
Fay menghentikan langkahnya, menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan datarnya. Lalu kembali menghadap ke depan dan melanjutkan langkahnya, mengabaikan sosok yang memanggilnya tadi.
Fay semakin mempercepat langkah kakinya saat mendengar suara derap kaki yang berlari mengejar dirinya.
"BRENGSEKK!!" Fay menaiki tangga dan masuk ke dalam pintu pembatas balkon. Mengunci pintu tersebut agar sosok yang mengejarnya tidak bisa menuju ke atas balkon.
BRAKK!! BRAKK!!
"Aku tahu kau di sana! Buka pintunya, Nona!" teriak sosok di luar pintu.
Fay hanya mendengus pelan, dia tidak ingin diganggu. Hidupnya sudah cukup rumit dan sekarang harus dipertemukan dengan sosok pria asing yang kemarin tanpa sengaja bertemu dengan dirinya.
CKLEK!
Fay terkejut saat mendengar suara pintu terbuka. Bagiamana bisa pria itu masuk? Seolah mengerti dengan isi hati Fay, pria yang tak lain adalah Bara tersebut mengangkat sebuah kunci duplikat. Fay menggeleng, tak ingin pusing.
"Aku memilik sekolah ini." ujarnya, sembari berjalan menuju ke arah Fay.
"Gue nggak nanya."
Bara tersenyum dan menarik bahu Fay, membuat gadis itu membelalak lebar. Bagaimana tidak syok jika pria itu menatap area dadanya dengan penuh harap.
"Akhirnya ... aku mengetahui namamu. Fay Siena, nama yang sangat imut ... benar-benar menggemaskan seperti dirimu." Bara mencubit kedua pipi Fay, gemas.
Fay tertekan dengan mulut terbuka, apa benar pria ini bersikap demikian? Fay menatap pawakan Bara dari atas hingga bawah.
"Ada apa? Apa aku jelek? Apa rambutku berantakan, kalau begitu rapikan." Bara dengan tidak tahu malunya meraih tangan Fay lalu mengusapkan ke arah rambutnya. Dengan senyuman amat menggelikan.
Fay segera menarik tangannya dan mengusapkan kasar ke arah baju yang ia kenakan. Hih! Kenapa ada manusia menggelikan seperti pria di hadapannya ini? Ya Tuhan ... hidup Fay sudah sangat menderita, kenapa harus ditambah dengan penderitaan yang menggelikan seperti pria ini?
Bara mengerucutkan bibirnya. Namun beberapa detik kemudian dia kembali tersenyum dan menatap penuh ketertarikan ke arah Fay.
"Dimana ayah dan ibumu? Cepat kenalkan padaku." Bara menarik lengan Fay, tapi gadis itu tetap diam di tempat membuat Bara terdiam dan mendekat ke arah Fay.
__ADS_1
"Fay ... ada apa?"
"Gue pengen sendiri." Fay menarik tangannya dan membalik badan memunggungi tubuh Bara.
Bara menggaruk belakang kepalanya, merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Fay. Oh, atau mungkin keluarga gadis ini tidak datang dan berakhir membuatnya bersedih? Pikir Bara.
"Apa ayah dan ibumu tidak bisa datang?" Bara memberanikan diri untuk bertanya.
Fay menatap sinis ke arah Bara, "Gue nggak punya keluarga!"
Bara bungkam dia merasa sangat bersalah dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Hatinya terasa perih saat melihat tatapan penuh luka di mata Fay, "Fay, aku bisa--"
"Elo bisa nggak sih, nggak usah ikut campur urusan gue! Gue nggak butuh orang lain, ngerti!" Fay terpancing emosi dan memilih pergi dari sana meninggalkan Bara sendirian.
.
.
Fay memutuskan untuk pulang karena merasa jika acara itu sangatlah tidak penting sama sekali. Gadis itu memilih untuk bekerja. Yah, Fay bekerja di sebuah bengkel milik temannya, karena tidak ada pekerjaan lain yang mau menerima dirinya, yang bernotabene sebagai anak SMP. Lagipula pekerjaan di bengkel juga tidak terlalu sulit, Fay hanya bekerja di bagian pengecekan barang saja.
