
>>>>>>>
Kutepuk pundak Riani yang hampir sepanjang perjalanan tidur dengan begitu pulasnya. "Bangun," bisikku tepat di telinga kirinya.
"Hemh," gumamya, seraya mengerjap kemudian diuceknya mata bermanik cokelat itu lalu melek. Lantas menoleh ke sana kemari saat kesadarannya sudah kembali sepenuhnya. Riani tampak linglung.
"Ini di mana?" tanyanya, masih sambil menatap ke luar jendela bis. Kemudian menoleh ke arahku. "Hemm?" gumamnya, sambil menatapku lekat meminta penjelasan dariku.
"Ini ..., kampung tempat aku dilahirkan," jawabku, sambil mengulas senyum. Lagi, Riani mengamati pemandangan sekitar dari balik kaca jendela bis.
"Wow, indah ya, kelihatan masih asri," tuturnya, masih sambil membelakangiku.
Aku terkekeh melihat tingkahnya. Lucu.
"Ya, beginilah situasinya. Namanya juga pedesaan, aku gak yakin sih, kamu bakal betah tinggal di sini. Sepi dan jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan."
Riani menoleh kemudian tersenyum. Ah, manis sekali meski tanpa pemanis buatan.
"Mau di hutan juga asal bersamamu, aku betah," ucapnya malu-malu sambil menahan senyum. Geli mungkin dengan ucapan yang barusan ia lontarkan.
"Ck, gombalnya lanjutin nanti," ucapku sambil berdiri dari duduk. Riani menepuk lengan kananku, lumayan keras sehingga menimbulkan rasa pedas. "Sakit," rengekku sambil mengusap lengan.
"Eh, ma'af! Kekerasan ya, aku mukulnya," ucapnya dengan tampang merasa bersalah. Lantas turut mengusap lenganku.
"Gak sakit kok, cuma pedes kayak sambal bawang,"
"Ih, apaan sih, gak lucu!" desis Riani. Lagi, dia menepuk lengan ini.
"Aww! Ya salam, kenapa ditambahin?" tanyaku. "Yang tadi aja pedesnya belom ilang," sambungku sambil memasang tampang memelas.
"Ma'af!" ucapnya seraya menangkupkan tangan dengan ekspresi wajah merasa bersalah. Aku terkekeh dibuatnya.
"Sudahlah lupakan. Yuk, turun!" ajakku kemudian. Lantas kami pun turun dari bis.
Akhirnya sampai juga di desa Kerajan, tanah kelahiranku. Setelah melakukan perjalanan hampir sehari semalam. Sejenak kupejamkan mata dan menghirup udara sejuk khas pedesaan.
Suasana pedesaan yang sudah sejak lama kurindukan. Dulu ketika berangkat merantau ke kota, aku pernah bilang ke orang tuaku. Bahwa aku baru akan pulang setelah sukses.
Gak nyangka, sekarang aku benar-benar sukses. Sukses membawa kabur istri orang. Ah, ini sungguh sesuatu yang sama sekali tidak terduga. Gak tahu kenapa aku jadi seberani dan senekad ini sejak mengenal wanita cantik bernama Riani ini.
"Kenapa lihatinnya kayak gitu banget sih?" tanya Riani, membuyarkan lamunanku.
"Eng-enggak ...," Sial! Entah kenapa mendadak gerogi.
"Ya sudah, yuk kita lanjutkan perjalanan!" ajakku. Lantas kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang membelah persawahan. Setelah sebelumnya kami melewati jalan berbatu beberapa ratus meter.
"Ini masih jauh lagi?" tanya Riani, sambil menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang, ke arahku.
"Kamu capek ya?" tanyaku, dan Riani pun mengangguk sambil pasang wajah lelah. Wajar sih, medan pegunungan naik turun seperti ini pasti membuatnya kelelahan. Bagaimana tidak, Riani sebelumnya belum pernah ke daerah pegunungan.
"Enggak jauh sih, tapi kalau capek, kita istirahat dulu di sana, gimana?" saranku sambil menunjuk sebuah gubuk yang terletak beberapa meter di depan kami, dan Riani lagi-lagi mengangguk setuju.
Selanjutnya kami pergi dan istirahat di dalam gubuk yang terletak di pinggir jalan setapak yang kami lalui ini.
Kurogoh botol air mineral yang ada di dalam ransel, kemudian kubukakan tutupnya dan kusodorkan pada Riani yang tengah menyeka keringatnya. Dia terlihat sangat kelelahan. Kasihan.
