
Satu minggu telah berlalu sejak malam menyakitkan itu, el terus mendatangi kamar yang awal nya di tempati oleh mereka bersama. Namun kini hanya kiran yang menempati nya seorang diri
Pagi saat ingin berangkat ke kantor dan malam saat pulanng dari kantor. Tak jarang el tidur di depan kamar sang istri hanya untuk memastikan keadaan, mana tau sewaktu waktu sang istri pergi meninggalkan nya.
***
Lain hal nya dengan kiran yang merasakan keram di perut nya, yang kadang muncul dan menghilang seketika, itulah yang ia rasakan satu minggu ini.
Hari ini kiran berniat ke rumah sakit, untuk memeriksa kondisi nya. Kiran berdiri di depan cermin dengan keadaan yang sudah rapi. Tak lupa make up untuk menutupi wajah sembam nya itu.
"semangat" gumam nya pelan
****
POV el
23 maret 2020
Tak pernah terbesit di dalam benak ku untuk menduakan sang istri (kiran) apalagi harus menikahi wanita selain istri ku
Namun hari ini, adalah hari di mana aku merasa gagal menjadi seorang pelindung sekaligus suami untuk istri ku. Hari ini adalah hari di mana aku membenci diriku sendiri, aku sangat sangat membenci itu.
"kau tau aku sudah menikah" ucap ku dingin pada shafa, istri ke dua ku. walaupun tak pernah ada kata dua untuk istri ku, istri ku hanya satu yaitu kiran
"jika tuhan sudah menulis takdir kamu bersama saya, mau sejauh apapun kamu pergi kamu akan tetap kembali pada saya" jawab wanita itu dengan tenang
"tapi kau berjalan keluar jalur takdir yang sudah tuhan atur" ucap ku lagi
"tidak ada salah nya suami memiliki dua istri, tidak ada yang melarang nya dalam nyariat islam" ucap shafa lagi
"itu hanya berlaku untuk suami yang ingin memadu istri nya, tapi aku tidak" jawab ku
"kau wanita, tapi kau tega menyakiti wanita lain. Kau akan menyesal setelah menemui istri ku, akan ku perlihatkan wanita sesungguhnya padamu" lanjut ku lagi
****
Aku berjalan keluar dari mobil, menatap bangunan megah di depan ku ini. Jantung ku berdebar dengan kencang, aku sudah tau bagaimana reaksi istri ku nanti
"el" pertama kali ku dengar dan ku lihat saat itu adalah suara lembut dan senyum manis sang istri, menanti kepulangan suami brengsek nya itu
Dan saat itu juga senyum manis nya hilang, sakit. Apa mungkin ini senyum terakhir nya, apa setelah ini pria brengsek ini masih bisa melihat senyum indah dari bidadari cantik nya itu
"maafkan aku" hanya kata kata itu yang bisa ku katakan saat itu, ini benar benar bukan keinginan ku.
__ADS_1
"jelaskan" kata kata terakhir sebelum ia pergi meninggalkan ku
"kau lihat, kau telah menyakiti wanita sebaik dia" ucap ku pada shafa yang hanya diam mematung di tempat
****
Aku duduk di sofa menatap sedih wajah sang istri, aku merasa benar benar gagal menjadi seorang pria
"aku tidak membencimu, tapi maaf aku juga tidak bisa menerima mu. Aku tidak bisa membagi milik ku dengan orang lain. Tapi jika kau mau akan ku beri dia untuk mu. aku tak rela jika milik ku di sentuh orang lain, lebih baik ku serahkan padamu dari pada harus memakainya bersamamu" ucapan yang membuat hati ku sangat sangat sakit, dia melepaskan ku setelah apa yang kita lalui bersama, dia menyerah.
"aku atau dia" pertanyan yang terlontar kan padaku, tentu saja aku akan memilih kamu dari pada dia. Tapi aku tidak bisa memilih, ini semua demi kebaikan kita bersama sayang
Lama aku terdiam menahan rasa sakit di dada ini, air mata ku terus saja mengalir dengan deras. Karna tak kunjung kujawab kiran langsung berlalu dari hadapan kami.
