
Hampir semalaman aku terjaga kepikiran dengan bagaimana kondisi Bu Riani? Tak mampu lagi aku menahan diri. Segera meluncur ke rumah Pak Satria. Tak peduli hari masih gulita.
Segera kulajukan motor membelah jalanan yang masih lengang. Hanya beberapa orang saja yang terlihat sedang olahraga lari pagi dan bersepeda. Ada juga yang baru pulang dari masjid usai menjalankan salat subuh.
Sesampainya di rumah Pak Satria langsung masuk setelah seorang satpam membukakan gerbang yang menjulang tinggi dengan ornamen bunga-bunga berwarna gold itu.
"Apa ndak kepagian ini, Pak?" tanya satpam menatapku keheranan.
"Hehe, maklum Pak, ini hari pertama saya masuk kerja jadi masih semangat-samagatnya," kilahku. Satpam mengangguk paham. Lalu mempersilakan aku masuk. Setelah motor terparkir segera aku masuk ke dalam rumah.
Suasananya masih sepi, hanya satu orang ART yang kutemui sedang mengepel di salah satu ruangan.
Kutepuk pundaknya pelan, karena ia tak menyadari kedatanganku. Dia sedikit terlonjak, kaget.
Kemudian menatapku sambil sebelah tangan kirinya memegang gagang pel, sementara tangan sebelah kanannya mengelus dada. "Ya ampun, Maaas, ngagetin aja deh!" Dia menghentakkan kaki. Bersungut sebal.
"Ma'af Mbak, aku ndak tahu kalau sampean kagetan."
Dia mendengkus kesal. Sepersekian detik bergeming. "Emang ada apa to, Mas. Kok pagi bener ke sininya. Memang Nyonya minta diantar ke mana?"
"Bu Riani ndak minta diantar ke mana-mana kok. Hanya saja saya terlalu bersemangat hari ini. Maklum Mbak, hari pertama kerja." Dia hanya menanggapi dengan anggukan seraya ber-oh ria. Lantas melanjutkan pekerjaannya.
Sekali lagi kutepuk pundaknya. Diapun menoleh. "Ada apa lagi to, Maaas?"
"Bu Riani apa kabar?" tanyaku setengah berbisik takut terdengar oleh Pak Satria.
"Entahlah, Mas. Dari kemarin gak keluar kamar."
"Terus, Pak Satrianya ada?"
Si Mbak ART menggeleng. "Enggak Mas. Setelah berantem. Pak Satria langsung pergi kemarin dan gak pulang lagi. Mungkin ke rumah istrinya yang lain."
"Terus, gak coba sampean cek Mbak, keadaan Bu Riani?"
"Sudah Mas. Sudah bolak-balik malah saya ketuk pintunya, saya tanya butuh apa? Tapi, ndak ada jawaban dari dalam." Mendengar penjelasan si Mbak tanpa pikir panjang aku langsung bertanya di mana letak kamar Bu Riani. Setelah ditunjukkan di mana kamaranya segera aku ketuk dan menempelkan telinga pada daun pintu. Namun, tak ada suara atau tanda-tanda kehidupan di dalam sana. Senyap.
Sekali lagi kuketuk. Tetap tak ada jawaban. Mencoba kutarik knopnya. Tak bisa dibuka. Tampaknya dikunci.
"Mbak, pintu kamar Bu Riani ada kunci serepnya gak?" tanyaku pada si Mbak yang menemaniku. Dia tampak berpikir sejenak. "Ada Mas."
"Ya sudah, cepetan ambil!" Dia mengagguk lalu membuka laci meja kecil yang terletak di samping pintu tempat kuberdiri.
"Ya elah, kenapa gak bilang kalau kuncinya di situ, Mbak?"
"Yee, yakan Masnya gak nanya di mana, cuma nyuruh ambil."
"Ya sudah, buruan!" Kuraih kunci dari tangannya dan segera kubuka. Masuk memastikan bagaimana kondisi Bu Riani. Ditemani si Mbak ART.
Wanita cantik itu masih meringkuk di atas ranjang. Badannya menggigil. Terdapat banyak sekali luka lebam pada wajah dan anggota tubuhnya yang lain. Juga luka mengering di sudut bibirnya. Sungguh memprihatinkan kondisinya. "Coba Mbak, cek suhu badannya!" Sesuai titahku si Mbak ART menempelkan punggung tangannya ke kening Bu Riani. "Ya ampun, Bu Riani demam, Mas!"
"Telepon Pak Satria!" teriakku.