"Ini, minum dulu!" titahku, dan Riani pun menoleh, menatapku lekat seraya melontarkan senyum. Kemudian meraih botol minum dari tanganku. "Terima kasih," ucapnya, lalu menenggaknya.
Sekali lagi wanita bermata indah yang tengah duduk di sampingku itu mengucapkan terima kasih usai minum.
"Iya, sama-sama," jawabku, seraya meraih botol dari tangan Riani. Lantas kututup kembali, dan kumasukkan ke dalam ransel.
Setelah rasa lelah sedikit berkurang dan tenaga kami kembali fit, kami pun melanjutkan perjalanan. Hingga sampai di pelataran sebuah rumah berbentuk joglo.
"Ini rumah kamu?" tanya Riani, sambil menunjuk ke arah rumah yang berjarak beberapa meter di depan kami berdiri saat ini. Aku mengangguk mengiyakan.
Riani mengangguk-angguk pelan sambil ber-oh ria. Kemudian pandangan matanya mengedar mengamati sekitar.
"Kenapa? Rumahnya ... bentuknya aneh ya?" tanyaku, sambil nyengir takut kalau-kalau Riani merasa aneh dengan bentuk rumah orang tuaku.
"Hemm, enggak kok, rumahnya bagus. Aku suka malahan sama model dan suasananya," jawabnya dengan mantap. Tapi, aku gak yakin sih, Riani bakal betah di sini.
__ADS_1
Rumahku jika dibandingkan dengan rumah Pak Satria jauh soal kemewahan serta fasilitasnya. Bagai bumi dan langit. Di sini toiletnya saja masih MCK alias kakus. Aku gak yakin bakal bisa membahagiakan Riani seperti yang aku janjikan dulu.
"Kok malah bengong? Bener, ini rumah kamu?" tanya Riani yang sudah sampai di teras rumah.
Aku tersentak dari lamunan. "Hem, iya bener kok," jawabku. Kemudian menyusulnya ke teras, dan kuketuk pintu yang terbuat dari papan kayu dengan cat cokelat yang sudah memudar.
Tak lama keluar wanita paruh baya, tidak lain dia adalah wanita yang telah melahirkan aku 27 tahun silam. Ya, dia Ibuku.
Sepersekian detik baik Ibu maupun aku juga Riani tertegun di ambang pintu.
Perlahan mata Ibu mulai mengembun. "Kamu pulang, Jun?" ucapnya dengan nada parau, dan bulir bening pun jatuh berderai. Segera kupeluk tubuh rentanya, kami sama-sama terisak.
Setelah kangen-kangenan usai, Ibu melepaskan pelukannya. Kemudian menunjuk Riani. "Ini siapa?" tanyanya.
Dengan cepat Riani menyambar tangan Ibu lalu dikecup punggung tangan keriput itu. "Saya Riani, Bu," ucapnya, memperkenalkan diri dibarengi dengan anggukan hormat.
Ibu menatap Riani sedemikian rupa.
Sepersekian detik kemudian Ibu mengalihkan pandangannya ke arahku. Sorot matanya seolah menyiratkan tanya. Siapa Riani?
Aku tersenyum mencoba menyamarkan rasa gugup dan takut. Takut, jika Ibu tahu aku membawa kabur istri orang, entah bagaimana reaksinya nanti.
Kurangkul bahu Ibu lantas mengajaknya masuk. Sesampainya di ruang tamu, Ibu mempersilakan Riani duduk dan kami bertiga pun duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu tanpa busa. Pastinya keras dan tidak nyaman. Jauh bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan kondisi rumah mewah milik Satria.
Riani tampak mengamati sekeliling, dinding yang terbuat dari papan kayu dengan cat abstrak, kusam, karena sudah lama memudar. Entah berapa puluh tahun rumah ini tidak direnovasi.
Keyakinanku perihal Riani bakal betah tinggal di sini menyusut seketika saat melihat ekspresi wajahnya ketika dia melihat langit-langit rumah yang dipenuhi sarang laba-laba. Dia terlihat kegelian.
Duh, wajah ini serasa dikuliti. Malu. Bagaimana bisa dengan kondisi seperti sekarang, aku begitu percaya diri dan berkata bahwa aku bisa membahagiakan Riani. Meghela napas panjang lantas kuhembuskan perlahan. Timbul niat ingin kupulangkan saja dia pada suaminya.
