Istri Kecil CEO Prik

Istri Kecil CEO Prik
Chapter 01.


__ADS_3

Malam menjelang, Fay yang tengah merebahkan tubuh di atas kasur tipisnya dikejutkan dengan suara gedoran pintu. Dengan malas gadis itu membuka matanya lalu berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang baru saja datang ke rumahnya. Walau dia sendiri sudah tahu siapa sosok yang ada di luar sana.


CKLEK!!


Fay kembali masuk ke dalam rumah mengabaikan dua sosok pria berpakaian hitam yang terlebih dahulu memasuki rumah sepetak miliknya. Fay kembali merebahkan tubuhnya dan menatap kedua orang yang kini terlihat tengah memeriksa seisi rumahnya. Hampir setiap hari kedua orang yang tak lain adalah anggota penagih hutang itu datang dan memeriksa kediaman Fay, untuk mencari keberadaan ayah Fay. Mereka yakin jika orang tua Fay masih hidup dan bersembunyi karena memiliki hutang yang begitu besar.


"Apa kalian kagak bosan dateng tiap hari di rumah gue?" malas Fay.


Kedua orang itu berjalan mendekat ke arah Fay dan menatap penuh minat ke arah gadis tersebut, "Apa keluarga mu belum mengirimkan kabar?"


Fay mendudukkan tubuhnya dan tersenyum sinis, "Percuma gue ngomong ampek mulut gue berbusa, kalian juga nggak bakal percaya."


Salah satu pria mengulurkan tangannya ke arah wajah Fay, membelai pipinya dengan penuh gairah, "Kau lumayan cantik. Bagaimana jika kita bersenang-senang?"


Fay menarik sudut bibirnya lalu mengambil sebilah pisau buah di dekatnya. Dia mengarahkan benda itu dipergelangan tangannya. "Nggak masalah, tapi ... abis itu, gue bakal lenyap dan kalian nggak akan bisa nagih utang gue lagi. Dan juga--pasti bos kalian akan marah. Bagiamana? Masih ingin bersenang-senang denganku?"


Salah satu dari pria itu menarik krah belakang baju temannya. "Jangan lanjutkan! Ayo, kita pergi. Jangan sampai kita mati ditangan bos, hanya karena kecerobohan mu."


Merekapun pergi meninggalkan Fay seorang diri. Fay menunduk sembari meremas gagang pisau ditangan kanannya. Tubuhnya bergetar, sungguh -- dia sangat takut dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Hidupnya tak lagi aman, kerap kali Fay harus mendapatkan perlakuan seperti ini. Jika sampai hal itu terjadi, mungkin Fay akan lebih memilih mengakhiri hidupnya.


"Hik ... hik, kenapa idup gue hancur kek gini, Cok!! Gue benci!! Gue lelah." Fay menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.


Tilulit ... Tilulit ..


Ponsel Fay berbunyi, dia melirik ke arah benda pipih retak di sampingnya dan mengangkat panggilan teleponnya.


"Halo."


"Ada barang di samping gedung XXX, ambil dan antarkan ke tempat yang aku kirimkan."

__ADS_1


Fay tak menjawab, dia langsung mematikan sambungan telponnya dan langsung berganti pakaian dan memakai mantel tebalnya lalu keluar menuju ke tempat yang diarahkan oleh sosok yang menghubunginya.



Beberapa menit kemudian Fay sampai di tempat tujuannya. Dia melihat ke sekeliling dan berjalan ke arah samping gedung. Membuka tong sampah, mengambil sebuah bungkusan hitam di dalamnya.


"Jangan bergerak!"


Fay terkejut saat ada dua anggota rahasia berteriak dari kejauhan.


"Djancokk!" Fay berlari menghindari dua orang dibelakangnya.


DOR!! DOR!!


"Anjingg!" umpat Fay, saat lenganya tergores oleh peluru yang ditembakkan ke arahnya. Fay tetap berlari hingga di persimpangan jalan tanpa sengaja ada mobil melaju ke arahnya.


TINNNNN ..


"Cepat pergi dari sini!" panik Fay, pemilik mobil itupun ikut panik dan langsung menancap gas mobilnya hingga dua orang tadi tidak bisa mengejar mobilnya.