"Jangan telepon dia," sahut Bu Riani dengan suara parau.
"Baiklah kalau begitu, Bu." Si Mbak menyahut lemas.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanyaku, bingung.
"Eum, telepon dokter pribadinya saja," saran si Mbak.
"Ya sudah, buruan telepon!" Mbak ART yang belum kuketahui namanya itu segera berlari tergopoh menelepon dokternya.
Sebelum dokter datang kuberi pertolongan pertama dengan mengompres kening Bu Riani.
"Terima kasih," ucapnya dengan suara parau. Kondisi tubuhnya terlihat sangat lemah sekali. Aku hanya mengangguk pelan. Sambil tersenyum canggung.
"Sekarang sebaiknya kamu keluar. Kalau suamimu tahu bisa-bisa kamu dihajar juga sama dia."
"Tapi Bu ...,"
"Permisi!" Belum sampai aku menuntaskan berbicara. Dokter sudah tiba.
"Iya, silakan masuk, Dok!" Dokter mengangguk sambil tersenyum ramah.
Keluar kamar membiarkan dokter memeriksa Bu Riani.
Setelah seperempat jam berlalu, dokter baru keluar dari kamar Bu Riani. Menyodorkan secarik kertas resep obat padaku. Memberi tahuku agar menebusnya di apotik.
"Baik, Dok. Nanti segera saya tebus."
"Baiklah Pak, tugas saya sudah selesai. Jadi, saya langsung permisi pulang, ya."
"Baik Bu Dokter. Terima kasih. Mari saya antar sampai depan." Lagi, dokter hanya mengangguk sambil tersenyum ramah.
Setelah mengantar dokter hingga teras. Aku kembali ke kamar untuk pamitan sama Bu Riani.
"Eum, Bu, saya permisi mau ke apotik dulu ya, nebus obat."
__ADS_1
"Iya, itu uangnya. Ambil saja di dompet itu." Bu Riani menunjuk dompetnya yang tergeletak di atas meja rias.
"Baik Bu, ma'af ya, saya ambil uangnya." Dia mengangguk lemah sambil tiduran. Sebenarnya malu harus mengambil uang dari dompet Bu Riani. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku tak punya uang sendiri. Andai punya pasti aku talangi.
\=\=\=
Sepulang dari apotik aku siapkan obatnya agar segera ia minum. Setelah sebelumnya aku suapi agar dia makan. Sebenarnya tak enak, canggung. Tapi, mau bagaimana lagi. Keadaannya sedang darurat dan kondisi Bu Riani sangat lemah. Sementara Pak Satria masih tak bisa dihubungi.
Setalah makan dan minum obat. Beberapa jam kemudian kondisi Bu Riani mulai membaik. Demamnya sudah mulai turun.
Sehingga kami sempat bercerita tentang banyak hal. Termasuk bagaimana kronologisnya Bu Riani bisa menjadi istri Pak Satria.
Sungguh miris mendengar ceritanya. Dia menikah dengan Pak Satria demi melunasi hutang orang tuanya. Bu Riani dipaksa dan keluarganya diancam akan dipenjarakan jika ia tak menuruti keinginan Pak Satria. Bahkan diancam akan dibunuh.
\=\=\=
Sejak hari itu aku dan Bu Riani bukan lagi layaknya bodyguard dan majikan tapi seperti sahabat. Kita jadi sering bertukar pikiran. Dan Bu Riani juga sering mencurahkan isi hatinya. Terkadang aku merelakan pundakku untuk ia jadikan sandaran.
Setiap kali ia disiksa oleh suaminya, sebisa mungkin aku menolongnya. Namun, semakin lama aku tak tega melihat Bu Riani terus disiksa oleh suaminya juga oleh istri-istri Pak Satria yang lain. Sehingga timbul pikiran untuk membawanya kabur dari sangkar emas itu.
"Bu, bagimana kalau kita kabur saja dari rumah itu?" Kuberanikan mengutarakan niat burukku. Dia menatapku tak percaya. Cukup lama ia bergeming. "Kamu yakin?" tanyanya kemudian. Aku mengangguk.
"Mungkin ini kedengarannya gila dan nekad. Tapi, mau bagaimana lagi Bu, aku tak bisa lagi membiarkan dirimu terus disakiti." Entah, setan apa yang merasukiku. Sehingga aku dengan lancang menggenggam tangan mulusnya. Dia bergeming. Bingung melihat tingkahku.
Dia menarik tangannya dari genggamanku lalu kami sama-sama salah tingkah.