Tapi, aku tak rela dan tak sanggup jika harus melihat Riani mendapat kekerasan fisik lagi dari suaminya yang kejam itu. Namun, jika di sini keadaannya seperti ini lalu apa bedanya? Riani pasti sama menderitanya.
Menunduk meratapi kenyataan memilukan. Bimbang menyergap seketika. Bingung antara mengembalikan Riani ke habitat semula atau mempertahankannya agar dia tetap di sini. Di sampingku dalam suka maupun duka.
Tapi, apa iya, dia bakalan kuat menjalani hidup susah denganku?
"Mas, kamu kenapa? Kok lihatin aku sampe segitunya?" Aku tersentak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Riani.
Baru saja mangap hendak menjawab pertanyaan Riani, Ibu keluar dari arah dapur membawa nampan berisi teh dan kopi.
Entah berapa lama aku hanyut dalam dunia lamunan. Sampai-sampai tak tahu kapan Ibu beranjak pergi ke dapur.
Selanjutnya kami mengobrol panjang lebar tentang banyak hal.
"Oh, ya, ngomong-ngomong kalian ada hubungan apa?" tanya Ibu, sambil menatapku dan Riani secara bergantian.
Aku dan Riani saling pandang, kemudian kutatap wajah Ibu yang antusias menunggu penjelasan dariku.
"Bu, Ayah mana? Kok dari tadi gak kelihatan?" tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku masih belum sanggup menjelaskan yang sebenarnya. Takut Ibu syok.
"Ayahmu masih di ladang," jawabnya singkat.
Saat Ibu kembali melontarkan pertanyaan yang sama yakni siapa Riani? Lagi, aku mengalihkan pembicaraan dengan dalih capek. Akhirnya Ibu menyuruhku istirahat, pun dengan Riani.
Lantas kami pergi ke kamar yang berbeda, tapi dengan tujuan yang sama yakni istirahat.
Aman. Ya, setidaknya aman untuk hari ini. Tapi, aku harus mulai menyiapkan mental untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Ibu juga Ayah.
**********
**********
Sudah tiga hari aku dan Riani tinggal di rumah ini bersama Ibu dan Ayah. Semua berjalan normal tak ada masalah. Warga desa sini juga sangat welcome dengan kedatangan Riani. Mereka sama sekali tak mempermasalahkan keberadaannya di rumahku.
Lagi pula selama Riani tinggal di rumah Ibu dan Bapak, aku lebih sering numpang tidur di rumah paman ketika malam hari.
Namun, masih ada yang mengganjal dalam benak ini. Aku masih punya hutang penjelasan terhadap Ibu dan Ayah. Ya, sudah selama itu aku tinggal bersama orang tua, tapi belum punya keberanian untuk menjelaskan siapa Riani sebenarnya.
Sudah cukup aku berdalih, kurasa sudah saatnya aku menjelaskan pada Ibu dan Ayah. Menghela napas pajang lalu mengembuskannya perlahan. Mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan.
Setelah keberanianku terkumpul, aku memanggil Ibu juga Ayah ke halaman belakang. Aku tak ingin Riani melihat ekspresi terkejutnya Ayah dan Ibu.
__ADS_1
Dengan penuh kehati-hatian aku mencoba menjelaskan serta sekuat tenaga mencoba menahan getaran yang mengguncang tubuh ini. Takut. Takut Ibu dan Ayah murka.
"APA?!" pekik Ibu dan Ayah nyaris berbarengan, setelah mendengar penjelasan dariku.
"Kamu sudah gila, ya?" lanjut Ayah, sambil menunjukku dengan kasar. Raut wajah antusiasnya berubah murka.
Ya, mungkin memang benar, aku sudah gila. Karena sudah bertindak senekad ini, membawa kabur istri seorang konglomerat.
Ibu dan Ayah semakin syok lagi, saat kujelaskan bagaimana serta status juga strata Satria, suami Riani.
"Apa?! Seorang konglomerat? Kamu benar-benar sudah gila, Jun!" hardik Ayah. Bibir ungunya akibat sering terpapar nokotin itu mengatup geram.
Sementara Ibu terlihat panik dan ketakutan. Air mata yang berusaha ia tahan pun meluncur bebas di pipi keriputnya.
"Jika benar, suami Riani seorang Konglomerat. Maka besar kemungkinan dia bakal menemukanmu," sambung Ayah. Kemudian lelaki paruh baya yang berdiri tepat di hadapanku itu menunduk.
Raut wajah yang semula dipenuhi angkara murka, kini berubah menjadi penuh kecemasan serta ketakutan.
Praang!
