
Cuaca pagi yang begitu cerah namun tidak untuk seorang gadis cantik bernama Fay Siena. Gadis berusia 17 tahun, yang kini masih duduk di bangku SMP. Sedikit lucu, tapi itu kenyataannya. Sifat Fay yang kelewat nakal, sering bolos sekolah membuatnya tertinggal dan berujung tetap duduk di bangku SMP.
Fay, menutup kelopak matanya yang terasa silau oleh cahaya matahari pagi. Decakan malas yang selalu saja keluar dari bibirnya, menjadi ciri khas dari seorang Fay. Baju kusut dengan penampilan acak-acakan sudah menjadi keseharian seorang Fay Siena.
BRAKK!!
"Hah! Bentar lagi gue nggak punya pintu." gumam Fay, sembari tersenyum kecut saat melihat engsel daun pintu rumahnya terlepas.
Fay tak menghiraukan keadaan rumahnya, dia melanjutkan langkahnya untuk pergi ke sekolah seperti biasa. Masa bodoh dengan rumahnya yang sedikit ternganga, lagipula tak ada barang berharga di dalamnya. Hanya ada kasur usang dan beberapa perabotan dapur saja.
Awalnya Fay berasal dari keluarga yang berada sebelum kejadian naas yang menimpa keluarganya beberapa tahun silam. Kedua orang tuanya meninggal dengan cara misterius dan hanya menyisakan dirinya yang hidup pontang-panting sendirian. Tinggal di rumah kecil yang setiap waktu didatangi para penagih hutang.
Sesampainya di sekolah, Fay berdiri di depan gerbang bersiap menyumpal kedua lubang telinganya dengan ear phone. Dia hanya malas mendengar gunjingan para murid di sekolah tersebut yang tak bosan membuly dirinya. Jangan kira jika Fay seorang gadis lemah. Dia pandai bela diri dan juga tak segan melawan semua orang yang berani mengusik kehidupannya.
"Tumben sekali masuk sekolah." cibir sosok satpam yang baru saja membukakan gerbang untuk Fay.
Fay hanya diam dengan kedua tangan terselip di kedua saku jaket yang ia kenakan. Wajah Fay tertunduk dengan topi hitam yang setia menutup kepala serta separuh matanya. Gadis itu hanya muak dengan kehidupan yang kini ia jalani.
"Lihatlah ... anak koruptor itu masih berani menampakkan diri."
"Benar-benar tidak punya malu, jika aku menjadi dirinya mungkin aku lebih memilih mati."
"Aku dengar ibunya dulu seorang pelaccur, mungkin anaknya juga. Hahaha ..."
Fay menghentikan langkahnya dan melirik sinis ke arah anak yang baru saja menghina ibunya. Tak apa mereka mengatakan jika Fay anak seorang koruptor. Namun untuk hinaan kepada ibunya --- maaf, sepertinya Fay tidak bisa menerimanya.
__ADS_1
"Bisa elo ulangi lagi." desis Fay, sembari mendekatkan wajahnya ke arah wajah gadis di dekatnya.
Gadis tersebut justru tertawa seakan wajah mengerikan Fay terlihat sangat lucu.
"ELO ANAK SEORANG PELACCUR!"
Gadis itu menekankan setiap kata yang diucapkannya di samping telinga Fay.
Fay merepalkan kedua tangannya, dengan delikan mata tajam. Selanjutnya ia memejamkan matanya kembali untuk meredam emosi di dalam hatinya. Ini masih pagi, Fay tidak ingin mengawali harinya dengan perkelahian. Dengan kesal gadis itu mendorong tubuh gadis di hadapannya dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kelas.
Baru saja dia melangkahkan kakinya di mulut pintu, lemparan penghapus sudah menyambutnya.
PLAKK!!
Fay menunduk dengan rambut menutupi wajahnya. Napasnya mulai memburu, dia tidak bisa lagi menahan amarahnya. Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya dengan tatapan mata membunuh.
BRAKK!
"AKHHH!!! SIALAN!! HAJAR DIA!!" Murka gadis itu, menyuruh teman-temannya untuk menolong dan membalas perlakuan Fay.