"dia wanita hebat bukan" tanya ku pada shafa
"dia tidak menangis, bahkan satu tetes saja tidak jatuh dari mata nya itu. Dan bahkan dia merelakan suami nya begitu saja kepada orang asing, di saat istri istri lain akan menjambak, memaki, dan bahkan menampar madu nya, dia tidak melakukan itu" lanjut ku pada wanita itu
"kau sanggup melakukan itu, tidak menangis saat melihat suami mu, orang yang sangat kau cintai membawa wanita asing ke hadapan mu" tanya ku pada nya
"kau tau apa yang membuat ku benci pada diriku sendiri" lanjut ku
"saat melihat kekecewaan pada mata wanita itu, WANITA YANG TELAH KALIAN LUKAI, apa salah nya pada kalian hiks...." ucap ku kemudian berlalu dari sana, muak sekali rasanya
Ceklek...
Pintu terbuka ku lihat wanita yang sangat ku cintai memegang gagang koper, menarik nya keluar kamar. Aku menahan nya
"aku akan pindah dari sini" kata kata yang membuat jantung ku berhenti
Pindah
Meninggalkan ku
Sendiri
Tidak tidak, ini tidak mungkin
Aku tau aku menyakiti nya, tapi tolong jangan katakan itu.
"aku tidak meninggalkan mu" ucapan yang membuat ku tersenyum, aku berjanji setelah ini tidak akan membuat mu terluka lagi, ini pertama dan terakhir kali nya
"tapi kau yang membuat ku meninggalkan mu" ucapan kali ini tidak benar, aku tidak pernah berniat membuat dia meninggalakan ku, itu tidak benar.
__ADS_1
Di tengah tegah perdebatan ini, tiba tiba dia mengaduh kesakitan. Aku langsung panik yang ku tau dia mempunyai penyakit mag.
Hati ku sangat sangat sakit melihat nya mengaduh kesakitan, aku sangat khawatir. Apalagi saat melihat air mata nya yang jatuh, aku tau kiran adalah wanita tangguh, ia sangat jarang menangis kecuali itu memang sangat sangat menyakitkan untuk nya. Dia akan menangis tapi nanti, sendiri di saat semua orang tidak melihat nya.
Hati semakin perih di saat dia memohon padaku untuk meningggalkan nya sendiri, aku suka mengelus perut nya di saat mag nya kambuh, "nyaman, bikin sakit nya reda" itulah yang di ucapkan karin pada nya di saat pelut nya di elus
tapi sekarang dia memohon padaku untuk meninggalkan nya, apa segitu benci nya dia padaku, apa dia tidak membutuhkan ku lagi, sampai sampai harus memohon begitu
"maaf" hanya kata itu yang bisa ku ucapkan, tubuh ku luruh ke lantai sambil terisak pelan kuharap ini hanya mimpi.
****
Satu minggu telah berlalu, namun hingga satu minggu ini aku belum melihat wajah cantik sang istri. Rasanya banyak sekali yang kurang selama seminggu ini.
Pagi ini aku berangkat kerja dengan keadaan yang sama, tidak memiliki gairah hidup sama sekali. Tidak lupa seracik note ku tinggalkan di pintu kamar dan meja dapur, ku tau dia melihat dan membaca nya.
Setelah sarapan sendiri, aku berangkat kerja dengan perasaan sedikit gelisah. Jangan tanyakan istri kedua ku, aku tidak ada waktu untuk mengurus nya.
****
Jam 12 siang aku masih berkutik di depan labtop
Tok....
Tok....
Tok......
Tampa permisi, orang yang tadi mengetuk pintu langsung masuk ke dalam ruangan ku.
Dia berjalan mengambil remot, dan menghidupkan tv yang sedari tadi di matikan. Aku tak menghiraukan nya dan melanjutkan bekerja
BERITA HARI INI, TERJADI KECELAKAN DI JALAN xxx
Dret.......
Dret.....
Di tengah tengah berita itu, tiba tiba ada panggilan masuk dari nomor tak di kenal di ponsel ku. Mau tak mau harus menganggkat nya
"APA" teriak ku dengar keras, tiba tiba penglihatan ku teralihkan pada layar tv yang menyala itu. Menahan rasa sesak saat melihat miris mobil pribadi yang sudah tak berbentuk itu.
POV END
__ADS_1