Riani yang mendengar obrolan kami syok, nampan berisi beberapa cangkir kopi terjatuh berserakan ke lantai.
Dengan gusar ia berusaha membereskan nampan juga serpihan gelas yang pecah.
Segera aku berlari dan membantu membereskan semuanya.
Setelah beres, Riani berlari ke luar rumah. Mengayunkan langakah setengah berlari menuju persawahan yang ada di belakang rumah.
Aku berusaha mengejarnya sambil terus meneriakkan namanya agar menungguku. Namun, tak dihiraukannya. Dia terus melangkah tanpa henti sambil sesekali tampak mengusap pipi. Kurasa dia menangis.
"Yani, berhenti!" pekikku, dan akhirnya dia berhenti juga. Tepat di samping gubuk yang terletak di tengah sawah. Jaraknya dari rumah lumayan jauh, ratusan meter.
Kemudian Riani duduk di dalam gubuk, pun dengan diriku. Kami duduk bersisian, mata kami nanar mengamati hamparan padi yang tumbuh subur di sawah sekeliling gubuk. Tampak hijau dan asri ditambah lagi pohon pisang serta pohon kelapa juga pohon lainnya yang tumbuh jarang-jarang di sela padi yang menghampar luas. Menambah kesan asri dan indah.
"Aku minta ma'af, sudah merepotkanmu," ucap Riani, memecah keheningan setelah sebelumnya kami sama-sama terdiam beberapa lama. Wajah ayu itu tampak murung. Setelah menatapku sekilas ia menunduk. Kesedihan begitu kentara di wajah cantiknya.
Kugenggam jemarinya yang sedikit kasar setelah beberapa hari tinggal di sini dan harus membantu Ibu mengerjakan pekerjaan rumah. Sebenarnya tidak ada paksaan, tapi Riani bersikeras membantu mengerjakan semuanya. Padahal saat di rumah mewah sana ia tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah. Aku semakin merasa bersalah terhadap kondisi Riani yang sekarang. Tampak lusuh tak terawat. Jangankan buat beli skincare, buat beli garam saja kadang ngutang dulu.
"Aku yang minta ma'af, karena sampai sekarang belum bisa membahagiakanmu seperti janjiku dulu," balasku, seraya mengusap air mata yang mengalir di pipi mulusnya.
"Aku bahagia di sampingmu," ucapnya, terdengar sahdu di telinga ini. Sorot mata Riani yang teduh selalu membuatku nyaman dan betah menatapnya berlama-lama.
"Hanya saja ... benar yang dikatakan oleh Ayahmu. Bukan tidak mungkin Mas Satria bakal menemukan kita di sini. Jika sampai itu benar terjadi, maka bahaya mengancam. Bukan hanya kita, tapi juga orang tuamu," sambungnya. Kemudian wajah sendunya kembali menunduk, sedih.
"Kamu tenang saja, aku siap menghadapi bahaya apapun demi kamu dan keluargaku." Kuusap bahunya berusaha meyakinkan, serta menyelipkan anak rambut ke sela daun telinganya.
Menepuk bahu memberi isyarat agar Riani bersandar, dia tersenyum lantas menyender pada sisi bahu ini. Kami sama-sama hanyut dalam suasana nan sahdu.
Setelah kami sama-sama tenang, kami memutuskan untuk pulang. Lagi pula sang surya sudah bertengger di ufuk barat pertanda hari telah sore.
Kami melangkah sambil bergandengan tangan, sesekali kugoda dia dengan pura-pura mendorong tubuh rampingnya. Aku suka melihat ekspresi ketakutannya. Takut jatuh ke lumpur sawah. Lucu.
"Kok berhenti? Ayo, jalan lagi!" ajakku, saat Riani tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Capek," rengeknya, seraya mengusap peluh yang membasahi keningnya.
Tanpa pikir panjang langsung ku gendong. Sepersekian detik tubuh ramping Riani sudah berada di atas punggung.
Dia berontak dan tak terima dengan perlakuanku, aku tak peduli tetap berjalan dan enggan menurunkannya dari gendongan.
"Sudah sampai," ucapku, seraya menurunkan Riani dari gendongan.
Bukannya dapat ucapan terima kasih malah dapat pukulan manja serta omelan dari Riani.
Mengabaikan Riani yang masih bersungut sebal di teras. Lantas bergegas masuk ke dalam rumah. Aku mematung bingung, saat mendapati barang-barang di dalam rumah berantakan.
Apa yang terjadi?
N E X T
👇👇👇
__ADS_1