Tubuh Fay tertarik ke belakang saat salah satu anak menarik rambutnya. Tubuh Fay terjatuh menabrak bangku-bangku di sana. Fay kembali bangun dan membalas perlakuan mereka semua. Suara sorak gemuruh memenuhi isi ruang kelas tersebut. Hingga pertengkaran pun di menangkan oleh Fay.
"SIAPA YANG MELAKUKAN INI SEMUA?!!" Sosok guru datang dan berteriak.
Fay mengambil tas selempang usang yang tergeletak di lantai, dengan santainya dia berjalan ke arah sang guru, "Gue. Ibu mau ngasih hukuman apa? Cepet ngomong! Gue males basa-basi."
Semua terdiam menatap betapa beraninya sosok Fay pada guru mereka. Fay berdecak dengan sudut bibir tersungging. Dia terlalu malas dengan para manusia munafik di sana. Tak peduli siapa yang salah, pasti berakhir Fay yang disalahkan. Karena kedudukan hanya dipandang dari sebesar apa harta yang mereka miliki, di mana ada uang--di situ ada kemenangan. Sebesar apapun Fay mengelak, dia yang akan mendapatkan hukuman. Begitulah hukum alam, dimana uang tetap menduduki tahta tertinggi.
__ADS_1
"Kau mengakui kesalahanmu?" tanya sang guru dengan raut wajah herannya.
Fay memainkan lidahnya di pipi dalamnya, "Apa pernah Ibu mendengar pengakuanku? Semua orang pasti akan menyalahkan ku. Lalu untuk apa aku harus membuang energi ku, hm?" Fay berucap tanpa mengalihkan pandangannya.
"Pulanglah, Ibu tidak ingin memberikan hukuman padamu." Guru itu menunduk, ucapan Fay memang benar adanya. Semua berlaku tidak adil terhadap Fay. Dia tahu jika Fay menjadi anak bulyan di sekolah.
Fay memegang kedua bahu sang guru, menatap lekat wajah wanita cantik yang kini menatapnya dengan tatapan redup. Sial! Fay kembali mengingat sosok sang ibu yang sudah lama pergi dari kehidupannya. Ingin rasanya Fay memeluk wanita dihadapannya ini. Karena hanya dia sosok orang yang masih mengerti perasaannya.
"Ibu, jangan mempertaruhkan pekerjaanmu hanya karena melepaskan aku dari hukuman. Jika aku pulang, pasti akan ada yang melaporkanmu dan kau tidak akan mengajar di sini lagi." Fay melirik para siswa di sampingnya. Yah! Sebagian besar mereka adalah anak pemegang saham di sekolah itu dan mereka bisa saja melaporkan sang guru karena memihak pada Fay.
"Ck,ck, ck! Ada drama apalagi ini?" Sosok gadis yang diketahui sebagai Queen yang paling dihormati di sekolah itu, datang dengan bersedekap dada. Menatap jijik ke arah Fay. "Heh, anak pelaccur ini lagi." cibirnya.
Fay hendak memukul gadis tersebut namun ditahan oleh guru dihadapannya. Fay mendengus kesal dia berjalan keluar dari kelas tersebut namun sosok gadis yang bernama Serly itu menggantikan langkahnya.
"Jika kau berani pulang, maka---guru kesayangan mu ini akan mendapatkan akibatnya."
"Anjinggg!!" Fay menoleh dan mengacungkan jari tengahnya ke arah Serly.
Tentunya Serly tidak terima dengan perlakuan Fay kepadanya, dia melepas sepatunya lalu melempar ke arah Fay. Dengan santai Fay menangkap sepatu Serly.
"Seekor anj lebih menyukai sampah bukan?"
PUK!!
Fay melempar sepatu Serly ke dalam Ting sampah lalu pergi begitu saja, mengabaikan teriakan tak terima dari gadis tersebut.
Serly merupakan anak dari pemilik sekolah elit tersebut. Tak ada yang berani melawannya, termasuk para guru di sana. Dia sangat berkuasa dan juga sebagai pemimpin bulying di sekolah itu.
__ADS_1