Istri Hasil Colongan

Istri Hasil Colongan
BAB 4


__ADS_3

>>>>>>>>>>


"Ibu, Ayah!" pekikku, sambil berlarian ke setiap penjuru rumah mencari keberadaan kedua orang tuaku. Mendengar teriakanku memanggil Ibu dan Ayah, Riani berlari ke dalam rumah.


"Ada apa?ย  Apa yang terjadi? Ibu dan Ayah kenapa?"ย  cerocosnya, sambil mengekor ikut lari ke sana kemari. Kita sama paniknya.


"Entahlah. Ibu dan Ayah tidak ada di rumah," jawabku, sambil celingukan. Bingung.


Setelah setiap penjuru rumah selesai kusisir dan orang tuaku tidak ada. Aku memutuskan berhenti sejenak. Berdiri di ruang tamu yang berantakan bagai kapal pecah.ย  Terus bertanya-tanya dalam hati, di mana dan apa yang terjadi dengan Ibu juga Ayahku?


"Tidak salah lagi, ini pasti kerjaan anak buahnya Mas Satria," ucap Riani. Kemudian kami saling pandang. Sorot mata Riani menyiratkan kecemasan dan ketakutan.


Sepersekian detik kemudian kaca-kaca yang menggenangi matanya luruh. Tetes demi tetes bulir bening itu semakin menderas seirama dengan sedu sedannya.


Mendekat dan meraih kepalanya lalu menyandarkan di dada ini, kuusap pucuk kepalanya berusaha menyalurkan kekuatan dan ketenangan. Meski sebenarnya aku sendiri dilanda ketakutan dan kepanikan. Takut jika terjadi sesuatu pada Ibu dan Ayahku.


"Seharusnya dari awal aku menolak tinggal di sini. Sekarang kamu tahu kan, Mas, akibatnya. Orang tua kamu jadi kebawa-bawa," ucap Riani, di sela isak tangisnya.


"Tenanglah! Belum tentu juga kan, ini ulah anak buah Satria." Aku berusaha menenangkan kekalutan Riani.


"Mas Satria itu orangnya nekad. Dia tipe orang yang gak mau kalah. Aku yakin ini semua pasti ulahnya." Riani beringsut dari dekapanku. Berdiri di depanku sambil menatapku lekat. Sorot matanya penuh keyakinan.


"Iya, tapi kamu tenang dulu, ya!" Kupegang kedua sisi bahunya, lalu kuusap air mata yang sedari tadi mengalir tanpa henti.


"Aku takut terjadi sesuatu sama Ibu dan Ayahmu, Mas." Riani kembali menyandarkan kepalanya di dada ini. Terisak lagi.

__ADS_1


Kriiing ... kriiing ... kriiing.


Dering ponsel yang entah dari mana asalnya membuat aku dan Riani menyudahi aktifitas pelukan. Lalu sama-sama mencari letak ponsel itu.


"Ini Mas!" pekik Riani, saat dia menemukan ponsel di antara tumpukan barang-barang yang berserakan.


Ponsel android warna gold itu lalu diberikan padaku. Membuka pesan masuk lalu kubaca secara seksama. Ternyata itu pesan dari Satria. Lelaki keparat itu memberi arahan lewat pesan itu agar aku membuka GPS jika ingin tahu di mana keberadaan orang tuaku.


Tidak hanya itu, jika dalam jangka waktu dua hari aku tak mengembalikan Riani, maka orang tuaku akan dihabisi.


"Keterlaluan!" umpatku sambil memukul tembok.


"Benar kan, Mas. Ini semua ulah Mas Satria?" tanya Riani. Suaranya terdengar parau. Aku mengangguk lalu menghela napas pajang. Rasanya berat sekali.


"Mungkin sebaiknya aku memang harus kembali ke Mas Satria. Ayo kita berkemas dan pergi selamatkan orang tuamu, Mas. Aku gak mau mereka kenapa-kenapa gara-gara aku," ucap Riani, sambil bergelayut di lengan ini.


"Enggak. Aku gak akan menyerahkan kamu ke Satria lagi. Gak akan pernah. Sabar aja dulu, tenang! Pasti ada jalan lain."


"Ya, tapi apa, Mas?" sahut Riani dengan nada meninggi.


"Sekarang kita bereskan rumah ini dulu, sambil cari cara untuk membebaskan orang tuaku tanpa harus mengorbankan kamu."


Lagi, ponsel yang kini di tangan Riani berdering. Notifikasi pesan masuk. Usai membaca pesan masuk itu mata Riani kembali berkaca-kaca. Segera kusahut ponsel dari genggamannya.


[Ingat ya, dua hari lagi kembali ke sini serahkan istriku atau kamu tidak akan pernah melihat batang hidung kedua orang tuamu, selamanya!]

__ADS_1


"Sudahlah, jangan nangis! Kita bereskan rumah dulu sambil mencari solusi dan jalan keluar untuk masalah ini!" Kuusap bahu Riani, untuk kesekian kalinya berusaha menenangkannya kemudian dia mengangguk. Lantas mengusap sisa air matanya, dan kita mulai sibuk berbenah rumah.


Setelah selesai merapikan rumah. Hari sudah menjelang malam.Riani masak dan kami sama-sama menikmati makan malam. Tak ada obrolan atau candaan. Hening. Hanya suara sendok beradu dengan piring yang terdengar.


*******


Kepala serasa pening bagai mau pecah saja, semalaman berpikir keras bagaimana keluar dari masalah ini. Tapi buntu, sampai sekarang belum menemukan caranya. Sementara Riani terus saja merengek minta pulang ke rumah suaminya yang kejam itu.


"Enggak! Aku gak akanย  menyerahkan kamu pada lelaki biadab itu."


"Ya, tapi Mas, gak ada cara lain untuk membebaskan orang tuamu. Satu-satunya cara aku harus pulang." Aku menggeleng tak setuju dengan usul Riani. Kami pun bersitegang lalu terdiam beberapa saat. Sama-sama meredam emosi yang menguasai jiwa masing-masing.


"Kita lapor polisi saja dengan tuduhan penculikan terhadap orang tuaku."


"Kalau kita lapor polisi, Mas Satria itu pinter banget memutar balikkan fakta. Bisa-bisa nanti bukannya dia yang masuk bui, tapi kita yang dipenjarakan." Benar apa kata Riani, Satria itu selain banyak uang dia juga punya banyak relasi di dalam kepemerintahan. Sedangkan aku? Argh!


Lagi, kami sama-sama terdiam.


Saat aku dan Riani duduk termenung di ruang tamu. Tiba-tiba terdengar seseorang mengucap salam sambil mengetuk pintu. Suara seorang pria.


Mungkinkah itu anak buah Satria?


N E X T


๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

__ADS_1


__ADS_2