Di sisi lain Bara tengah mencari keberadaan Fay. Pria itu benar-benar sangat tergila-gila pada gadis bar-bar tersebut. Bahkan dia bertanya pada semua guru di sana dan ternyata Fay sudah pulang. Astaga! Bara kehilangan jejak lagi. Bara seperti orang stres, mengabaikan putrinya yang sekarang butuh dampingan di sana.
Sore menjelang, Fay memutuskan untuk bersiap-siap pulang.
"Fay, ... ini upahmu satu Minggu ini."
Fay tersenyum dan menerima upah yang terbilang tidak seberapa itu. Dia berpamitan pulang namun terlebih dahulu menuju ke arah minimarket. Sedari pagi dia belum makan apapun, jadi gadis itu memilih untuk membeli beberapa roti dan mie cup.
Beberapa menit kemudian Fay sampai di kediamannya, langsung menyeduh mie kemudian mandi secepat kilat. Bagi Fay, kebersihan tidak terlalu penting. Tidak mandi pun akan tetap cantik.
Fay tengah menikmati acara makan malamnya dan tiba-tiba ponselnya berdering. Fay hanya melirik sebentar tanpa ada niatan untuk mengangkat panggilan telepon tersebut. Namun lagi-lagi ponsel Fay kembali berdering berkali-kali tanpa henti.
"Arghh!! Manusia Dajjal! Ganggu idup gue!" gerutu Fay, lalu dengan cepat mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan telepon tak dikenal tersebut.
"Elo siapa, Cok?!"
"Fay, kamu dimana?" Terdengar suara tak asing dari dalam ponsel yang Fay tempelkan di telinga kanannya.
__ADS_1
Fay malas meladeni nomor tidak penting seperti saat ini, tanpa berkata apapun lagi dia mematikan sambungan telponnya sepihak.
Tilulit ...
"ASSUU!! Jangan ganggu idup gue!" teriak Fay murka.
"Aku Bara, kamu dimana Fay?"
Fay diam sesaat mengingat nama yang pria di sebrang sana ucapkan namun sedikit lupa, Fay kembali mematikan sambungan telponnya dan melanjutkan acara makannya.
Tilulit ..
"Brengsek!!! Mau elo apa, Njing!!" bentak Fay, dengan napas naik turun. Dia merasa benar-benar terganggu dengan kehadiran sosok Bara akhir-akhir ini.
"Kamu butuh pekerjaan? Aku bisa memberikan pekerjaan untuk mu dengan bayaran tinggi." ucap Bara tanpa basa-basi, sedikit tak menghiraukan umpatan kata-kata mutiara yang selalu keluar dari bibir manis Fay.
Fay mengernyitkan keningnya semakin heran. Bagaimana bisa pria itu tahu jika dirinya tengah dihimpit ekonomi. Dan juga, mereka baru bertemu dua kali. Bagaimana pria itu bisa bersikap seolah dia mengetahui dan mengenal kehidupannya? Ch, Fay tak ingin berpikir terlalu dalam mengenai pria tersebut. Berakhir dia menonaktifkan ponselnya dan merebahkan tubuh. Fay begitu lelah, dia meraih tali saklar kipas di sampingnya. Membiarkan kipas usang yang terdengar begitu berisik di atasnya berputar, meski tidak menghilangkan rasa panas di sana.
Baru saja Fay memejamkan mata, suara ketukan pintu kembali mengganggu ketenangannya.
Tok .. Tok .. Tok ..
Fay membuka matanya kembali dengan tatapan dingin, ingin sekali membunuh orang di luar rumahnya. Atau mungkin mereka para penagih hutang itu lagi? Astaga, kenapa harus malam-malam begini?
Dengan mata sedikit terpejam, Fay berjalan sempoyongan menuju ke arah pintu. Sembari menggaruk perutnya yang tertera tato bunga mawar di sana. .
CKLEK!
"Hoammmmm!" Fay menguap lebar di depan wajah sang tamu dengan mata masih tertutup antara sadar dan tidak sadar.
Sosok tamu yang tak lain adalah Bara tersebut hanya bisa memejamkan matanya sembari menahan napas, karena bau jigong dari mulut Fay. Hemhh ... untung cantik, bau mulut bak aroma neraka pun berubah menjadi aroma surgawi.
"Hai." Bara tersenyum tampan di depan wajah Fay.
Fay membuka matanya lebar menatap wajah pria dihadapannya. Hingga kesadarannya terkumpul dan dia melonjak kaget saat sadar siapa yang kini berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"ASSUU!! Goblokk!!"