Istri Kecil CEO Prik

Istri Kecil CEO Prik
Chapter 04.


__ADS_3

Benar saja, beberapa Minggu kemudian Fay di skors dari sekolahnya karena tidak bisa membayar biaya bulanan. Dan sekarang dia harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Pagi-pagi sekali Fay mendapat telpon dari tempat kerjanya, mungkin ada pekerjaan mendadak yang harus ia tangani, pikirnya. Dengan penuh semangat Fay berjalan menuju ke tempat kerjanya tersebut.


"Selama pagi." sapa Fay, menatap temannya yang kini justru tersenyum kecut ke arahnya. Tidak biasanya dia seperti itu membuat Fay merasa ada yang tidak beres di sini. Dia mendekat dan bertanya pada temannya.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanyanya.


Teman Fay tersenyum dan mengangguk lesu, "Maafkan aku."


Fay menatap dingin ke arah temannya, "Katakan apa yang terjadi? Gue nggak bakal marah."


"Bos memberikan ini padaku, dia menyuruhku untuk memberikannya kepadamu." Memberikan sebuah amplop kepada Fay.


Fay menerimanya dan membuka isi kertas tersebut. Senyuman sendu tergambar di bibir Fay, "Aku dipecat, ASSUU!!" Setelahnya ia tersenyum dan menepuk pundak temannya. "Gue pulang dulu, jaga diri baik-baik." Dibalas anggukan dari temannya.


Selepas Fay keluar dari bengkel itu, Bara berlari kecil keluar dari tempat persembunyiannya dan menemui pemilik bengkel tersebut, "Terima kasih, sudah memecatnya." Dia memberikan sebuah amplop berisikan tumpukan uang untuk pemilik bengkel di sana.


"Padahal dia sangat baik dan pekerja keras. Hah, aku tidak tahu sekarang dia harus bekerja di mana lagi. Anak yang malang." gumam pemilik bengkel.


"Tananglah ... aku yang akan mengurus bocah cantik itu. Sttt ... dia calon istriku." Bisik Bara di akhir kalimatnya. Membuat pemilik bengkel tersebut membolakan matanya lebar, apa?! Calon istri? Dia menatap penampilan Bara dari atas hingga bawah. Tampan, tapi --


"Fay masih SMP, Pak. Kau seorang pedofil?"


Bara menggaruk kepalanya lalu meninggalkan bengkel tersebut, dia masuk ke dalam mobilnya dan berpikir. "Aku pergi ke kantor atau ke rumah Baby Fay, ya? Aku sangat merindukannya. Aku ingin memeluknya." seru Bara, sembari memeluk tubuhnya sendiri. Sungguh, apakah ini yang dinamakan puber kedua?


Bara siap pergi ke rumah Fay, namun terhenti saat sekretarisnya menghubungi dirinya tiba-tiba. Ada meeting penting yang harus dia hadiri ternyata, Bara tersenyum dan menguatkan hatinya, "Baby Fay, sepertinya aku harus menemui mu nanti malam. Sampai ketemu nanti malam, Baby Fay ..." Katakan Bara benar-benar gila, semenjak bertemu dengan Fay, dia sering tersenyum sendiri, bicara sendiri, berimajinasi yang tidak-tidak. Hah, sudahlah ... Bara sedang dimabuk asmara.


.

__ADS_1


.


Fay benar-benar bingung harus bagaimana, dia tidak langsung pulang melainkan pergi ke berbagai tempat untuk mencoba mencari pekerjaan. Dan sayangnya tak ada yang mau menerima bocah SMP seperti dirinya. Setiap tempat yang ia datangi selalu menanyakan tentang pendidikan. Tak terasa malam begitu cepat datang. Fay merogoh saku nya dan mengambil amplop yang berisikan sisa uang gaji yang diberikan bosnya tadi pagi.


"Persetann!" Fay menuju ke arah minimarket dan membeli rokok, beginilah Fay jika sedang dilanda banyak pikiran. Menghabiskan waktu dengan merokok, setidaknya bisa membuat beban pikirannya menghilang walau hanya sesaat.


Fay menuju gang sebelah minimarket, menatap langit yang begitu cerah. Dia tersenyum membayangkan masa lalunya. Dulu dia hidup bahagia bersama ayah dan ibunya, memiliki banyak uang dan merasa menjadi anak paling sempurna di dunia. Namun sekarang sudah berbeda, semua berubah, Fay tersenyum miris. Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, dengan cepat dia mengusap air matanya kasar. Fay tidak ingin menjadi gadis lemah.