Fay membanting kepalanya di kursi mobil yang ia tumpangi. Hah! Akhirnya ia bisa bernapas lega sekarang. Sampai-sampai melupakan jika ada sosok pria asing yang sedari tadi menatap ke arahnya.


"Eum, maaf. Siapa namamu?"


Fay terkejut dan langsung menoleh ke arah pria di sampingnya. Sesaat kemudian tatapan mata Fay berubah dingin. Dia tidak bisa mempercayai siapapun di dunia ini.


"Berhenti." datarnya.


"Biar aku antar--"

__ADS_1


"Apa elo nggak ngerti bahasa gue?! Gue bilang berhenti!!" Fay sedikit meninggikan suaranya.


Pria itu tersentak dan sedikit bingung namun dia menghentikan laju mobilnya di depan gang sepi. Tanpa berkata apapun Fay turun dari mobil pria tersebut lalu menutup pintunya.


Pria itu menurunkan kaca mobilnya dan menatap ke arah gadis yang masih berdiri di samping pintu mobilnya. Fay menaikkan sebelah alisnya dan menundukkan wajahnya di depan wajah pria tersebut.


"Gue nggak punya duit. Anggep aja yang bayar Tuhan."


Pria itu tersenyum, dia tidak meminta bayaran. Pria itu hanya ingin mengetahui nama gadis asing yang baru saja menumpang di mobilnya, menyuruhnya seolah dirinya seorang sopir lalu turun tanpa berucap terima kasih dan juga minta gratisan.


"Namaku Bara, aku harap kita bisa bertemu lagi." ucap pria itu.


Fay merolling bola matanya malas, sembari membalik badannya pergi meninggalkan pria tersebut. Jangan lupakan tanda sapa yang di tunjukkan Fay untuk Bara, jari tengah yang terangkat ke atas.


Bara tersenyum menatap gadis yang kini semakin jauh dari pandangannya. Entah mengapa ada rasa ketertarikan pada gadis bar-bar itu. Hingga tubuh Fay menghilang dalam kegelapan, dan bara memilih untuk pergi dari tempat tersebut.


"Gadis yang unik. Hah ... siapa namamu, astaga! Aku sangat berharap bisa berkenalan denganmu, kucing nakal." Kekeh pria itu.


Yah! Dia adalah Bara Charly Dwayne, pria tampan berumur 40 tahun. Pemilik perusahaan terbesar nomor-2 di dunia. Duda anak satu yang tentunya menjadi idaman bagi kalangan wanita kaya raya. Yang sayangnya Bara tidak pernah tertarik sama sekali dengan par wanita yang mengejarnya.



Fay berjalan sembari menendang kecil batu kerikil di hadapannya. Jarak rumahnya dengan posisinya saat ini sangatlah jauh, dia harus melewati jalan pintas agar cepat sampai di kediamannya. Merasa bosan, Fay memilih membuka layar ponselnya dan di sana dia dapat melihat notif chat dari grub sekolahnya. Ck, decakan kesal yang terdengar dari bilah bibir manis gadis tersebut.


"Undangan orang tua murid. Cok, gue kagak punya keluarga." kesalnya, ingin membanting ponselnya namun ia urungkan. Sadar jika dia bukan orang kaya yang dengan mudah membeli ponsel. Untuk makan sehari-hari saja rasanya sangat sulit.


Keesokan paginya, Fay kembali berangkat ke sekolah seperti biasa. Sejujurnya dia sangat malas masuk hari ini, mengingat jika para orang tua murid datang ke sekolah dan mungkin hanya dirinya saja yang tidak memiliki orang tua.


Fay masuk ke dalam gerbang sekolahnya, menutup kepalanya dengan hodi dan juga ear phone yang selalu setia menutup lubang telinganya. Fay hanya tidak ingin mendengar suara perbincangan orang di sana ataupun melihat kehangatan para teman yang memiliki keluarga lengkap. Jika di bilang iri, iya--Fay sangat iri dengan mereka yang masih memiliki keluarga.

__ADS_1


"Brengsek! Gue benci perasaan ini!" batin Fay, memilih pergi ke atap sekolah.


"Hei, kau!"


__ADS_2