua kerabat dan keluarganya di kampung. Sama seperti aku, mereka juga kehilangan kontak dengan Bima sejak kemarin.
Sekarang aku harus mencari kamu ke mana lagi, Bim?
Membosankan acara TV sedari tadi hampir semua chanel menyiarkan berita tentang penemuan mayat tanpa identitas. Dengan kondisi yang sangat mengenaskan sulit dikenali.
Ada-ada saja, kenapa sekarang manusia berubah menjadi bringas? Keji sekali perbuatan si pembunuh itu.
Menggeleng, mengurut kening, kembali menatap layar gawai. Berharap ada kabar dari Bima, tapi HP sedari tadi sepi-sepi saja. Tidak ada notif.
Kembali fokus pada layar televisi. Sebentar, itu celana dan baju yang dikenakan mayat dalam berita, kok sama seperti punya Bima.
Ah, tidak ... tidak mungkin itu Bima. Aku yakin Bima masih hidup. Pasti cuma kebetulan sama saja pakaiannya. Toh, kan pakaian kayak gitu banyak yang sama di pasaran.
Menggeleng menepis prasangka burukku. Berusaha berpikir positif akan keadaan Bima di luaran sana. Tapi, entah kenapa perasaanku mendadak gelisah dan khawatir.
Klung ....
Akhirnya ada notifikasi pesan masuk juga. Semoga ini pesan dari Bima. Segera kuraih ponsel yang semula tergeletak di atas meja depanku duduk. Lantas membuka pola sandinya. Dan membuka aplikasi whatsapp.
N E X T
👇👇👇
__ADS_1