"Eum, nanti aku coba pikirkan dulu ya, saranmu," ucapnya setelah sepersekian detik terdiam.
\=\=\=\=
Hari berganti Bu Riani belum juga mengambil keputusan. Apa dia meragukan niatku?
Saat sedang melamun di dalam kamar kosanku tiba-tiba ponsel berdering. Segera kulihat siapa yang menelepon. "Bu Riani!" Segera kuangkat. Di ujung telepon sana dia terdengar sedang menangis.
Khawatir, segera aku meluncur ke rumahnya. Dan terjadi lagi panganiayaan terhadap dirinya.
Ya, wajahnya lebam-lebam. Perbuatan siapa lagi kalau bukan suaminya. Saat kutanya masalahnya apa? Dia menjawab di sela isakkannya hanya karena ia tak mau memakai gaun seksi yang dibelikan oleh Pak Satria dari luar kota.
Ya, dia memang selalu dituntut untuk tampil sempurna oleh suaminya. Tak peduli Bu Riani nyaman atu tidak, suka atau tidak. Cih, suami macam apa dia?
Dia pikir istri itu boneka mainan yang bisa ia atur sesuka hati. Dasar lelaki pecundang. Selalu mengekang dan mengatur istri tapi dia sendiri tak mau diatur. Egois.
Pak Satria bilang itu semua ia lakukan karena cinta.
Mana ada cinta seperti itu?
Seperti biasa kudekap dia bermaksud menyalurkan ketenangan. Membiarkan ia menumpahkan airmata sepuasnya di dada ini.
"Aku sudah gak kuat lagi, Mas. Hiks ... hiks."
Kuusap pucuk kepalanya, hati ini bagai teriris. Sakit, mendengar dia benar-benar sudah berada di ujung keputusasaan.
"Kalau gak kuat kenapa gak minta cerai atau kamu saja yang menceraikan dia?" Aku tahu ini benar-benar saran terburuk. Tapi ..., ck, entahlah. Akupun tak tahu mesti bagaimana lagi.
"Sudah Mas, sudah pernah aku meminta cerai tapi dia kekeh gak mau cerai. Aku juga sudah pernah melayangkan gugatan cerai tapi, lagi-lagi dia memutar balikkan fakta. Sehingga pengadilan gak mau menerima gugatanku."
"Terus, maumu bagaimana?" Kubingkai wajah cantiknya. Kutatap lekat matanya yang selalu sembab akibat banyak menangis.
"Aku mau kabur sama kamu, Mas."
"Apa kamu yakin?" Dia mengagguk mantap.
Menghela napas panjang. Kemudian aku mengangguk dan kembali kudekap dia. "Baiklah, kalau begitu nanti malam kita pergi dari rumah ini, ya!"
"Hemmm," gumamnya sambil mengangguk setuju dalam pelukan.
"Kalau begitu sekarang kamu siapkan barang yang akan kamu bawa."
Dia menggeleng lalu melepaskan diri dari dekapanku. Kemudian mengusap sisa airmata yang membasahi pipinya. "Aku gak mau bawa barang apapun dari rumah ini."
"Ya sudah, kalau begitu gak usah bawa apa-apa. Sekarang aku pulang dulu ya, nanti malam aku ke sini lagi. Jemput kamu."
"Iya."
Sampai di kosan segera aku jual semua barang-barangku yang masih laku terjual kepada teman kosan yang lain. Dari mulai sepatu, beberapa baju dan celana, ponsel, perabot dapur, bahkan motorku. Kini yang tersisa hanyalah pakaian yang melekat di badan.
\=\=\=\=
Sesuai rencana, saat malam tiba aku bergegas ke rumah Bu Riani.
"Mas, tumben malam-malam kemari?" tanya Pak Satpam menatapku heran.
"Eum, iya, Pak. Tadi Bu Riani menelepon, minta dikawal. Katanya beliau mau pergi ke suatu tempat."
"Oh, begitu." Lelaki yang mengenakan seragam khas satpam itu mengangguk paham.
"Silakan masuk, Mas!"
__ADS_1
"Terima kasih, Pak."
Kemudian kami berjalan beriringan meninggalkan gerbang dia hendak menuju posnya aku hendak ke dalam rumah menjemput Bu Riani.
"Oh, ya, tumben Mas, ndak bawa motor?" tanya Pak Satpam sesaat sebelum aku masuk ke rumah.
"Enggak Pak. Biasalah, motor tua. Mogok."
