Istri Hasil Colongan

Istri Hasil Colongan
BAB 5


__ADS_3

>>>>>>>>>>


"Siapa yang datang?" tanya Riani dengan nada berbisik. Aku hanya menggeleng. Kemudian berdiri hendak membuka pintu. Namun, dicekal oleh Riani, ia takut kalau itu anak buah Satria.


"Enggak usah takut, kan ada aku. Tenang ya!" ucapku berusaha menenangkan kepanikan dan ketakutan yang menguasai diri Riani.


Menarik napas pajang lalu kuembuskan perlahan, kemudian kuputar knop dan kubuka pintunya. Sehingga menampakkan sesosok yang berdiri tegap di balik pintu. Sosok yang tak asing di mata ini.


"Bima!" pekikku, nyaris bersamaan dengannya yang juga meneriakkan namaku. Lantas kami saling berpelukan layaknya teletubies. Saling melepas rindu setelah hitungan tahun aku dan Bima tak pernah saling temu.


Riani masih berdiri di tempat semula, di dekat kursi yang ada di ruang tamu. Menatap bingung ke arahku dan Bima. Sahabat masa kecilku yang kini telah sukses menjadi pengacara.


Kesuksesan yang dicapai Bima kini, 'tak lepas berkat campur tangan orang tuaku. Yang dulu rela menjual sebagian tanahnya saat orang tua Bima meminta bantuan soal biaya kuliahnya. Dan orang tuaku tidak meminta imbal balik.


"Ini siapa?" tanya Riani juga Bima sambil saling tunjuk satu sama lain. Aku terkekeh dibuatnya.


Kemudian kuberi waktu untuk keduanya agar saling berkenalan. Setelah prosesi perkenalan usai lantas kupersilakan Bima duduk, dan meminta tolong pada Riani agar membuatkan minum untuk kami.


"Loh, kok sepi, Bu De sama Pak De ke mana?"


Aku tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Bima. Menghela napas pajang lalu mengembuskannya perlahan. Kemudian menggeleng sambil mengedikkan bahu.


"Maksudmu dengan begini apa?" Bima menirukan gelengan juga kedikkan bahuku.


"Ibu dan Ayahku diculik orang, Bim," jelasku kemudian.


"Hah!" seru Bima. Sehingga membuatku tersentak kaget.


"Sorry--sorry. Aku syok," lanjutnya. "Kok bisa, gimana ceritanya?" cecarnya kemudian.


Mau tak mau akhirnya aku menjelaskan semuanya kepada Bima.

__ADS_1


"Oh, jadi begitu ceritanya." Bima manggut-manggut paham. Lalu kemudian menepuk bahu ini lumayan keras. "Gak nyangka, ternyata kamu punya keberanian juga ya, bawa kabur bini orang," imbuhnya. Entah niatnya memuji atau meledek.


Sial! Aku merasa terlucuti. Membawa kabur bini orang bukanlah suatu prestasi yang patutย  dibanggakan. Tapi mau bagaimana lagi semua ini aku lakukan dalam keadaan darurat. Aku hanya berharap semoga langkah yang kutempuh ini adalah langkah yang tepat.


Lagi, Bima menepuk bahu ini. "Tenang saja aku pasti akan membantu kamu keluar dari masalah ini," ucapnya. Lumayan membuatku lega.


"Tapi aku gak yakin, Bim." Kembali asaku meredup saat ingat siapa orang yang akan kami hadapi.


"Loh, memangnya kenapa?"


Lantas kujelaskan siapa sosok Satria yang akan kami hadapi nanti.


"Tenang. Jangan pesimis dulu, Jun. Kita coba hadapi serta kerahkan seluruh kemampuan yang kita punya dulu. Baru nanti kita lihat hasilnya bagaimana. Oke!"


Aku mengangguk saja. Benar apa yang dikatakan oleh Bima. Aku gak boleh menyerah sebelum perang. Apalagi sekarang ada Bima yang siap membantu.