Dengan gerakan tergesa dia mengambil sepuntung rokok dan siap menyulutnya namun karena jemarinya bergetar, korek api yang dipegangnya jatuh.


"Sial!" Fay menunduk hendak mengambil korek apinya namun gerakan tangannya berhenti saat jemari seseorang terulur mengambil benda tersebut.


Fay mendongakkan wajahnya menatap sosok yang ada di depannya. Bara? Fay terdiam dengan batang rokok terapit di bilah bibirnya. Bara hanya diam menatap wajah sembab Fay, dia menyalakan korek api di tangannya dan mengarahkan ke ujung puntung rokok Fay. Tanpa berucap sepatah katapun.



Fay menoleh ke arah Bara, "Ngapain elu kemari?"


Bara tersenyum dan mengelus rambut Fay, "Apa kau sudah makan malam?" Bara justru balik bertanya.


Fay tetap santai menyesap asap rokoknya dan menggeleng sebagai jawaban. Bara menarik napasnya merutuki kebodohan Fay yang selalu saja melewatkan jadwal makannya.


"Apa gue harus jadi pelaccur?" Fay berbisik sembari menatap langit.


Bara mendelik tidak suka mendengar lirihan Fay, dia tidak ingin Fay melakukan pekerjaan menjijikkan itu. Ingin rasanya Bara mengetahui kehidupan bocah di sampingnya ini.


"Bekerjalah denganku, aku akan membiayai seluruh kebutuhanmu."

__ADS_1


Fay terkekeh dan melirik sinis ke arah Bara, "Ck, gue nggak percaya sama sekali ama wajah pria tua mesum seperti elo!"


"Terserah." Bara menarik lengan Fay menuju ke arah mobilnya. Fay hanya menurut, kali ini dia benar-benar tidak punya semangat untuk berteriak ataupun mengumpat pada pria yang menuntun tangannya ini.


Bara hanya diam sepanjang jalan, dia merasa sakit mendengar ucapan Fay beberapa menit yang lalu. Begitu juga dengan Fay yang hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak lama kemudian mobil Bara sampai di kediaman Fay. Bara turun dan membukakan pintu mobilnya untuk Fay. Fay pun turun lalu masuk ke dalam rumahnya. Bara mengikuti langkah Fay dan meletakkan sekantung makanan yang sengaja ia beli untuk Fay.


"Makanlah." Bara memberikan makanan di dalam kantung plastik itu untuk Fay.


Fay pun menerimanya tanpa sungkan karena dia sudah sangat lapar. Fay membuka sebungkus ramen dan menyeduhnya. Sedikit melirik ke arah Bara yang sedari tadi berdiri sembari menelisik isi rumah reotnya.


"Fay ... apa kau bisa tidur dengan tenang di rumah seperti ini?"


Fay yang hendak menyuapkan mie ramen ke dalam mulutnya ia urungkan. "Nggak, gue nggak pernah nyaman. Tiap waktu para depkolektor datang mukulin gue."


Bara tersentak, dia tidak percaya jika ada orang yang tega memukul gadis remaja seperti Fay, "Fay ... katakan padaku, siapa mereka?! Aku akan memberikan pelajaran padanya!" ucap Bara menggebu.


"Bisa diam tidak?!" Fay geram, dia benci mendapat perlakuan seperti ini yang hanya akan membuatnya lemah. Fay tidak ingin dikasihani oleh siapapun yang mana semua itu mengingatkan masa lalunya. Masa dimana Fay menjadi anak manja, selalu bersembunyi dibalik punggung kedua orang tuanya.


Bara terdiam, menatap wajah Fay yang mulai memerah. Dengan cepat Fay menyuapkan mie ke dalam mulutnya hingga penuh, lalu mengunyah dan menyumpal nya lagi. Dia hanya ingin melampiaskan rasa sakit di dalam hatinya.


"Bekerjalah denganku." Bara berucap lirih.


Fay mengehentikan pergerakan makannya. Memejamkan mata sejenak, apa dia harus bekerja dengan pria ini?


"Pekerjaan apa yang bakal elu kasih ke gue?"


"Jadilah istriku." Bara tersenyum lebar.

__ADS_1



__ADS_2