Lagi, dia ber-oh ria sambil mengangguk paham. Kemudian kami berpisah dia kembali ke posnya dan aku masuk menemui Bu Riani.
Saat sampai di ruang tamu Bu Riani mendekat. Celingukan ketakutan. "Gimana, berangkat sekarang?"
"Suuusssth!" desisnya seraya menempelkan telunjuk di bibir.
"Kenapa?" tanyaku bingung. Kenapa dia kelihatan ketakutan bukannya katanya sore tadi suaminya sudah berangkat ke luar kota. Jadi seharusnya aman. Gak ada yang perlu ditakutkan.
"Pelan-pelan bicaranya!" ucapnya setengah berbisik.
"Memangnya ada apa?" tanyaku setengah berbisik pula. Alis ini menaut tak mengerti.
"Satria gak jadi keluar kota," jelasnya.
"Apa?"
"Kamu sih, dihubungi gak bisa. Hapemu kenapa gak bisa ditelepon?" Dia bersungut kesal.
"Hapeku udah aku jual."
"Kenapa dijual?"
"Buat bayar kosan sama buat ongkos kita kabur."
"Kaburnya besok saja, setelah suamiku pergi keluar kota." Kuangguki ucapannya.
"Terus gimana caranya aku komunikasi sama kamu, kalau hapenya kamu jual?"
"Gampang besok aku stanby di sini. Biar nanti aku pikirkan alasannya." Kali ini ganti dia yang mengangguk.
"Eh, kamu ada di sini, Jun. Ada apa?" Monsternya keluar. Ingin rasanya aku menghajar lelaki tak tahu diuntung itu. Andai saja dia miskin tak berduit mungkin aku bisa mengalahkannya. Tapi, apalah daya dompet kami jauh kalah tebal. Yang berjuang selalu kalah jika dihadapkan dengan yang beruang. Sial!
"Nyari hape saya kemungkinan ketinggalan di sini, Pak," dalihku ngasal.
"Oh, begitu. Coba aku telepon ya, kali aja bener ketinggalan di sini." Kuangguki saja sarannya.
"Gak naymbung, Jun."
"Ya sudah, Pak. Biar saya cari dengan cara manual saja."
"Ya sudah, kalau begitu. Silakan!"
"Terima kasih, Pak." Kemudian berpura-pura mencari hape. Setelah kurasa cukup ber-ektingnya segera aku pamitan pulang.
Ya, bersikap seperti biasa. Jika malam sudah larut selalu pulang ke kosan. Dan ketika pagi menjelang standby di rumah singa itu lagi.
\=\=\=\=
Setelah semalam menginap di kosan teman. Pagi buta aku kembali ke rumah Bu Riani. Standby menunggu Pak Satria berangkat ke luar kota.
Sesuai rencana setelah Pak Satria berangkat. Aku dan Bu Riani juga bergegas pergi dari rumah itu.
"Bu, mau pergi ke mana? Kok ndak bawa mobil?" tanya Pak Satpam penuh selidik.
"Enggak Pak, mau naik taksi saja."
"Oh, begitu. Baiklah Bu, silakan!" pungkas Pak Satpam sambil membukakan pintu gerbang untukku dan Bu Riani.
Taksi yang dipesan akhirnya datang juga setelah ditunggu beberapa saat.
"Sekarang aku ikut kemanapun kamu pergi. Terserah kamu mau membawaku ke mana." Kemudian dia menyandarkan kepalanya di sisi bahu ini seperti biasa.
Aku dan dia tidak pernah saling mengungkapkan perasaan. Kedekatanku dengannya terjalin tanpa ada unsur kesengajaan. Semua yang terjadi mengalir begitu saja. Mungkin benar pepatah jawa. Witing tresno jalaran soko kulino.
Ya, cinta di antara kami tumbuh karena terbiasa bertemu setiap hari. Aku yakin begitu adanya.
"Antarkan kami ke terminal Bus ya, Pak." Pak sopir mengangguk, dan sesuai titahku ia mengantarkan kami ke terminal.
\=\=\=
"Kamu akan membawaku ke mana?" tanyanya saat sudah berada di dalam bus.
"Nanti kamu juga tahu." Netra kami saling pandang kemudian dia tersenyum. Baru kali ini aku melihat dia tersenyum penuh kelegaan. Lantas, seperti biasa dia menyandarkan kepalanya pada sisi pundak ini hingga terlelap.
Kuusap pucuk kepalanya perlahan. "Mimpi indah ya," desisku.
Next
⬇⬇⬇
__ADS_1