"Maaf lama. Soalnya tadi goreng singkong dulu," ucap Riani. Menghentikan obrolan kami.


Setelah Riani turut duduk di antara kami. Lantas kujelaskan padanya bahwa Bima siap membantu. Riani terlihat tidak yakin, sebelum akhirnya dia mengangguk setuju.


"Aku janji akan berusaha membantu sampai titik darah penghabisan," ujar Bima, kembali meyakinkan. Sepertinya Bima ingin membalas budi orang tuaku. Entahlah. Tapi aku melihat ketulusan di mata Bima.


*****


Aku, Riani dan Bima bergegas kembali ke kota setelah merencanakan semuanya matang-matang. Ingin membebaskan orang tuaku yang disandra oleh Satria, dan juga ingin membantu Riani agar segera terlepas dari lelaki psikopat itu.


Namun, semua tak semudah yang dibayangkan. Banyak yang pada akhirnya melenceng dari skenario semula. Satria yang kalah dan dinyatakan bersalah dalam kasus penyekapan kedua orang tuaku, kini memakai jurus andalannya yakni memutar balikkan fakta.


Tindakanku membawa kabur Riani yang masih berstatus sah sebagai istrinya, dia jadikan senjata untuk melaporkan balik diriku.


Aku dan Riani juga Bima sempat putus asa. Tindakanku membawa kabur Riani cukup memberatkan pihakku. Bolak-balik ke pengadilan sudah puluhan kali. Cukup melelahkan dan menyita waktu kami.

__ADS_1


Masalah orang tuaku sudah kelar, tapi masalahku dan masalah Riani masih terasa pelik. Seolah tak ada ujungnya. Satria seolah kebal hukum, setelah semua kekerasan yang dilakukan terhadap orang tuaku juga pada Riani di masa dulu tak mampu membuatnya dibui.


Sungguh dia lawan yang berat.


"Mungkin sebaiknya aku kembali saja kepada Mas Satria," ucap Riani di ujung keputusasaan.


Kungenggam punggung tangannya yang ada di atas pangkuannya seraya menggeleng. Tak rela jika Riani harus kembali pada lelaki kasar dan egois seperti Satria.


"Enggak. Jangan pernah katakan itu lagi. Apapun yang terjadi padaku, kamu gak boleh kembali kepada Satria," pintaku seraya kutatap lekat wajah ayunya yang sendu.


"Tapi aku gak tega Mas, melihat kamu terus bolak-balik ke pengadilan saling lapor dengan Satria. Sampai sekarang belum ada keputusan yang pasti. Mau sampai kapan seperti ini terus?"


"Aku lebih gak tega lagi kalau harus melihat kamu kembali kepada Satria dan disiksa seperti dulu." Kuusap pipinya yang basah karena air mata.


"Kita harus tetap semangat. Oke!" ucapku kemudian, seraya mengecup punggung tangannya, dia mengangguk lesu.


*****


Kerja keras Bima hampir membuahkan hasil. Lewat pesan via whatsapp dia mengabarkan bahwa telah menemukan bukti baru yang kemungkinan bisa memberatkan pihak Satria. Bukti tindak kriminal yang Satria lakukan, tapi pastinya apa, Bima belum menjelaskan secara detail.


Tanyaku tak kunjung mendapat jawaban. Pesan yang kukirim kepada Bima via whatsapp centang dua, tapi masih abu-abu belum membiru. Entah ke mana dia? Padahal beberapa menit yang lalu masih online, tapi kini malah sudah tidak aktif lagi semua sosial medianya.


Perasaanku tiba-tiba tidak enak. Khawatir menyergap seketika. Takut terjadi sesuatu pada Bima.


Aku semakin tak kuasa menahan kepanikan saat coba kutelepon, tapi nomor Bima juga mendadak tidak aktif.


Tidak biasanya Bima seperti ini?


N E X T


๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

__ADS_1


__ADS_2